Rachel

Rachel
Di Rumah Ravlein



Perlakuanmu menghangatkan seperti dulu. Apa boleh aku memiliki setitik cinta ini 'lagi'?


Aku hanya takut menyakiti diri untuk kedua kali.


Adinda Rachel Karenina


***


Rachel's POV


"Uhhh..."


Tangan gue memegang kepala yang terasa berdentum keras. Beberapa kali gue mengerjapkan mata, memfokuskan penglihatan.


"Udah bangun?"


Sontak gue kaget ketika mendengar suara serak khas orang baru bangun tidur dari laki-laki di samping gue.


Gue langsung terduduk dan mendapati kepala yang berdentum lebih keras. "Aduh..." Tangan sebelah kanan memegang kepala lagi.


"Masih pusing?"


Niat gue mau menjawab, justru terganti dengan niatan ingin ke kamar mandi ketika perut gue bergejolak hebat. Dengan sigap, gue lari ke ambang pintu yang gue tebak adalah kamar mandi. Tepat. Gue memuntahkan semua isi perut di wastafel. Badan terasa lemas, gue membasuh mulut, dan berjongkok sambil sebelah tangan memegang kepala. Mata gue pejamkan menahan sakit di seluruh tubuh, kepala, dan perut yang masih terasa kurang enak.


Lama gue berjongkok. Tiba-tiba tubuh gue terangkat, dibopong oleh laki-laki tadi, dan didudukkan ke ranjang. Bisa dipastikan bahwa wajah gue pucat pasi sekarang. Gue sudah tidak peduli dengan keadaan. Baju gue pun sudah berbeda dari baju yang semalam. Entah apa yang sudah terjadi.


Laki-laki itu mendekat, mengusap pipi sebelah kanan dan mengecup pipi sebelah kiri gue.


"Bentar. Aku suruh Bi Raya siapin sarapan dan keperluan mandi kamu."


Gue hanya bisa terpaku dengan perlakuan lembut laki-laki itu dan diam tak membantah ataupun menolak. Badan gue lemas dan tidak bertenaga. Jangankan bicara, mengangkat kepala pun terasa berat.


Laki-laki itu pergi dan sosoknya menghilang di balik pintu yang ditutup.


Gue terkesima melihat perlakuan tak terduga laki-laki itu. Bi Raya sudah menyiapkan keperluan mandi, dan laki-laki itu sudah membopong gue menuju kamar mandi.


Jegrug!


Pintu kamar mandi ditutup setelah dia keluar. Gue berendam di bath-up air hangat yang Bi Raya siapkan. Aroma terapi dari sabun mandi ditambah air hangat membuat dentuman di kepala gue berangsur berkurang.


10 menit. 20 menit. 30 menit. Gue masih menikmati kegiatan mandi. Hingga--


Tok, tok, tok...


"Nona Rachel... Sudah selesai belum?" suara Bi Raya setelah ketukan pintu.


Gue bergegas membilas sisa busa di rambut dan badan. Setelahnya, gue berujar pelan, "sudah, Bi..."


Jreg!


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya dengan rambut putih mendominasi. Sudah tidak ada busa yang tersisa di seluruh tubuh, namun gue masih berendam di bath-up.


"Nona Rachel... Tuan Muda sudah menunggu di depan kamar mandi."


Gue membelaklakan bola mata. Bi Raya yang seolah peka, memberi jubah mandi yang diletakkannya di nakas dekat peralatan mandi.


"Berbalik," ucap gue pada Bi Raya. Gue berdiri turun dari bath-up dan memakai jubah mandi tersebut. "Sudah."


Butiran air masih menetes dari rambut dan tubuh yang basah.


Bi Raya keluar dan berseru pada orang di luar kamar mandi. "Sudah, Tuan Muda."


Tak lama, laki-laki itu masuk dan menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa aba-aba dia membopong gue menuju ranjang melewati Bi Raya dan didudukan gue di sana.


"Bantu dia berpakaian dan panggil saya jika sudah selesai," titahnya.


"Baik, Tuan Muda."


Laki-laki itu mengangguk, berjalan keluar, dan menutup pintu.


Gue sudah duduk di bangku ruang makan. Ketika selesai berpakaian tadi, laki-laki itu membopong gue lagi menuju ruang makan yang luar biasa bagusnya. Namun, yang membuat gue bingung adalah entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu hingga tidak membiarkan gue berjalan mandiri dan terus membopong gue.


"Apa kepala kamu masih pusing?" suara laki-laki itu ketika dirinya duduk di salah satu bangku dekat gue.


"Iya." Satu kata yang gue lontarkan kepadanya setelah sekian lama.


"Apa perut kamu masih mual?"


"Iya," balas gue dengan kata yang sama seperti sebelumnya.


"Perut kamu masih mual. Makanlah pelan-pelan biar tidak dimuntahkan lagi."


Gue mengangguk dan mulai menyantap makanan.


***


Ravlein's POV


"Uhhh..."


Gue terbangun ketika mendengar suara gadis yang dari semalam terus tertidur. Tangannya memegang kepala dan gue mengerti bahwa mungkin sekarang kepalanya sakit akibat mabuk.


Gue berucap dari sofa kecil di samping ranjang, tempat semalaman gue tidur. "Udah bangun?"


Gue tebak Rachel kaget. Dirinya langsung duduk dan kembali memegang kepala dengan sebelah tangan. "Aduh..."


"Masih pusing?" tanya gue.


Rachel bukannya menjawab, justru berlari ke kamar mandi sambil memegangi perutnya. Gue menyusulnya dan melihat Rachel memuntahkan semua isi perut di wastafel. Rachel membasuh mulut dan berjongkok sambil sebelah tangan memegang kepala. Matanya memejam menahan sakit kepala dan bisa dipastikan badannya terasa tidak enak.


Gue tidak tega melihatnya, gue bopong dia dan mendudukannya ke ranjang. Lamat-lamat gue lihat wajahnya yang pucat dan membuat gue tergerak mendekat, mengusap pipi sebelah kanan Rachel dan mengecup pipi sebelah kirinya.


"Bentar. Aku suruh Bi Raya siapin sarapan dan keperluan mandi kamu," ucap gue dan membiarkan gadis itu terpaku dengan perlakuan gue. Masa bodo, gue benar-benar sudah dibuat jatuh hati untuk kedua kalinya pada orang yang sama.


Gue pergi menemui Bi Raya--Kepala pembantu rumah kediaman Karaka. Bi Raya juga yang menggantikan pakaian Rachel semalam. Entah apa yang ada di pikiran Rachel hingga meneguk segelas alkohol berkadar 95%. Siapapun yang meminumnya pasti langsung dibuat kepayang, bahkan bagi yang sudah biasa mabuk sekalipun. Saat itu gue hanya mampu menatap penghuni ruang private bar satu per satu dengan tatapan membunuh.


Jegrug!


Pintu kamar mandi gue tutup setelah membopong Rachel menuju dekat bath-up. Gadis itu mengenakan jubah mandi dan segala keperluannya mandi sudah disiapkan Bi Raya. Bahkan gue menginstruksi agar memberinya sabun aroma terapi dan menyiapkannya air hangat. Itu semata-mata agar dirinya merasa lebih baik.


Sudah 30 menit Rachel mandi dan tidak ada tanda-tanda akan keluar. Membuat gue khawatir dan menyuruh Bi Raya menanyakan apakah gadis itu sudah selesai atau belum.


Tok, tok, tok...


"Nona Rachel... Sudah selesai belum?" tanya Bi Raya setelah mengetuk pintu.


Tak lama, terdengar sahutan, "sudah, Bi..."


Jreg!


Bi Raya membuka pintu dan gue menunggu di luar.


"Nona Rachel... Tuan Muda sudah menunggu di depan kamar mandi," ucap Bi Raya yang terdengar sampai ke telinga gue.


"Berbalik," sahut suara yang gue yakini adalah suara Rachel. "Sudah."


Bi Raya keluar dan berseru kepada gue. "Sudah, Tuan Muda."


Gue memasuki kamar mandi dan menatap penampilan Rachel sekarang. Air dari rambut masih menetes, wajah masih putih pucat, tampang jutek masih sama seperti 3 tahun lalu, namun sekarang dia terlihat lebih cantik. Gue kangen...


Dengan berat gue menepis pikiran itu jauh-jauh dan membopong tubuh berat Rachel melewati Bi Raya dan mendudukannya di ranjang. Entah apa yang dia makan hingga bisa seberat ini.


"Bantu dia berpakaian dan panggil saya jika sudah selesai," titah gue pada Bi Raya.


"Baik, Tuan Muda."


Gue mengangguk, berjalan keluar, dan menutup pintu.


Di ruang makan.


"Apa kepala kamu masih pusing?" tanya gue ketika duduk di bangku dekat Rachel di ruang makan.


"Iya." Satu kata terlontarnya tertuju untuk gue.


"Apa perut kamu masih mual?" tanya gue lagi. Pasalnya gue sangat khawatir melihat wajah pucatnya yang tidak kunjung menormal.


"Iya," balasnya singkat. Gue cukup paham dengan kebenciannya pada gue yang pergi selama tiga tahun tanpa memberinya satu kabar pun. Mungkin karena itu dia jadi bersikap dingin ke gue.


Bi Raya dan pembantu rumah tangga lainnya menyajikan makanan ke atas meja. Gue melihat mata berbinar Rachel ketika memandangi satu per satu makanan dan minuman yang tersaji di meja makan. Hal itu membuat senyum gue terulas.


"Perut kamu masih mual. Makanlah pelan-pelan biar tidak dimuntahkan lagi."


Dia mengangguk patuh dan mulai menyantap makanan. Lagi-lagi sebuah senyum terulas karena tingkah menggemaskan Rachel. Rasanya sudah lama tidak tersenyum tulus seperti ini. Tidak peduli dengan tatapan para pembantu rumah tangga yang masih menunggu kita selesai makan, gue masih dengan bangga mengulas senyum melihat gerak-gerik ketika Rachel makan.


Maaf... Atas segala yang sudah aku torehkan kepadamu.