
•Dua Tahun Kemudian..
.
.
.
“Garvin lepaskan, itu punya Papi!!” Teriak menggelegar Theo yang baru saja memasuki kamar nya.
Napas pria itu memburu, matanya melotot marah. Dengan langkah lebar Theo langsung lompat ke atas kasur king size milik nya.
Brugh!
“Theo!!”
“Papiww!!”
Pekik ibu dan anak itu secara bersamaan, bukan nya merasa bersalah Theo malah mengangkat tubuh sang putra yang berada di pangkuan istri nya. Lalu mengantikan dengan kepalanya sendiri.
“Huaaa Mami..!!” Isak Garvin menendang-nendang selimut merasa tak terima dengan perlakuan Theo.
“Jangan cengeng, kamu sudah besar!” Omel Theo.
Dengan santai nya Theo memiringkan tubuhnya lalu menenggelamkan wajahnya pada perut sang istri tanpa memperdulikan rengekan putra kecil nya.
“Theo--”
“Ayolah Mami, aku sangat lelah. Seharian ini aku bekerja demi kalian”
Alice yang tadinya berniat mengangkat kepala sang suami pun akhirnya ia urungkan. Memang benar malam sudah hampir larut, dan Theo baru saja kembali.
Bugh! Bugh! Bugh!
“Papi bangun huaaaa!!” Garvin terus memukuli punggung Theo dengan rengekan nya. Pria kecil itu masih ingin bersenang-senang bersama sang Mami.
“Sayang hei, tidak boleh seperti ini” Larang Alice penuh lembutan. Tangan nya meraih tangan mungil Garvin lalu menuntun nya agar mendekat.
“Kembali ke kamar, Garvin” Titah Theo tanpa merubah posisi nya.
“Gak mau, Vin mau bobo sana Mami” Sahut Garvin galak. “Papi bangun, aku mau di pangku sama Mami lagi”
Theo diam tak lagi menyahut atau mengeluarkan suaranya. Hari ini pria itu benar-benar lelah dan sangat pusing, komplain berdatangan dari para investor karena beberapa pekerjaan yang tidak berjalan mulus.
“Papi--”
“Garvin, dengarkan Mami” Potong Alice begitu melihat sang putra hendak kembali merengek. “Garvin anak pintar 'bukan?”
Garvin mengangguk lesu, tentu ia sudah tau apa yang akan sang Mami katakan selanjutnya. Pria kecil berusia dua tahun itu sangat pintar dan cerdik, berbeda seperti anak kecil pada umum nya.
Theo bangun dan menatap sang putra yang kini tengah menundukkan kepalanya. Tangan pria itu terulur untuk mengusap kepala Garvin, harta berharga dalam hidup nya.
“Papi lelah?” Tanya sendu Garvin yang langsung mendapat anggukan dari Theo.
Tak lagi bertanya Garvin pun bangun dan mengecup kedua pipi orang tua nya dan bersiap untuk turun dari kasur walaupun sebenarnya pria kecil itu ingin bermain dengan Theo, tetapi seperti nya malam ini harus di urungkan.
“Mau main bersama Papi?”
Ting!
“Vin punya mainan baru, oma yang membelikan tadi siang”
Theo tersenyum hangat menatap wajah antusias sang putra. Rasa lelah dan pusing nya berkurang begitu saja. “Baiklah, ayo kita main”
“Kamu demam?” Gumam Alice seperti pertanyaan begitu menyentuh kening Theo yang terasa panas.
Theo menggeleng dan meraih tangan Alice pada kening nya. “Aku gapapa sayang, lebih baik sekarang siapkan air hangat untuk aku mandi”
“Makan dulu, setelah itu baru mandi”
Theo mengangguk dan mengecup punggung tangan wanita yang sangat ia cintai, wanita yang merubah kehidupan gelap nya.
“Papi lihat deh, bagus kan?” Tanya antusias Garvin yang entah sejak kapan sudah duduk di lantai beralaskan permadani itu.
Theo dan Alice menoleh bersamaan, senyum di bibir kedua nya terukir melihat buah hati mereka yang tumbuh menjadi pria kecil periang.
“Bagus, ayo kita main kan!” Sahut Theo tak kalah antusias.
Lantas pria dewasa itu pun turun dari kasur dan duduk di hadapan putranya, menyisakan Alice yang sejenak menatap kedua nya dengan tatapan bahagia.
“Pria hebat”
Dua kata itu lah yang selalu ada di benak Alice ketika melihat Theo. Walaupun sangat sibuk dengan pekerjaan atau pun sedang merasa tidak enak badan.
Tetapi Theo tetap akan meluangkan waktunya untuk bermain dengan putra kecil mereka. Memberi kehangatan pada keluarga kecil itu.
“Papi”
Theo menoleh, begitu pun dengan Garvin. Kedua pria itu menatap serius sosok wanita berperut besar yang kini sedang mengusap-usap perutnya.
“Papi belum nyapa baby nya lho”
Theo menepuk pelan kening nya, lantas menarik pinggang Alice hingga perut besar wanita itu membentur hidung mancung nya.
“Selamat malam calon anak Papi, maaf Papi lupa nyapa kesayangan Papi yang satu ini hihi” Kekeh Theo mengecupi perut Alice.
Kecupan itu di tanggapi oleh tendangan dari sang bayi di dalam perut Alice membuat mata Theo dan pemilik perut itu melotot lalu tak lama setelah nya tawa langsung memenuhi kamar luas itu.
.
.
...********END********...
Kita akhiri kisah Theo dan Alice sampai di sini. Untuk para readers yang setia membaca novel ini dari awal hingga akhirnya aku ucapkan banyak-banyak terimakasih.
Tanpa kalian karya aku bukan lah apa-apa🤗Dan maafkan author jika ending ini tidak sesuai dengan ekspetasi kalian atau bahkan ending nya secepat ini.
Tetapi tenang saja Author sudah hadirkan karya baru yang pastinya akan menemani emosi kalian setiap harinya🤭
.
...Don'T Touch My Baby!...
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo merapat di karya sebelah😘🥰