Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab-33-•



“Alice..”


“Sayang..”


“Honey..”


“Maafkan aku, jangan mendiami aku seperti ini” Rengek memelas Theo yang terus berusaha membujuk Alice.


Namun nihil, Alice benar-benar marah pada Theo hingga tidur pun enggan menghadapnya. Alhasil semalaman Theo tidur hanya dihadapkan dengan punggung Alice dan begitu bangun ia sudah tidak mendapati Alice di hadapannya.


“Ayo kita makan diluar dan makanan dari tempat itu. Dimana pun yang kamu mau” Pasrah Theo terus membuntuti langkah Alice.


Alice tidak tergiur sedikitpun dengan ucapan yang seharusnya ia tunggu-tunggu. Wanita itu sibuk memindahkan sarapan yang ia buat dan tentunya hanya untuk dirinya.


“Punya aku mana?” Tanya memelas Theo saat melihat hanya ada sepiring nasi goreng sosis kesukaan nya yang sedang di santap oleh Alice.


Tetapi Alice mengacuhkan nya seakan-akan Theo tidak ada di samping nya. Hingga akhirnya pria itu menjatuhkan pasrah kepalanya pada meja makan lalu menatap lantai marmer dibawah nya.


“Maafkan aku..” Gumam lirih Theo. “Jangan tinggalkan aku..” Sambung nya tanpa menatap Alice.


Hening, tidak ada respon apapun sampai saat terdengar suara piring yang di taruh tepat di depan kepala Theo baru lah pria itu mengangkat kepalanya.


“Untuk aku?” Tanya berbinar Theo pada Alice yang baru saja duduk dan kembali memakan sarapan nya.


Alice masih bungkam dan mengedarkan pandangan nya.


“Say--”


“Makan, setelah itu mandi” Potong singkat Alice.


Mendengar suara yang rasanya sangat Theo rindukan karena sejak semalam Alice terus bungkam, membuat pria itu tersenyum lebar.


“Mandi bersama oke?” Pinta Theo dengan tidak tahu malunya.


Ucapan itu pun lantas mengundang kilatan marah dari ekor mata Alice yang tertuju padanya. Decihan sinis keluar dari bibir Alice saat melihat ekspresi Theo.


Tanpa menghiraukan wajah tidak suka sang istri, Theo langsung melahap nasi goreng di piring nya begitu lahap. Hingga tak berselang lama nasi goreng kedua nya pun habis.


“Ayo mandi!” Ajak antusias Theo menggenggam tangan Alice.


“Cih, gak mau!” Sentak Alice menghempaskan tangan Theo.


Jika seperti ini bukan nya marah ataupun emosi, tetapi Theo malah menghujami wajah Alice dengan kecupan nya hingga meninggalkan jejak basah pada wajah Alice.


“Ihh jorok!” Pekik tidak suka Alice seraya mengelap wajahnya


Melihat gerakan sang istri yang seakan-akan jijik pada sisa salivanya, Theo pun berdecih sinis lantas mengangkat tubuh Alice dengan begitu mudah nya.


“Kita sudah sering bertukar saliva sayang..” Bisik Theo.


“Turunkan!” Pekik mara Alice yang terus bergerak-gerak di dalam gendongan Theo.


“Akan aku turunkan nanti di dalam kamar mandi”


Theo mulai melangkah, tatapan nya lurus ke depan. Tangan kokoh nya terus menahan tubuh Alice yang tak mau berhenti bergerak, bahkan sang istri terus memukuli dan mengigit lengan nya namun itu tak berpengaruh pada Theo.


.


.


“Awwstt..” Rintih pelan Alice saat punggung nya terbentur dinding kamar mandi.


“Sudah cukup bermain-main nya sayang, aku tidak suka di diami seperti ini” Bisik berat Theo mengunci pergerakan Alice.


“Apaan sih, lepaskan!”


“Aku tahu, aku salah. Tetapi tidak seharusnya kamu mendiami aku!”


Mata bersinar milik Alice menatap begitu tajam wajah Theo yang berada tepat di hadapan nya, begitu pun dengan Theo yang menatap penuh penekanan pada Alice.


“Apa kamu tidak tahu bagaimana rasanya mengidam hah?!”


“Aku tahu, sangat tahu” Jawab Theo. “Tapi aku tidak bisa membiarkan keinginan itu menyakiti kamu dan anak kita” Lanjutnya.


Gigi Alice bergemeletuk geram, Theo memang lah Theo. Pria keras kepala dan selalu ingin menang, tidak akan berubah sampai kapan pun.


“Aku menyumpahi mu agar seterusnya kamu lah yang mengidam!” Geram Alice yang terus berusaha melepaskan tangan nya dari cekalan Theo.


Sedangkan Theo? Pria itu malah terkekeh hingga menampilkan deretan gigi rapih nya dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Alice.


“Sumpahi saja aku seperti itu, tapi itu tidak akan terjadi hahaha” Ledek Theo.


“Theo!!”


.


.


“Bagaimana dengan perkembangan pembangunan hotel di Jerman, Stev?” Tanya Theo seraya membaca berkas yang baru saja Steven berikan.


“Semua nya berjalan lancar boss, tetapi sepertinya anda harus turun kelapangan untuk mengecek beberapa komponen”


“Jika aku harus turun dan mengecek kelapangan sendiri, lalu guna nya kau sebagai seorang asisten apa?”


“Bukan seperti itu boss, tetapi seperti nya ada beberapa provokator yang menghasut warga sekitar agar pembangunan di hentikan” Jelas Steven pada akhirnya.


“Apa kau tidak menyelidiki nya, Stev?”


“Sudah boss”


“Siapa mereka? Apa mereka orang suruhan?”


Steven mengangguk namun enggan berbicara.


“Katakan Stev!”


“Mer-mertua anda”


Brakk!


Gebrakan meja itu berhasil membuat Steven mengambil ancang-ancang untuk keluar dari ruangan sang boss.


“Mau kemana hah! Jelaskan dengan benar!” Ucap Theo penuh emosi.


“Anda tenang dulu boss, saya takut di mutilasi” Gugup Steven.


“Aku tidak tertarik dengan tubuh kurus mu!” Sahut pedas Theo.


Steven mendengus kesal menyahuti perkataan Theo.


“Jelaskan sebelum aku tertarik memotong tubuh mu, Steven..”


“Jadi setelah saya selidiki lebih dalam, ternyata beberapa provokator itu orang suruhan Mr.Brandon. Untuk tujuan nya saya belum tahu” Jelas cepat Steven dalam sekali tarikan napas.


“Siall, ada apa dengan nya!” Geram tertahan Theo.


“Ja-jadi bagaimana?”


“Siapkan mobil, kita berkunjung ke perusahaan nya sekarang!”


.


.


.


“Ah maaf, sepertinya kedatangan aku menganggu waktu sibuk mu, mertua..” Ujar Theo penuh penekanan.


Kedua nya baru saja bersalaman layaknya seorang rekan bisnis, tetapi tatapan tajam kedua nya terlihat penuh arti.


“Tentu nya kamu sangat menganggu, tetapi m demi menantuku semua waktu akan aku luangkan” Sahut Brandon terkekeh pelan begitupun dengan Theo.


“Stev, tunggu di luar” Titah Theo.


“Max, tunggu di luar” Titah Brandon pada sang asisten.


Kedua pria yang di sebut namanya pun langsung menurut dan meninggalkan kedua nya di dalam ruangan besar itu. Theo terlihat santai namun tidak dengan tatapan nya.


“Apa tujuan mu, Dad?” Tanya Theo mulai membuka suara.


Brandon memasang wajah bingung, lalu mengendurkan dasi yang mencekik lehernya.


“Tujuan apa yang kamu maksud, Theo?”


Tidak menjawab melainkan Theo membanting beberapa kertas dan foto pada meja tepat di hadapan Brandon.


Brandon menatap sekilas Theo lalu beralih mengambil kertas dan foto-foto tersebut.


“Yang aku tahu, mertua ku tidak selicik ini di dalam dunia bisnis. Lalu ada apa gerangan hingga mertua tersayang ku mengusik bisnis ku?”


Brandon terkekeh lalu kembali melemparkan kertas beserta foto-foto tersebut ke meja, setelah nya pria setengah baya itu menyandarkan punggung nya pada sandaran sofa.


“Memang tidak bisa diragukan. Menantu ku sangat teliti dan tidak bisa di remehkan”


“Apa Daddy kekurangan sesuatu hingga mengusik pekerjaan ku?”


“Ya!” Sahut tidak santai Brandon.


“Apa? Katakan! Aku akan penuhi kekurangan itu!”


“Daddy ingin Alice kembali tinggal bersama kami”


Brakk!


Dengan emosi menggebu-gebu yang sedari tadi Theo tahan, kini lagi-lagi pria itu menggebrak meja dengan tatapan menusuk nya.


“Apa maksud Daddy hah?! Apa ada sesuatu yang kembali meracuni otak mu?!”


Brandon menggeleng samar dan menatap datar Theo.


...****************...