
“Nona!” Panggil seorang pria yang sedikit berlari menghampiri Alice.
Mata Alice sedikit melebar, gadis itu menoleh menatap Carlotta yang kini tengah tersenyum menggoda.
“Nona Alice” Panggil pria yang kini berdiri tepat dihadapan Alice.
“Eh, Aldo? Ada apa, Do?”
“Emm.. Aku hanya ingin memberikan ini” Ujar pria yang bernama Aldo itu seraya menyodorkan paper bag hitam.
“Apa ini?” Tanya penasaran Alice.
“Hadiah pernikahan nona, dan maafkan aku karena tidak hadir hari itu” Aldo tersenyum tipis dan meminta agar Alice mengambil paper bag tersebut.
“Oh astaga Aldo..” Gumam terharu Alice hendak mengambil alih paper bag di tangan Aldo.
Tetapi sedikit lagi tangan Alice menyentuh paper bag tersebut, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar merengkuh posesif pinggang nya seraya menarik tubuhnya hingga menempel dengan tubuh orang itu.
“Terimakasih atas kado nya, tetapi istri saya tidak membutuhkan kado lagi” Tekan dingin Theo.
Sonak kehadiran Theo langsung mengundang lirikan para karyawan yang takut untuk mengangkat pandangan nya.
“Mr.Theo” Sapa Aldo membungkuk hormat.
“Ayo kita makan siang, baby” Ujar Theo menatap tajam Alice tanpa memperdulikan Aldo.
Tanpa menunggu jawaban dari Alice, Theo langsung berbalik menuntun sang istri untuk berjalan karena sedari tadi Alice terus menatap ke arah Aldo.
Aldo menatap kepergian nya dengan raut sulit diartikan, tak berbeda jauh dengan Carlotta yang sedari tadi mengamati dalam diam pergerakan Theo dan Alice.
“Tidak usah sedih, bawa sini kado nya nanti aku yang akan memberikan nya pada Alice” Ujar Carlotta menepuk bahu Aldo.
Aldo tersenyum tipis lalu menyerahkan paper bag tersebut. “Terimakasih nona Carlo, setelah ini akan aku traktir”
Carlotta mengacungkan kedua ibu jari nya tanda setuju.
.
Brakk! Clikk!~
Theo menutup begitu kasar pintu ruangan nya, lalu menguncinya dan terakhir ia menekan salah satu tombol hingga kini jendela ruangan miliknya menjadi gelap.
Alice melangkah mundur menjauhi Theo yang terus menatap tajam dirinya. Nyali Alice kembali menciut begitu merasakan hawa sekitar yang semakin mencengkram.
“Ka-kamu ingin makan siang 'kan?” Tanya Alice mencoba mencairkan suasana terlebih lagi kini Theo mulai melangkah mendekati nya.
“Ayo kita keluar, katanya mau mak--”
“Lalu kenapa kamu menjauh hmm? Ayo sini” Potong Theo.
"Bu-buka pintu nya” Gugup Alice.
“Buka?” Ulang Theo yang langsung mendapat anggukan dari Alice.
Secepat kilat Theo menarik tubuh Alice lalu merobek baju yang di kenakan istri nakal nya hingga kini baju itu sudah tidak berbentuk lagi.
“Theo!” Pekik kaget Alice menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
“Buka 'kan?” Tanya Theo memastikan.
“Buka pintu nya Theo! Kenapa kamu merobek baju aku!” Teriak marah Alice menjauhi tubuh Theo
“Upss..” Theo menutup mulutnya merasa bersalah. Tetapi tatapan pria itu malah mengartikan yang sebaliknya.
“Maafkan aku sayang, aku salah mengartikan ucapan kamu. Kemari lah dan pakai jas ku” Ujar lembut Theo merasa bersalah.
Alice menggeleng pelan dan semakin memundurkan langkah nya. Saat ini Theo sangat menyeramkan dengan wajah pura-pura merasa bersalahnya.
“Ada apa dengan mu, Theo!” Langkah Alice terhenti saat punggung nya menabrak tembok.
“Ah iya, ada apa dengan ku?” Tanya Theo pada dirinya sendiri, kemudian pria itu terkekeh menyeramkan.
“Ada apa dengan ku?”
“Apa apa?” Ulang Theo terus menerus.
Alice semakin takut, tatapan nya mengedar mencoba mencari tempat luas untuk menghindari Theo.
Saat Alice hendak berlari tiba-tiba saja lengan kekar Theo menahan perut polos nya, lalu mengangkat tubuhnya bak sekarung beras.
“Theo, lepaskan!!”
“Ada apa dengan ku, sayang? Aku kenapa?” Theo bertanya-tanya dengan nada yang terdengar begitu ambigu di telinga Alice.
Alice terus memberontak sampai akhirnya Theo membanting tubuhnya pada sofa lebar yang berada di ruangan itu lalu mengungkung nya.
“Theo sadar lah!!” Alice panik, ia benar-benar takut.
“Aku sudah sadar sayang, sangat sadar. Bahkan aku sadar istriku ingin bermain di belakang ku!"
“Erghhh!!” Erang kesakitan Alice kala Theo mencekik lehernya.
“Le-lepaskan erghh!!” Rintih Alice menahan tangan Theo.
“Jika tadi aku tidak menahan nya pasti kamu akan menerima barang tidak berguna dari pria itu, 'kan?!”
“Lalu yang terjadi selanjutnya kalian akan semakin dekat, dekat dan akhirnya kamu mengkhianati ku!!”
“Arghhh Theo!!”
Kaki Alice menendang-nendang sofa, tangan nya terus memukuli lengan kekar Theo yang semakin mencekik lehernya.
“Demi tuhan aku sudah berjanji di hadapan pendeta dan kitab suci untuk terus setia bersama mu” Ucap terengah-engah Alice dengan sisa napas nya.
Seketika cekikan Theo terlepas namun napas pria itu semakin memburu kala mengingat sesuatu yang begitu melukai hati dan perasaan nya.
“Berikan aku bukti agar aku percaya dengan kesetiaan mu ini!”
Alice mengangguk pelan dan terus mengatur napas nya. Belum lagi lehernya terasa sangat sakit.
“Aku akan buktikan seiring berjalan nya wak--”
“Aku mau sekarang!” Potong Theo dengan nada tinggi nya.
Alice memejamkan matanya sekilas mencoba memikirkan apa yang harus ia buktikan saat inim Kemarahan Theo sudah tidak bisa di toleransi lagi.
“Baiklah bangun terlebih dahulu, aku--”
“Aku ingin dirimu, aku ingin tubuh mu dan aku ingin jiwa dan raga mu hanya milik ku seutuhnya!”
Alice terperenjat mencoba mencerna apa yang Theo ucapkan.
“Saat ini, hari ini.. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya agar aku tau kamu bisa setia padaku!”
“The-- Erghhhh!!”
Ucapan Alice tertahan dengan erangan nya kala Theo mengigit leher serta meremat pinggang nya.
...****************...
*Ayo votenya bunda-buda🤭