Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab27-•



“Pokok nya sekarang kamu harus ikut pulang bersama Daddy!” Paksa Brandon yang terus menarik bahu Theo agar melepaskan pelukan nya pada tubuh Alice.


“Aku mohon Dad, dengarkan penjelasan aku hikss..” Lirih Alice bersamaan dengan isak tangisnya.


“Jelaskan apa lagi? Bahkan pria brengsek ini hanya diam saja!”


Alice menggeleng lirih walaupun saat ini kepala nya tengah didekap oleh Theo. Perutnya terasa sangat bergejolak seakan ingin memuntahkan sesuatu.


“Jangan seperti ini, Don! Kamu pikir pernikahan mereka hanya main-main!” Sentak Jhon yang sedari tadi mencoba berbicara baik-baik.


“Aku tidak ingin merusak persahabatan kita, jadi lebih baik kamu diam saja. Jhon” Tekan Brandon.


”Kamu pikir dengan begini persahabatan kita tidak akan hancur?”Sinis Jhon dengan kekehan nya.


“Kita bicarakan baik-baik dan dengar apa yang ingin Alice katakan!” Sela Giselle begitu tegas dan menatap tajam suami nya.


Alice semakin terisak, kepalanya mendongak menatap wajah Theo yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan begitu teduh.


“Jangan terus menangis seperti ini sayang” Ucap pelan Theo menyeka air mata Alice.


“Dan jangan tinggalkan aku. Aku mohon..” Lanjut Theo.


Tess..


Sebutir air mata Theo menetes begitu saja tanpa seizin pemilik mata nya, pria itu tidak ingin kehilangan wanita yang berhasil meruntuhkan hati nya.


“Alice..” Panggil lembut Giselle.


“Lepaskan pelukan mu, Bastian” Ujar tegas Jhon.


Namun Theo menggeleng tidak berniat menatap kerumunan keluarga nya dan hanya terfokus pada wajah Alice.


“Kita bicarakan baik-baik, jadi lepaskan pelukan nya!”


Theo terus menggeleng dan semakin mengeratkan pelukan nya. Wajah pria itu sudah terbenam pada ceruk leher Alice.


“Seperti ini saja gapapa kok Pa” Ucap Alice menghentikan gerakan bibir Jhon yang berniat mengomeli anak nya.


“Katakan apa yang ingin kamu katakan” Suara dingin penuh kepedihan itu berhasil mengalihkan fokus Alice.


Tatapan datar penuh kekecewaan dan rasa sedih di mata sang Daddy begitu menyayat hati Alice. Tentu nya wanita itu tau bahwa Brandon sangat mengkhawatirkan nya.


Menarik dalam napasnya, dan berusaha meneguhkan hatinya. Lantas Alice kembali membuka suaranya


“Dari mana Daddy mengetahui hal ini?” Tanya Alice.


“Tidak penting Daddy tau dari mana, yang pasti saat ini Daddy merasa jadi orang bodoh!”


Alice terdiam, menggeleng kepalanya menahan sakit dan air mata yang hendak kembali menetes.


“Pantas saja setelah resepsi kalian tidak pernah mengunjungi Daddy dan Mommy, ternyata kamu menyembunyikan lebam yang bisa di lihat oleh kami!”


“Dan ini semua ulah Theo, pria brengsek yang berbicara begitu tulus dihadapan kami tentang cinta nya. Namun ternyata dia yang melukai mu bahkan di malam itu!”


Sontak mata para keluarga langsung melotot tidak percaya, terutama Jhon yang benar-benar tidak menyangka.


“Tidak Dad..” Lirih Alice mengigit bibirnya menahan tangis. “Itu bukan Theo yang melakukan nya..”


Theo mengurai pelukan nya dan menatap begitu dalam wajah Alice, wanita yang selama beberapa hari ini terus mendiami nya dan terus ia siksa.


“Jangan berbohong jadi, Alice” Tekan geram Brandon.


“Aku tidak berbohong, malam itu aku benar-benar hampir dibunuh oleh perampok, tetapi justru Theo lah yang membantu ku” Bohong Alice, air matanya langsung menetes begitu saja.


Brandon terdiam mengepalkan tangan nya merasa tidak percaya dengan ucapan Alice.


“Lalu kenapa saat di rumah sakit dia seakan-akan tidak mengenal mu?”


Alice menatap Theo dan mengangguk pelan meminta agar Theo menjawab pertanyaan Brandon.


“Jika aku bilang bahwa aku yang menolong Alice, apa Daddy tidak akan shock?” Ujar Theo mulai mengeluarkan suaranya.


“Kemana jejak itu? Jejak darah dan lain nya. Kenapa tidak ada di lokasi?” Tanya Brandon.


“Apa itu penting? Menurut ku yang terpenting saat itu hanya lah menyelamatkan Alice dan memberikan balasan yang setimpal pada para perampok itu!”


Brandon terdiam menatap kedua nya bergantian. Tidak ada raut mencurigakan antara kedua nya, memang Theo dan Alice begitu pandai menyembunyikan nya.


“Lalu.. Bagaimana dengan lebam di pergelangan tangan Alice?”


Theo terdiam. Melihat keterdiaman Theo, Brandon pun menyeringai karena kali ini pasti akan terbongkar.


“Bukan lebam, tetapi tangan ku terbentur meja dapur”


Jawaban tak meyakinkan tetapi cukup masuk akal itu membuat semuanya saling beradu pandang.


“Sudah jelas 'bukan?” Ujar Theo kembali bersuara. “Dari mana Daddy mendapatkan aduan seperti ini hingga hampir merusak rumah tangga kami?!”


Brandon menatap tajam Theo, tentunya tidak semudah itu Brandon mempercayai ucapan Theo maupun Alice. Ditambah dengan bukti-bukti yang ia terima beberapa hari lalu.


“Puas Dad?” Cercah Giselle menatap kecewa suami nya.


“Puas Daddy membuat anak kita tertekan dan menuduh Theo padahal Theo baik pada Alice!”


“Tenang lah, Giselle. Ini hanya salah paham” Ujar menenangkan Jinny seraya mengusap-usap bahu Giselle.


“Sudah hentikan semua nya. Ini sudah terlalu malam untuk bertengkar dan beristirahat lah di sini, besok kita akan bahas kembali” Putus tegas Jhon.


“Tidak ada yang perlu dibahas, aku ingin pulang!” Giselle berlalu begitu saja meninggalkan kamar tersebut.


“Dad..” Panggil Alice membuat Brandon langsung menatapnya.


”Kejar Mommy, jangan sampai Mommy menangis dan aku akan menjelaskan secara detail setelah semua nya tenang jika Daddy masih belum percaya”


.


Kamar terasa begitu hening ketika semuanya telah memilih untuk pulang. Mata Theo tak lepas menatap Alice yang tengah memejamkan matanya.


“Terimakasih..”


Alice membuka matanya, namun enggan menatap Theo. “Sudah percaya dengan ku? Aku tidak sama sepertinya” Sahut Alice.


Theo mengangguk dan kembali memeluk wanita yang berkali-kali ia lukai.


“Aku kagum dengan kebohongan mu di hadapan orang tua kita. Aku tidak berharap kamu alan berbohong seperti ini”


“Jika aku tidak berbohong, Daddy sendiri yang akan turun tangan menggugat cerai dirimu. Dan aku.. Aku akan menjadi wanita pengkhianat yang melanggar janji ku padamu dan pada tuhan”


Theo tertegun, pria itu tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini. Alice sangat mengagumkan dan tidak sia-sia ia memilih untuk mempercayai istri nya ini.


“Tetap bersama ku sampai napas terakhir ku..” Gumam Theo.


“Berjanjilah untuk tidak menyakiti ku lagi”


Theo mengangguk cepat. “Aku berjanji sayang, terlebih lagi saat ini di dalam perut ini ada buah hati kita”


Mata Alice membola sempurna setelah mendengar ucapan Theo, belum lagi tangan pria itu mengusap perutnya.


“Ma-maksud kamu?”


Theo menepuk kening nya sendiri dan duduk tegak lalu menarik lembut Alice agar ikut duduk dihadapan nya.


“Ini semua karena Daddy terus mengajak bertengkar aku jadi lupa berbicara” Gumam kesal Theo.


“A-aku hamil?” Tanya Alice karena tak kunjung mendapat penjelasan dari Theo.


Theo mengangguk dan tersenyum begitu lebar. “Benar sayang, kamu hamil. Kita akan segera memiliki anak!” Sahut nya antusias.


“........”


...****************...