Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-57-•



“Garvin Matheo Oliver” Tutur Theo dengan tangis nya.


Kedua tangan pria itu melilit menggendong sang putra begitu hati-hati. Bayi laki-laki yang baru saja di beri nama adalah harta berharga di hidup Theo.


“Bagus, aku suka” Gumam Alice mengusap pelan kepala sang putra.


“Garvin..” Panggil serempak para orang tua yang kini berdiri di belakang dan samping Theo demi melihat wajah bak pangeran bayi laki-laki itu.


Tawa bahagia dan tangis haru terus mengisi ruang rawat Alice. Beberapa jam lalu wanita itu di pindahkan ke ruang rawat, dan beberapa menit lalu bayi itu baru saja di serahkan setelah selesai pemeriksaan dan pembersihan.


“Papa mau gendong” Ujar Jhon yang sudah mengayunkan tangan nya, bersiap-siap mengambil alih cucu nya.


“Gak boleh!” Sentak Theo menjauhkan sang Papa.


Mendengar sentakan itu berhasil membuat bayi yang tenang dalam tidur nya jadi menangis begitu kuat.


“Astaga boy, maafkan Papi. Sutt.. Maafkan Papi oke?” Panik Theo seraya menimang-nimang sang putra yang tak kunjung berhenti menangis.


“Tuh kan kualat, pasti Garvin ingin di gendong oleh Papa”


“Garvin gak mau di gendong sama kamu, Jhon. Mungkin dia ingin di gendong dengan aku” Ujar mengejek Brandon. “Sini Theo, Daddy mau gendong Garvin”


Theo menjauh dan menatap tajam para pria setengah baya itu. “Jika kalian ingin menggendong bayi, sana bikin jangan gendong anak aku!” Ketus nya.


“Theo!!” Geram kedua pria setengah baya itu berhasil mengundang tawa.


“Oaakkk.. Oaaakk.. Oaakkk”


“Tenang lah boy, ini sudah Papi gendong lho masa masih nangis aja. Suttt...”


Sesaat Alice hanya menggelengkan kepalanya, sampai akhirnya wanita yang tengah bersandar itu mengangkat kedua tangan nya. “Sini biar aku gendong”


Dengan penuh ke tidak relaan perlahan Theo mendekati istri kecil nya dan menyerahkan harta berharga dalam hidupnya ke gendongan sang istri.


“Mungkin Garvin lapar, Lice” Ucap Jinny yang mengerti gelagat seorang bayi.


“Hmm bisa jadi Garvin lapar” Timpal Giselle.


Alice tersenyum hangat menatap putra nya yang masih terus menangis begitu kencang, sampai akhirnya kepalanya terangkat dan menatap para keluarga nya.


“Baiklah-baiklah, kami akan keluar” Pasrah Brandon.


Setelahnya pria itu menarik Jhon untuk keluar, begitu pun dengan Jinny dan Giselle yang mengikuti langkah para suami nya.


“Kenapa? kok mereka keluar?” Tanya bingung Theo.


“Kamu juga keluar sana, aku mau menyusui Garvin”


“No, no, no. Itu milik aku!” Tegas Theo menahan pergerakan Alice.


“Theo..” Gumam kesal Alice. “Lepas ih, kasihan ini anak nya udh nangis terus!”


Mata Theo berkaca-kaca, kepalanya menggeleng. Ia sangat tidak rela jika kedua gunung favoritnya akan di nikmati oleh sang putra.


“Oaakk.. Oaakk.. Oaakk..”


Tangis bayi itu semakin kencang, membuat Alice dengan kesal menghempaskan tangan Theo dan langsung mengeluarkan salah satu sumber makanan sang putra lalu langsung menyumpal nya di mulut bayi kecil itu.


“Sayang aaaaa gak rela, aku gak ikhlas hikss” Rengek Theo kembali menangis. Tak tanggung-tanggung, kini pria itu malah duduk di lantai lalu menendang angin bak seorang anak kecil yang dilarang sang ibu saat ingin membeli mainan.


“Astaga Theo, jangan seperti anak kecil!” Kesal Alice meringis pelan saat merasakan his*pan sang anak yang terasa begitu kuat.


“Aaaaa sayang milik aku, punya aku hikss”


Alice memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Menghadapi Theo jika sedang seperti ini bukan lah hal yang mudah, namun tidak ada pilihan lain selain mengacuhkan tangis pria dewasa itu yang sebenarnya sangat mengganggu.


“Diam lah Theo, jika masih terus menangis silahkan keluar!” Geram tertahan Alice menatap tajam Theo yang tak kunjung berhenti menangis.


Theo menggeleng sendu, menatap memelas ke arah Alice.


“Kalau kamu nangis terus yang ada Garvin gak bisa tidur!”


Theo menunduk dan kembali terisak, tangan nya bergerak membentuk pola abstrak pada lantai ruangan itu.


“Haishh, baiklah sini naik!” Titah pasrah dan frustasi Alice.


Theo menurut dan mulai berdiri lalu duduk di tepi ranjang rawat sang istri, namun pria itu enggan untuk menatap Alice.


“Berbaring kalau kamu mau!” Ketus Alice membuat Theo langsung menoleh dan menatap wajah cantik itu dengan air mata yang terus berjatuhan.


Pandangan nya turun melihat salah satu gunung menganggur sang istri yang menggantung bebas, lantas matanya kembali menatap Alice.


“Mau gak?” Ulang Alice masih dengan nada ketusnya.


Theo mengangguk cepat dan langsung membaringkan tubuhnya pada sisa ranjang rawat itu. Belum sempat mulutnya menggapai gunung menggantung itu, tetapi Alice menahan nya.


“Berhenti menangis dan hapus sisa air mata mu”


Dengan cepat Theo menghapus sisa air mata nya dan menghentikan tangisnya. Sedetik kemudian pria itu langsung menyambar gunung menggantung itu dan mengh*sapnya tak kalah kuat dari his*pan sang putra.


“Begini rasanya mempunyai dua bayi” Batin tertekan Alice.


...****************...