Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab49-•



“Sayang..”


“Suamiku..”


“Cintaku..”


“Sudah dong jangan ngambek terus, nanti tambah tua lho”


Bukan nya berhasil dengan bujuk rayunya, tetapi Alice semakin di diami oleh Theo. Bahkan dari semalam pria itu terus mendiami nya perkara Mangga Muda.


“Sini aku pakai kan” Alice berniat mengambil alih dasi di tangan Theo saat pria itu tak kunjung mendapatkan bentuk dasi yang sempurna.


Tetapi Theo malah menghindar dan mengambil tas kerja beserta kunci mobil nya, lalu tanpa berkata-kata lagi pria itu langsung keluar dari kamar.


“Huuft..” Helaan berat napas Alice menjadi penghujung drama di dalam kamar ini. “Ternyata seperti ini rasanya menghadapi mood PakMil” Guman Alice sebelum akhirnya menyusul langkah Theo.


**


“Lho, dimana Theo?” Ujar bingung Alice saat melihat meja makan hanya di isi oleh orang tua nya.


Brandon dan Giselle saling beradu pandangan hingga akhirnya Giselle mengeluarkan suaranya.


“Tadi Theo pamit sama kami katanya ada meeting pagi ini, dia juga tidak sarapan dan langsung pergi begitu saja” Jelas Giselle.


“Astaga Theo..” Desah frustasi Alice.


“Ada apa? Apa Theo masih mendiami sama kamu?”


Alice mengangguk pelan dan tentunya Brandon serta Giselle tau apa yang terjadi hingga sang menantu mendiami putri nya.


“Yaudah sini sarapan dulu, setelah itu akan Daddy antar kamu ke perusahaan Theo”


Alice hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya wanita itu duduk dan mulai mengisi perutnya.


Sedangkan di dalam sebuah mobil yang tengah melaju dengan kecepatan standar-nya. Theo tengah meraung-raung kesal dan memukuli jok mobil di depan nya.


“Kenapa sih Mama harus menuruti ucapan Alice?! Aku suka mangga itu, kenapa di bawa lagi arghh!!”


“Sudah di berikan tapi di ambil lagi, dan ini semua karena Alice!”


Bughh! Bughh! Bughh!


Seorang bodyguard yang duduk di bagian itu lah yang menjadi sasaran Theo. Punggung nya terhentak-hentak mendapat pukulan dari belakang sana karena sang boss terus memukuli sandaran jok mobilnya.


“Kau!” Sentak Theo menatap tajam bodyguard lewat kaca.


Sang bodyguard langsung menoleh. “Ada apa boss?”


“Carikan mangga muda tapi dalam nya sudah berwarna kuning!”


“Jika sudah berwarna kuning, itu mangga matang boss”


“Kau menentang ku?!” Desis murka Theo menendang jok itu hingga membuat guncangan pada tubuh bodyguard.


Dengan cepat bodyguard tersebut menggeleng. “Baik boss, akan saya carikan”


“Ck!”


..


...


“Alice!” Pekik seorang pria seraya berlari mendekati Alice yang saat ini menghentikan langkahnya karena panggilan pria tersebut.


“Eoh, Aldo?” Gumam Alice tak lama kemudian wanita itu tersenyum.


Napas Aldo tersengal, pasalnya pria itu berlari cukup cepat demi mengejar langkah Alice yang baru saja ia lihat memasuki gedung menjulang ini.


“Ada apa Aldo?”


“Maafkan aku tidak sopan, senior”


“Astaga tidak, tidak. Panggil aku Alice saja lagi pula kita seumuran”


Aldo menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal lalu mengangguk.


“Oh itu.. Emm aku ada sedikit masalah dengan pekerjaan ku dan rekan lain sibuk dengan tugasnya..” Aldo menjeda ucapan nya karena tak enak untuk melanjutkan nya.


Namun Alice tentu mengerti apa yang dimaksud oleh pria tinggi dihadapan nya. “Kamu ingin meminta bantuan ku, hmm?” Tanya nya dengan nada meledek.


Aldo terkekeh garing dan mengangguk malu. “Aku benar-benar kesulitan, tetapi jika kamu ada urusan tidak usah”


“Tentu aku..” Alice menjeda perkataan nya membuat Aldo menatap wanita itu penuh harap dan tatapan sulit diartikan nya. “Aku bisa membantu mu, haha” Sambung nya di iringi kekehan.


Aldo menghela napas lega dan tersenyum lebar, tetapi tak lama matanya menatap ke arah paper bag yang di bawa oleh wanita itu.


Alice yang mengerti arah pandangan Aldo pun lantas kembali membuka suaranya. “Aku akan ke divisi mu setelah mengantarkan sarapan ini ke ruangan Theo, oke?”


Aldo tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


“Aku duluan, Al” Setelah mengucapkan itu Alice kembali melangkah menuju lift khusus yang biasa digunakan oleh Theo.


“Kenapa kamu begitu cantik, Lice..” Gumam Aldo dengan helaan beratnya.


.


Ceklek~


“Dimana sopan santun mu, siala--”


Alice membuka pintu ruangan Theo tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dan hal itu pun mendapat omelan dari sang pemilik ruangan sebelum ucapan nya terhenti begitu melihat wajah Alice.


Alice tersenyum kecil dan kembali menutup pintu. “Apa aku harus mengetuk pintu ruangan suami ku terlebih dahulu sebelum masuk?” Tanya nya dengan nada menggoda.


Theo hanya berdecih pelan dan kembali terfokus pada rentetan huruf dan angka-angka di dalam kertas memusingkan itu.


“Ayo sarapan dulu, setelah itu lanjut lagi” Ujar Alice yang baru saja menata makanan dan berjalan menghampiri Theo.


“Sayang..” Panggil lembut Alice memeluk leher Theo dan duduk dipangkuan pria itu.


“Turun!” Desis tajam Theo yang baru saja mengeluarkan suaranya setelah mendiami Alice cukup lama.


Namun bukan nya turun, Alice malah menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang suami.


“Baby sedang rindu suara Papi-nya” Bisik Alice menarik tangan Theo lalu menempatkan pada perutnya.


Theo hanya diam, tidak bergerak atau pun bersuara.


“Dia rindu ketika Papi-nya terus mengoceh”Lanjut Alice menggerakkan tangan Theo agar mengusap perutnya.


“Dia sedih karena Papi-nya mendiami Mami-nya” Nada lirih ini dapat mengoyahkan pertahan Theo. Ditambah ucapan Alice membuat dirinya merasa bersalah.


Lantas pria itu menegakkan tubuh Alice lalu mengangkat nya hingga duduk di meja kerja nya. Alice yang sempat memekik kaget pun kini hanya terdiam membisu.


“Maafkan Papi, sayang. Salahkan Mami yang melarang keinginan Papi” Ucap lembut Theo tepat di hadapan perut Alice yang sedikit mengeras.


Cup.. Cupp.. Cuppp..


Kecupan hangat terus Theo layangkan pada perut Alice yang tidak tertutup apapun karena pria itu mengangkat baju yang Alice kenakan sebatas dada.


Setelah selesai dengan kecupan nya Theo beralih memeluk pinggang Alice dan menenggelamkan wajahnya pada perut putih itu.


Sedikit merasa geli karena jambang tipis pria itu menari-nari di atas kulit perutnya, namun Alice tersenyum begitu lebar karena merasa senang.


“Papi gak boleh mendiami Mami seperti ini” Cicit Alice bak seorang anak kecil seraya mengusap-usap kepala Theo.


“Sudah Papi bilang, salahkan Mami karena dia jahat!”


“Mami begini karena demi kebaikan Papi kok” Sahut cepat Alice masih dengan nada yang sama.


Theo kembali terdiam dan tak lagi membalas ucapan Alice, sejujurnya pria itu sangat merindukan Alice karena semalam ia harus rela menahan semua keinginan nya karena marah pada sang istri.


“Apa aku di maafkan?” Tanya pelan Alice.


Lama Theo tak kunjung menjawab sampai akhirnya kepala pria itu mengangguk.


“Sebagai gantinya berikan aku jatah satu ronde setiap malam!”


...****************...