
“Jadi karena itu?” Ujar tak percaya Brandon dengan wajah tercengang nya.
Giselle pun sebaliknya, wanita setengah baya itu benar-benar di buat shock begitu mendengar penjelasan Alice tentang kondisi Theo saat ini.
“Aku menyesal Dad, jika bisa aku ingin menarik kembali sumpah ku” Wajah khawatir dan tatapan memelas Alice membuat Brandon dan Giselle semakin iba terhadap Theo.
“Tidak masalah, aku senang bisa merasakan nya dari pada kamu yang harus menanggung semua nya” Sahut Theo menggenggam tangan sang istri.
Mata sayu Theo beralih menatap bergantian Brandon dan Giselle. “Dad, Mom, maafkan aku atas kejadian tadi. Aku hanya refleks karena pelayan itu ingin menyentuh ku”
“Sudahlah tidak usah di bahas, sekarang bagaimana kondisi mu? Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?”
Theo menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Brandon. “Aku hanya ingin istirahat saja”
“Baiklah kalau gitu istirahat saja dan panggil kami jika terjadi sesuatu. Mengerti Alice?”
Alice mengangguk. Setelah mendapat respon sang putri, Brandon dan Giselle pun meninggalkan kamar sepasang pasutri itu.
Pintu kamar tertutup rapat, secara perlahan Theo menaikkan kepalanya ke atas pangkuan Alice lalu menenggelamkan wajahnya di perut istri kecilnya yang masih rata.
“Kapan perut ini akan besar?” Gumam bertanya Theo.
Alice menggeleng dengan kekehan pelan nya. “Tunggu beberapa bulan lagi” Jawabnya seraya membelai rambut Theo.
“Huuft.. Aku tidak sabar ingin memeluk perut besar kamu, dan memeluk anak kita nanti”
“Jangan banyak berkhayal, lebih baik sekarang istirahat”
“Aku tidak berkhayal sayang, perut kamu memang akan besar dalam hitungan bulan ini dan-- hooekk..!” Ucapan Theo terhenti begitu rasa mual kembali menyerang nya.
“Astaga sudah cukup, jangan banyak bicara! ” Tegas Alice saat merasakan bahwa Theo hendak kembali berbicara.
Theo diam dan semakin membenamkan wajahnya, mencium aroma khas yang selama beberapa hari lalu ia sangat rindukan.
“Maafkan aku atas kejadian semalam dan di dapur tadi”
“Jangan di ulangi. Dan lain kali cukup di tegur saja jangan bermain fisik”
Mendengar hal itu seketika kepala Theo langsung terangkat dan menatap sayu wajah Alice. “Aku ingin..”
“Hah?” Alice bingung, dahi wanita itu berkerut dan mencoba mencerna ucapan sang suami.
“Ingin apa?”
Theo menghela napas berat dan kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan Alice. “Sudah lah tidak usah..”
“Serius hei, kamu ingin apa? Ingin makan?”
Theo menggeleng, tangan pria itu bergerak memainkan jari-jari Alice lalu mengarahkan nya pada bibirnya.
“Theo” Peringat Alice menahan jari telunjuknya yang hendak masuk ke dalam mulut Theo.
“Aku melihat darah pelayan tadi, dan aku..” Theo menghentikan ucapan nya dan menatap Alice dengan mata sayu nya.
Tanpa di lanjutkan pun Alice sudah mengerti maksud dan keinginan Theo, memang sudah sangat lama pria itu tak lagi seperti dahulu. Dimana sering mengigit jari, leher, atau apalah itu demi mencicipi darah Alice.
“Baiklah, perlahan” Pasrah Alice dengan senyum tipis nya.
Jari telunjuk Alice sudah menempel di bibir Theo, tetapi pria itu tak kunjung melakukan keinginan nya.
“Kenapa? Gak jadi?” Tanya bingung Alice.
Theo menggeleng pelan. “Nanti kalau Dad sama Mom tahu dan bertanya, bagaimana?”
“Aku bisa bilang karena kejepit pintu atau tertusuk jepit rambut”
“Tambah sayang doang?”
“Tambah cinta juga”
Alice terkekeh gemas, sejak kapan seorang psikopat haus darah ini bertingkah seperti anak kecil yang haus akan kasih sayang ibu nya.
“Tapi aku mau darah yang di sini” Tutur Theo seraya menduselkan hidungnya pada leher putih dan harum sang istri.
“Yasudah, gigit saja Mr.Vampir”
“Aku bukan vampir” Elak tak terima Theo.
“Tapi kamu seperri vampir yang haus darah”
“Sayang..” Rengek kesal Theo.
Alice kembali terkekeh namun kali ini terlihat seperti tawa lepas yang menghiasi wajah cantik itu. Tangan nya bergerak menepuk-nepuk punggung Theo.
“Aku akan menutupi nya dengan hansaplast dan di tambal dengan foundation, jadi tenang saja”
Tanpa berlama-lama lagi Theo langsung melakukan ritualnya. Sebelum benar-benar mengigit leher Alice, terlebih dahulu Theo menj*lati nya dan meny*sap nya hingga membuat wanita hamil itu melenguhh.
“Theo, ahh..”
Gigit tajam Theo langsung mengigit kulit leher Alice hingga lenguhan wanita itu berganti dengan erangan kesakitan yang tertahan karena Alice mengigit bahu Theo.
Slurp~ Slurp~ Slurp~
Suara hiisapan dan jiilatan serta di iringi tegukan yang berasal dari Theo berhasil mengisi keheningan kamar itu. Alice hanya terdiam menahan rasa sakit dan perih nya.
Tegukan rakus terus terdengar, Theo tidak kunjung puas merasakan darah yang masih mengalir akibat hiisapan nya itu. Jika kebanyakan orang merasa jijik dengan aroma darah apa lagi rasanya.
Namun berbeda dengan Theo yang malah menjadi favoritnya, terlebih lagi darah Alice. Rasanya sangat berbeda dari ribuan darah yang pernah Theo rasakan.
“Su-sudah..“ Lirih Alice tak tahan.
Mendengar suara lirih Alice seketika Theo pun tersadar dari dunia nya dan langsung menjauhkan kepalanya.
“Stthh..” Ringis pelan Alice memeng lehernya.
“Ma-maaf sayang, maafkan aku..”
Alice menggeleng pelan dan tersenyum tipis, tetapi hal itu malam membuat Theo semakin ketar-ketir. Lantas pria itu langsung beranjak dari kasur dan mencari kotak obat di dalam kamar itu.
*
*
*
“Sono tornato, Italia. E presto incontreremo Bastian” Gumam wanita berpenampilan glamour yang baru saja menuruni pesawat.
“Selamat datang kembali, Nona Jane” Sapa seorang pria selaku asisten wanita itu-- Jane Xyrin.
“Nona ingin langsung pulang atau?..”
“Pulang saja Jef, hari ini aku sangat lelah dan aku harus bersiap untuk hari esok”
Pria bernama lengkap Jefri Gurnio itupun mengangguk dan menuruti permintaan sang nona.
...****************...
(Aku kembali, Italia. Dan kita akan segera berjumpa Bastian)-- Gumam Jane.