
“Aku terlalu bodoh, ternyata selama ini dia mengkhianati aku”
“Aku memusuhi semua orang yang menentang hubungan aku dengan nya, dan itu semua aku lakukan karena aku sangat-sangat mencintai nya”
Theo terisak pelan di sela leher Alice, pria itu semakin membenamkan wajahnya mengingat rasa sakit yang ia rasakan dahulu.
Rasa sakit yang membuat dirinya menjadi seorang psikopat gila yang haus darah, dan semua itu berawal saat Theo benar-benar frustasi.
“Kamu menangisi dia?” Tanya Alice yang langsung mendapat gelengan dari Theo.
“Hati ku sakit, sangat sakit” Isak Theo. “Aku hanya takut kamu seperti dia, aku tidak mau di selingkuhi lagi hikss”
“Hmm, dia sangat bodoh!” Desis Alice dengan nada geram yang di buat-buat.
“Seharusnya dia setia dengan pria seperti mu. Sudah kaya raya, mapan, ditambah kamu pewaris tunggal keluarga Oliver yang tidak akan habis hartanya selama delapan tanjakan” Lanjut Alice.
Seketika isak tangis Theo terhenti digantikan dengan kekehan pelan nya, pelukan pria itu semakin erat.
“Maka dari itu aku akan setia padamu, karena kamu kaya” Ucap Alice lagi membuat pelukan Theo seketika terlepas.
“Apa hah?!” Kesal Theo dengan mata melotot.
“Apa aku salah? Kamu 'kan kaya, jadi hidup aku terjamin dan anak-anak aku nantinya”
Menghapus kasar jejak air matanya lalu Theo mencubit pipi Alice.
“Aaww..” Ringis Alice mencoba melepaskan tangan Theo.
“Jadi kamu gak cinta sama aku? Kamu cuma mau harta aku?!” Tanya tidak santai Theo.
Alice mengangguk dan tersenyum lebar begitu mendapati cubitan Theo pada pipi nya terlepas.
“Tentunya aku cinta” Sahut Alice yang membuat senyum Theo langsung terbit.
“Cinta aku?” Tanya Theo memastikan dengan wajah sumringah nya.
Alice menggeleng dan bangun dari posisinya. “Cinta harta kamu”
Secepat kilat Alice langsung berjalan begitu cepat menuju pintu ruangan.
“Alice!!” Pekik geram Theo mengejar langkah sang istri.
Sedikit lagi wanita itu menggapai handle pintu tetapi tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Theo hingga wajahnya terbentur dada keras milik suami nya itu.
Mendorong Alice ke tembok lalu Theo mengungkung nya. Tatapan kedua nya beradu, tawa kecil masih menghiasi wajah Alice begitu melihat ekspresi marah Theo.
“Jadi kalau aku jatuh miskin kamu akan meninggalkan ku? Begitu?”
“Tentu” Sahut Alice tanpa ragu.
Tanpa di duga jawaban ibu berhasil memancing api di dalam dada Theo hingga membuat pria itu langsung menekan tengkuk leher Alice lalu mengigit bibir wanita itu.
“Awwstt!!” Pekik tertahan Alice.
Memukul-mukul punggung Theo namun itu semua tak berarti apa-apa saat lidah pria itu menerobos masuk dengan bibir yang terus menyeedot darah yang keluar dari bibir Alice.
Glek~ Glek~
Terdengar suara tegukan yang berasal dari Theo beradu bersama suara decapan bibir kedua nya.
“Jika begitu, aku akan bekerja keras agar tidak jatuh miskin dan kamu akan tetap di samping ku” Ujar Theo dengan suara berat nya tepat di depan bibir Alice.
“Maka lakukan semua itu demi mempertahankan harta mu” Sahut terengah-engah Alice.
“Baiklah, kamu harta ku jadi biarkan aku akan melakukan hal yang akan mempertahankan hartaku ini..”
Sedetik kemudian Theo langsung menyerang leher jenjang sang istri dan menghujami nya dengan gigitan serta hiisapan hingga membuat kepala Alice mendongak.
“Theo..” Desah lirih Alice menjambak pelan rambut Theo.
Tangan Theo bergerak tergesa-gesa menarik dasi yang mencekik lehernya lalu beralih membuka kemeja yang digunakan istrinya.
“Lain kali jangan memakai kemeja kecuali di depan mu” Ujar Theo setelah menarik kemeja Alice hingga terlepas dari tubuhnya.
“Kenapa?” Tanya Alice hendak menyilangkan tangan nya.
“Kamu terlihat semakin panas jika menggunakan kemeja, sayang..” Jawab geram Theo menarik kedua tangan Alice lalu menahan nya di atas kepala.
“Dia sudah cukup kuat sayang, aku ingin mengunjungi nya dan bekerja keras agar harta ku tetap bersama ku”
Cklikk~
Kacamata penutup gunung pun terlepas dan terjatuh begitu saja di lantai. Secepat kilat mulut panas Theo langsung mengh*sap kuat ujung gunung mencuat itu.
“Ah..” Desah lirih Alice dengan tubuh yang terus berkerak bak seekor cacing kepanasan.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Suara ketukan pintu tepat disamping Alice berhasil membuat tenaga Alice langsung pulih dan mendorong Theo menjauh darinya.
“Sayang..” Geram tertahan Theo.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
“A-ada orang di luar” Ujar gugup Alice menutupi gunung nya seraya memunguti pakaian nya.
“Boss saya mas--”
“Jangan menganggu saya sampai jam kerja selesai!” Potong membentak Theo dan kembali menarik tubuh Alice.
“Theo!” Pekik kaget Alice.
“Aku sedang mempertahankan hartaku, jadi jangan melarang ku sayang” Tekan Theo.
“Aku manusia Theo!”
“Mulai saat itu, kamu harta ku. Harta terbesar yang aku miliki dalam hidupku”
Nada lembut penuh penekanan itu berhasil mendominasi tubuh Alice, bahkan sentuhan yang pria itu berikan mampu membuat kaki Alice melemas.
Dengan mudahnya Theo mengangkat tubuh Alice ke dalam gendongan ala koala nya lalu berjalan ke arah meja kerja.
“Ma-masih siang Theo” Cegah Alice begitu Theo menurunkan nya di meja kerja.
“Sengaja aku menyetub*hi mu di siang hari, konon jika kita berhubungan di siang hari akan mendapatkan anak laki-laki” Ujar Theo melepas satu persatu pakaian nya.
Alice menggeleng dan memejamkan matanya.
“Perkataan siapa itu, lagi pula ini bukan yang pertama”
“Apa kamu lupa? Saat pertama kali kita melakukan nya itu tepat di jam segini”
Mata Alice langsung melotot begitu lebar saat mendengar ucapan Theo, ditambah dengan gerakan tiba-tiba pria itu yang kembali mengangkat tubuhnya.
“Theo, pakai baju mu!!” Pekik Alice lagi dan lagi begitu tersadar bahkan Theo sudah topless.
“Aku ingin anak laki-laki”
“Kamu tidak bisa menentukan nya!”
“Jika dia bukan anak laki-laki maka kita akan terus melakukan nya hingga anak laki-laki keinginan ku jadi”
“Kamu kira aku robot!” Kesal Alice mencubit dada Theo.
Tanpa sadar kini kedua nya telah memasuki kamar yang menjadi saksi bisu kekejaman Theo saat pertama kali melakukan s*x dengan sang istri.
Alice melihat sekeliling dan sekelebat bayangan saat Theo menyiksa nya di kamar ini langsung membuat wanita itu memejamkan matanya dan mengigit bibir terluka nya hingga kembali mengeluarkan darah.
“Sayang..” Panggil lembut Theo seraya merapihkan rambut Alice.
“A-aku..”
“Buka matamu, dan lihat aku yang sekarang. Aku berjanji akan melakukan nya dengan perlahan” Potong Theo mengerti ketakutan Alice.
“Sudah aku bilang, kamu tidak boleh trauma dan hanya boleh mencintai aku ataupun hartaku” Lanjutnya mendorong perlahan tubuh Alice Agar berbaring.
Kecupan basah terus Theo layangkan pada tubuh sang istri tak tertinggal sejengkal pun hingga saat kecupan itu naik wajah nya, baru lah perlahan Alice membuka matanya.
“Ta-tapi baby nya--”
“Aku tau dia kuat”
...****************...