
“Sayang..”
“Hmm”
“Ish jangan jawab seperti itu!” Kesal Theo menarik dagu Alice agar menatap nya.
Mendengus pelan lalu Alice tersenyum begitu tipis. “Baiklah, ada apa suami ku?” Tanya nya lembut.
Siapapun yang ada di dekat Theo, tolong selamatkan pria itu dari debaran jantung nya yang tidak menentu.
Mendapat sahutan seperti itu entah kenapa debaran jantung nya terasa begitu cepat dan jangan lupakan saat ini pria itu tengah mengigit bibirnya sendiri.
“Jangan seperti ini, aku belum siap” Gumam Theo mengalihkan pandangannya.
Alice mengernyit bingung dengan tingkah suami nya. Hingga akhirnya wanita hamil itu tersadar dan senyum jahil pun tersungging di bibirnya.
“Apa kamu mencium aroma sesuatu?” Tanta Alice mencoba menatap Theo.
“Aroma apa?” Theo menoleh dan mengendus tubuhnya. “Aku gak bau kok”
“Memang nya siapa yang bilang kamu bau?”
Theo menggeleng pelan lalu menatap Alice dengan wajah penasaran nya.
“Memang nya kamu mencium aroma apa? Apa aroma itu bikin kamu mual?”
Wajah Alice maju beberapa centi hingga sontak Theo memundurkan kepalanya.
“Aku mencium aroma bunga bertebaran di dalam hati yang sempat gugur” Ujar Alice menahan senyumnya.
Tuk!
Satu sentilan Alice layangkan pada kening Theo, sedetik kemudian tawanya pecah. Namun lain hal nya dengan Theo yang kini tengah memegang dada sebelah kanan nya.
Mata Theo terfokus pada Alice yang tertawa begitu lepas. Kehangatan seperti ini tidak pernah ia rasakan walaupun bersamaan orang yang sangat ia cintai dahulu.
“Kenapa? Sakit?” Tanya Alice sedikit khawatir kala melihat Theo.
Pria itu menggeleng lalu tersenyum tipis dan merentangkan tangan nya.
“Peluk..”
“Hah?” Mulut Alice menganga bingung, namun sesegera mungkin Theo menariknya ke dalam pelukan pria itu.
“Theo--”
“Aku ingin menceritakan semua nya” Potong Theo membuat Alice terdiam. “Tetapi dengan posisi seperti ini” Lanjut nya.
Alice terdiam seakan tengah berfikir, hingga akhirnya wanita itu mengangguk.
“Ceritakan lah semua. Semua suka duka mu dan kejadian menyakitkan dalam hidupmu”
“Terimakasih telah hadir di hidupku” Theo mengecup hangat kening Alice sebelum akhirnya kembali memeluknya.
“Bukan kah terlalu dini jika mengatakan hal itu?“
“Entah itu terlalu cepat ataupun terlalu lama, intinya aku sangat bersyukur. Kita sudah ditakdirkan untuk bersama maka akan selamanya bersama”
“Ceritakan lah..” Gumam Alice.
Theo terdiam beberapa saat. Pria itu terus menghela napasnya, belum lagi suara detak jantung pria itu terdengar begitu cepat.
“Dulu.. Aku punya seorang kekasih yang sangat aku cintai.. Huuft..” Theo kembali menghela napasnya.
Tangan Alice terangkat dan mengusap punggung sang suami memberikan ketenangan.
“Jika belum siap, maka jangan di ceritakan. Aku tidak mau kamu kembali kasar karena mengingat hal itu”
“Maafkan aku..” Lirih Theo.
“Tidak apa, dan lebih baik tidak usah dilanjutkan”
“Dia.. Orang yang sangat aku cintai bahkan membuat aku melawan kedua orang tua ku demi bisa bersamanya, tetapi dia mengkhianati ku”
Alice mendongak mencoba melihat ekspresi Theo, namun secepat mungkin pria itu menyembunyikan wajahnya.
.
“Ke berapa kali nya, Theo?” Sentak seorang pria di sebrang meja kerja Theo. “Berapa lama lagi kau akan mempertahankan wanita jallang itu hah!”
Brakk!
Theo menggebrak meja kerjanya seiring dengan emosi nya yang semakin memuncak, bahkan urat-urat di leher pria itu terlihat begitu jelas.
“Tutup mulut mu, Steven!” Bentak Theo. “Jane tidak seperti itu!”
Steven berdecih remeh kemudian menatap foto-foto yang berserakan di lantai sana.
“Tidak seperti itu bagaimana maksud nya? Apa kau buta dan tuli, Bastian?”
“Jane sudah menghubungi ku dan Jane bilang, dia hanya mengantar pria itu sampai pintu kamar hotelnya dan setelah itu Jane langsung pulang!” Ujar Theo berteriak marah.
“Bodoh, kau benar-benar bodoh” Maki Steven. “Setiap kali kepergok oleh media, kekasih model mu itu pasti akan berbicara seperti ini padamu!” Lanjutnya.
Entah sudah ke berapa kali nya, bahkan sudah tidak terhitung oleh jari tentang kasus ini. Dimana seorang model papan atas terciduk memasuki hotel bersama beberapa partner kerja nya.
Bukan hanya sekedar jalan biasa, tetapi kedua nya terlihat begitu mesra. Bahkan ada beberapa foto yang menunjukan Jane--kekasih Theo, tengah beradu bibir dengan pria lain.
“Keluar sialan! Jangan sampai hubungan pertemanan kita hancur karena mulut sialan mu!” Bentak tertahan Theo.
“Hah, baiklah lebih baik seperti itu. Aku tidak sudi mempunyai teman bodoh seperti mu, terlebih lagi bodoh karena cinta!” Ucap pedas Steven sebelum akhirnya pria itu pergi begitu saja.
Prang! Prang!
Seperginya Steven, Theo langsung melempari seluruh barang-barang mahalnya nya yang berada di atas meja kerjanya. Memukul dan menendangi apapun yang ada di sekitarnya demi meluapkan emosi nya.
“Jane-ku tidak seperti itu! Kalian nya saja yang terlalu bodoh karena percaya dengan berita seperti itu, sialan!” Teriak Theo sekuat-kuat nya.
“Bastian..” Panggilan lembut di iringi seorang wanita dengan tampilan modis dan rambut yang digerai begitu saja menyadarkan Theo dari amukan nya.
“Jane..” Gumam Theo mengepalkan tangan nya.
“Maafkan aku sayang, aku tidak berbohong. Media yang selalu mengada-ada hikss..” Ujar Jane dengan isak tangisnya seraya memeluk erat tubuh Theo.
“Aku tidak melakukan nya hikss, seseorang sedang berusaha menjatuhkan aku hikss..”
Tangis sendu Jane benar-benar mengiris hati Theo. Pria itu langsung mendekap begitu erat tubuh rapuh sang kekasih yang sangat amat ia cintai ini.
“Tidak sayang, aku tidak marah. Aku tau media hanya mengada-ada” Ujar lembut Theo terdengar sangat lembut.
“Aku mohon jangan menangis, hatiku sakit melihat kamu menangis” Lanjutnya mengecupi kepala Jane.
“Hikss, hikss.. Mereka berusaha menjatuhkan aku hikss ”
“Siapa sayang? Siapa yang berusaha menjatuhkan kekasih ku?”
“Model baru itu hikss, dia menjelek-jelekkan ku hikss”
“Sutt.. Kamu tenang aja, oke. Aku akan mengurus semua nya”
Theo mengurai pelukan nya dan beralih menyeka sisa air mata di pipi sang kekasih.
“Aku benci melihat air mata cantik ini menetes” Gumam lembut Theo.
“Jangan menangis sayang, ada aku di sini. Aku ada di samping mu”
“Aku takut hikss, aku takut kamu termakan oleh berita-berita itu hikss” Isak Jane.
Theo menggeleng cepat dan tersenyum begitu hangat.
“Tidak akan sayangku, aku tidak akan percaya dengan hal seperti itu”
“Terimakasih hikss” Jane kembali memeluk erat tubuh Theo.
Tanpa pria itu sadari isak tangis sang wanita di pelukan nya ternyata berbanding balik dengan ekspresi Jane saat ini.
Flashback Off-
...****************...
Terimakasih dukungan nya kakak-kakak😘 Maafin author karena gak up 2hari ini🤗