Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab50-•



Habis sudah makanan yang Alice bawa dari rumah untuk sarapan sang suami. Kini pria itu malah membaringkan tubuhnya dengan menjadikan paha Alice sebagai bantalan.


“Habis makan lho, kenapa malah tiduran”


“Sebentar saja” Theo memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang Alice, tentu nya wanita itu hanya bisa diam dan mengusap-usap kepala suami nya.


“Jangan tidur, kerjaan kamu masih banyak dan ini masih pagi”


Theo mengangguk pelan, lagipula ia tidak berniat untuk tidur walaupun semalam pria itu tidak bisa tidur karena tidak memeluk Alice.


Tujuan Theo saat ini hanya menenangkan pikiran nya dan hati nya.


...Flashback On....


Baru saja Theo duduk di kursi kebesaran nya dan berniat melanjutkan pekerjaan nya setelah berdiskusi sebentar dengan Steven.


Namun tiba-tiba handphone nya berdering menandakan ada panggilan masuk, begitu Theo lihat nomor yang tertera di layar handphone nya adalah nomor baru. Tanpa menaruh rasa curiga Theo pun langsung menjawab nya.


“Hal--"


“Bas, tolong aku..” Lirih seorang wanita di sebrang sana.


Dari suara nya saja Theo sudah mengenali siapa wanita itu, namun yang membuat alis Thei bertaut ketika mendengar suara lirih wanita itu.


“Bastian.. Ukhukk.. Ukhukk..”


“Jangan menganggu ku, Jane!” Sentak tertahan Theo dengan tangan terkepal.


Baru saja berniat mengakhiri panggilan, tetapi di sebrang sana Jane kembali mengeluarkan suaranya.


“Aku sakit ukhukk.. Ukhukk.. Disini tidak ada orang yang menolong ku..”


“Aku tidak peduli, kau bisa menelpon orang lain!”


Tutt..


Panggilan pun langsung Theo matikan secara sepihak bersamaan dengan tangan nya yang menggebrak meja.


“Siall!” Geram rendah Theo.


Dengan kasar Theo melemparkan handphone nya pada meja lebar nya dan menatap nya sejenak. Suara serak dan lirih Jane sangat menghantui pikirannya.


Theo bangkit dan meraih kasar kunci mobilnya bersiap untuk keluar dari ruangan, tetapi langkah nya langsung berbalik dan kembali menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesaran nya.


“Tidak, tidak boleh!” Bentak Theo pada dirinya sendiri. “Ingat, hanya Alice dan cuma Alice!” Tekan nya memukul kepala nya sendiri.


Ting!


Handphone pria itu berbunyi, dengan cepat Theo meraih nya dan membuka logo pesan pada layar itu. Sebuah foto hasil laporan dari rumah sakit bersama dengan teks pesan nya kembali mengoyahkan hati Theo.


...“Hidup aku sudah tidak lama lagi, Bas. Izinkan aku untuk bahagia di sisa umurku..”...


Itulah isi pesan bersama dengan sebuah foto hasil pemeriksaan dokter.


“Cukup! Aku tidak peduli, Alice satu-satu nya wanita ku dan istriku!”


Theo melempar handphone nya ke arah sofa tanpa takut handphone tersebut akan hancur ataupun rusak.


Walaupun dirinya di landa khawatir, namun Theo mulai fokus pada berkas-berkas di hadapan nya.


...Flashback Off.....


Alice yang sedang asik memainkan rambut Theo pun seketika teringat akan janji nya pada Aldo. Dengan ragu wanita itu berdehem pelan.


“Theo?”


“Hmm”


“Kamu gak mau lanjut kerja? Sudah hampir siang lho” Ucap ragu Alice.


Theo menjauhkan wajahnya dari perut Alice, dirinya sudah mulai tenang dan tak lagi memikirkan wanita ular itu. Lantas Theo melihat jam di pergelangan tangan nya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


“Pegal?” Tanya Theo begitu melihat Alice memijat paha nya.


Alice menggeleng cepat dan menjauhkan tangan nya. “Tidak”


Theo menggullum bibirnya menahan senyum, lantas pria itu mengusap surai Alice. “beristirahat lah di kamar, aku akan kembali kerja”


Theo bangkit dari posisi dan berniat kembali ke meja kerjanya, tetapi langkahnya terhenti begitu Alice memegang lengan nya.


“Aku mau izin” Ucap ragu Alice.


“Kemana?”


“Gak kemana-mana kok, cuma ke divisi pemasaran mau--”


“Tidak boleh!” Potong tegas Theo dengan ekspresi wajah yang berubah.


Alice menunduk, ia sudah yakin bahwa Theo akan melarang nya. Ditambah tempat yang ditujukan ada Aldo, pria yang meminta bantuan darinya.


“Mau ngapain ke sana hah?!” Tanya tak santai Theo.


“Ketemu Carlotta sekalian bantuin Aldo, tadi dia minta--”


“Oh, jadi sebelum kamu ke ruangan aku. Kalian bertemu dan mengobrol dahulu?”


Alice mengangguk pelan, karena memang benar apa ada nya dan ia tidak ingin berbohong.


“Bagus” Satu kata itu berhasil membuat bibir Alice bergetar.


Nada dingin Theo memang terdengar menyeramkan tetapi bagi Alice saat ini nada dingin itu sangat menekan hatinya.


“Sana pergi jika ingin pergi, lagi pula bocah itu belum pernah mendapat pelajaran dariku!”


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Theo langsung melepaskan tangan Alice yang menahan lengan nya lalu duduk di kursi kebesaran nya.


Membolak-balikkan berkas di meja dengan emosi bahkan napas pria itu terdengar begitu berat.


“Aku sudah janji akan membantu nya, hanya membantunya sedikit saja dan sebentar saja. Setelah itu aku akan kembali ke sini” Lirih Alice.


“Sudah aku bilang, jika ingin pergi ya silahkan!” Sahut Theo dengan nada sedikit membentak.


Tanpa berkata-kata lagi Alice langsung beranjak dari posisi nya dan berjalan ke arah pintu. Tentu nya hal itu membuat mata Theo melotot sempurna dengan rahang mengeras.


“Aku tidak jadi membantunya, tetapi aku ingin berbicara dan meminta maaf karena mengingkari ucapan ku”


Baru saja Alice ingin membuka pintu ruangan itu, tetapi suara Theo memecah suasana hingga terasa semakin mencengkram.


“Salahkan diri mu jika pertahanan yang aku bangun selama ini hancur” Ujar dingin Theo membuat Alice langsung menoleh dan menatap nya.


“Menahan dahaga dan rasa ingin menguliti para manusia, itu benar-benar sangat sulit sayang.. Jangan sampai setelah ini aku akan lepas kendali lagi” Lanjutnya penuh penekanan.


Mata kedua nya saling bertatapan entah tatapan seperti apa namun yang pasti saat ini Alice hanya bisa membeku di tempatnya.


“Bukan nya aku percaya terhadap karma, tetapi aku ingin berjaga-jaga agar kamu dan anak kita baik-baik saja”


Theo menghela napas beratnya, mencoba kembali mengontrol emosinya yang akhir-akhir ini atau lebih tepatnya semenjak kedatangan Jane semakin tidak terkontrol.


“Kedatangan dia membuat emosi ku sering tak terkendali. Sejujurnya aku takut melukai mu secara tidak sadar”


Nada marah nan penuh penekanan sebelumnya kini telah berubah menjadi nada lembut penuh ke khawatiran nya.


Perlahan Alice mulai melangkahkan kakinya yang terasa berat menuju Theo. Berdiri tepat di samping pria itu membuat Theo bergeser hingga kedua nya saling berhadapan.


Sedetik kemudian Alice langsung menarik kepala Theo hingga terbenam di perut nya dan mengusap-usap rambut sang suami dengan mata berkaca-kaca nya.


“Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku--”


“Aku masih lah seorang Theo, pria yang kamu kenal sebagai seorang psikopat posesif. Jangan melupakan diri ku yang dahulu, sayang..” Potong Theo dengan nada dingin penuh penekanan nya.


...****************...