
“Tadi nya aku akan membiarkan kalian mengobrol bersama sampai jam kerja habis, tetapi kamu malah membahas pria lain” Ucap tiba-tiba Theo dengan nada dingin nya.
Mata Alice melebar sempurna, namun tak lama kemudian kepala nya langsung menunduk.
“Bagaimana Theo bisa tau?” Batin Alice bertanya-tanya pasalnya ia berbicara sangat kecil seperti bisikan.
“Ekspresi wajah mu tidak bisa membohongi ku” Ujarnya lagi membuat Alice langsung menatap wajah nya.
“Maaf.. Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya merindukan Dom karena dia--”
“Merindukan?” Potong Theo begitu menekan.
Alice yang tersadar akan ucapan nya langsung menutup mulutnya dan menggeleng cepat.
“Kamu merindukan pria lain hah?!” Bentak marah Theo.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku--” Baru saja Alice berniat meraih tangan Theo tetapi dengan begitu cepat pria itu malah mencengkram lengan Alice.
“Aaww.. Sakit Theo..”
“Kamu jadi lebih berani ya sekarang? Kamu anggap aku apa hah!”
“Theo, aww sakit.. Kenapa kasar gini sih?”
Cengkraman yang tadinya terasa begitu erat kini perlahan melonggar hingga akhirnya terlepas. Tangan nya bergerak menarik kasar dasi nya sendiri
“Ada apa dengan mu?” Tanya pelan Alice mengusap-usap lengan nya yang terasa sakit.
Theo diam tidak menjawab sepatah kata pun. Pria itu menyandarkan punggung nya pada sandaran sofa dengan napas memburu.
Mata Theo terpejam dan tangan nya terus memijat pangkal hidung nya.
“Siall! Ada apa dengan ku?” Batin Theo memaki dirinya sendiri.
Sudah beberapa hari berlalu sejak saat Jane menelpon dirinya dan mengaku sedang sakit. Hingga saat ini pikiran Theo terus berkecamuk tentang wanita yang pernah menyakiti hati nya itu.
Bisa dikatakan Theo membenci Jane, tetapi saat ini pikiran Theo terus teralihkan pada wanita itu. Pasalnya pernah sekali Theo menelpon nya untuk memastikan keadaan nya.
Namun tidak ada jawaban dan hal itu pun mampu membuat Theo tidak menentu seperti saat ini.
Melihat Theo yang hanya diam, lantas Alice pun duduk dan perlahan meraih tangan Theo untuk digenggam nya.
“Beberapa hari ini sikap mu berubah” Ujar Alice merasakan perubahan Theo.
Mata yang tadinya terpejam kini langsung terbuka dan menatap Alice begitu dalam.
“Apa kamu sedang memikirkan wanita itu?”
“Ck, mana mungkin!”
Alice terkekeh pelan, namun lebih tepatnya seperti kekehan miris nya. “Dia menghilang dan tidak lagi menganggu mu, bukan?”
“Kamu apaan sih, kok malah menuduh aku!” Sahut marah Theo.
“Siapa yang menuduh? Aku hanya berbicara”
Lagi-lagi Theo terdiam, kepalanya menoleh ke arah lain menghindari tatapan Alice. Hingga beberapa saat kemudian Theo merasakan usapan tangan lembut itu pada pipi nya.
“Jika ingin mencari nya silahkan cari. Aku tau kamu jadi seperti ini karena khawatir dengan keadaan nya”
Deg!
Jantung Theo berdebar begitu cepat, ia teringat akan pesan yang Jane kirimkan dan log panggilan yang belum ia hapus.
“Huuft..” Alice menghela napas panjang nya seraya menjauhkan tangan nya. “Aku mau ke pantry” Ujarnya seraya bangun.
Belum sempat melangkah, tiba-tiba tangan nya di tarik oleh Theo hingga tubuh Alice jatuh di pangkuan pria itu.
“Siapa yang mengizinkan mu keluar?” Tanya dingin Theo dengan tatapan tajam nya.
Alice menggeleng pelan dan tersenyum tipis. “Aku ingin membuat teh dan kopi untuk mu, apa itu salah?”
“Aku bisa memanggil office girl dan kamu tidak harus keluar dari ruangan ini!”
Lagi dan lagi, Alice kembali menghela napasnya begitu panjang. Tak lama kemudian pintu ruangan di ketuk oleh seseorang di luar sana membuat Alice hendak bangun dari pangkuan Theo tetapi tangan pria itu menahan dan melingkar di perutnya.
“Theo--”
“Masuk!”
Ceklek~
Pintu ruangan terbuka bersamaan dengan Steven yang masuk membawa beberapa berkas di tangan nya.
“Apa saya menganggu?” Tanya Steven menghentikan langkah nya.
“Ada apa?” Potong Theo menarik kepala Alice agar bersandar pada dada nya.
“Ada beberapa masalah yang perlu saya bahas, boss”
Theo menggerakkan matanya, mengode agar Steven duduk di hadapan nya.
“Lepaskan, aku duduk di sebelah” Bisik Alice namun tidak di hiraukan.
Sejujurnya wanita itu sangat malu pada Steven walaupun pria itu sudah sering memergoki nya saat Theo sedang aktif.
“Katakan”
“Theo.. Lepas.. Kamu bahas dulu masalah nya, aku--”
“Diam saja bisa 'kan!” Bentak Theo membuat Alice langsung bungkam dengan kepala menunduk.
Sedangkan Steven? Alis pria itu langsung bertaut tidak suka. Ingin rasanya ia memarahi Theo tetapi ini bukan waktu yang tepat.
“Katakan ada masalah apa!”
Dengan sabar Steven mulai membuka lembar berkas yang bermasalah itu, lalu di tunjukkan nya kepada Theo.
“Saat perjanjian kontrak, bukan kah nominal yang kita setujui tidak setinggi ini?”
Theo pun mengambil alih berkas tersebut lalu membaca nya dengan teliti. Tidak ada satu kata pun yang terlewat.
“Kenapa setinggi ini? Apa mereka menganti kontrak nya?”
“Tidak, itu kontrak yang ada di tangan kita. Hari ini mereka ingin meminta sisa nya dan begitu aku lihat kembali entah kenapa nominal di berkas itu malah bertambah”
Sontak tatapan tajam itu langsung beradu dengan tatapan datar Steven. Otak kedua nya sudah mencerna apa yang terjadi.
“Thermo-sensitive ink, seperti nya mereka menggunakan tinta jenis ini saat membuat perjanjian kontrak dan untuk menimbun angka sebenarnya!”
“Siall!” Desis geram Theo. “Berani sekali perusahaan kecil itu bermain dengan ku!”
“Dan ini..” Lanjut Steven menunjukkan berkas lain.
Melemparkan berkas di tangan nya pada meja di depan nya, lalu Theo kembali mengambil berkas yang baru saja Steven tunjukkan.
“Laporan pemasukan bulan ini, menurut saya ada yang mengganjal”
Lagi dan lagi, mata elang itu langsung meneliti deretan angka-angka yang terlihat sangat memusingkan. Hingga akhirnya mata itu berhenti bergerak dan terfokus pada satu pengeluaran.
“Sejak kapan membeli gaun pesta untuk acara pertemuan menjadi tanggung jawab perusahaan dan mengeluarkan dana yang begitu banyak?”
“Benar dugaan ku!”
Theo mendelik menatap Steven. “Lalu kenapa kau diam saja? Seharusnya kau selidiki dan cari tahu kemana gaun itu di kirim!”
“Baik boss, dan ini..” Steven menumpukkan beberapa berkas lain nya pada meja di hadapan sang Theo. “Beberapa laporan harus anda cek ulang dan perlu di tanda tangani secepatnya”
Theo mengangguk malas lalu menggerakkan tangan nya seakan mengusir Steven. Pria itu tentunya mengerti namun ia tak langsung bangun melainkan menatap Alice yang sedari tadi membatu tanpa bergerak sedikit pun.
“Kau bosan hidup?” Tanya dingin Theo saat melihat arah pandangan Steven.
Steven mengangkat bahu acuh lalu berdiri. Sebelum benar-benar melangkah pria itu kembali menatap Alice lalu menatap Theo.
“Wanita ular itu sudah pergi dari hidup mu, fokus lah pada keluarga mu!” Ucap tegas Steven dengan tatapan sulit diartikan nya.
Setelah mengucapkan hal tersebut Steven langsung melangkah dan keluar dari ruangan Theo, menyisakan keheningan di antara kedua nya.
“Sore ini ada jadwal pemeriksaan 'kan?” Tanya Thei setelah beberapa saat hanya terdiam.
Alice mengangguk pelan namun tak kunjung mengangkat pandangan nya. Perlahan tangan Theo terangkat dan mengusap perut Alice yang dapat ia rasakan perbedaan nya.
“Maaf..” Bisik pelan Theo mengecup pipi Alice.
“Benar 'kan? Kamu mengkhawatirkan nya?” Alice menatap nanar Theo dengan mata memerah nya.
“Sayang..”
“Aku kembali ragu pada ucapan mu”
“Dengarkan aku” Theo memegang kedua pipi Alice dan mengunci tatapan sang istri yang siap menangis. “Jujur, aky memang mengkhawatirkan nya karena beberapa hari lalu dia menelpon ku dan bilang bahwa hidupnya tidak akan lama lagi”
“Dan pesan itu, dia mengirim ku pesan dengan bukti pemeriksaan itu. Walaupun aku sudah tidak mencintai nya tetapi aku--”
“Kamu marah saat aku menanyai kabar Dom pada Carlotta, tetapi kamu sendiri? Kamu mengkhawatirkan masa lalu-mu dan mengasari ku lagi!” Potong Alice tak mampu menahan emosi dan air mata nya.
...****************...