Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab21-•



Helaan napas bosan terus menerus keluar dari sela-sela bibir terluka Alice, gadis itu hanya bisa berdiam diri di dalam ruangan Theo.


Menemani sang suami yang tengah sibuk dengan laptop nya. Tetapi pada nyatanya helaan napas bosan Alice benar-benar menganggu fokus Theo.


“Mau apa lagi sih?” Ujar tiba-tiba Theo menatap kesal Alice.


Alice mengernyit bingung, pasalnya sedari tadi ia tidak berbicara ataupun meminta sesuatu. Bahkan saat ini dirinya bisa berada di sini karena paksaan Theo.


“Aku gak ngomong apa-apa”


“Napas kamu menganggu konsentrasi ku, jika ingin sesuatu katakan! ”


“Jadi lebih baik aku tidak usah bernapas agar kamu bisa fokus?”


Theo memijat pangkal hidung nya, berbicara sedikit saja dengan Alice cukup menguras kesabaran nya karena ucapan dan tatapan lugu istri kecil nya itu.


“Sana keluar, terserah kamu mau kemana asalkan sebelum jam makan siang kamu harus kembali ke sini!” Titah putus asa Theo.


“Aku boleh pulang? Atau jalan-jalan?” Alice berbinar senang dan tentunya ia mulai beranjak dari posisi nya.


“Aku hanya menyuruh mu keluar, bukan pulang atau pun jalan-jalan” Kesal Theo.


“Jadi?...” Gumam bingung Alice.


Theo mendesahh frustasi karena otak lemot Alice, namun bisa-bisa nya gadis dihadapan nya ini menjadi ketua tim pemasaran di perusahaan nya.


“Kamu boleh keluar dari ruangan ini, tetapi tidak boleh keluar dari gedung ini. Alice...” Jelas Theo menekan geram.


“Ohh..” Alice mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, lantas secepat kilat ia meraih tas kecil nya dan berbalik menuju pintu ruangan.


“Tunggu!” Sela Theo menghentikan gerakan Alice yang hendak membuka pintu.


“Kenapa lagi?” Tanya bingung Alice.


“Kamu mau pergi begitu saja tanpa izin dulu padaku?”


Kedua alis Alice terangkat menatap aneh Theo. “Bukan nya tadi kamu yang menyuruh ku keluar? Jadi untuk apa aku meminta izin”


Gigi Theo bergemeletuk kesal, tangan nya yang memegang pulpen kini terkepal begitu erat hingga pulpen tersebut patah.


“Sini!” Ujar dingin Theo.


“Mau apa?”


“Mendekat Alice!”


Dengan perasaan yang bingung Alice pun melangkah maju dan mendekati Theo, sedikit menundukkan kepalanya karena cukup takut dengan tatapan pria itu saat ini.


“Walaupun aku menyuruh mu pergi, setidaknya kamu harus izin padaku!”


Theo memutar kursi nya hingga menghadap Alice lalu merengkuh pinggang gadis itu hingga kaki kedua nya saling bersentuhan.


“Beri aku ciuman sebelum kamu keluar” Pinta Theo yang langsung mendapat pelototan dari Alice.


“Tidak mau!” Tolak Alice hendak menjauh.


Tetapi bukan Theo nama nya jika kalah tenaga oleh gadis manja seperti Alice. Alhasil kini dalam sekali tarikan tubuh Alice sudah terjatuh di pelukan nya.


Cup!


Cup!


Cup!


Kecupan bertubi-tubi terus Theo layangkan pada bibir Alice yang menyimpan darah kering akibat gigitan nya tadi.


“Mulai hari ini kamu harus terbiasa, dan untuk saat ini karena bibir mu sedang terluka maka tidak perlu mencium ku” Titah tegas Theo.


“Cih, siapa juga yang ingin mencium pria kejam seperti mu!” Decih kesal Alice seraya melepaskan paksa tangan Theo dan menegakkan tubuhnya.


“Alice--”


“Sudah 'kan? Sekarang aku mau keluar dan menemui Carlotta sahabat ku” Potong Alice saat Theo hendak mengomel.


“Menemui sahabat mu atau asisten pria itu hah?!”


Alice memutar bola mata malas dan berdecak pinggang. “Jika bisa dua-dua nya kenapa tidak?!” Sahut menantang Alice.


“Sadar posisi dan status mu, Alice!” Bentak marah Theo.


“Haish, iya-iya aku hanya menemui Carlotta. Carlotta! ” Tekan Alice di setiap kata nya.


Napas Theo memburu dengan dada yang bergemuruh kesal karena ucapan Alice. Tetapi pada akhirnya pria itu mengibaskan tangan nya menyuruh Alice untuk pergi.


“Jika bertemu dengan berondong tampan itu artinya rezeki aku” Cicit pelan Alice langsung berlari.


“Nyonya Oliver!!” Pekik marah Theo.


Brak!


Pintu ruangan di tutup begitu kasar oleh Alice menyisakan Theo yang semakin di bakar api cemburu.


“Ah, brengsek! Lihat saja wajah yang saat ini kamu puji-puji. Besok akan berubah!” Desis Theo menyeringai geram.


Sedangkan di dalam lift khusus milik Theo, kini Alice tengah tertawa terbahak-bahak dan tentu dengan rasa bahagia yang menyelimuti nya saat ini.


“Astaga ayolah Mr.Oliver, ini baru permulaan. Ke depan nya aku akan membuat kamu lebih tersiksa dengan ini hahaha” Gumam Alice tertawa penuh kemenangan.


Alice sudah membulatkan tekat nya untuk merubah Theo dan membuat pria itu melembut pada nya, apapun itu caranya!.


.


.


“Ayo Lice makan siang bersama ku, aku ingin menceritakan banyak hal pada mu” Bujuk Carlotta dengan wajah memelas nya.


“Tidak bisa Carlo, aku harus kembali ke ruang Theo sebelum jam makan siang”


“Tapi kita belum sempat mengobrol, aku benar-benar sibuk semenjak kamu tidak lagi berada di tim ini”


Memang benar apa yang di ucapkan oleh Carlotta. Pasalnya sedari tadi semenjak Alice datang ia benar-benar sibuk mengurus pemasaran produk baru.


Hingga Alice pun ikut turun tangan, dan akhirnya niat Alice yang awalnya ingin mengobrol santai dengan Carlotta seraya perempuan itu bekerja. Namun harus pupus begitu melihat padatnya pekerjaan tim nya.


“Masih ada lain waktu, atau nanti kita bisa bertemu di cafe biasa”


“Memang nya boleh? Bukan kah sepertinya Mr.Theo sangat posesif terhadap mu?” Tanya ragu Carlotta.


“Akan aku usahakan, dia akan mengizinkan ku jika menyebut nama mu” Alice tersenyum tipis walaupun rasanya ragu.


Pelukan hangat langsung menghampiri tubuhnya, Carlotta memeluk begitu erat tubuh sang sahabat. Carlotta bisa melihat kesedihan di mata Alice namun di sembunyikan dengan senyuman nya.


“Sudah-sudah, aku harus kembali nanti Theo mencari ku” Ujar Alice mengurai pelukan Carlotta.


Dengan sedikit tidak rela Carlotta pun melepaskan pelukan nya dan menatap Alice yang mulai beranjak dari posisi nya.


“Nona!” Panggil seorang pria yang sedikit berlari menghampiri Alice.


...****************...