
“Bodoh!”
“Dengan mengabaikan pesan dan panggilan Alice seperti ini malah membuat Alice semakin mengkhawatirkan mu!”
“Bahkan tadi Daddy dengar Alice belum makan dari siang karena kamu!” Omel Brandon yang kesal akan penjelasan Theo di sebrang sana.
“Maaf Dad, tapi aku takut--”
“Daddy tidak mau tahu, intinya sepuluh menit lagi kamu harus menelpon Alice apapun kondisinya dan bagaimana pun suara lemas mu ini!” Potong tegas Brandon.
Terdengar helaan napas berat Theo di sebrang sana. Memang sebenarnya saat ini terselip rasa khawatir di dalam diri Brandon begitu mendengar suara lemas Theo.
Tetapi jika Theo tidak juga memberi kabar pada putrinya, bisa-bisa Alice tidak akan makan lagi dan wanita itu juga tidak akan bisa tidur jika belum mendapatkan kabar yang ia inginkan.
“Baiklah Dad, sepuluh menit lagi aku akan menghubungi Alice” Putus Theo.
Brandon berdehem pelan dan langsung mengakhiri panggilan itu. Menarik napas dalam sebelum akhirnya Brandon mulai melangkah kembali memasuki ruang makan.
“Bagaimana Dad?” Tanya Alice begitu mendengar langkah kaki Brandon.
“Sabar sayang, Daddy saja belum sampai” Sahut Brandon gemas.
Alice diam dan menatap pergerakan sang Daddy sampai akhirnya Brandon menarik kursi dan duduk di sebelah nya seperti sebelumnya.
“Daddy tadi menghubungi Steven, asisten nya”
“Astaga aku sampai lupa dengan Steven” Pekik Alice memukul kening nya.
“Dasar!” Gemas Brandon mengacak-acak rambut Alice.
“Lalu apa kata Steven Dad?”
Brandon mengangkat kedua alisnya di iringi senyuman misteriusnya. “Mau tau?” Tanya Brandon penuh godaan.
“Cepat katakan Dad!!” Rengek kesal Alice menggoyangkan lengan Brandon.
“Makan dulu, baru setelah itu akan Daddy beritahu”
“Gak mau, aku mau tau sekarang dan setelah itu aku akan makan. Aku janji” Bujuk Alice mengangkat jarinya membetuk huruf V dengan tatapan memelasnya.
Namun Brandon kali ini tidak akan termakan oleh bujukan Alice, malahan pria setengah baya itu melipat kedua tangan nya di depan dada dengan tatapan tanpa negosiasinya.
“Makan sekarang!” Tegas Brandon.
“Tapi--”
“Alice, dengarkan perkataan Daddy. Semakin kamu cepat makan maka kamu akan semakin cepat tahu” Potong Giselle mendukung permintaan Brandon.
“Mommy kok gak belain aku?”
“Ini semua demi kebaikan kamu sayang, lagi pula ingat di dalam perut kamu sekarang ada nyawa lain”
Alice menunduk menatap perutnya yang masih rata lalu mengusap nya perlahan. “Huu.. Baiklah” Pasrah Alice mendengus pelan.
Pada akhirnya mau ataupun tidak mau, mood ataupun tidak mood. Alice tetap harus memakan makanan yang sudah ada di piring nya walaupun beberapa kali wanita itu meminta toleransi, namun Brandon terus menggeleng tegas.
Hingga akhirnya makanan di piring tersebut tandas tak tersisa sedikit pun.
“Sudah habis Dad, cepat katakan!”
Brandon tak langsung menjawab melainkan pria itu memainkan handphone nya dan mengetik sesuatu hingga membuat Alice semakin kesal.
“Daddy--”
Drttt.. Drrtt.. Drrt..
Handphone di samping piring Alice berbunyi sekaligus bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dengan cepat sang pemilik handphone meraih handphone nya.
Dan betapa bahagia nya wanita itu saat melihat nama sang suami lah yang tertera di layar handphone nya. Mata nya berbinar senang lalu dengan cepat Alice menggeser ikon hijau itu.
“Kenapa baru menghubungi aku? Kenapa gak angkat telpon aku? Kenapa gak balas pesan aku? Dan kemana kamu seharian ini hah!” Potong emosi Alice hingga meneteskan air matanya.
“Sayang..” Gumam lembut Giselle.
“Jawab Theo!” Bentak Alice.
“Maafkan aku..”
Napas Alice tercekat mendengar nada bicara dan suara Theo. Jelas ini bukan suara yang tiap harinya ia dengar. Suara kali ini terdengar begitu lirih dan serak seakan orang yang bicara itu sedang tidak memiliki energi.
“Ka-kamu kenapa? Kamu sakit?” Nada emosi sebelumnya sirna begitu saja digantikan dengan nada penuh kekhawatiran.
“Aku gapapa kok, cuma tadi mabuk udara aja”
“Jangan bohong”
Terdengar kekehan pelan pria itu di sebrang sana membuat perasaan Alice semakin tidak menentu. Lantas wanita itu bangkit dari posisi nya dan langsung meninggalkan meja makan begitu saja.
“Alice..” Giselle hendak bangun dan tentunya berniat mengejar Alice, namun gerakan nya ditahan oleh Brandon.
“Biarkan Alice bertelponan dengan Theo. Daddy lapar, ayo makan”
.
“Angkat video call aku, Theo!”
“Seperti ini saja sayang..”
“Aku mau video call sekarang juga!” Paksa Alice tak ingin di bantah.
Tak lama kemudian akhirnya panggilan suara itu telah beralih ke panggilan video, dan terlihat dengan jelas di mata Alice wajah pucat Theo dengan mata nya yang merah.
“Kamu sakit..” Lirih Alice kembali meneteskan air mata.
“Hei sayang, jangan menangis. Aku gapapa, aku cuma mabuk udara dan sekarang di situ tidak ada aku jadi jangan menangis” Panik Theo.
“Kamu gak mungkin mabuk udara, dari Italia ke Jerman hanya memakan waktu sekitar satu jam setengah. Dan mungkin kamu sudah melakukan perjalanan udara lebih dari dua puluh empat jam hikss..” Alice terisak semakin menjadi.
Perasaan nya memang sedari pagi sudah tidak enak, ia merasakan sesuatu yang mengganjal ditambah Theo tidak juga menghubungi nya.
“Sayang.. Dengarkan aku. Aku tidak apa-apa dan tadi aku langsung ke proyek lalu handphone sempat aku silent agar tidak menganggu. Setelah selesai dari proyek aku mengatur konsep lain nya agar aku bisa cepat pulang”
“Bohong, kamu bilang kamu mabuk udara. Lalu kenapa langsung ke proyek?”
“Tadi siang aku bisa menahan nya sayang, dan sekarang aku baru merasakan nya” Sahut Theo yang tanpa sadar menggaruk kepala belakang nya.
“Tuh kan kamu garuk kepala kamu hikss, kamu bohong hikss..”
“Astaga tidak-tidak. Aku tidak menggaruk nya” Kilah Theo. “Tadi aku kira ada serangga yang merayap!" Lanjutnya.
Alice tak lagi berbicara, tetapi wanita itu terus menangis meluapkan kerinduan nya seharian ini dengan menatap wajah pucat Theo pada layar handphone nya.
“Sudah jangan menangis lagi, aku tidak ada di situ jadi tidak ada yang menyeka air mata mu. Aku janji akan segera pulang”
“Serius hikss?..”
“Iya sayang, tapi kamu harus berhenti menangis sekar--hmpp!!” Ucapan Theo terhenti begitu pria kembali merasakan mual.
Dengan cepat Theo menutup mulutnya dan langsung mengakhiri panggilan nya.
“Theo!! Heii!!” Pekik Alice. “Kamu kenapa? Kenapa dimatiin hikss..” Lirih Alice semakin terisak.
Alice pun kembali menghubungi Theo, tetapi pria itu tidak mengangkat nya.
...****************...