
“Aku ikut..”
Dua kata yang sangat sulit untuk Alice ucapkan saat ini ketika melihat wajah suami nya yang sebentar lagi akan meninggalkan dirinya karena perjalanan bisnis di negara lain.
“Jangan nakal, diam di sini bersama Mommy dan Daddy. Jika ingin keluar izin dulu padaku dan gunakan ini jika ingin berbelanja bersama Mommy” Celoteh Theo seraya memberikan dompet yang berisi jejeran kartu tanpa limit di dompet tersebut.
“Aku gak butuh itu” Gumam lirih Alice.
“Lalu butuh nya apa? Aku?” Goda Theo membungkukkan tubuhnya menatap wajah Alice yang sedang menunduk.
“Cih tidak!” Celetuk kesal Alice. “Sana pergi, jangan merindukan ku!” Lanjutnya dengan nada sinis.
Baik Theo, Brandon atau pun Giselle. Ketiga nya saling beradu pandangan seakan mengerti apa yang sebenarnya Alice inginkan.
Mengusap lembut surai Alice, lantas Theo mengecup kening wanita itu begitu lama. “Maaf untuk saat ini aku tidak bisa membawa mu pergi jauh. Aku takut kamu kelelahan” Ujar lembut Theo.
Alice hanya berdehem pelan menyahuti ucapan Theo.
“Mom, Dad, aku titip Alice dan maafkan aku jika merepotkan kalian untuk menjaga istri ku”
“Astaga tenang saja Theo, Alice putri kami tentu kami tidak akan keberatan dan harusnya Mommy yang berterimakasih pada kalian karena kalian akan tinggal di sini” Sahut Giselle.
Theo mengangguk pelan dan tersenyum ramah, hingga akhirnya pria itu kembali mengusap surai Alice sebelum benar-benar berlalu menyeret kopernya sendiri.
Menyisakan Alice yang perlahan mengangkat pandangan nya dan menatap Theo dengan mata berkaca-kaca. Rasa kesal karena kejadian beberapa hari lalu seketika lenyap begitu saja digantikan dengan rasa Tak ingin berjauhan..
“Kamu sudah sarapan?” Tanya Giselle yang kini merangkul bahu Alice.
“Sudah Mom”
“Mommy sedang membuat cake dengan resep baru, apa kamu liat?”
“Nanti aja Mom, aku ingin ke kamar dan membereskan pakaian ku”
Setelah mengucapkan hal tersebut lantas Alice melepaskan perlahan rangkulan sang Mommy dan melangkahkan kaki nya menuju kamar dengan langkah gontai-gantai nya.
“Dad--”
“Biarkan Alice sendiri dulu, mungkin Alice sedih karena Theo pergi ke luar negeri secara tiba-tiba begini” Potong Brandon tak ingin sang istri memikirkan hal aneh pada putrinya.
“Hmm benar juga, mereka pasti sedang lengket-lengket nya tetapi Theo malah mementingkan bisnis nya”
“Bukan nya mementingkan, tetapi saat ini bisnis Theo di Jerman sedang ada masalah maka nya Theo harus turun tangan sendiri” Jelas Brandon.
“Daddy tau?” Tanya Giselle yang langsung mendapat anggukan dari Brandon.
“Masalah apa?” Tanya nya lagi.
“Ada provokator yang menentang pembangunan hotel milik Theo di sana, jadi Theo lah yang harus meluruskan hal ini”
Giselle hanya mengangguk-angguk seraya ber-oh ria karena sejujurnya ia tidak semengerti itu dalam dunia bisnis.
.
.
“Hubungi? Enggak? Hubungi? Enggak?” Gumam bingung Alice yang terus mondar-mandir seraya memegang handphone nya.
Pasalnya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi yang artinya Theo sudah sampai di negara tersebut karena jarak tempuh dari Italia ke Jerman hanyalah sekitar satu jam setengah.
“Ihh tapi kok Theo gak ngabarin aku?!” Rengek kesal Alice menjatuhkan tubuhnya pada kasur queen size milik nya.
“Baru aja pisah dua jam, masa Theo sudah melupakan aku..” Lirih sedih Alice. “Apa jangan-jangan Theo di sana sedang bersama dengan wanita-wanita sexyy?!”
Setelah Alice mengucapkan kata-kata terakhir nya tiba-tiba saja suara tawa menggelitik seorang wanita langsung memenuhi telinga nya hingga membuat Alice langsung menoleh ke asal suara.
“Astaga Alice, kamu seperti bocah sekolah dasar yang sedang kasmaran hahaha” Ledek Giselle seraya berjalan mendekati putri nya.
“Mommy kok gak ngetuk pintu dulu!!” Rengek kesal Alice.
“Ishh tau ah! Aku kesal!” Alice melipat kedua tangan nya di depan dada seraya menatap handphone nya.
Menunggu telepon masuk dari Theo namun tak kunjung ia dapatkan. Ingin menelpon pun rasanya sangat gengsi karena saat Theo pergi tadi, Alice berkata ketus padanya.
“Kalau kamu rindu, telpon saja jangan menunggu di telpon” Saran Giselle seraya duduk di sebelah Alice.
“Gak mau ah, biarin aja tunggu Theo yang menelpon aku!”
Sejenak Giselle tak langsung menjawab melainkan menatap raut wajah putri semata wayang nya. Jelas Giselle tau apa yang sedang Alice rasakan saat ini.
“Sebelumnya, kalian sedang bertengkar?” Tanya Giselle asal menebak.
Alice mengangguk pelan dengan bibirnya yang maju beberapa centi. “Aku yang mendiami Theo, habisnya aku kesal!”
“Kesal kenapa?”
Alice membenarkan posisi duduk nya menghadap sang Mommy dan menatapnya serius. “Mommy tau gak?” Tanya Alice dengan wajah serius.
Giselle menggeleng dan terkekeh pelan, karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Beberapa hari lalu, berhubung aku menemani Theo di kantornya. Jadi aku ingin makan malam di luar” Ujar Alice memulai ceritanya.
“Lalu?”
“Awalnya Theo menolak karena dia bilang makanan nya tidak higenis, sampai aku bujuk dan akhirnya Theo mau. Tapi yang bikin aku kesal!” Alice mendengus kesal meluapkan emosinya saat itu.
“Masa Theo menyuruh pelayan di rumah untuk masak dan dibawa ke restoran itu. Terus yang lebih parahnya Theo membooking satu restoran hanya untuk numpang makan!”
“Pfthh.. Hahaha” Tawa Giselle pecah begitu mendengar kata numpang makan.
“Ngeselin banget 'kan Mom? Aku jadi gak mood untuk makan dan akhirnya aku mendiami dia beberapa hari ini”
“Astaga Theo, Theo” Gumam tak percaya Giselle.
“Terus gimana, sekarang kamu masih ingin mendiami nya? Nanti kalau dia di goda sama wanita lain di sana gimana?” Tanya Giselle menakut-nakuti.
“Ihh Mommy kok bicara seperti itu!!”
“Lho kenapa? Mommy salah kah?”
Alice mengangguk lalu menggeleng. “Benar juga, bagaimana jika nanti ada wanita lain yang menggoda nya?” Gumam Alice.
“Tuhkan, maka nya cepat hubungi Theo sekarang dan tanyakan apa dia sudah sampai di tempat penginapan?”
“Hmm okelah, aku akan menelpon nya”
Alice meruntuhkan ke-egoisan nya dan langsung menghidupkan handphone nya lalu dengan gerakan cepat Alice langsung menelpon Theo.
“Duh Mom, gak jadi deh..” Alice hendak memutuskan panggilan begitu tak juga mendapat jawaban dari Theo.
“Bentar, tunggu dulu” Larang Giselle menahan jari Alice.
Hingga akhirnya panggilan tersebut mati sendiri karena Theo tak kunjung menjawab nya.
“Lho kok gak diangkat sih?!” Pekik kesal Alice.
“Coba sekali lagi, mungkin Theo tidak mendengarnya”
Alice mengangguk cepat dan kembali menghubungi Theo. Namun, lagi dan lagi pria itu tidak menjawab nya.
“Mommy..” Rengek pelan Alice dengan mata berkaca-kaca saat tak kunjung mendapat jawaban dari Theo.
“Tenang sayang, mungkin Theo saat ini sedang di lokasi pembangunan maka nya dia tidak menjawab”
Alice mengangguk lesu dan menjatuhkan kepalanya dipangkuan sang Mommy.
...****************...