Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab26-•



“Lepaskan putri saya!” Suara bariton dingin itu menggema memenuhi ruang tengah rumah megah milik Theo.


Brandon berjalan mendekati Theo yang kini tengah mendekap tubuh Alice, sedangkan para bodyguard milik Brandon dan Theo saling menodongkan senjata.


“Lepaskan!” Sentak Brandon menodongkan pistol tepat di kening Theo.


“Daddy, jangan!” Alice mencoba menoleh dari dekapan kuat Theo agar bisa menatap sang Daddy.


“Apalagi kali ini hah?! Ancaman apalagi yang kamu tujukan pada putriku hah!” Bentak murka Brandon.


Theo hanya diam menatap datar Brandon tanpa rasa gentar sedikit pun. Tangan nya terus mendekap erat tubuh Alice, tidak ingin sang istri jatuh ke tangan Brandon.


“Tidak Dad, dengarkan aku. Jangan seperti ini”


“Jangan takut lagi Alice dan tidak usah berpura-pura. Daddy sudah mengetahui semuanya!”


Suasana semakin mencengkram begitu Brandon mencoba menarik tubuh putri nya dari dekapan Theo. Namun sampai saat ini Theo masih saja bungkam.


"Cukup Dad cukup hikss..” Teriak Alice mulai meneteskan air matanya. “Ini semua salah paham, Theo tidak menyakitiku hikss”


Theo termenung, kenapa nya menunduk menatap wajah sang istri yang kini sudah di banjiri air mata.


“Salah paham seperti apa? Daddy sudah mendapatkan semua bukti bahwa dia menyakiti kamu selama ini!”


Alice menggeleng pelan, hatinya terasa sesak begitu mendengar Daddy nya sendiri ingin memisahkan dirinya dengan Theo.


Seharusnya Alice merasa senang karena hidupnya akan terselamatkan dari kekejaman Theo, tetapi kenapa semuanya tidak sesuai ekspetasi nya?


“Pisahkan mereka!” Teriak menggelegar Brandon.


Seketika puluhan bodyguard tambahan yang pria setengah baya itu bawa langsung memasuki ruangan luas itu dan mencoba memisahkan Alice dari dekapan Theo.


Namun, siapa yang bisa melawan seorang psikopat Sepertinya kecuali orang yang ia cintai. Lantas Theo pun langsung mengeluarkan pistolnya dan menembaki satu persatu para bodyguard milik sang mertua.


“Berhenti sialan!” Teriak murka Theo melayangkan tembakan peringatan kearah atas.


Suasana seketika menjadi hening, napas memburu Theo berhasil mendominasi keheningan itu di iringi isak tangis ketakutan Alice.


Prokk.. Prokk.. Prokk..


Brandon menepuk tangan nya seakan-akan bangga dengan apa yang baru saja Theo lakukan, mata pria setengah baya itu menatap satu persatu bodyguard nya yang terluka.


“Saya semakin percaya bahwa ternyata kamu manusia kotor!” Cercah Brandon penuh penekanan.


“Tidak ada manusia bersih di dunia ini!” Sahut Theo. “Anda pun sama kotornya, Daddy.. ”


Theo mengarahkan pistolnya ke arah Brandon dengan senyum menyeringai, namun hal itu tak membuat Brandon gentar.


“Tidak! Jangan hikss jangan!!” Teriak Alice begitu melihat arah pistol tersebut.


Tangis Alice semakin histeris begitu melihat senyum menyeringai Theo. Alice sangat takut jika Daddy yang benar-benar di tembak oleh Theo.


“Tenang lah sayang, Daddy yang lebih dulu memancing keributan ini..” Bisik Theo.


“Tidak hikss ti..dak..” Kesadaran Alice menghilang, tubuhnya melemas namun untung saja saat ini ia tengah berada dalam dekapan Theo.


“Sayang, hei?!” Panik Theo langsung mengangkat tubuh Alice.


“Alice!” Pekik kaget Brandon langsung mendekati kedua nya.


“Sialan, ini pasti karena mu!” Geram Brandon hendak mengambil alih sang putri dari gendongan Theo.


“Dia istri saya!” Bentak Theo.


Setelah memberikan tatapan penuh permusuhan nya, Theo langsung berlari menuju kamar nya yang berada di lantai bawah.


“Brengsek! Cepat panggil dokter!” Maki Brandon menatap tajam para bodyguard yang hanya menatap.


.


.


“Kenapa di luar banyak bodyguard?”


“Ada apa dengan Alice?”


Pertanyaan beruntun itu terus Giselle, Jhon, dan Jinny lontarkan pada Theo dan Brandon. Tentu saja mereka bertanya-tanya begitu mendapat kabar seperti ini.


Namun untuk para bodyguard yang terluka dan darah yang ada di ruang tengah sana. Semua nya telah di bereskan hingga ketiga nya tidak terlalu banyak melontarkan pertanyaan.


“Aku ingin menarik putri ku kembali” Ujar dingin Brandon.


Tentunya ketiga orang yang sedari tadi terus bertanya-tanya langsung terdiam bingung, tetapi lain hal nya dengan Theo yang tengah menatap tajam Brandon.


“Apa yang sudah menjadi milik ku tidak bisa di ambil kembali!” Tegas Theo. “Lagi pula Daddy kira pernikahan ini hanya sebuah mainan hah?!”


“Tapi Alice tersiksa bersama mu, sialan!”


Giselle dan Jinny semakin bingung melihat kemarahan dan pembicaraan kedua nya, lain hal nya dengan Jhon yang langsung mengerti.


“Kita bisa bicarakn ini baik-baik, Don” Sela Jhon.


“Tidak, aku tidak bisa. Putriku semakin tersiksa!”


Disaat Theo hendak kembali bersuara, kini pintu kamar nya telah terbuka dan keluarlah sosok dokter wanita yang baru saja memeriksa Alice.


“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”


“Bagaimana dengan putri saya? Apa dia baik-baik saja?”


Cecar Theo dan Brandon tak memberi celah untuk dokter berbicara. Hingga akhirnya para wanita lah yang menghentikan nya.


“Baiklah saya mohon ketenangan nya” Ujar sang dokter mulai berbicara.


“Nyonya muda hanya tertekan atas apa yang baru saja ia alami”


Helaan napas lega mereka membuat sang dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya


“Usia kandungan yang masih sangat muda harus ekstra di jaga dan jangan biarkan nyonya muda terlalu tertekan seperti ini”


Seketika suasana menjadi hening, para keluarga saling melempar lirikan hingga akhir nya Theo mulai bersuara.


“Ja-jadi maksud anda, istri saya hamil?” Tanya gugup Theo memastikan.


Bahkan pria itu dengan susah payah menelan salivanya sendiri hingga napasnya tercekat begitu mendengar pernyataan sang dokter.


“Benar tuan. Usia kandungan nyonya muda baru memasuki minggu pertama dan itu sangat rentan akan kejadian yang tidak di harapkan”


Brughh!


Tubuh Theo melemas hingga akhirnya pria berbadan tegap itu terduduk di lantai dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan.


Jinny terisak pelan dan memeluk tubuh putra nya, dirinya amat bingung dengan apa yang terjadi tetapi yang pasti ia tau bahwa Theo tengah butuh pelukan nya.


“A-aku akan jadi seorang Ayah?”


Jinny mengangguk dan mengusap-usap punggung putra nya. “Dan mama akan segera menjadi seorang grandma hikss” Sambung Jinny.


Sedangkan Brandon? Kini pria itu hanya terdiam membeku bahkan sang istri tercinta tengah memeluknya pun Brandon tidak membalas pelukan tersebut.


...****************...