
“Apa maksud Daddy hah?! Apa ada sesuatu yang kembali meracuni otak mu?!”
Brandon menggeleng samar dan menatap datar Theo. Sedangkan Theo? Pria itu semakin dibuat geram dengan tatapan Brandon.
Semenjak pertengkaran waktu itu, hubungan kedua nya memang mulai renggang. Entah karena Brandon yang malu karena menuduh Theo, atau karena Brandon belum mempercayai Theo sepenuhnya.
Theo bangun dari posisi nya dan tidak berniat untuk menanggapi Brandon hingga berujung jiwa psikopatnya kembali karena kemarahan nya.
“Masalah kali ini tidak aku perpanjang, dan anggap saja obrolan tadi hanya angin lewat” Ujar dingin Theo sebelum melangkah.
“Mommy merindukan Alice” Ucap tiba-tiba Brandon
Tak!
Langkah kaki Theo terhenti saat itu juga, namun pria itu belum memutar tubuh nya.
“Setiap pulang kerja Daddy selalu melihat mommy berada dikamar Alice lalu memeluk boneka kesukaan Alice” Lanjut seraya menatap Theo yang kini sudah berbalik menatap dirinya.
“Kamu tau 'kan, hanya Akice satu-satu nya anak kami dan permata kami selama puluhan tahun menikah”
“Dan kini.. Rumah benar-benar sepi tanpa kehadiran Alice. Daddy hanya takut kesehatan Mommy terganggu”
“Seharusnya Daddy bicara dengan benar tanpa harus mengacaukan pekerjaan ku!”
Brandon bangun dan mendekati Theo.
“Maafkan Daddy. Daddy sebenarnya malu padamu karena masalah itu, Daddy tidak tahu ingin bicara seperti apa tanpa sepengetahuan Alice”
“Jadi kesimpulan nya, Daddy ingin aku dan Alice tinggal bersama kalian?”
Brandon mengangkat bahu nya dan menepuk-nepuk bahu Theo.
“Jika kamu mau, maka tinggal lah bersama kami. Tapi jika tidak, maka biarkan Alice tinggal bersama Daddy dan Mommy”
“Ck, enak saja!” Dengus kesal Theo.
Suasana ruangan yang sebelumnya mencengkram kini telah terasa semakin hangat setelah beberapa obrolan ringan mereka bicarakan.
“Sudah jam dua, aku harus kembali ke kantor” Ujar Theo yang baru saja tersadar akan waktu.
“Baiklah, hati-hati dan sekali lagi maafkan Daddy”
“Sebenarnya aku tidak terima karena gara-gara Daddy aku harus ke Jerman dan turun tangan sendiri” Cibir Theo membuat Brandon terkekeh.
“Tidak apa, sekalian jalan-jalan. Lagi pula ada Daddy dan Mommy yang akan menjaga Alice”
“Heuh sudah lah, Menantu tidak akan pernah menang jika melawan Mertua dan besok pagi aku akan pindah ke rumah Daddy sebelum berangkat ke Jerman”
Brandon mengacungkan kedua ibu jarinya dengan senyum bahagia. Begitu pun dengan Theo yang ikut tersenyum.
.
.
“Sayang, aku pulang!” Teriak Theo yang baru saja memasuki rumah besarnya.
Mendengar teriakan tersebut, Alice yang saat ini tengah berada di dapur sempat tersentak kaget hingga tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekat.
Greb!
Sepasang tangan melingkar sempurna di perut Alice bersamaan dengan kecupan yang di berikan pria berjambang tipis itu.
“Lagi apa hmm?” Tanya Theo yang terus mengecupi pipi Alice.
Memalingkan wajahnya, lantas Alice menghentikan kegiatan nya dan beralih mendorong kepala Theo agar menjauh.
Mendapat respon seperti itu Theo pun melepaskan pelukan nya dan membalik tubuh Alice agar menatap nya.
“Masih marah?”
“Gak tau”
“Udah dong marahan nya, aku kangen di peluk kamu”
Alice tidak merespon melainkan kembali ke posisi semula dan mulai mengaduk-aduk beberapa bahan kue yang hendak ia buat.
“Besok pagi kita pindah ke rumah Daddy” Ujar Theo seraya berlalu menuju meja makan.
Ucapan itu berhasil membuat gerakan Alice terhenti dan kini wanita itu langsung berbalik menatap Theo penuh tanda tanya.
“Sini duduk dulu, aku mau bicara”
Dengan rasa penasaran nya tanpa mencuci tangan lagi Alice langsung menghampiri Theo dan duduk di sebelah sang suami.
“Kenapa?”
“Cuci tangan dulu sayang, itu tangan kamu dipenuhi tepung lho”
“Kenapa?” Ulang Alice tak sabar.
“Cuci tangan dulu!”
Alice mendengus kesal, mau tidak mau akhirnya wanita itu beranjak menuju wastafel dan mencuci tangan nya hingga bersih.
“Sudah” Ujar Alice seraya menunjukkan telapak tangan nya di depan wajah Theo.
“Istri pintar” Puji Theo menepuk-nepuk pelan kepala Alice.
“Cepat katakan!”
“Astaga, baiklah dengarkan!” Tegas Theo dengan wajah serius.
Melihat wajah serius Theo, Alice pun ikut menatap serius Theo menunggu pria di hadapan nya membuka suara.
“Daddy mengacau bisnis ku” Theo menghela napas beratnya, dan menghentikan ucapan nya.
“Katakan dengan benar dan jelas, jangan setengah-setengah!”
Theo terkekeh pelan melihat kekesalan sang istri. “Tadi siang aku ke perusahaan Daddy dan menanyakan apa maksud dia yang sengaja mengirim provokator ke Jerman untuk menganggu pembangunan hotel ku”
“Dan ternyata Daddy hanya ingin kamu tinggal bersama mereka lagi, tetapi Daddy gengsi untuk berbicara nya hingga berakhir mengacau bisnis ku” Jelas Theo.
“Daddy menyuruh aku tinggal bersama mereka?” Tanya Alice memastikan.
“Lebih tepat nya kita, Daddy menyuruh kita untuk tinggal di sana” Larat Theo.
“Kenapa?”
Tidak langsung menjawab melainkan Theo terdiam dan tak lama kemudian pria itu menarik kedua tangan Alice untuk digenggam nya.
“Janji dengan aku, kalau kamu tidak akan menangis?”
Kening Alice mengkerut bingung namun pada akhirnya wanita itu mengangguk.
“Jadi...”
...****************...