Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab35-•



“Jadi..”


Dengan sengaja Theo menggantung perkataan nya dan melepaskan genggam nya pada tangan Alice seraya menunjuk bibirnya.


“Jadi kenapa? Cepat bicara!” Gertak tidak sabar Alice


“Cium dulu, setelah itu aku akan bicara” Pinta Theo.


“Gak mau, cepat katakan saja!”


“Yaudah kalau gitu aku juga gak mau bicara”


Saking kesalnya dengan sang suami, napas Alice sampau memburu dengan gigi yang bergemeletuk menahan marah.


“Ayo cium” Ujar Theo lagi seraya memonyongkan bibirnya.


“Oke, tapi setelah itu langsung bicara dengan jelas!”


Theo mengangguk cepat tanda bahwa pria itu menyetujuinya, lantas kepala Theo pun semakin maju bersiap menerima ciuman Alice.


Cup!


“Sudah!” Ucap Alice yang baru saja mengecup sekilas bibir Theo.


“Apa itu? Aku tidak merasakan nya”


“Sudah Theo, aku sudah mencium mu. Dan sekarang jelaskan!”


“Tidak mau, itu bukan ciuman tetapi kecupan” Theo memalingkan wajahnya seraya melipat kedua tangan nya di depan dada.


Hal itu pun berhasil membuat kepala Alice semakin kesal, mungkin jika terlihat saat ini asap sedang berkoar-koar di kepala wanita itu.


“Theo, cepat katakan!!” Geram Alice menarik-narik lengan Theo.


“Berikan aku ciuman, bukan kecupan”


“Ishh gak mau, cepat katakan saja”


“Yaudah ah kalau kamu gak mau dengar lebih baik aku ke kamar saja”


Theo bangun dari posisi nya dan berniat melangkah, tetapi gerakan nya tertahan begitu Alice menarik dasinya begitu kuat hingga kepalanya tertunduk.


Dan sedetik kemudian wanita itu menempelkan bibir kedua nya, hingga beberapa saat kemudian baru lah bibir Alice bergerak mencoba mellumat bibir Theo dengan gerakan amatirnya.


Tanpa sadar bibir Theo terangkat membentuk sebuah senyum tipis sampai akhirnya tangan kekar itu merengkuh pinggang Alice dan membalas lumatann amatir itu dengan ganas nya.


“Emhh!!..” Lenguh kaget Alice begitu lidah Theo menerobos masuk.


Mata Alice yang awalnya terpejam kini langsung melebar, wanita itu mencoba melepaskan ciuman rakus itu namun Theo malah menekan tengkuk nya.


“Emmhh.. Su--dah!!” Gumam tertahan Alice.


Tidak menghiraukan gumaman sang istri, kini Theo malah mengangkat tubuh Alice dan mendudukkan nya di atas meja makan.


“Theo eughh!” Erang kaget Alice.


Ciuman terlepas namun bukan berarti berakhir. Kepala Theo masuk ke sela ceruk leher Alice lalu menghiisap nya hingga meninggalkan tanda merah keunguan.


“Theo sudah..” Lirih Alice mengigit bibirnya menahan suara pemersatu bangsa yang rasanya bisa keluar begitu saja.


Suara decapan rakus terdengar begitu nyaring mengisi ruang makan rumah besar tersebut, tanpa gangguan siapa pun Theo semakin gencar melakukan aksinya.


Tangan pria itu bergerak turun mengusap paha sang istri yang terekspos, pasalnya saat ini Alice memakai rok pendek yang dipadukan dengan kemeja berlengan pendek yang sangat cocok dengan tubuhnya.


“Theo ahh!” Alice menahan pergerakan tangan Theo bersamaan dengan sebelah tangan nya yang menarik paksa rambut Theo agar pria itu menghentikan kegiatan gila nya.


“Sayang..” Gumam berat Theo dengan napas memburu.


“Su-sudah” Ucap gugup Alice hendak turun dari meja makan. Tetapi Theo semakin memepetkan tubuhnya dan meremat pelan paha putih sang istri.


“Dengarkan aku” Ujar Theo setelah beberapa saat mengatur napasnya dan mengusap sisa salivanya di bibir Alice.


“Menjauh sedikit” Cicit pelan Alice.


Theo menggeleng pelan dan mengecup singkat kening Alice.


“Kamu tau 'kan kalau Daddy masih belum mempercayaiku karena masalah waktu itu?”


Alice mengangguk pelan.


“Karena itu Daddy memaksa ku hingga mengacau bisnisku karena ingin kamu dan aku tinggal bersama mereka”


“Hanya karena itu?” Tanya Alice penuh intimidasi yang tentunya langsung mendapat anggukan dari Theo.


“Kenapa? Kamu gak mau kalau kita tinggal bersama mereka?” Tanya Theo.


“Baiklah malam ini aku akan menyuruh pelayan untuk membereskan barang-barang kita”


“Aku saja”


“Tidak, tidak. Kamu tidak boleh kelelehan” Tegas Theo seraya mengangkat tubuh Alice ke dalam gendongan ala koalanya.


“Kamu mau buat kue 'kan?” Tanya Theo seraya memasuki dapur.


“Iya, dan sekarang turunkan aku”


Theo menurut dan menurunkan tubuh Alice. “Ayo aku bantu”


*


*


“Mommy, Daddy, Alice datang!!” Teriak menggelegar Alice seraya memasuki rumah besar milik keluarga nya.


Mendengar teriakan sang putri tentunya membuat Giselle menghentikan segala kegiatan nya dan menoleh begitu cepat ke asal suara, begitu pun dengan Brandon yang menggullum senyum nya mendengar suara sang putri.


“Ternyata dia benar-benar membawa Alice ke sini” Gumam lirih Brandon.


“Dad, apa itu Alice?” Tanya antusias Giselle seraya melepaskan celemek nya.


Brandon mengangguk dan beranjak dari posisi nya seraya merengkuh pinggang sang istri.


“Ayo kita ke depan” Ajak Brandon.


.


“Mommy!!” Pekik bahagia Alice memeluk erat tubuh sang Mommy.


“Sayang..” Gumam bahagia Giselle membalas pelukan tak kalah erat.


Suara haru dan hangat bercampur menjadi satu, namun tak lama pelukan itu terlepas kala mata Giselle melihat beberapa koper yang berjejer di samping sang menantu.


“Koper? Kalian mau kemana?” Tanya Giselle seraya mengurai pelukan nya.


Alice tersenyum penuh arti hingga akhirnya wanita itu melompat begitu tinggi. “Kejutan!!”


“Astaga Alice!!” Pekik para keluarga saat melihat wanita hamil itu melompat.


“Jangan aneh-aneh sayang! Gimana kalau tadi kamu terpeleset!” Omel marah Theo merengkuh posesif pinggang Alice.


“Iya-iya maaf..” Pasrah Alice tak ingin memperpanjang masalah.


“Jadi.. Kalian mau kemana?” Tanya Rachel lagi.


“Mulai hari ini aku dan Alice akan tinggal di sini, Mom” Ujar Theo.


“Hmm betul, aku akan menemani Mommy membuat cake lagi!” Timpal antusias Alice.


Mata Giselle langsung berkaca-kaca hingga rasanya wanita setengah baya itu ingin menangis. Merasakan usapan pada bahu nya lantas Giselle menoleh dan menatap wajah sang suami.


“Senang?” Tanya Brandon tersenyum hangat.


Giselle mengangguk cepat dan memeluk begitu erat tubuh Brandon. “Aku tidak akan kesepian lagi..” Ucap lirih Giselle.


.


.


“Sepertinya aku harus berangkat sekarang” Ujar Theo seraya bangun dari posisi nya.


“Perlu Daddy antar?” Tawar Brandon yang langsung mengundang tawa dari Alice.


“Daddy kenapa sih haha. Theo kan cuma mau ke kantor kenapa harus di antar haha” Ujar Alice di iringi tawa menggelitiknya.


Sontak mata Brandon langsung terfokus pada Theo seakan sedang menanyakan sesuatu.


“Oh iya aku lupa bilang sama kamu” Ucap terkekeh Theo. “Aku harus ke Jerman beberapa hari ini” Lanjutnya.


“Lho kok mendadak?!” Ujar tak santai Alice seakan tidak terima dengan ucapan Theo.


“Ini semua karena ulah Daddy kamu, jadi salahkan saja dia” Bisik Theo.


Mata Alice langsung menatap tajam sang Daddy, sedangkan Brandon? Pria itu seakan mengerti arti tatapan putri nya dan malah terkekeh pelan.


“Dua puluh menit lagi pesawat akan lepas landas, jadi aku harus berangkat sekarang” Ujar terburu-buru Theo meraih koper yang sengaja belum di masukkan ke dalam kamar Alice.


“Aku ikut..” Lirih Alice berkaca-kaca.


...****************...