
“Maka dari itu, saya Bastian Theo Oliver selaku pemilik Bastian Group ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepala para warga di sini”
“Selain itu Bastian Group sudah menyediakan kompensasi yang saat ini kalian pegang, bukan untuk tutup mulut melainkan Bastian Group memberikan ini sebagai permintaan maaf yang sebesar-besarnya”
Theo bergeser dari posisi nya dan membungkuk hormat sebagai tanda permintaan maafnya pada para warga dihadapan nya. Begitu lama hingga akhirnya tiba-tiba tubuh pria itu hampir tersungkur jika saja Steven tidak menahan nya.
“Astaga!” Pekik kaget para warga.
“Mohon maaf semuanya, kami harus kembali. Sebenarnya kondisi Mr.Theo kurang sehat beberapa hari ini” Ujar Steven menenangkan.
Melihat kejadian di depan nya membuat para warga menjadi tidak enak, mereka menatap iba terhadap Theo. Pria tinggi dengan hidung mancung yang sangat baik dan sopan itu.
.
.
“Minum dulu boss” Ujar Steven seraya menyodorkan sebotol air mineral.
Theo meraih nya dan langsung meminum nya, kepalanya sangat pusing di tambah sedari tadi Theo berhadapan dengan matahari yang menyoroti dirinya saat sedang berbicara dihadapan para warga.
“Apa masih ada warga yang menentang Stev?”
“Syukurlah, respon warga sangat baik. Terlebih lagi setelah melihat kejadian tadi saat anda akan tersungkur”
“Siall, memalukan!” Desis geram Theo.
Steven terkekeh pelan dan bergeser lalu berdiri di belakang Theo. “Butuh pijatan gratis, sahabat ku?” Tawar Steven.
“Yakin gratis? Kau tidak meminta untuk ditambahkan bonus?” Tanya curiga Theo.
“Emm, sekalian tambahin aja deh hehe” Sahur Steven dengan kekehan nya.
“Ck, dasar! Cepat pijat bahu dan kepala ku!”
“Siap boss!”
Dengan cepat Steven pun memijat bahu Theo terlebih dahulu, memang pria tampan ini sangat ahli memijat. Sering kali Steven di jadikan tukang pijat dadakan oleh Theo dengan bayaran yang cukup fantastis.
Cukup lama Theo memejamkan matanya menikmati pijatan Steven pada kepalanya yang begitu berdenyut hingga akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya.
“Aku ingin makan sesuatu, Stev”
“Anda lapar boss?”
The menggeleng dan menegakkan tubuhnya, otomatis pijatan Steven pun terhenti.
“Aku ingin makan mangga muda”
Perkataan itu berhasil membuat mulut Steven menganga lebar. Pasalnya Theo tidak suka makanan ataupun buahan asam, dan sekarang? Pria itu malah menginginkan buah yang jelas-jelas akan terasa sangat asam.
“Stev!”
“Ah i-iya boss. Anda tidak salah bukan?”
“Tidak dan cepat carikan!” Titah tegas Theo.
Sejenak Steven terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang di inginkan oleh Theo hingga akhirnya begitu mendapat tatapan tajam dari Theo barulah Steven beranjak dari posisi nya.
Melihat Steven yang telah meninggalkan ruangan lantas Theo meraih handphone nya yang berada di meja sebelah nya. Begitu melihat banyak pesan masuk dari sang istri, dengan cepat Theo menelpon wanita yang sedang ia rindukan.
“Hai sayang..” Sapa Theo begitu panggilan video nya terhubung dengan Alice.
“Hai, bagaimana keadaan kamu hari ini?”
Theo terkekeh pelan, semakin hari Alice semakin menggemaskan. Wanita itu sangat memperhatikan nya dan Theo sangat senang dengan hal kecil seperti ini.
“Aku baik-baik saja sayang”
“Bohong, tadi aku baru aja lihat berita kamu yang hampir jatuh setelah berbicara dengan para warga”
“Benarkah?” Tanya Theo terkejut. “Cepat sekali beritanya menyebar astaga” Lanjut nya tak percaya begitu melihat televisi.
Memang benar, bahkan saat ini di televisi pun sedang ditayangkan berita tentang dirinya. Dan mungkin setelah ini urusan nya akan semakin rumit.
“Huuft.. Pasti setelah ini para dewan direksi akan mengadakan rapat terkait berita ini” Gumam lelah Theo.
“Tidak usah hadir jika itu memperdebatkan kesehatan mu. Kamu tidak sakit!” Tegas Alice.
“Iya sayang aku tidak sakit, aku hanya sedikit lelah menghadapi para penjiilat yang tidak ada kapoknya itu”
“Jangan di pikirkan, lebih baik sekarang jawab pertanyaan aku”
“Pertanyaan apa hmm? Tanyakan saja”
“Kapan kamu pulang?”
Seketika senyum di bibir Theo langsung terukir begitu lebar, rasa lelah nya semakin berkurang namun tidak menghilangkan rasa sakit di kepalanya.
Di sebrang sana Alice memajukan bibirnya beberapa centi seperti seorang bocah yang tidak di izinkan untuk membeli permen.
“Kenapa tidak hari ini atau besok saja?”
“Tidak bisa sayang, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan lusa adalah hari tercepat” Ucap lembut Theo mencoba memberi pengertian pada Alice.
Sedangkan Alice? Tentu wanita itu mengerti karena ia pun seorang wanita karir yang sangat mengerti dunia perbisnisan.
“Baiklah, lusa ya?”
“Iya sayang..”
.
.
“Ini mangga muda nya, boss!”
Steven terengah-engah dengan tangan yang menenteng sebuah plastik berlogo supermarket. Pria itu menyodorkan plastik tersebut pada Theo yang langsung diambil alih oleh pria itu.
Dengan cepat Theo mengirisnya karena ia sudah menyediakan pisau, tetapi yang terjadi Theo malah menghempaskan begitu saja mangga tersebut.
“Bukan yang ini!”
Steven kembali di buat menganga. “Lalu yang seperti apa? Ini mangga muda boss”
“Aku ingin yang dalam nya sudah berwarna sedikit kuning!”
“Astaga kenapa tidak bilang dari tadi?..” Gumam lelah Theo.
“Cepat cari, aku ingin memakan nya sekarang!” Teriak marah Theo.
Dengan cepat Steven berlari keluar, dan tentu pria itu akan mencari mangga yang sesuai dengan keinginan Theo.
Beberapa menit telat berlalu, kini Steven kembali masuk dengan kantong plastik yang sama dan isi yang sama.
“Ini dia, berwarna sedikit kuning” Ucap terengah Steven.
Theo kembali mengirisnya, namun lagi-lagi mangga tersebut di hempaskan begitu saja.
“Bukan itu!” Teriak kesal Theo. “Aku ingin yang dagingnya berwarna sedikit kuning!” Lanjut.
“Mangga itu dalamnya berwarna sedikit kuning boss”
“Tapi bukan itu, cepat cari lagi atau gaji mu akan aku potong bulan ini tanpa bonus!”
Ancaman tersebut berhasil membuat Steven yang awalnya berniat ingin melawan, menjadi bungkam dan kembali meninggalkan ruangan itu.
“Dasar bodoh, begitu saja tidak tahu!” Geram Theo.
.
“Ini boss, daging nya sedikit kuning”
.
“Ini boss mangga nya”
.
“Ini boss..”
.
“Ini--”
“Apa kau tidak mengerti bahasa manusia hah!”
Theo murka, pria itu melemparkan mangga-mangga yang sudah Steven beli berkali-kali namun tetap tidak sesuai keinginan nya.
Steven mengusap wajahnya kasar. “Sedikit kuning seperti apa yang kau maksud sebenarnya, Theo?” Tanya frustasi dan lelah Steven.
Mata Theo tertuju pada majalah buah-buahan di meja itu, lalu pria itu menunjuk majalah tersebut.
“Seperti itu bodoh!”
Steven langsung mengikuti arah tunjukan Theo, dan matanya seketika di buat melebar.
“Itu mangga matang boss!!” Pekik kesal Steven.
...****************...
Ayo bunda.. Lemparkan sisa harta kalian pada karya gabutku ini hehehe🤭