
“Sayang, gak mau pergi ke kantor..”
“Mau di sini sama kamu dan baby nya..”
Wajah galak dan tatapan mendominasi Theo hilang begitu saja semenjak kehamilan Alice. Dan saat ini, pria itu tengah merengek pada istri kecilnya.
“Sudah dua hari kamu di rumah Theo, walaupun kamu pemilik perusahaan itu tetapi tetap saja kamu mempunyai tanggung jawab yang besar”
“Tapi aku 'kan di rumah tidak diam saja, aku mengawasi mereka dari hasil laporan nya”
Alice memutar bola matanya malas mendengar sahutan Theo, sedari membuka matanya pria itu terus saja membujuk Alice.
“Mau ke kantor sekarang atau tidur di sofa ruang tamu nanti malam!” Ancam kejam Alice dengan tatapan tajam nya.
Sontak mendengar hal tersebut mata Theo langsung melotot namun tak lama kemudian tatapan nya menjadi pasrah dan penuh permohonan.
“Yaudah iya aku kerja, tapi kamu ikut ya?” Pinta memelas Theo menggenggam kedua tangan Alice.
“Nanti siang aku ke sana sekalian bawa makan siang untuk kamu” Putus Alice seraya melepaskan genggaman Theo dan beralih mengambil jas pria itu.
“Tapi aku ingin di temani kamu”
“Aku ingin menemani Mommy belanja bulanan, Theo”
Dengan penuh kesabaran dan wajah menahan kesal, Alice pun memakaikan jas yang ia pegang hingga melekat di tubuh tegap sang suami.
“Tapi--”
“Udah deh, kamu kebanyakan tapi-nya!” Potong kesal Alice.
Theo bungkam dan memilih diam.
.
.
.
Degh!
Langkah laki Theo berhenti tepat setelah pria itu memasuki ruang kerja nya sehabis memeriksa keadaan kantor nya. Matanya terfokus pada satu arah dan dan detak jantung nya terasa berhenti detik itu juga.
“Bastian..” Pekik manja seorang wanita yang duduk di kursi kebesaran Theo seraya berlari menghampiri Theo.
Theo membeku, napas nya tercekat dan kini tangan nya terkepal begitu erat saat wanita itu memeluk tubuhnya.
“Aku benar-benar merindukan mu, honey”
Cup!
Satu kecupan mendarat tepat di sudut bibir Theo bersamaan dengan usapan lembut jari lentik wanita itu.
“Maafkan aku karena meninggalkan mu demi karir ku, sayang”
Mata kedua nya beradu, wanita itu terus bergelayut pada tubuh Theo. Sedangkan Theo? Pria itu hanya diam menahan segala rasa di hatinya.
Lum*tan lembut terus wanita berikan pada bibir Theo, walaupun tubuh Theo lebih tinggi darinya tetapi tetap saja wanita itu bisa melakukan kegiatan nya.
Hingga akhirnya Theo menjauhkan kepalanya dan menatap wajah wanita itu dengan tatapan sulit di artikan nya.
“Ini aku sayang, Jane. Kamu masih mengingat ku 'kan?”
Jane Xyrin, dia lah wanita tak tahu diri yang sedari dua jam yang lalu menunggu di ruangan Theo dan menerobos masuk begitu saja.
Dan lebih kurang ajarnya wanita itu bertingkah seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
“Kenapa kamu kembali?”
Dahi Jane berkerut, namun tak lama kemudian wanita itu terkekeh seraya kembali memeluk tubuh Theo.
“Aku kembali untuk mu, Bastian. Bukan kah aku sudah berjanji akan kembali begitu karir ku sudah stabil?”
“Tidak tahu malu!” Bentak seorang wanita dari belakang sana. Lebih tepatnya dari arah pintu yang baru saja terbuka.
Theo menoleh begitu pun dengan Jane, namun kedua nya tak juga melepaskan pelukan nya.
“Sa-sayang..” Gumam kaget Theo.
Brughh!
“Awww!!”
“Dasar jallang sialan, dia suami ku!” Teriak marah Alice yang baru saja mendorong tubuh Jane hingga pelukan kedua nya terlepas dan wanita itu terhempas ke lantai.
“Bastian sakit hikss..” Air mata Jane mengalir begitu saja dengan posisi yang terlihat begitu menyakitkan.
“Jika gatal, garuk dengan besi. Jangan menempeli suami orang!” Alice menjambak rambut Jane hingga kepala wanita itu tertarik.
“Alice!” Bentak Theo yang langsung menarik lengan Alice begitu kuat.
“Aww hikss.. Sa-sakit Bastian hikss..”
Sesaat mata Theo menatap iba kondisi Jane, hingga akhirnya mata tajam pria itu langsung terfokus pada Alice.
“Apa yang kamu lakukan?!”
“Apa?!” Sahut marah Alice. “Seharusnya aku yang bertanya!”
“Hikss.. Sudah tidak apa-apa hikss.. Bantu aku hikss..”
Decihan marah Theo layangkan untuk Alice sebelum akhirnya pria itu menyingkirkan tubuh Alice dan tentunya berniat membangunkan Jane.
Tetapi secepat kilat Alice menendang tubuh Jane lalu menarik rambut Theo hingga kedua manusia itu berteriak kesakitan.
“Kamu milik ku, sampai kapan pun milik ku. Bastian Theo Oliver!” Teriak Alice penuh penekanan.
...****************...