Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab53-•



Ting.. Nong.. Ting.. Nong..


Suara bel di salah satu unit apartemen yang berbunyi terus-menerus mengganggu kegiatan sang pemilik apartemen.


Hingga akhirnya tak lama kemudian pintu terbuka bersamaan dengan kepala sang pemilik unit yang mengintip dan membuka sedikit pintu nya.


“Ada ap--”


“Kamu kemana saja hah!” Bentak marah seorang pria yang kini menerobos masuk dan menutup kasar pintu apartemen itu.


“Stev..” Gumam kaget wanita pemilik unit apartemen tersebut.


Steven menggeram marah menarik lengan wanita itu hingga kini tubuh kedua nya tak berjarak sedikit pun.


“Jawab aku Carlotta!”


“Aku baru selesai mandi Stev”


Steven yang mendengar jawaban sang wanita pun lantas memperhatikan tubuh Carlotta yang masih terbalut handuk kimono.


Meremat pelan pinggul Carlotta, lantas Steven mendesis marah. “Shitt!! Bisa-bisa nya kamu membuka pintu dalam keadaan seperti ini!”


“Aku buka pintu dalam keadaan seperti ini karena kamu terus menekan bel nya. Jadi tidak sempat memakai baju” Jelas malas Carlotta melepaskan tangan Steven dari tubuh nya.


Lantas wanita itu langsung berjalan dan berniat meninggalkan Steven untuk memakai baju nya, tetapi gerakan nya tertahan dan tubuhnya terdorong ke sofa di ruangan itu.


“Sudah aku bilang, jika ingin melakukan apapun bilang pada ku!” Geram Steven yang kini menindih tubuh Carlotta.


“Aku hanya mandi sayang. Aku tidak pergi kemana pun atau dengan siapa pun”


“Kamu--!!”


Cup!


Ucapan Steven terhenti saat wanita di bawah nya tiba-tiba saja mengecup bibir nya. Mata kedua nya saling menatap begitu dalam, suasana seketika menjadi hening.


Terdengar deru napas berat Steven yang masih emosi karena Carlotta yang tidak menjawab pesan ataupun telepon nya. Pikiran pria dewasa itu berkecamuk, takut akan sang kekasih pergi bersama pria lain.


“Jangan seperti ini sayang. Sikap mu ini kadang membuat ku takut dan ingin--”


“Sekali milik ku tetap milik ku” Potong Steven penuh penekanan.


Carlotta hanya diam menahan senyum nya, hingga tak lama kemudian pria itu menjatuhkan kepalanya pada sela leher Carlotta dan menghembuskan napas kasar nya di situ.


“Kamu tau?” Gumam Steven setelah sekian lama terdiam.


Carlotta menggeleng pelan dan mengusap rambut sang kekasih dengan senyum yang mulai mengembang.


”Mendapatkan mu sangat tidak mudah dan aku harus terus bersabar saat melihat kamu selalu berganti kekasih”


Jantung Carlotta di buat berdebar begitu cepat oleh pria yang selama satu bulan ini telah menjadi kekasih nya. Carlotta benar-benar tidak menyangka dengan cara pria di atasnya ini saat mengungkapkan perasaan nya.


Ah,salah. Bukan mengungkapkan, namun Steven mengurung nya di apartemen milik pria itu saat Carlotta tidak sadarkan diri akibat minuman yang ia konsumsi di sebuah night club.


“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Lain waktu aku akan menghubungi mu saat akan melakukan kegiatan apapun termasuk buang air” Pasrah Carlotta di iringi kekehan nya.


“Hmm, harus!” Tegas Stevem membuat tawa wanita itu terhenti.


“Astaga ayolah, aku hanya bercanda dengan ucapan ku yang terakhir”


“Tidak! Lebih baik seperti itu!”


.


.


Perang dingin sudah berlalu selama satu minggu ini. Baik Alice ataupun Theo, kedua nya saling diam setelag kejadian terakhir kali dimana pria itu mengatakan bahwa ia mengkhawatirkan mantan kekasih-nya.


Malam ini, keluarga besar itu kembali berkumpul. Bercanda ria dan membahas hal random lain nya. Para pria di sebrang sana tengah membahas hal berbau bisnis, sedangkan para wanita? Tentunya bergosip ria.


“Emm.. Mom, Ma” Sela Alice diantara kekehan kedua wanita setengah baya itu hingga kedua nya terfokus pada dirinya.


“Alice izin ke kamar sebentar” Lanjut Alice.


“Ngambil handphone”


Giselle dan Jinny pun mengangguk sampai akhirnya Alice bangun dan mulai beranjak meninggalkan perkumpulan keluarga besar itu.


Tentunya kepergian Alice mengundang fokus para pria yang teralihkan karena langkah nya.


“Alice mau kemana Mom?” Tanya Brandon pada sang istri.


“Ngambil handphone nya di kamar”


Brandon yang mengerti pun hanya mengangguk dan kembali melanjutkan percakapan nya, namun berbeda dengan Theo yang kini bangkit dari posisi nya.


“Mau kemana kamu?” Tanya sinis Jhon yang seakan tau gerakan sang putra.


“Buang air, mau ikut?” Tawar ketus Theo yang langsung mendapat cibiran dari Jhon.


“Ck. Sana pergi!” Usir Jhon.


Tanpa berkata-kata lagi Theo langsung melangkah meninggalkan perkumpulan itu, menyisakan para orang tua yang menatap ke arah jalan yang di tuju oleh Theo dan Alice.


“Sepertinya mereka sedang bertengkar” Ujar tiba-tiba Giselle. “Sudah seminggu ini mereka terlihat berbeda” Lanjutnya.


“Sudah selama itu?” Ucap tak percaya Jinny yang langsung mendapat anggukan dari Giselle.


“Biarkan saja selama salah satu dari mereka belum cerita pada kita. Mau bagaimana pun, itu rumah tangga mereka dan kita tinggal satu rumah bukan berarti harus mencampuri urusan mereka” Ujar Brandon yang langsung mendapat anggukan dari Giselle.


“Hmm, memang sulit menghadapi satu sama lain saat keadaan sedang seperti ini. Kita doakan yang terbaik saja untuk mereka” Timpal Jhon tak ingin mengundang rasa tak nyaman bagi Jinny dan besan nya.


.


“Brengsek, apa yang kamu minum!” Desis marah Theo berlari dan merampas sebotol obat dari tangan Alice.


“Kembalikan” Ujar Alice tanpa ekspresi nya.


“Obat apa ini hah!” Tanya membentak Theo begitu tidak mendapati merk obat di dalam botol itu.


“Hanya vitamin. Cepat kembalikan”


Pyarr!!.


Theo membuang kasar botol obat itu hingga butiran-butiran obat tersebut berhamburan ke lantai. Rahang nya mengetat dan napas nya memburu.


“Apa yang ingin kamu lakukan pada anak ku, Alice!” Tekan marah Theo mencengkram pelan dagu Alice.


“Itu hanya vitamin Theo. Vitamin!”


“Omong kosong! Mana ada botol vitamin tanpa merk seperti itu!” Hardik Theo. “Kamu boleh marah dengan ku, tapi tidak dengan mencelakai anak ku!” Lanjutnya semakin menuduh.


Plakk!


Tamparan cukup keras Alice hadiahkan pada pipi Theo atas ucapan yang baru saja pria itu tuturkan. Menghempaskan tangan Theo pada dagu nya lalu mendorong bahu sang suami.


“Aku tidak segila itu! Dari pada melukai nya karena marah padamu lebih baik aku berpisah dengan--mmphhh!!”


Theo menutup mulut sang istri dengan tangan besarnya. Menyumpal mulut Alice agar wanita itu tidak melanjutkan perkataan nya.


“Jangan pernah ucapkan kata seperti itu!”


“Emmmm!!!” Pekik Alice mencoba melepaskan tangan Theo.


Memukul-mukul dada Theo dan mencoba menarik tangan nya bahkan mencakar nya, namun Theo tak kunjung menjauhkan tangan nya.


Sampai akhirnya Alice pasrah dan diam menatap Theo dengan mata berkaca-kaca yang menyimpan amarah. Perlahan Theo menjauhkan tangan nya lalu mengusap kedua pipi Alice yang masih diam.


“Aku tanya sekali lagi. Obat apa itu?”


“Vitamin”


“Alice!” Bentak murka Theo membuat Alice memejamkan matanya begitu dalam.


...****************...