Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab37-•



Sedangkan di sisi lain, lebih tepat nya di sebuah Rumah Sakit kini Theo terbaring lemas dengan selang infus yang terus mengalirkan cairan ke tubuh nya.


Satu jam yang lalu setelah pesawat landing di bandar udara Berlin Tempelhof, tiba-tiba saja Theo merasakan pusing yang sulit untuk di deskripsikan rasa sakitnya. Di tambah pria itu terus memuntahkan isi perutnya.


Mabuk udara? Tentu saja bukan, karena Theo sudah sering berpergian ke negara mana pun karena urusan bisnis nya. Jadi tidak mungkin jika saat ini pria itu mabuk udara.


Drttt.. Drtt.. Drttt..


Dering handphone beserta getaran nya sedari tadi terus berbunyi, namun Theo hanya menatap nya tanpa menggeser ikon hijau di handphone nya.


“Ayo lah boss, angkat saja. Alice pasti sedang mengkhawatirkan anda” Bujuk Steven sedari tadi.


Theo menghela napas berat dan memejamkan matanya. “Jika aku mengangkat nya, yang ada Alice semakin khawatir saat mendengar suaraku” Sahut lirih Theo.


“Sebenarnya tadi pagi saat sarapan Anda memakan apa hingga jadi seperti ini?”


“Tidak ada yang salah dengan makanan ku, semua itu Alice yang buat. Dan sehari-hari nya pun tidak--hmpp!!”


Theo menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan nya saat kembali merasakan mual. Perutnya terasa diaduk-aduk di dalam sana dan kepalanya sangat berdenyut sakit.


“Astaga anda seperti ibu hamil” Gumam Steven seraya memberikan air hangat pada Theo.


Ting!.


Gerakan tangan Theo yang hendak mengambil alih geras tersebut seketika terhenti, digantikan dengan tatapan kosong pria itu ketika mengingat sesuatu.


“Boss, hei sadarlah!” Pekik panik Steven yang membuat tatapan kosong Theo terfokus padanya.


“Apa aku--hmpp..”


Tidak kuat lagi menahan mual, lantas Theo langsung turun dari ranjang rawat dan menarik botol infus nya ke arah kamar mandi. Setelah nya pria itu langsung muntah, tetapi entah apa yang Theo muntahkan karena isi perutnya sudah terkuras habis.


“Oh god! Jangan bilang anda hamil!!” Tuding heboh Steven.


Plakk!


Tamparan kesal pun langsung Theo berikan pada kepala Steven hingga kepala pria itu tertoleh ke samping.


“Mata mu hamil!” Geram Theo kembali membaringkan tubuhnya.


“Lalu?”


“Sepertinya aku terkena kutukan istriku sendiri huuft..” Ucap Theo di iringi helaan napas nya.


“Hah?” Alis Steven terangkat dengan mulut menganga tidak mengerti.


“Alice menyumpahi ku agar semua yang dia rasakan saat hamil akan berpindah padaku karena saat itu aku tidak menuruti keinginan nya, larat keinginan anak ku” Jelas Theo dengan suara yang semakin melemas.


“What the-!!” Umpat tertahan Steven begitu mendengar penjelasan Theo. Bersamaan dengan itu sang dokter bersama beberapa perawat pun masuk.


“Selamat pagi, Mr.Oliver” Sapa sang dokter yang di iringi tundukan hormat.


“Pagi dok” Sapa balik Steven saat melihat sang boss hanya terdiam dengan mata terpejam. “Bagaimana hasil pemeriksaan nya dok?” Lanjutnya bertanya.


“Kondisi seperti ini sangat sulit untuk dijelaskan Mr., pasalnya kondisi tubuh Mr.Oliver baik-baik saja dan tidak ada yang salah sedikit pun” Jelas sang dokter.


“Sepertinya Mr.Oliver harus di rawat beberapa hari lagi untuk mengetahui kondisi ke depan nya” Lanjutnya memberi saran.


“Tidak perlu” Sahut Theo seraya membuka kelopak matanya dan menatap dokter. “Setelah cairan infus ini habis saya akan keluar dari ruangan pengap ini” Lanjutnya.


“Tapi Mr--”


“Tidak apa dok, saya yang akan bertanggung jawab. Dan jika pun nanti terjadi sesuatu saya pasti akan membawa boss saya kembali ke sini” Potong Steven saat melihat raut tak enak dari wajah Theo.


“Baiklah, semoga lekas membaik. Mr.Oliver” Ujar sang dokter sebelum benar-benar meninggalkan ruang rawat Theo.


“Tunda urusan hari ini, aku akan ke lapangan besok pagi ” Titah Theo.


“Baik boss”


.


.


.


“Mom.. Kok Theo belum juga ngasih kabar ke aku? Dia juga gak angkat telpon aku..” Adu lemas Alice pasa sang Mommy dengan mata berkaca-kaca nya.


Sudah seharian ini Theo tidak menjawab panggilan Alice ataupun sekedar membalas pesan wanita itu. Theo bak hilang ditelan bumi membuat Alice berfikir macam-macam.


“Sabar sayang, mungkin sebentar lagi Theo akan menelpon kamu”


“Tapi..”


“Sudah lebih baik kamu makan dulu, dari tadi siang kamu belum makan lho. Nanti kalau tiba-tiba Theo pulang dan kamu malah sakit bisa-bisa Mommy dan Daddy yang di salahkan” Bujuk lembut Giselle.


Namun lagi-lagi Alice menggeleng, wanita hamil itu tidak mempunyai mood untuk melakukan apapun hari ini. Dan itu semua karena Theo yang sulit untuk di hubungi.


“Ada apa ini?” Tanya Brandon yang baru saja memasuki ruang makan.


Menaruh tas kerjanya di kursi kosong, lalu Brandon duduk di sebelah sang putri dan mengusap-usap surai nya.


“Ada apa sayang, Mom?” Tanya Brandon lagi.


“Theo tidak mengangkat telpon Alice ataupun membalas pesan nya. Bahkan tidak mengabari apapun sedari pagi” Jelas Giselle.


Ekspresi Brandon seketika berubah, entah marah ataupun khawatir tetapi yang jelas saat ini pria itu langsung mengeledah kantong pakaian nya hingga akhirnya menemukan benda pipih yang ia cari.


“Jangan sedih oke. Daddy yang akan mencoba menghubungi nya” Ucap Brandon dengan sebelah tangan yang sedang menggeser-geser layar handphone nya.


Hingga tak lama kemudian pria setengah baya itu mulai melakukan hal yang sedari pagi Alice lakukan. Namun beberapa detik kemudian.


“Hal--”


“Jangan bilang aku mengangkat telpon nya, Dad!” Potong Theo di sebrang sana.


Sedangkan Alice? Begitu mendengar sang Daddy berkata Hal, langsung saja wanita itu menegakkan tubuhnya dan menatap penuh harap.


“Di angkat Dad?” Tanya Alice dengan nada antusias nya.


Brandon menjauhkan handphone dari telinganya lantas tanpa sepengetahuan kedua wanita di sebelah nya, pria itu menekan ikon merah dimana panggilan tersebut langsung berakhir.


“Ah siial, Daddy ketipu. Daddy kira Theo mengangkat nya ternyata operator!” Desis pura-pura geram Brandon.


Mata Alice memicing meneliti wajah sang Daddy, namun mimik wajah pura-pura Brandon sangat meyakinkan hingga akhirnya Alice kembali menjatuhkan kepalanya di meja makan.


“Sebentar akan Daddy coba lagi, sepertinya sinyal di sini sedang kurang bagus” Bujuk pelan Brandon tanpa menimbulkan kecurigaan.


“Baiklah, jika diangkat cepat panggil aku Dad..” Gumam pasrah Alice.


“Siap princess!!”


...****************...