
“Apa saja yang kamu dapatkan, Stev?” Tanya Theo dengan tatapan seriusnya.
“Seperti dugaan anda, Bos. Mr.Brandon mendapatkan informasi itu dari Mr.Dom”
“Cih, pria sialan!” Decih geram Theo.
“Maafkan saya karena kurang berhati-hati, bos”
“Kembali lah dan awasi pria itu, jangan sampai lengah!”
Kepala Steven yang sedari tadi menunduk kerena takut pria di hadapan nya akan mengamuk, seketika langsung terangkat.
“Tidak salah, bos?” Ujar ragu Steven yang langsung mengundang tatapan tajam daei Theo.
“Maksud saya, emm.. Apa bos tidak ingin memberikan pelajaran kepada Mr.Dom?”
“Istriku sedang hamil, aku harus bisa mengontrol emosiku mulai sekarang!” Tegas Theo tanpa keraguan.
Steven mendekat dan menatap wajah Theo dari dekat hingga kepalanya mendapat pukulan dari pria berjambang tipis itu.
“Apa yang kamu lakukan, bodoh!”
“Ini Theo 'kan?”
“Kamu bosan hidup, Stev?”Nada dingin penuh penekanan itu berhasil membuat Steven kembali ke posisi awalnya.
“Seperti nya ada yang salah dengan mu akhir-akhir ini”
“Tidak ada yang salah dengan ku, aku baik-baik saja dan lebih baik lakukan tugas mu!”
Tetapi bukan nya menuruti perkataan Theo, Steven malah menarik kursi dan duduk di hadapan sang bos dengan tatapan aneh nya.
“Sepertinya aku terlalu sibuk hingga mengabaikan perubahan bos ku ini” Goda Steven tanpa rasa takut seperti tadi.
“Apa saja yang terjadi selama aku dinas keluar kota?” Lanjutnya.
“Memang nya siapa kamu? Apa aku perlu melapor kegiatan ku padamu?” Sahut sinis Theo.
“Ck, ayolah kawan. Berbagi cerita dengan ku”
Steven menaik turunkan alisnya menunggu jawaban dari Theo yang terlihat sedang berpikir. Tiba-tiba bibir pria itu tertarik membentuk senyum tipis.
“Kamu tau Stev?”
Steven menggeleng dan menatap Theo penuh antusias.
“Sebenarnya aku..” Theo menghentikan ucapan nya dan semakin melebarkan senyuman nya.
Entah kenapa senyuman kali ini beda seperti sebelumnya, membuat Steven merinding namun pria itu menepisnya.
“Sebenarnya aku ingin mencincang tubuh mu!”
Brakkk!
Steven langsung bangun dari kursi hingga kursi tersebut terjatuh di lantai. Secepat kilat pria itu kembali membenarkan nya dan lari keluar begitu saja.
Tawa Theo pecah saat itu juga. Steven, satu-satu nya teman Theo yang masih setia berada di sisi nya sejak sekolah menengah atas, pria yang bersikap seakan-akan tak takut pada Theo.
Sedangkan di depan lift sana Steven tengah mengembangkan senyumnya saat mendengar tawa lepas Theo.
“Bagus lah, sepertinya kamu sudah melupakan wanita sialan itu”
Ting!
Pintu lift terbuka, baru saja Steven ingin melangkah tetapi gerakan nya tertahan begitu melihat sang istri dari bos sekaligus teman nya.
“Oh, siang Mr.Stev--” Sapa Alice melambaikan tangan.
“Steven, Alice. Dan selamat siang juga nyonya bos” Sela Steven menunduk hormat.
Alice tersenyum kaku kala mendapat perlakuan dari pria yang biasanya terlihat dingin dan begitu tegas seperti Steven ini.
“Mau ke ruangan Theo, Lice?” Tanya Steven yang langsung mendapat anggukan dari wanita itu.
“Theo ingin di bawakan makan siang, jadi aku kesini untuk mengantarkan ini” Jawab Alice menunjukkan paper bag yang berisi makanan.
Steven mengangguk-angguk. “Mau aku antarkan?” Tawar Steven.
“Ti--”
“Tidak perlu, aku menjemputnya dan jangan genit pada istri orang!” Potong ketus Theo seraya merengkuh posesif pinggang Alice.
Wanita itu tersentak kaget dan memelototi Theo dengan wajah galak nya, tetapi Theo merespon dengan kecupan basah pada bibirnya.
Cup!
“Oh god! Mata ku ternodai!” Pekik Steven langsung memasuki lift.
“Theo..” Tekan geram Alice.
“Kenapa lama sih? Aku 'kan nyuruh kamu ke sini jam sembilan, terus kenapa malah datang jam sebelas hah!” Cerocos kesal Theo memojokkan Alice ke tembok.
“Astaga maaf, tadi setelah kamu pergi Mommy minta aku untuk pulang”
Tatapan kesal bercampur manja itu kian berubah menjadi tatapan bingung dengan ekspresi tidak santai nya.
“Ada apa? Ngapain ke sana? Kenapa gak izin dulu sama aku? Nanti kalau kenapa--”
Cup!
Kali ini kecupan sekilas Alice berikan pada rahang Theo guna menghentikan ocehan pria itu dan ternyata membuahkan hasil. Kini pria itu langsung bungkam.
“Mommy cuma minta temani untuk membuat cemilan kok, gak ada yang lain”
“Serius?”
Alice mengangguk yakin, karena memang hanya itu yang mereka lakukan di iringi obrolan ringan.
“Terus kenapa gak izin dulu sama aku?”
“Emm.. Tadi kan kamu baru saja berangkat jadi aku pikir..” Alice menghentikan ucapan nya dan mengalihkan tatapan nya.
“Kamu pikir apa hmm? Kamu tidak melupakan permintaan aku 'kan?”
Alice menggeleng dan memanyunkan bibirnya. “Iya,, Maaf..” Gumam Alice.
“Dasar nakal, pokok nya gak ada lain kali!” Tegas Theo mengangkat sang istri ke dalam gendongan nya.
...****************...