
Jam pulang kerja telah tiba, di luar sana para karyawan tengah sibuk membereskan barang-barang nya dan bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.
Tetapi, di dalam sebuah kamar yang berada ruangan CEO terlihat sepasang suami-istri saling berpelukan dibawah selimut, menutupi tubuh polos kedua nya.
Sekitar Sepuluh menit yang lalu, Theo baru saja menghentikan kegilaan nya terhadap tubuh Alice dan kini tangan pria itu terus mengusap-usap punggung polos milik istrinya.
“Mau makan di rumah atau di luar hmm?” Tanya lembut Theo mulai membuka suara.
“Di rumah saja..” Sahut Alice dengan suara serak dan mata terpejam nya.
“Ayo bangun, kita mandi dan tidurnya nanti di rumah” Ajak Theo tangan pria itu masih terus memberikan usapan lembut nya.
Tentu saja usapan itu membuat Alice merasa sangat nyaman bersamaan dengan rasa kantuk yang sudah menyerang nya sedari awal.
“Sayang..”
Cup.. Cup.. Cup..
Theo melayangkan kecupan nya pada kening dan kelopak mata terpejam milik istrinya. Mengusap lembut bibir terluka Alice lalu mengecupnya begitu lama hingga membuat kelopak mata Alice terbuka.
“Perih..” Gumam Alice setelah Theo mengh*sap bibir nya.
“Nanti di rumah aku obati oke?” Alice hanya mengangguk saja.
Jujur bibir nya terasa sangat kebas bahkan berdenyut sakit. Belum lagi area lehernya yang tak kalah berdenyut karena hiisapan rakus sang suami hingga menimbulkan beberapa jejak yang tidak mungkin hilang dalam satu minggu.
**
Membuka paksa kelopak matanya agar dapat melihat sekitar, lantas Alice menatap Theo yang sedang melepas seatbelt nya.
“Kenapa berhenti?”
Mendengar suara serak Alice mata Theo pun langsung terfokus pada sang istri di sebelah nya. Theo pun merapihkan rambut berantakan Alice lalu mengusap lembut pipinya.
“Aku mau beli itu, kamu tunggu di sini dan tidur saja”
Sontak kepala Alice langsung menoleh, menatap ke arah yang dituju oleh sang suami. Dapat Alice lihat dengan jelas di depan sana ada sebuah gerobak penjual buah atau biasa di sebut penjual rujak.
“Kamu gak salah?” Tanya tak percaya Alice. Rasa kantuknya hilang begitu saja.
Theo menggeleng. “Aku ingin makan buah-buahan itu” Ujarnya.
“Tapi kita bisa beli di supermarket, Theo. Kamu bilang makanan di pinggir jalan tidak higenis”
“Di supermarket tidak ada sambal nya, dan aku harus meralat perkataan ku karena makanan yang di jual di pinggir jalan sangat enak”
Mendengar ucapan itu Alice berhasil di buat menganga hebat. Pasalnya saat ingin makan di restoran yang jelas-jelas memiliki kualifikasi terbaik saja Theo masih menganggapnya tidak higenis.
Dan apa tadi? Sambal? Apa Alice tidak salah dengar?.
“Tunggu sini bentar” Ujar Theo sebelum akhirnya keluar dan menghampiri pedangan buah di dalam gerobak tersebut.
“Sungguh momen langka” Gumam Alice seraya mengeluarkan handphone nya dan merekam serta memotret Theo.
.
.
“Sudah cukup, makan nasi dulu baru di lanjut!” Kesal Alice merebut paksa rujak yang di borong oleh Theo dan tentunya tengah di nikmati oleh pria itu.
“Nanti sayang, aku masih ingin memakan nya” Theo berusaha merebut tempat buah-buahan beserta sambal nya, namun Alice semakin menjauhkan nya.
“Makan!” Tegas galak Alice.
“Gak mau, aku mau makan itu!” Tegas Theo tak kalah galak.
Melihat anak dan menantu nya yang sedari tadi terus berdebat membuat Giselle dan Brandon hanya menggelengkan kepala.
“Sudah lah Theo, ikuti perkataan Alice. Kamu sudah banyak memakan buah dan sambal pedas itu” Lerai Giselle.
“Aku akan makan, tapi nanti”
“Sekarang!”
“Gak mau! Aku mau habiskan buah-buahan itu terlebih dahulu!” Bantah Theo penuh penolakan.
“Theo--”
Ting.. Tongg.. Tingg. Tong..
Perdebatan mereka terhenti begitu terdengar suara bell rumah yang di tekan beberapa kali oleh seseorang di luar sana.
“Jhon dan Jinny pasti sudah datang, dan sekarang hentikan perdebatan kalian”
Mata Theo dan Alice langsung melotot, tentunya sepasang suami-istri itu kaget.
“Papa sama Mama ke sini?” Tanya Theo yang langsung mendapat anggukan dari Brandon.
“Selamat malam..” Sapa sepasang suami-istri setengah baya yang baru saja memasuki ruang makan.
Tentunya kehadiran mereka langsung di sambut oleh Brandon dan Giselle lalu dilanjutkan dengan Thep dan Alice.
“Papa sama Mama kok gak ngabarin aku dulu sih?” Tanya kesal Theo namun lebih tepatnya pria itu terkejut.
“Tadinya Papa ingin mengabari mu, tapi Mama melarangnya dan bilang ingin memberikan kejutan untuk mu”
“Hah?” Theo melongo bingung menatap kedua orang tua nya. Terlebih lagi Giselle.
“Tolong di bawa masuk”Ujar Giselle.
Tak lama kemudian dua orang berpakaian hitam yang Theo kenali itu adalah penjaga di rumah kedua orang tua nya masuk membawa sebuah peti besar.
“Apa itu?” Tanya Theo bingung.
“Buka saja sendiri” Sahut Jinny dengan senyum misteriusnya.
Perlahan dengan penuh keraguan Theo berjalan mendekat, dan membuka peti rapat itu yang di atasnya di tutupi oleh kertas tebal.
Theo menganga begitu lebar ketika melihat seluruh peti besar itu di isi oleh mangga yang tercium aroma asam nya, dan aroma itu lah yang sangat Theo sukai.
“Gimana? Suka?” Tanya Jinny yang langsung mengundang gelak tawa dari para keluarga kecuali Alice.
Wanita itu langsung menarik Theo menjauh dari mangga yang ia yakini adalah mangga muda.
“Mama tau kamu sangat menyukai mangga muda semenjak Alice hamil, dan Mama tau kalau kamu terkena Couvade Syndrome”
Theo langsung memeluk Jinny, wanita itu memang sangat mengerti apa yang Theo mau. Tetapi suasana haru berubah begitu Alice bersuara.
“Maaf Ma, tapi.. Apa mangga nya bisa di bawa pulang lagi?” Ujar ragu Alice.
“Lho kenapa?”
Raut wajah Theo berubah, pria itu tak setuju dengan ucapan Alice karena dia jadi seperti ini karena sumpah wanita yang ia cintai itu.
Alice melirik buah-buahan beserta sambal di meja makan itu yang langsung di ikuti oleh mata penghuni ruang makan itu.
“Gara-gara buahan itu aja Theo gak mau makan dan terus memakan rujak itu. Bagaimana jika satu peti mangga muda ini ada di samping Theo? ” Ujar cemas Alice.
“Aku bilang aku akan makan, tapi setelah buahan itu habis sayang..”
“Tuh kan Mama sama Papa dengar sendiri” Wajah Alice memelas menatap kedua mertua nya. “Bagaimana jika nanti theo berbicara. Aku akan makan, tapi setelah mangga di peti habis” Lanjutnya meniru suara Theo.
Sontak tawa para keluarga kembali memenuhi ruang makan itu, namun lain hal nya dengan Theo yang memasang wajah kesal.
“Pokok nya apapun yang sudah di berikan itu tidak bisa di ambil kembali!”
...****************...