Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab41-•



📍Milan, Italia. Alle 02.45


.


Kini di dalam kamar Alice, wanita itu tengah tertidur begitu pulas dengan bantal guling yang berada pelukan nya. Cuaca di luar sana mulai diliputi angin kencang dan mungkin sebentar lagi akan terjadi perubahan cuaca buruk.


Namun, tiba-tiba pintu kamar wanita itu terbuka menampakkan sosok pria bertubuh tinggi dan tetap dengan balutan pakaian serba hitamnya yang mulai berjalan mendekat.


Duduk perlahan di tepi kasur lalu pria tersebut berbaring di samping Alice mengantikan bantal guling di pelukan wanita itu.


“Heumm.. Harum” Gumam Theo mulai menduselkan wajahnya pada dada menonjol sang istri.


Yap! Pria yang baru saja masuk adalah Theo, seharusnya Theo tidak pulang malam ini melainkan besok sore. Tetapi pria itu sudah tidak kuat menahan rindunya pada sang istri dan berakhir menyerahkan tugasnya pada Steven.


“Aku sangat merindukan mu, sayang..” Gumam Theo.


Perlahan tangan Theo mengusap punggung Alice hingga akhirnya tangan itu berpindah membuka satu persatu kancing piyama yang Alice pakai.


Sedangkan Alice? Wanita itu sempat terusik dan bergerak, tetapi posisi nya kini malah semakin mempermudah Theo untuk membuka kancing piyamanya.


“Ughh.. Tidak memakai braa ya?” Lenguh kagum Theo. “Pantas saja begitu kenyal” Lanjutnya mulai mengecupi dada menonjol itu.


Mulai dari kecupan biasa hingga menjadi kecupan basah di iringi hiisapan nya. Membuat beberapa tanda merah yang berhasil membuat Alice melenguhh dalam tidurnya.


Alice yang masih asik menutup matanya membuat Theo tersenyum penuh kemenangan, pria itu mulai memainkan ujung gunung yang begitu menantang tersebut dengan sebelah mulut yang mulai mengh*sapnya.


“Awww!!” Pekik Alice begitu tersadar saat merasakan sakit pada put*ng nya.


Menunduk lalu menarik rambut Theo. Lantas Alice pun berteriak. “Yakk! Siapa kamu!” Teriak nya kaget dan kesakitan.


Theo mengangkat wajahnya namun tidak melepaskan h*sapan pada put*ng mencuat tersebut membuat mata Alice membola sempurna.


“Theo!”


Theo mengangguk pelan dan kembali menenggelamkan wajahnya, menikmati wangi khas yang berada di gunung sang istri. Sungguh memabukkan.


“Aww.. Theo lepas, sakit” Ringis pelan Alice.


Bukan nye melepaskan tetapi Theo malah semakin mengh*sapnya begitu kuat dan kencang bak seorang bayi yang tengah kehausan.


“Theo, stthh...”


Plup!


“Sangat indah.. ” Gumam Theo.


“Kapan kamu pulang? Seharusnya besok 'kan?” Tanya Alice seraya menarik selimut untuk menutupi gunung nya.


Theo tidak menjawab melainkan menatap pergerakan resah Alice, sampai akhirnya mata pria itu bergerak menatap mata Alice.


“Aku merindukan mu sayang..” Ucap lembut Theo.


“Tapi, apa semua sudah beres?”


Theo menggeleng lalu menindih sepenuh nya tubuh sang istri yang berada di bawah kungkungan nya.


“Tinggal beberapa langkah lagi, dan aku menyerahkan semuanya pada Steven”


“Ih kamu kok gitu, seharusnya selesaikan semuanya. Bagaimana jika Steven tidak bisa menangani nya?”


Ekspresi Theo seketika berubah datar mendengar nada bicara Alice yang terdengar seperti tidak menginginkan nya pulang dengan cepat.


“Kamu sedang mengkhawatirkan Steven atau tidak ingin aku pulang dengan cepat?” Tanya dingin Theo yang langsung mendapat gelengan dari Alice.


“Bukan seperti itu Theo, tapi--”


“Aku tidak mau mendengar penjelasan mu. Intinya aku merindukan mu dan tidak bisa menahan rasa rindu ini!” Potong Theo seraya berguling ke samping dan mendekap erat tubuh Alice.


“Theo--”


“Kamu tau?” Alice menggeleng pelan dan mengurungkan niatnya untuk berbicara.


“Beberapa hari ini Steven sering memarahi ku”


“Lho kenapa? Kenapa kamu di marahi?”


Theo mengurai dekapan nya dan menunduk menatap wajah Alice yang saat ini tengah menatapnya penuh tanda tanya.


“Karena mangga muda, air kelapa dan..” Theo menghentikan ucapan nya dan menarik napas begitu dalam.


“Dan?..” Ulang Alice penasaran


“Dan melihat dia menggunakan baju daster”


...****************...