
Alice terus menggelengkan kepalanya dan mencoba menahan pergerakan tangan Theo pada tubuh nya. Tetapi nihil, hal itu tidak berpengaruh untuk Theo.
Air mata Alice sudah mengalir tak terbendung lagi, ingin berbicara pun tidak bisa karena lagi-lagi Theo menyerang bibirnya begitu ganas dan rakus.
“Emmhh!!” Erang kesakitan Alice saat Theo mengigit lidah nya.
Setelah puas, Theo pun mengangkat kepalanya dan mengusap-usap bibir bengkak Alice lalu beralih menyeka air matanya.
“Aku semakin gila karena mu..”
“Tidak, aku mohon jangan.. Aku belum siap hikss..” Lirih bergetar Alice.
“Kamu bilang kamu akan setia padaku, tetapi jika kamu menolak seperti ini tanda nya kamu akan mengkhianati aku..” Sahut sendu Theo.
Alice menggelengkan kepalanya terus mencoba menjauhkan tubuh Theo walaupun hasil nya nihil.
“Aku berjanji akan menjauhi Aldo, aku--”
Jlebb!
“Erghhh!!” Kepala Alice terangkat bersamaan dengan kuku-kuku nya yang menancap di lengan Theo.
“Jangan menyebut nama pria lain, sayang..”
“Sa-sakit hikss.. Sakit..” Rintih Alice tak kuat lagi menahan sakitnya.
“Sutt..” Theo menyeka keringat di wajah Alice lalu merapihkan rambut sang istri.
“Awalnya aku tidak akan melakukan ini sebelum kamu siap, tetapi kamu terlalu nakal untuk di biarkan begitu saja..”
“Maaf hikss, maafkan aku.. Aku mohon lepaskan hikss..”
“Tidak bisa sayang, kita sudah setengah jalan. Walau pun aku keluarkan sekarang, kamu akan tetap merasakan sakitnya”
“Tidak apa-apa hikss, asalkan lepaskan milikmu hikss..”
Thel terkekeh sinis dan semakin menekan miliknya di bawah sana yang sudah masuk hampir setengah nya.
“Segitu tidak mau nya kamu melakukan hal ini hah!” Bentak murka Theo. “Ini kewajiban mu sebagai seorang istri dan seharusnya aku sudah merasakan nya sejak awal kita menikah!”
JLEBB!! Bleshhh~
“ARRGHHH!!”
Berhasil, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan kemenangan Theo saat ini karena dirinya baru saja berhasil merenggut mahkota istri nya.
Begitu menjepit dan sempit, namun Theo mengesampingkan rasa itu saat merasakan sesuatu mengalir melewati milik nya.
“Darah..” Gumam Theo menj*lat bibirnya kala melihat darah keper*wanan sang istri mengalir melewati milik nya.
Secepat kilat Theo menarik miliknya dan tentunya hal itu membuat Alice kembali memekik kesakitan, tetapi Theo tidak menghiraukan nya.
Kini kedua tangan pria itu menahan kaki Alice agar tetap terbuka dan kepalanya mendekat ke lembah berharga milik Alice. Tak lama setelahnya lidah panas itu menyapu darah yang keluar dari milik sang istri.
“Sa-sakit hikss..” Rintih Alice kali ini berhasil menyadarkan Theo dari aksi gila nya.
“Astaga sayang, kenapa darah mu sangat berbeda? Kenapa rasanya sangat-sangat lezat dan kenapa--”
Plakk!
Sebuah tamparan cukup beras berhasil mendarat di pipi Theo hingga membuat kepala pria itu tertoleh.
“Gila! Kamu benar-benar gila!” Maki Alice mendorong tubuh Theo.
Namun yang terjadi Theo malah menahan kedua tangan nya di atas kepada dan menuntun sang adik ke depan pintu rumah nya, lalu mendorong nya dalam sekali hentakan.
“Erghhhh!!” Erang tertahan Alice yang mengigit bibirnya begitu kuat.
“Ah, sungguh menakjubkan..” Desahh lega Theo tepat di samping telinga Alice.
“Tamparan mu kali ini tidak akan aku perhitungkan karena keniikmatan ini” Lanjutnya.
.
.
Selama tiga jam lamanya, Theo bak seekor singa kelaparan yang memburu mangsanya tanpa belas kasihan.
Pria itu hanya memikirkan keniikmatan nya tanpa memikirkan tubuh Alice yang saat ini sudah tidak sadarkan diri akibat permainan kasarnya.
Tetapi walaupun begitu Theo belum juga menghentikan kegiatan nya, malah pria itu semakin menggila karena sebentar lagi ia akan kembali menembakkan penerusnya pada rahim sang istri.
“Ah, sayang.. Sadar lah dan rasakan calon anak-anak kita emmhh..” Desahh lirih Theo mengecupi rahang Alice.
Namun tentunya Theo tidak mendapatkan respon apapun dari sang pemilik tubuh, hingga akhirnya pria itu berhasil menembakkan calon penerus nya dan ambruk menindih tubuh Alice.
Selama beberapa saat Theo memejamkan matanya dengan napas memburu dan tak berniat untuk bangkit dari atas tubuh Alice.
Sampai akhirnya perlahan pria itu menarik adik nya dan berguling kesamping lalu memeluk erat tubuh Alice.
Cup.. Cup.. Cup..
Kecupan penuh kehangatan Theo berikan pada kening berkeringat Alice sebelum akhirnya pria itu mel*mat sekilas bibir bengkak istrinya.
“Aku benar-benar semakin gila karena mu, Nyonya muda Oliver..”
Kamar pribadi yang ada di dalam ruangan Theo menjadi saksi bisu atas kejadian hari ini. Kejadian menyakitkan untuk Alice.
Tanpa rasa manusiawi Theo hanya memuaskan dahaga nya dan terbawa emosi begitu saja hanya karena sebuah paper bag yang belum sempat Alice sentuh.
“Dengan begini kamu tidak akan mengkhianati aku seperti nya..” Gumam Theo sebelum akhirnya pria itu tertidur.
...****************...
*Terimakasih dukungan nya kakak-kakak sekalian🤗