Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab56-•



Alunan musik klasik yang di padukan dengan suara piano dan juga biola menjadi pengisi luasnya aula pernikahan Steven dan Carlotta.


Di atas pelaminan sana kedua terus tersenyum menyambut hari bahagia dan juga ucapan para tamu undangan yang datang. Tak terkecuali keluarga kecil Theo dan juga Alice.


“Carlo..” Alice terharu, memeluk sang sahabat yang malam ini terlihat begitu cantik. “Aku benar-benar bahagia” Lanjutnya seraya mengurai pelukan nya.


“Aku sangat bahagia, sekarang aku tidak perlu iri dengan keharmonisan mu. Karena aku sudah memiliki suami yang begitu tampan” Sahut Carlotta yang langsung disambut rangkulan dari Steven.


“Jika begitu, jangan genit dan nakal!” Timpal gemas Steven.


“Memang nya selama bersama mu kapan aku punya waktu untuk mencari pria lain dan jalan bersama nya?”


Steven tidak menjawab, pria itu hanya terkekeh karena memang ia pun mengakui sikap posesif dan mengekang nya ini.


“Ini” Ujar tiba-tiba Theo seraya menyodorkan map besar berwarna coklat.


Steven yang melihatnya langsung mendelik tidak suka. “Astaga boss, saya sedang merayakan hari bahagia pernikahan saya. Masa di suruh kerja”


Plak!


Pukulan kesal Theo layangkan pada lengan Steven yang kini tengah meringis kecil.


“Memang nya siapa yang bilang ini berkas untuk di kerjakan?” Kesal Theo.


“Lalu?”


“Buka saja sendiri, kau punya tangan”


Alis Steven bertaut hingga akhirnya pria itu mengambil map coklat tersebut dan mulai membuka nya. Seketika matanya langsung di buat membola kala melihat selembar kertas bertuliskan Sertifikat.


“Apa ini boss?”


“Anggap saja hadiah pernikahan dan bonus mu sebagai asisten terbaik”


Steven berbinar, rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Di tambah sertifikat itu adalah sertifikat perumahan di kawasan elit yang tentu harga nya sangat fantastis.


“Saya tidak bisa menerima nya” Ujar Steven kembali memberikan map tersebut ke tangan Theo. “Ini tidak sangat setara dengan kinerja saya selama ini” Lanjutnya.


“Kurang?”


Steven menggeleng cepat. “Bukan kurang, tetapi ini terlalu besar dan harga nya juga tidak murah”


“Ck, berani sekali kau menolak pemberian ku!” Kesal Theo menarik tangan Steven dan menyerahkan kembali map tersebut. “Aku tidak terima penolakan dan kau harus menerimanya!”


“Tapi..” Steven menghentikan ucapan nya begitu melihat wajah tidak santai sang boss. Hingga akhirnya pria itu menghela napas panjang dan mengangguk. “Terimakasih boss”


“Di sini aku bukan boss mu, melainkan saudaramu, Stev”


Steven tersenyum penuh haru hingga akhirnya pria itu memeluk Theo ala laki-laki dan menyalurkan kebahagiaan nya yang sangat sempurna ini.


Suasana menjadi sangat haru, Carlotta yang berada di samping kedua nya pun ikut meneteskan air mata namun berbeda dengan Alice yang saat ini tengah mengusap-usap perutnya.


Menoleh ke arah Alice yang terdengar tengah meringis, lantas Carlotta memekik kaget saat melihat cairan putih menetes dari sela paha Alice.


“Astaga pecah!!” Pekik Carlotta membuat pelukan kedua laki-laki itu terlepas.


“Stthh mulas..” Gumam Alice menompang tubuhnya pada kursi pelaminan.


“Ke-ketuban nya pecah, Mr.” Panik Carlotta.


Dengan sigap Theo langsung mengangkat tubuh Alice, namun gendongan itu langsung disambut oleh jambakan dari Alice pada rambut nya.


“Arghh, mulas, sakit!!” Erang Alice.


“Astaga cepat-cepat, ayo kita bawa ke rumah sakit!!” Panik Giselle dan Jinny.


Suasana seketika menjadi ricuh akibat ketuban Alice yang pecah. Mata para tamu langsung tertuju pada keluarga terpandang itu.


Sedangkan Theo? Pria itu tak lagi memperhatikan sekitar dan langsung berjalan dengan cepat menuruni pelaminan di iringi dengan para keluarga di belakang.


“Alice..” Gumam lirih Carlotta hendak mengejar, namun langkah nya tertahan kala Steven memeluk dirinya.


“Ta-tapi Alice hikss..”


“Alice tidak akan kenapa-kenapa dan kita doakan terlebih dahulu, oke?”


Walaupun rasanya sangat khawatir akhirnya Carlotta mengangguk pelan dengan air mata yang terus menetes.


.


.


“Arghhh, gak kuat hikss..” Erang Alice berusaha mendorong sang bayi untuk keluar.


“Tarik napas lalu hembuskan, lalukan itu berulang kali nyonya” Ujar sang dokter yang membantu persalinan Alice.


“It's okay sayang, ada aku di sini. Kamu pasti bisa” Ucap Theo penuh semangat.


Alice mengangguk pelan dan menggenggam tangan Theo begitu erat. Mengatur napas nya yang tidak beraturan.


Memang ini yang harus di tanggung karena Alice lebih memilih untuk melahirkan secara normal, bukan operasi caesar. Awalnya Theo tidak setuju karena tak ingin istrinya kesakitan.


Tetapi Alice tetap teguh pada pendirian nya karena wanita itu yakin bahwa ia bisa melewati nya.


“Baik kita ulang sekali lagi. Tarik napas lalu hembuskan bersamaan dengan dorongan”


“Sebentar dok” Dokter mengangguk membiarkan Alice yang meminta waktu.


“Sini” Ujar Alice menatap Theo.


Theo yang tak mengerti pun hanya mengangkat sebelah alisnya bingung, hingga akhirnya pria itu membungkuk karena mungkin sang istri ingin membisikkan sesuatu.


Namun begitu membungkuk lehernya langsung dipeluk oleh Alice begitu erat. “Ayo dok!!” Ujar penuh semangat Alice.


Sedetik kemudian Alice langsung menarik dalam napasnya dan mengenjan di iringi dengan teriakan nya. Tak lain hal nya dengan Theo yang ikut berteriak karena merasa seperti di cekik.


“Sedikit lagi, ayo semangat nyonya!!” Ujar sang dokter penuh semangat.


“Ayo sayang, sedikit lagi ukhuk.. Ukhukk.. ” Timpal Theo terbatuk-batuk.


“Arrrghhh.. Erghhhh!!!”


Dengan penuh dorongan akhirnya kini ruangan itu di isi oleh suara tangis bayi yang baru saja keluar. Tangis itu terdengar begitu cempreng namun berhasil mengundang kekehan dari Alice dan suara heboh dari Theo.


“Sayang, anak kita. Anak kita sudah keluar!!”


Alice mengangguk pelan dan melepaskan pelukan nya pada leher Theo.


“Selamat tuan, nyonya. Anak kalian berjenis kelamin laki-laki” Ujar sang dokter memecah rasa haru kedua nya.


“Saya mau gendong dok” Pinta Theo.


“Maaf tuan, tapi kami harus membersihkan dan merawatnya terlebih dahulu”


Setelah mengucapkan hal tersebut dan selesai membereskan sisa persalinan Alice, sang dokter pun berpamitan membawa sang baby ke ruang khusus.


Alice menggenggam tangan Theo hingga mengundang tatapan sedih dari pria itu. “Selagi anak kita di bersihkan, lebih baik sekarang kamu cari nama yang bagus untuk anak tampan kita” Ucap pelan Alice.


“Aku sudah menyiapkan namanya sejak awal kamu hamil, tapi aku ingin menggendongnya terlebih dahulu”


“Yasudah tunggu saja, tidak lama”


Theo hanya mengangguk pasrah, sekelebat saat melihat wajah sang anak rasanya air mata Theo ingin menetes saat itu juga.


“Aku lelah”


“Istirahat lah, aku akan menjaga mu di sini”


Alice tersenyum tipis dan mulai memejamkan matanya. Rasa lelah dan sakit begitu mendominasi tubuhnya saat ini. Ternyata seperti ini rasanya melahirkan dan berjuang dalam hidup dan mati, batin wanita itu sebelum benar-benar tertidur.


...****************...