
Matahari yang sebelumnya berada sangat dekat dengan kepala kini telah bergeser dan menyinari sebagian bumi. Namun, di dalam kamar sebuah ruangan CEO.
Terdengar des*han sepasang suami-istri yang belum juga menyelesaikan permainan nya. Lebih tepatnya sang suami lah yang tidak ingin permainan mereka berhenti.
“Su-sudah ahh..” Suara lirih di iringi des*han itu tidak berpengaruh sedikit pun untuk Theo yang masih gencar bermain pada tubuh Alice.
“Theo emhh..”
Mengangkat kepalanya, lalu Theo menghujami rumah sang adik dengan begitu cepat dan kuat dengan mata yang tertuju pada ekspresi memabukkan Alice.
“Ahhk.. Per-lahan Theo emmh!!” Pekik terbata-bata Alice.
Cakaran pada punggung Theo semakin dalam seiring hentakkan yang pria itu berikan. Raungan Alice yang terus meminta untuk di terlambat, tetapi malah membuat Theo semakin menggila.
“Ekspresi ini.. Ekspresi ini hanya aku yang boleh menikmati nya ah!!”
Dalam sekali tarikan sang adik keluar dari rumah nya dan detik itu juga lahar panas milik sang adik menyembur mengenai perut hingga dada Alice.
Selama beberapa saat tubuh kedua nya menegang, hingga akhirnya Theo ambruk menindih tubuh Alice dan kembali menyesapii leher yang sudah di penuhi tanda itu.
“Sudah..” Lirih Alice menjambak rambut Theo.
“Aku masih menginginkan nya, sayang” Ucap berat Theo berniat kembali memasukkan sang adik ke dalam sangkarnya.
“Aku sudah sangat lelah, Theo..”
Mendengar hal itu Theo menghentikan gerakan nya bersamaan dengan helaan pasrah dan berguling ke samping Alice lalu memeluk tubuh sang istri.
“Aku ingin mandi”Ujar lemas Alice hendak melepaskan pelukan Theo.
“Nanti saja, biarkan seperti ini dulu” Cegah Theo semakin mempererat pelukan nya hingga tubuh topless keduanya tidak berjarak sedikit pun.
“Aku tidak betah, ini sangat lengket”
Theo menjauhkan kepalanya dan menatap wajah Alice ketika mengucapkan hal itu. Seketika kekehan langsung keluar dari sela bibir Theo begitu melihat mata terpejam Alice.
“Kenapa?” Tanya Alice membuka sedikit matanya.
“Kamu lucu dan aku semakin menggilai mu”
Cup!
Satu kecupan hangat Theo berikan pada kening sang istri setelah mengutarakan isi hatinya.
“Menggilai? Itu artinya kamu tidak mencintai ku” Sahut Alice memanyunkan bibirnya.
Cup!
Kali ini kecupan tersebut Theo layangkan pada bibir terluka Alice. Entah kenapa jika mengingat rasa darah Alice, Theo sangat ingin mencicipi nya setiap hari.
“Tentu aku mencintai mu, sayang”
“Heuh terserah, sekarang lepaskan aku ingin mandi!”
Theo menggeleng dan kembali membenamkan kepala Alice di dada nya. “Istirahat sebentar, setelah itu kita mandi dan pulang”
“Aku ingin makan malam di luar”
“No! Makanan di luar tidak sehigenis di rumah kita!”
“Pokok nya aku tetap ingin makan malam di luar!” Paksa Alice dengan nada marah nya.
“Say--”
“Ini kemauan baby nya!” Potong ketus Alice.
Jika Alice sudah mengeluarkan kata-kata kramat ini, sudah lah Theo hanya bisa terdiam dan pada akhirnya mau ataupun tidak mau pria itu harus menuruti nya.
.
.
“Ayo di makan makanan nya, tunggu apalagi?”
Alice hanya menatap datar berbagai jenis makanan enak di depan nya lalu beralih menatap kesal Theo.
“Aku memang ingin makan malam di luar, tapi bukan berarti makanan ini dimasak di rumah!”
“Yang penting makan malam di luar 'kan?” Sahut Theo. “Kamu tidak meminta makanan nya berasal dari mana”Lanjutnya membuat tanduk di kepala Alice semakin meninggi.
Kesal? Tentu saja Alice sangat kesal, pasalnya semua jenis makanan di hadapan nya ini adalah makanan yang telah di masak oleh pelayan di rumah nya. Dan bisa-bisa nya Theo memboking satu restoran hanya untuk Numpang Makan!
“Aku tidak ingin makan, aku mau pulang!”
Alice langsung bangun dari posisi nya dan berniat melangkahkan kakinya, tetapi langkah nya tertahan begitu lengan nya di genggam oleh Theo.
“Makan, sayang..” Lembut Theo penuh penekanan.
Menghempaskan tangan Theo, lalu Alice menatap Theo penuh kemarahan. “Aku tidak selera!” Setelahnya Alice langsung melangkah.
“Jangan macam-macam Alice!” Bentak Theo seraya menggebrak meja. “Cepat kembali dan makan makanan ini!”
Langkah kaki Alice terhenti, dirinya tersentak kaget begitu mendengar bentakan Theo yang sudah sekian lama tidak ia dengar.
Melihat keterdiaman Alice, Theo baru lah tersadar akan bentakan nya tadi. Dengan sedikit frustasi pria itu mengusap kasar wajah nya lalu melangkah memeluk tubuh Alice dari belakang.
“Maaf aku tidak sengaja membentak mu..” Lirih lembut Theo.
Alice hanya terdiam tidak merespon apapun hingga akhirnya Theo membalik tubuh nya dan matanya di buat melebar kala melihat air mata Alice sudah mengalir.
“Hei sayang, astaga maafkan aku. Aku tidak sengaja” Panik Theo kembali memeluk erat tubuh Alice.
“Aku hanya takut anak kita kenapa-napa jika kamu memakan makanan tidak higenis”
“Buka mata mu, ini restoran dengan kualitas kebersihan terbaik!” Sahut terisak Alice.
“Tetap saja, aku tidak tenang jika--” Ucapan Theo terhenti kala tiba-tiba Alice mendorong dadanya hingga pelukan kedua nya terlepas.
“Bilang saja dari awal kalau kamu tidak setuju. Lebih baik kita pulang daripada seperti ini hikss..”
“Sayang..” Theo mendekat dan hendak kembali memeluk Alice, namun wanita itu menjauh.
“Aku hanya ingin makan makanan di luar yang biasa aku makan jika sedang di luar. Tetapi begitu menikah dengan mu, jangankan makanan di luar restoran bahkan di dalam restoran pun kamu larang!”
“Bukan seperti itu sayang, tapi--”
“Jangan bicara apapun dan aku ingin pulang sekarang! ”
...****************...