
Seminggu telah berlalu, semenjak kejadian saat itu sikap Alice berubah menjadi lebih pendiam bahwa hanya berbicara seperlunya.
Tentu saja hal tersebut membuat Theo kebakaran jengot nya, seperti saat ini..
“Punya mulut 'kan?” Alice mengangguk sebagai jawaban “Kalau aku tanya ya dijawab!” Lanjut Theo setengah membentak.
“Sudah, aku sudah makan” Ucap singkat Alice tanpa menatap wajah Theo.
Mendengus kesal lantas Theo menarik pelan tangan Alice agar bangun dari posisi berbaring nya.
“Temani aku makan, aku belum makan dari siang” Pinta Theo.
Sejenak Alice menatap wajah Theo kemudian kembali mengalihkan pandangan nya.
“Kenapa tidak makan siang lagi?”
Senyum tipis terbit di bibir Theo begitu mendengar pertanyaan lirih Alice. Memang sudah ke beberapa kalinya Theo melupakan makan siang selama satu minggu ini.
“Aku ingin memakan masakan istriku, tetapi istriku masih mendiami ku” Jawab Theo setelah berdehem menetralkan suasana hatinya.
Alice kembali terdiam, tanpa berkata-kata lagi wanita itu langsung melangkah dan tentunya Theo membuntuti nya di belakang.
“Ganti baju dulu, aku akan panaskan makanan nya” Ujar Alice.
“Mau makan dulu, aku sudah sangat lapar”
Theo merengkuh pinggang Alice begitu kaki wanita itu hendak menuruni anak tangga. Namun respon Alice hanya diam dan tetap melanjutkan langkah nya.
.
“Masih marah?” Tanya Theo yang saat ini tengah memeluk Alice dari belakang, menghentikan gerakan wanita itu yang hendak memindahkan makanan.
“Maafkan aku..” Bisik lirih Theo. “Aku tidak bisa berhenti begitu merasakan--”
“Aku tidak marah” Potong Alice saat tau kemana arah perkataan Theo.
“Kamu marah, buktinya kamu terus mendiami ku”
“Aku hanya sedikit trauma”
Theo melepaskan pelukan nya lantas membalik tubuh Alice dan memegang bahu nya dengan tatapan begitu dalam.
“Tidak, kamu tidak boleh trauma” Tegas Theo menggeleng pelan. “Aku janji itu pertama dan terakhir kalinya”
Alice terdiam dan hendak mengalihkan pandangan nya, tetapi lagi-lagi Theo menahan nya dengan memegang kedua pipinya.
“Aku berjanji saat kita melakukan nya lagi, aku akan berhenti jika kamu lelah”
Mata Alice membola, bibirnya terasa keluh begitu mendengar ucapan Theo yang artinya akan meminta jatah nya lagi.
“Aku tidak pernah menyesal karena mengambil mahkota mu secara paksa, tetapi aku menyesal karena asik bermain hingga kamu pingsan”
Theo mengusap lembut pipi chubby milik sang istri, tatapan berbinar Alice sangat menghangatkan hati nya.
“Tapi aku gak bohong, itu benar-benar nikmat dan--”
“Berhenti atau aku akan sangat marah!” Potong Alice menghempaskan tangan Theo.
Secepat kilat Alice berbalik mengambil piring makanan itu, lalu menyusun nya di meja. Tentunya saat ini pipi wanita itu tengah bersemu merah.
Greb!
Sepasang tangan kekar kembali melingkar di perutnya di iringi dengan hidung sang pemilik tangan yang mendusel pelan di lehernya.
“Kenapa? Kamu malu?” Gumam berat Theo.
“Ce-cepat makan, aku ingin tidur” Gugup Alice berusaha melepaskan tangan Theo.
Tetapi Theo malah duduk dan menarik Alice untuk duduk dipangkuan nya.
“Suapi aku” Pinta Theo.
Alice menggeleng dan bergerak gelisah dipangkuan Theo begitu merasakan sesuatu keras pada paha atas sang suami.
“Shiit.. Berhenti lah sayang!” Geram tertahan Theo semakin mengeratkan pelukan nya.
“Le-lepaskan..”
“Mau jadi istri durhaka hmm?”
Alice kembali menggeleng. “Aku mau duduk di kursi sebelah” Pinta nya dengan kepala menunduk takut.
“Suapi..” Theo membuka mulutnya bersiap menerima suapan Alice padahal wanita itu saja masih termenung.
“Sayang...” Panggil Theo.
Alice tersadar dan mulai bergerak, walaupun ragu namun perlahan ia mulai menyuapi Theo dengan telaten bak seorang ibu tengah menyuapi anak nya.
“Besok mau ikut ke kantor?” Tanya Theo disela makan nya.
Alice menggeleng walaupun sebenarnya di dalam rumah besar ini Alice sangat kesepian, tetapi begitu mengingat kejadian itu Alice lebih memilih untuk kesepian di rumah.
“Aku tidak akan melakukan nya lagi sayang. Aku hanya ingin di temani istriku selama bekerja” Ucap lembut Theo mengusap surai Alice.
Alice menggeleng kembali. “Aku mau di rumah aja”
Theo tak lagi berbicara, hingga akhirnya makanan di piring-piring tersebut telah habis dilahap nya dan hal itu pun membuat Alice terkekeh pelan.
Tanpa sadar tangan Theo terangkat dan menyentuh bibir yang tengah bergerak itu.
“Terus tertawa seperti ini di hadapan ku” Ujar Theo membuat Alice terdiam.
Menarik dagu Alice agar menatap nya, lantas Theo mengecup sekilas bibir pink itu.
“Boleh aku mencintai mu sekarang?”
Deg!
Rasanya jantung Alice berhenti berfungsi saat ini juga. Tatapan, ucapan, serta sentuhan hangat Theo berhasil meruntuhkan tekad Alice yang sebelumnya berniat meninggalkan Theo.
“Aku percaya, kamu akan tetap di samping ku sampai aku mati dan setia padaku” Lanjut Theo mengutarakan perasaannya yang mengganjal.
“Bicara lah sayang, aku tidak suka melihat mu terus diam seperti ini. Aku rindu celotehan membangkang mu”
“A-aku--”
Baru saja Alice mengeluarkan sepatah kata, tetapi dering handphone milik wanita itu menghentikan ucapan nya.
Dengan cepat Alice beralih meraih handphone nya dan melihat siapa yang menelpon nya pada jam segini.
“Siapa?” Tanya tak slow Theo merasa terganggu.
“Daddy..”
Alis Theo terangkat sebelah, kemudian pria itu menganggukkan kepalanya mengode agar Alice menjawab panggilan tersebut.
“Loudspeaker” Ucap pelan Theo yang langsung dituruti oleh Alice.
“Hal--”
“Bereskan barang-barang kamu sekarang, Alice!” Potong Brandon di sebrang sana dengan nada sedikit membentak.
Theo dan Alice saling bertatapan bingung atas apa yang baru saja Brandon ucapkan. Terdengar dengan jelas suara panik pria itu di sebrang sana.
“Ada apa Dad? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Alice.
“Jangan sembunyikan apa-apa lagi dari Daddy!”
Kening Theo mengkerut semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan sang mertua.
“Dad sudah mengetahui semua nya! Kamu di siksa 'bukan?”
Bingo! Mata Theo membola sempurna, napas nya tercekat dan keringat langsung membasahi kening pria itu.
“Da-dad--”
“Malam sebelum kalian bertemu saat kamu terluka, itu ulah suami sialan mu itu 'kan?!”
Mata Alice terfokus pada Theo yang kini tengah menatapnya nanar, kepala pria itu menggeleng pelan seakan mengisyaratkan sesuatu.
“Bodyguard Daddy sedang menuju kesana, kamu bereskan semua barang-barang mu jika pria itu menyakiti mu lagi maka tinggalkan semuanya!”
“Tidak!” Sahut tegas Theo. Dengan cepat Theo merampas handphone Alice.
“Apa yang Daddy bicarakan hah? Alice istriku, Daddy tidak bisa seenak nya seperti ini!”
Terdengar kekehan sinis Brandon di sebrang sana. “Berhenti lah menantu ku.. Mertua mu ini telah mengetahui semuanya!”
...****************...