
Malam semakin larut, di dalam gedung terbengkalai kini terdengar jeritan seoang wanita yang tengah kesakitan. Menahan setiap sayatan yang di berikan oleh pria yang saat ini menguasai tubuhnya.
“Arghh.. Su--dah erghh!!” Jerit wanita itu berusaha melepaskan ikatan di tangan nya.
Plakk!
“Kenapa kau kembali, hah!” Bentak murka pria yang baru saja menampar begitu kuat pipi wanita tersebut.
“Aku.. Aku merindukan keluarga ku erghh..”
Mendengar jawaban tak masuk akal dari wanita yang saat ini menjadi mangsa nya membuat tawa mengerikan pria itu terdengar memenuhi gedung gelap tersebut.
“Keluarga?” Ulang sang pria mencekik leher wanita tersebut.
“Erghh!!”
“Bahkan sejak kembali ke negara ini, kau belum mengunjungi keluarga mu. Jane Xyrin!” Cekikan pria itu semakin menguat seiring dengan rasa benci nya terhadap Jane.
Benar, wanita yang tengah menjerit kesakitan dengan tubuh yang sudah di penuhi darah itu adalah Jane Xyrin. Wanita yang selama beberapa hari ini terus mengganggu kehidupan Theo.
Dan pria itu?..
“Erghh.. Stev--steven lepaskan ukhukk..” Lirih Jane kehabisan napas.
Steven tertawa semakin keras hingga membangunkan para serangga yang kini berterbangan keluar dari gedung itu.
“Pertahanan Theo masih lemah, hatinya selalu bimbang jika di hadapkan oleh wanita ular seperti mu. Seharusnya dari awal aku langsung membunuh mu!”
Kepala Jane menggeleng pelan, tubuhnya berusaha untuk bergerak namun nihil. Ikatan di tubuhnya begitu erat dan menyakitkan.
“Le-paskan aku.. Aku berjanji akan men-jauhkan Bastian..” Ucap terengah Jane.
Brugh!
Dengan begitu kasar dan kejam nya, Steven melepaskan cekikan tersebut seraya menghempaskan tubuh Jane hingga membentur tembok di sebelahnya.
“Arghh!!” Teriak kesakitan Jane.
“Sampai kapan pun wanita seperti mu tidak akan berubah, sialan!”
“Kau menghancurkan sahabat ku, kau membuat jiwa psikopatnya bangkit hingga harus mengorbankan banyak nyawa yang tak bersalah. Dan itu semua karena kau. Kau wanita sialan!” Murka Steven.
Tanpa belas kasih Steven menendang perut Jane hingga darah langsung menyembur dari mulut wanita itu. Sudah tidak terhitung berapa luka yang Jane dapat setelah Steven menyeret atau lebih tepatnya menculik dirinya yang baru saja keluar dari mall.
Ini lah sisi lain dari diri Steven. Pria itu tak kalah sadis dari Theo, namun sayangnya tidak ada yang mengetahui kekejaman yang pria ini miliki bahkan Theo sekalipun.
“Aku mohon lepaskan aku ukhuk.. Ukhukk..” Lirih memohon Jane. “Aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali ukhukk..”
Steven menatap remeh Jane, tak ada lagi kelembutan di mata pria itu. Bahkan kini yang terlihat hanya tatapan iblis yang penuh kebencian.
“Sebelumnya aku sudah memberimu kesempatan dan bahkan aku ingin mentoleransi kegatalan mu ini. Tetapi sayang nya kau tak kunjung sadar dan semakin ingin memiliki Theo!”
Jane menggeleng samar, kali ini ia benar-benar akan pergi jauh dan tidak akan mengganggu Theo lagi. Jane lupa bahwa sebelum nya Steven pernah memberi luka yang begitu menyakitkan pada tubuhnya saat ia terbukti telah menduakan Theo.
Steven berjongkok dan mencengkram dagu Jane begitu erat. “Ingin mati sendiri, atau bersama keluarga mu. Terutama adikmu Aldo Shy Xyrin” Bisik Steven dengan nada menyeramkan nya.
“Tidak!!” Sentak Jane dengan sisa tenaga nya. “Ja--jangan sakiti Aldo. Dia baik, dia tidak salah apa-apa ukhukk..”
“Tentu dia baik, dia tidak seperti mu!”
Tes.. Tes.. Tes..
Air mata terus berjatuhan dari pelupuk mata wanita itu. Rasa sakitnya tidak seberapa, namun ia sangat takut jika adik kesayangan nya akan terluka.
“Aku mohon hikss.. Silahkan bunuh aku, tapi jangan adik ku. Jangan keluarga ku!”
Steven membelai luka sayat pada pipi Jane, menekan nya perlahan hingga wanita itu kembali menjerit kesakitan.
“Dengan wajah seperti ini, aku yakin kau sudah kehilangan rasa percaya diri mu itu” Ujar Steven dengan tatapan nya yang semakin terlihat menyeramkan.
.
.
Sudah cukup lama kedua nya berpelukan hingga mengundang deheman dari Theo yang sedari tadi memperhatikan.
“Ekhem”
Carlotta tersadar sedang berada dimana dirinya saat ini, lantas wanita itu mengurai pelukan nya dan tersenyum canggung pada Theo.
“Maaf Mr..” Ucap pelan Carlotta.
Theo tak menjawab tetapi pria itu kembali terfokus pada berkas-berkas di hadapan nya.
“Maafkan aku jarang mengabari mu” Ujar Alice memecah keheningan.
Carlotta mengangguk. “Maafkan aku juga karena tidak sempat menghubungi mu”
“Apa pekerjaan mu sedang menumpuk?”
Carlotta menggeleng di iringi dengan senyuman samar nya. Alice yang seakan mengerti pun langsung menyenggol pelan bahu sang sahabat.
“Pria seperti apa dia??” Tanya penasaran Alice.
“Ada deh, intinya dia sangat baik dan sangat posesif seperti Mr.Theo” Cicit pelan Carlotta diakhir perkataan nya.
Alice tersenyum menggoda, sudah lama ia tidak meledek sahabat nya yang sering gonta-ganti kekasih ini.
“Apa aku mengenal pria itu?”
“Sudah ah jangan bahas tentang ku, mari bahas tentang mu” Elak Carlotta yang berhasil mengundang tatapan dari Theo namun wanita itu tidak menyadari nya.
“Bagaimana dengan mu, dan bagaimana kabar calon keponakan ku?”
Alice mengangguk dan tersenyum riang. “Aku dan janin ku baik-baik saja, tante Carlo”
Lama kedua nya saling bertatapan hingga akhirnya tawa mereka langsung memenuhi ruangan CEO yang biasanya hening dan sangat tenang.
“Oh astaga, aku geli mendengar kata tante yang keluar dari mulut mu hahaha”
“Kamu sangat cocok, tante hahaha” Timpal Alice dengan tawanya.
Kepala Alice menoleh ke arah Theo yang ternyata masih disibukkan dengan berkas dan komputernya, lantas wanita itu langsung memepetkan posisinya dengan Carlotta.
“Bagaimana dengan Dom?” Tanya berbisik Alice, mata nya terus terfokus pada pergerakan Theo.
“Bentar, apa Dom tidak mengabari mu?” Tanya bingung Carlotta.
Lantas Alice langsung menatap Carlotta dengan tatapan bingung nya. “Mengabari apa? Lagi pula aku ganti nomor dan belum sempat mengabari dia”
“Dom sempat meminta nomor mu, dan aku kira dia langsung menghubungi mu tapi ternyata tidak”
“Ada apa, Car?”
Sejenak Carlotta menatap ke arah Theo begitu pun dengan Alice. “Dom menetap di Indonesia dan sepertinya sekarang dia sudah memiliki kekasih di sana”
Mata Alice melotot, tentunya ia kaget mendengar perkataan Carlotta. Baru saja membuka mulut dan bersiap untuk kembali bertanya tetapi suara pria di belakang nya membuat bibir Alice langsung bungkam.
“Sudah saat nya kembali bekerja, Nona Carlotta” Ujar dingin Theo.
“Ah iya, sepertinya sudah sangat lama saya di sini” Sahut cepat Carlotta berlagak melihat jam di tangan nya.
Lantas wanita itu langsung berdiri di ikuti oleh Alice. “Bentar lagi ya?” Tanya Alice meminta toleransi pada Theo.
“Silahkan saja, tapi gaji nya akan aku potong” Sahut singkat Theo menarik seraya mendudukkan dirinya pada sofa lebar di sebelah sang istri.
“Tidak Mr., saya akan kembali sekarang. Kita lanjut nanti, Lice” Ujar terburu-buru Carlotta seraya menunduk hormat dan langsung keluar dari ruangan sang CEO.
“Carlo..” Gumam sedih Alice.
“Tadi nya aku akan membiarkan kalian mengobrol bersama sampai jam kerja habis, tetapi kamu malah membahas pria lain” Ucap tiba-tiba Theo dengan nada dingin nya.
...****************...