
“Ergghh siall! Kenapa ini begitu menyiksa!” Erang Theo memukuli perutnya sendiri.
Baru saja pria itu kembali berbaring di kasur dan berniat menjawab panggilan sang istri, tetapi sayang nya rasa mual kembali menyerang hingga kini Theo hanya terduduk lemas di lantai kamar mandi.
“Tidak mungkin ini yang dirasakan seorang wanita hamil, pasti ada yang salah dengan minuman yang tadi pagi aku minum di pesawat!”
Bertompang pada tembok dan wastafel, perlahan Theo bangkit dari posisinya dan mulai merayap kembali ke dalam kamar nya.
Baru saja membaringkan tubuhnya di kasur empuk salah satu kamar hotel milik nya, tiba-tiba di depan sana bell pintu terdengar bersamaan dengan suara seorang pria.
“Boss, ini Steven!!” Teriak Steven dari luar sana.
Karena tak kuat untuk bangun dan merasa begitu lemas, alhasil Theo meraih handphone nya yang terus berdering lalu menolak panggilan Alice dan beralih menelpon Steven.
“Hallo boss, anda diman--”
“Buka pintu kamar dengan kartu yang kau pegang Stev, aku lemas” Potong Theo kembali mematikan panggilan tersebut.
Baru saja hendak menaruh handphone nya, tetapi lagi-lagi panggilan masuk dari sang istri membuat handphone Theo kembali berdering.
Menghela napas panjang, akhirnya Theo menggeser ikon hijau yang ada di layar handphone nya.
“Iya say--”
“Kamu baik-baik saja kan? Aku ke sana sekarang ya? Ada Steven dikamar kamu? Cepat minta bantuan ke dia dan pergi ke rumah sakit sekarang!!” Celoteh panik Alice di sebrang sana di iringi isak tangis nya.
Hal itu pun berhasil membuat Theo terkekeh pelan, hingga tiba-tiba pintu kamar nya di buka dan menampakkan sosok pria tegas dengan balutan jas di tubuhnya.
“Boss--” Ucapan Steven terhenti begitu melihat kode dari Theo.
Steven mengangguk mengerti dan berbalik kembali menutup pintu kamar, tentunya ia tau bersama siapa saat ini Theo bertelponan.
“Kamu lucu” Ucap tiba-tiba Theo dengan kekehan nya.
“Jangan ketawa, ini tidak lucu hikss..” Isak Alice.
“Baiklah-baiklah, aku akan berhenti tertawa asalkan kamu berhenti menangis”
“Kamu membuatku takut hikss.. Ada apa sebenarnya hikss hikss”
Sesaat Theo terdiam menatap wajah di balik layar handphone milik nya, wajah sembab Alice membuat Theo merasa bahagia. Bukan bahagia di atas kesedihan sang istri tetapi Theo bahagia karena ada seorang wanita yang khawatir padanya hingga menangis seperti ini, selain sang Mama.
“Aku akan bicara jujur, tapi hentikan tangis mu dan cuci muka sekarang”
Alice menggeleng, ia tidak ingin menuruti permintaan Theo. Wanita itu sangat ingin mendengar kebenaran nya sekarang juga.
“Cuma cuci muka sayang, muka kamu kusut banget ih, pasti dari pagi belum mandi” Duga Theo yang ternyata mendapat anggukan dari Alice.
“Astaga..” Gumam tak menyangka Theo menahan kekehan nya.
“Cepat cerita kan hikss..”
“Tidak usah mandi, sekarang kamu harus cuci muka supaya lebih segar!” Tegas Theo dengan suara seraknya.
“Yaudah ayo..”
“Hah?” Bingung Theo begitu mendengar nada ajakan daei Alice.
“Jangan di matiin, aku mau bawa handphone nya ke kamar mandi dan kamu liat sendiri” Ujar Alice menahan isak tangis nya.
“Ah.. Baik-baik ayo” Theo terkekeh dan menarik guling untuk di peluk nya.
Sedangkan di sebrang sana Alice tengah berjalan memasuki kamar mandinya, dan tentunya dengan panggilan video itu yang masih berlanjut.
Menatap pergerakan sang istri di sebrang sana membuat senyum manis terukir di bibir Theo. Sungguh ia benar-benar merasa bersyukur bisa memiliki Alice walaupun awalnya dengan sedikit ancaman.
Jika mengingat hal itu membuat Theo terkekeh sendiri, mengingat betapa takutnya Alice saat itu. Dan mengingat saat dirinya terpesona dengan wajah takut Alice.
“Sudah” Ucap Alice di sebrang sana menyadarkan Theo dari bayangan nya.
“Nih liat baik-baik” Alice mengarahkan kamera handphone pada seluruh wajah nya hingga saat ini layar handphone Theo dipenuhi wajah basah Alice.
“Nah, istri pintar. Sudah gosok gigi 'kan?”
Alice mengangguk jawaban sudah.
“Bagus, sekarang kembali ke kamar dan dengarkan penjelasan aku”
Tentunya Alice langsung menurutinya dan kembali duduk di kasur dengan posisi bersandar di kepala kasur.
“Berbaring saja, takut kamu pegal” Pinta Theo yang langsung dituruti oleh Alice.
“Cepat jelaskan”
“Emm, kamu tidak lupa dengan sumpah kamu beberapa waktu lalu 'bukan?”
“Sumpah yang mana?”
“Ck, itu lho saat kamu ingin makan di luar dan tidak aku penuhi” Jelas berdecak kesal Theo.
Alice mengangguk cepat, wanita itu sudah mengingatnya.
“Sepertinya aku seperti ini gara-gara sumpah yang kamu berikan”
Sontak di sebrang sana Alice menutup mulutnya tidak percaya.
“Couvade Syndrome?” Gumam tak menyangka Alice.
“Entah lah ini couvade syndrome atau karena sumpah mu saat itu” Sahut lelah Theo.
Lama Alice terdiam menatap wajah lelah dan pucat Theo, hingga akhirnya satu kata lirih keluar dari mulutnya.
“Maaf..”
“Tidak apa sayang”
.
Setelah menceritakan keluh kesah nya selama seharian ini, baik Alice atau pun Theo kedua nya sama-sama mengakhiri panggilan. Dan tak lama setelah nya Steven pun masuk ke kamar Theo.
“Malam boss” Sapa Steven.
“Ada apa?”
“Saya ingin memberitahu terkait pertemuan besok di lapangan”
Theo mengangkat sebelah alisnya dan perlahan pria itu bangun, namun dengan cepat Steven membantunya hingg kini Theo bersandar di kepala kasur.
“Kau selemah ini, apa perlu pertemuan nya dibatalkan saja?” Ujar Steven menghilangkan bahasa formalnya.
“Jika terus dibatalkan, kapan aku akan pulang Stev?”
“Tapi kondisi--”
“Lalu gunanya kau apa? Kau akan selalu di samping ku 'bukan?” Sela Theo yang berhasil membuat Steven menghela napas pelan.
“Sebenarnya ada apa dengan mu?” Tanya Steven menarik kursi dan duduk di sebelah kasur Theo.
“Sulit untuk diceritakan. Dan lebih baik sekarang bicarakan apa yang ingin kau sampaikan tadi”
...****************...
FYI:-Couvade syndrome atau kehamilan simpatik merupakan kondisi yang dialami oleh calon ayah yang bertingkah seperti ibu hamil saat istrinya mengandung.
Termasuk Theo ya bund🤭