Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab46-•



“Theo dimana, Lice?” Mata Giselle mengedar mencari keberadaan sang menantu yang belum juga muncul.


“Lagi mandi” Sahut singkat Alice.


Alis Giselle bertaut melihat ekspresi sang putri, tentunya Giselle tau ekspresi macam apa itu.


“Mau makan duluan atau tunggu Theo dulu, Dad? ”


“Tunggu Theo sa--” Belum sempat melanjutkan perkataan nya tiba-tiba saja Alice memotongnya.


“Tidak usah di tunggu, dia bilang suruh makan duluan”


Tak ingin memperpanjang semua nya, baik Brandon atau pun Giselle akhirnya pasrah dan mengangguk. Ketiga nya mulai menikmati makan malam tanpa kehadiran Theo di meja makan itu.


.


“Mommy tidak ingin mencampuri masalah rumah tangga kalian, tapi Mommy harap kalian bisa menyelesaikan nya dengan cepat dan dengan kepala dingin” Ujar pelan Giselle sebelum beranjak menyusul Brandon.


Sedangkan Alice? Wanita itu masih duduk di meja makan menatap jejeran piring yang masih terisi berbagai jenis lauk-pauk.


“Aku harus apa Mom? Apa aku akan kalah karena masa lalu nya datang dan Theo.. Theo akan kembali bersama nya..”


..


...


Ceklek~


Pintu kamar terbuka bersamaan dengan Alice yang masuk membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air.


Begitu masuk ke kamar nya, mata Alice langsung tertuju pada sosok pria yang saat ini tengah duduk di tepi kasur dengan kepala menunduk dan handuk kimono masih melekat pada tubuhnya.


“Kenapa belum pakai baju?” Tanya dingin Alice seraya menaruh nampan pada nakas di sebelah kasurnya.


“Baju nya sudah aku buang dan tadi aku sudah memakai sabun sebanyak sepuluh kali supaya jejak dia hilang” Theo mengangkat pandangan nya dan menatap memelas ke arah Alice.


“Hmm bagus, sekarang pakai baju dan makan”


Setelah mengucapkan hal tersebut dengan santainya Alice melangkah memasuki kamar mandi, meninggalkan Theo dengan wajah memelas nya.


“Dingin..” Gumam Theo.


Bukan nya memakai baju tetapi Theo malah berbaring dan meringkuk di atas kasur sana, tanpa sadar air mata pria itu mengalir mengingat sikap Alice pada nya selama seharian ini.


Cukup lama Alice berada di dalam kamar mandi hingga akhirnya wanita itu keluar dengan pakaian tidurnya dan tentunya bersiap untuk tidur.


Tetapi perhatian nya lagi-lagi terfokus pada Theo yang terlihat sangat menyedihkan. Namun Alice mencoba mengabaikan hal itu dan melanjutkan niatnya yaitu tidur.


Menaiki kasur lalu menarik selimut, tanpa menegur Theo sedikit pun Alice langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Theo.


“Maaf hikss..” Isak pelan Theo setelah beberapa saat hanya di isi keheningan.


“Aku harus bagaimana hikss.. Aku ingin jujur hikss..”


Alice hanya diam dengan mata terpejam nya. Theo pun langsung memeluk perut Alice dan menempelkan wajahnya pada pinggang sang istri.


“Tidak perlu dilanjutkan, sudah aku bilang jika kamu ingin bersama dengan nya silahkan” Potong Alice dengan nada datarnya.


Theo menggeleng begitu cepat dan bruntal, tangisnya semakin menjadi bahkan kedua tangan nya melingkar begitu erat di perut Alice.


“Aku mohon jangan seperti ini hikss..”


“Apa saja yang kalian lakukan sebelum aku datang?”


Deg!


Jantung Theo berdebar begitu cepat, apa yang harus ia katakan sekarang? Jika ia berbohong itu tidak akan menguntungkan di kemudian hari dan jika dia jujur. Pasti akan membuat Alice semakin marah.


Alice melepaskan paksa pelukan tangan Theo pada perutnya lalu duduk menatap sang suami yang masih meringkuk dengan derai air mata yang terus mengalir.


“Apa saja yang kalian lakukan? ” Ulang Alice.


Pasalnya Alice melihat dengan jelas lipstik yang menempel di sudut bibir Theo dan bibir pria itu berwarna merah sama seperti warna lipstik di sudut bibirnya.


Memejamkan matanya begitu erat, lalu Theo menaikkan kepalanya ke atas pangkuan Alice walaupun beberapa kali di dorong oleh sang istri namun akhirnya Alice berhenti mendorong.


“Percaya padaku..”


Alice tidak menjawab dan enggan menatap wajah Theo sampai akhirnya Theo kembali mengeluarkan suaranya, lebih tepatnya pria itu menjelaskan kejadian tadi siang yang belum sempat ia jelaskan.


“Di sini, dia tiba-tiba mencium bibirku di sini” Adu Theo diakhir penjelasan nya seraya menunjuk bibirnya.


Tentu Alice sudah menduga hal ini dan kini respon Alice membuat Theo membelalak kan matanya tak percaya dengan sisa air mata yang masih basah di pipi nya.


“Apa aku harus jadi liar agar kamu tidak tergoda dengan nya?” Tanya berbisik Alice yang baru saja mengecup sekilas bibir bergetar Theo.


“Sejujurnya aku tidak mau kehilangan mu, tetapi jika kamu lebih menginginkan nya aku--mmh..”


Perkataan Alice terhenti begitu Theo menarik tengkuknya dan mel*mat rakut bibir nya. Cukup terkejut namun setelah beberapa saat akhirnya Alice menyeimbangi kerakusan sang suami.


Hingga dirasa pegal karena posisinya, lantas Alice pun menepuk-nepuk lengan Theo dan menghentikan paksa kegiatan mereka.


“Aku tidak suka alasan itu, tapi aku akan sangat suka jika kamu liar di hadapan aku” Ucap serak Theo seraya bangun dan duduk saling berhadapan.


“Lanjut?” Tanya Alice.


Mendengar pertanyaan yang terasa menggelitik perutnya, lantas Theo pun mengangguk cepat dan bersiap menarik tengkuk Alice. Tetapi dengan cepat Alice menahan nya dan menutup bibir pria itu.


“Lanjut bertengkar nya?”Larat Alice dengan wajah galak.


Alis Theo bertaut tidak suka, tangan nya menarik tangan Alice yang menutup bibirnya lalu menyeka kasar sisa air matanya.


“Gak mau! Kita tidak boleh bertengkar terlalu lama!”


“Yaudah kalau gitu bangun dan pakai baju mu lalu makan!”


“Pakaikan baju nya dan suapi” Pinta manja Theo seraya bergelayut pada lengan Alice.


...****************...