
“Puas?” Satu kata penuh penekanan itu keluar dari sela bibir bergetar Alice.
Mencoba menahan amarah dan rasa sedih nya di dalam ruangan seorang dokter yang baru saja memberikan hasil pemeriksaan obat di dalam botol semalam dan hasil pemeriksaan janin Alice.
Tanpa berkata-kata lagi Theo langsung menarik lengan Alice, membawanya keluar dari ruangan itu menuju ke basement tempat Theo memarkirkan mobil nya.
Mengunci semua pintu mobil begitu dirinya dan Alice telah masuk ke dalam mobil lantas Theo menarik tengkuk Alice dan menyerang begitu rakus bibir bergetar itu.
Alice hanya diam tanpa memberontak ataupun membalas, sampai pada akhirnya Theo menghentikan lumatann rakusnya lalu menyatukan kening kedua nya.
“Maaf..“ Hanya kata itu yang keluar dari bibir Theo, kata yang berulang kali selalu Alice dengar.
“Kita pulang sekarang”
Theo menarik seatbelt untuk menjaga tubuh Alice yang hanya terdiam seakan patung, lalu memasang untuk dirinya sendiri.
Menarik sebelah tangan Alice untuk digenggam nya, lantas Theo mengecup nya begitu hangat sebelum benar-benar menjalankan mobil nya.
.
“Malam ini kita tidur di sini 'oke” Ujar Theo menuntun Alice memasuki unit apartemen luas nan mewah milik nya.
Alice hanya diam dan masih mematung seperti sebelumnya. Sedangkan Theo? Kini pria itu mulai mengutak-atik handphone nya yang sedari tadi terus berdering.
“Kami baik-baik saja, Pa” Ujar Theo yang membuat Alice langsung menoleh menatap nya.
Ternyata pria itu sedang berteleponan dengan orang yang Alice yakini Papa mertua nya.
“Tadi Alice mengeluh sakit perut jadi aku langsung membawa nya untuk memeriksa” Theo mengelus lembut perut buncit Alice dan menatap wajah cantik sang istri.
“Iya pa, tolong sampaikan pesan ku pada Mommy dan Daddy. Malam ini kami menginap di apartemen ku karena Alice sudah sangat lelah. Besok kami akan pulang”
Setelah menjawab segala pertanyaan Jhon dan keluarga lain nya yang ternyata mendengar ucapan Theo. Akhirnya panggilan itu pun terputus menyisakan helaan napas berat Theo.
Memang ini salah nya yang terlalu tergesa-gesa dan menarik Alice begitu saja bahkan melewati para orang tua yang memanggil dirinya.
Theo kepalang emosi dan marah, ia sangat takut alice berbuat nekat dan salahkan botol obat itu. Kenapa tidak di beri merk atau tulisan apapun itu hingga membuat dirinya semakin marah.
“Mau makan cemilan sambil nonton TV atau mau tidur?”
Alice menatap kosong TV besar di hadapannya lalu wanita itu menggeleng dan menatap ke arah pintu kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Theo yang sebenarnya mengerti arti tatapan Alice pun memilih untuk mengucapkan hal lain. “Minggu ini kamu belum meminta jahat es krim, apa mau di makan sekarang? Aku sudah stok di pendingin”
Jika biasanya Alice sangat antusias tetapi kali ini wanita itu menggeleng dan terus menatap ke arah pintu kamar apartemen itu.
“Huuft.. Baiklah ayo” Pasrah Theo merengkuh pinggang Alice lalu berjalan menuju pintu kamar itu.
“Aku ingin tidur sendiri”
Gerakan Theo yang hendak membuka pintu kamar terhenti, mata nya melotot tanda tidak setuju mendengar ucapan Alice.
“Tidak ada yang namanya pisah kamar!” Tegas Theo menarik Alice masuk dan mengunci pintu kamar itu.
Terdengar helaan napas Alice yang sampai ke telinga Theo. Mendengar helaan napas itu Theo langsung memeluk tubuh Alice dari belakang, menghentikan langkah kaki wanita hamil itu.
“Maaf aku terlalu egois..” Gumam Theo tepat di samping telinga Alice. “Lebih baik aku diam dari pada aku salah berkata dan membuat mu semakin marah” Lanjutnya.
“Aku lelah ingin tidur”
“Baiklah ayo” Theo menuntun Alice berjalan di depan nya.
Sedangkan dirinya sangat enggan melepaskan pelukan nya saat ini. Sampai saat sampai di atas kasur pun Theo langsung menjatuhkan tubuhnya bersama dengan tubuh Alice.
“Aku tidak tau bagaimana hidup ku nanti jika ditinggalkan oleh mu, salahkan aku karena perasaan bodoh ini” Cerocosnya terus menerus seraya menenggelamkan wajahnya pada tengkuk leher Alice.
Melepaskan paksa tangan Theo yang melingkar memeluk tubuh nya, lantas Alice berbalik menghadap pria itu sebelum Theo mengeluarkan protesnya.
“Kembali seperti dulu, sebelum dia datang dan kembali menganggu mu. Kamu hanya sayang dan cinta padaku 'bukan?”
Theo mengangguk lalu menggeleng. “Aku menyayangi dan mencintai kedua orang tua ku, dan juga kedua orang tua mu”
Senyum tipis terbit di bibir Alice. Sampai akhirnya tangan Alice terangkat untuk menyentuh pipi sang suami yang ia rindukan selama beberapa hari ini.
“Sejujurnya aku sangat marah dan benci dengan sikap mu ini. Tetapi kita tidak bisa terus-terusan seperti ini”
“Maafkan aku ya? Janji yang terakhir kali nya” Ujar Theo dengan tatapan memelas nya.
“Jika aku belum memaafkan mu, mana mau aku menyentuh pipi mu ini”
Senyum lebar langsung terbit di bibir Theo. Secepat kilat pria itu kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Alice.
“Jangan buat aku salah paham, apalagi karena vitamin tadi”
Alice terkekeh pelan. “Maafkan aku juga. Tadi siang aku benar-benar bosan dan berakhir membuka merk vitamin itu”
“Ck, dasar istri nakal!”
Cup! Cup! Cup!
“Awwhh geli Theo!!” Pekik Alice mencoba menjauhkan kepala Theo.
Bukan nya menjauhkan atau menghentikan kegiatan nya, Theo malah mendorong tubuh Alice agar terlentang dan langsung naik ke atas tubuh sang istri.
“Seminggu aku puasa karena kamu mendiami ku, dan sekarang aku ingin--”
“Tidak mau, aku masih marah dengan mu!” Potong cepat Alice mendorong pelan bahu Theo.
Namun dengan sigap pria itu menahan kedua tangan Alice dan langsung menyerang leher wanita itu dengan kecupan dan hiisapan nya.
“Ahhk..” Lenguhan kecil keluar dari sela bibir Alice. Secepat mungkin wanita itu mengigit bibirnya.
“Keluarkan sayang..” Bisik berat Theo.
.
“Pelan stthh..” Ringis kesakitan Alice begitu Theo menghentakkan miliknya.
“Aku sudah tidak bisa menahan nya, sweety euhhh..”
Setelah mengucapkan hal tersebut Theo langsung memacu begitu cepat pinggulnya dan memainkan sepasang gunung kembar milik sang istri yang ikut berguncang mengikuti ritme gerakan nya.
“Theo arghhh pelann!” Alice mencengkram lengan berurat milik Theo, menyalurkan rasa perih dan nikmatnya.
Meladeni nafsu seorang Bastian Theo Oliver bukan lah hal yang mudah, ditambah selama satu minggu ini pria itu tidak menyalurkan hasratnya pada sang istri.
“Erghh, siall kenapa selalu menjepit ku!!” Erang frustasi Theo semakin tak terkendali.
Alice mengigit bahu Theo, pria yang saat ini terus meny*sapi lehernya memberikan tanda kepemilikan nya.
Suara penyatuann semakin terdengar jelas, mengisi heningnya kamar apartemen itu. Kedua orang di dalam nya semakin merasa panas begitu mendengar suara yang mereka hasilkan.
...****************...