Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab42-•



“Selamat pagi..” Sapa sepasang pasutri muda yang saat ini tengah berjalan menuju meja makan.


Mendengar suara pria yang tak asing di telinga mereka, lantas Brandon dan Giselle pun menoleh ke asal suara. Betapa terkejutnya mereka begitu melihat sang menantu yang berjalan disamping Alice.


“Lho Theo, kamu kapan pulang nya?” Tanya terkejut Giselle.


Theo tersenyum tipis namun tak langsung menyahut, tetapi pria itu malah menarik kursi dan menuntun Alice untuk duduk.


“Aku pulang tadi malam Mom” Sahut Theo setelah duduk di sebelah Alice.


“Kok tidak mengabari kami?” Timpal Brandon bertanya.


“Aku masih punya kaki untuk pulang sendiri Dad, lagipula semalam aku pulang jam dua malam”


Brandon menggeleng pelan mendengar jawaban Theo. “Kenapa pulang lebih cepat. Apa pekerjaan mu sudah beres?”


“Sud--”


“Jangan berbohong” Potong malas Alice begitu mendengar jawaban yang akan Theo lontarkan.


Theo menggaruk tengkuk lehernya seraya memajukan sedikit bibirnya. “Bohong dikit doang kok” Cicitnya pelan.


“Gak ada bohong dikit-dikit, yang ada nanti jadi kebiasaan!” Omel Alice.


“Iya maaf..”


“Jadi?..” Brandon kembali bersuara setelah melihat perdebatan kecil kedua nya.


“Hanya tinggal beberapa langkah lagi kok Dad, setelah itu semua nya selesai” Jujur Theo pada akhirnya.


“Lalu kenapa kamu sudah pulang?”


“Aku menyerahkan sisanya pada Steven dan dengan senang hati Steven mengiyakan tanpa paksaan”


“Memang benar tanpa paksaan, dari pada terus bersama kamu dan di suruh pakai kebaya” Sahut Alice seraya mengoleskan selai pada roti di tangan nya.


Mendengar ucapan Alice, kedua orang tua itu pun tercengang dan menatap Theo penuh tanda tanya. Sedangkan pria itu? Ia sepertinya tengah merengek pada Alice.


“Ish kok bilang-bilang. Semalam kamu janji akan merahasiakan nya!” Rengek kesal Theo.


Alice hanya mencebikkan bibirnya, jujur saja ia sangat kesal pada Theo karena kejadian semalam.


Bisa-bisa nya pria itu melanjutkan kegiatan nya walaupun sudah terpergok basah oleh sang pemilik, dan lebih parahnya lagi saat ini put*ng Alice terasa sangat sakit dan ngilu akibat terus di gigit oleh pria dewasa itu.


“Bisa kamu jelaskan dengan benar apa maksud dari ucapan Alice tadi?”


Theo menatap wajah Giselle lalu menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa kok Mom. Alice cuma ngarang” Kilah Theo.


“Cepat makan dan setelah itu berangkat ke kantor” Ujar ketus Alice seraya menaruh roti berlapis selai di piring Theo.


Tatapan Theo memelas dan kepalanya menggeleng pelan. Pria itu ingin menghabiskan waktu bersama sang istri dan meluapkan segala kerinduan nya selama beberapa hari ini.


“Makan” Tekan pelan Alice.


Theo menghela napas berat, pada akhirnya pria itu mengambil roti berlapis selai tersebut lalu memakan nya. Tetapi baru saja masuk ke mulutnya tiba-tiba rasa mual kembali menyerang nya.


Theo menutup mulutnya dan secepat kilat pria itu berlari ke arah dapur namun lebih tepatnya wastafel yang biasa digunakan untuk mencuci piring.


Memuntahkan isi perutnya, dan tentu nya hal itu terdengar oleh orang-orang yang berada di sekitar dapur dan meja makan.


“Tuan!” Panik seorang pelayan.


Baru saja pelayan tersebut berniat memijat tengkuk Theo, tetapi dengan cepat pria itu menghempaskan tubuh sang pelayan hingga terpental membentur meja dapur.


Brughh!


“Theo! Bi!” Teriak kaget Alice dan Giselle secara bersamaan.


“Hoeekk..” Theo terus memuntahkan isi perutnya, bukan makanan yang baru saja ia makan tetapi itu makanan yang semalam baru masuk ke perutnya.


“Astaga mual lagi?” Panik Alice memijat tengkuk Theo.


Kepala Theo mengangguk pelan, kaki nya terasa kembali lemas. Begitu menegakkan tubuhnya terlihat dengan jelas wajah pucat pria itu.


“Apa yang kamu lakukan Theo!” Bentak Brandon.


Theo pun lantas menoleh dan melihat ke arah Brandon dimana ada seorang pelayan yang berbaring di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


“Aku--”


“Pak Bar, tolong cepat bawa Bi Mel ke rumah sakit!” Potong Alice menatap supir keluarga nya.


Dengan cepat sang supir mengangguk dan mengangkat tubuh pelayan yang sudah tidak sadarkan diri itu, menyisakan tatapan marah Brandon dan tatapan sulit diartikan dari Giselle.


“Hmmpp!” Theo kembali memutar tubuhnya ke arah wastafel dan kembali memuntahkan yang entah apa ia muntahkan.


“Theo--” Perkataan marah Brandon terhenti begitu sang istri menyentuh lengan nya seraya menggeleng pelan.


“Aku tidak sengaja, dia tidak sopan dan ingin menyentuhku hoeekk..” Jelas Theo di sela rasa mualnya.


“Minum dulu” Ujar Alice seraya menyodorkan segelas air hangat.


Dengan perlahan dan dengan bantuan Alice, Theo pun mulai meminum air tersebut di temani usapan lembut jari-jari kecil Alice pada kepalanya.


“Mual..” Adu pelan Theo. Bibir nya semakin memucat dan tatapan nya terlihat semakin sayu.


“Ayo kita istirahat di kamar” Ajak Alice melingkari lengan nya pada pinggang Theo dan menuntun sang suami untuk berjalan.


“Ada apa dengan mu?” Tanya Brandon menghentikan pergerakan Alice dan Theo dengan tatapan marahnya.


“Akan aku jelaskan nanti Dad, dan tolong jangan memarahi Theo dulu. Aku yakin Theo tidak sengaja” Ucap Alice penuh permohonan.


Sedangkan saat ini Theo memejamkan matanya mencoba menjaga kesadaran nya di balik rasa lemas pada tubuh dan rasa aneh yang mengaduk-aduk perutnya.


“Baiklah, ayo Dad bantu Alice!” Putus Giselle.


...****************...