Possessive Psychopath Husband

Possessive Psychopath Husband
•P.P.H-Bab24-•



Malam semakin larut, di kamar yang hanya di isi oleh keheningan terlihat seorang wanita sedang menangis dalam diam dan mencoba melepaskan pelukan suami kejam nya.


Namun Theo terus menguatkan pelukan nya, tidak membiarkan Alice memberontak sedikit pun. Walau hanya berontakan kecil tetapi Theo menahan nya dengan pelukan.


“Lepaskan hikss..” Lirih Alice terisak begitu menyesakkan.


“Jika aku lepaskan apa yang akan kamu lakukan hmm?” Tanya lembut Theo penuh penekanan.


Alice hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan isak tangis dalam diam. Seluruh tubuhnya terasa begitu sakit dan remuk bahkan tangan nya terdapat lebam.


Jika di tanya bagaimana perasaan Alice pada Theo setelah ini? Entahlah hanya waktu yang akan menjawab. Yang paling jelas saat ini Alice sangat takut pada Theo , ditambah tubuh kedua nya benar-benar bersentuhan tanpa sehelai benang pun yang menghalangi.


“Maafkan aku” Dua kata singkat tanpa ada sedikit pun penyesalan itu keluar begitu saja dari mulut Theo.


“Tapi ini memang sudah kewajiban mu” Sambung nya.


Alice merasa jijik pada dirinya sendiri hingga akhirnya wanita itu hanya diam tanpa berucap apapun. Walaupun Theo suaminya, tetapi hal yang terjadi beberapa jam lalu benar-benar menyakitkan untuknya.


“Lepaskan, aku ingin mandi” Lirih Alice dengan suara seraknya.


“Sudah terlalu malam untuk mandi, lebih baik tidur lagi dan besok pagi baru mandi”


Alice menggeleng dan kembali menggerakkan tangannya mencoba melepaskan pelukan Theo. “Aku ingin mandi” Ulang Alice.


“Kamu ngerti bahasa manusia 'kan, sayang?”


“Aku mau mandi!” Teriak Alice tepat di depan wajah Theo yang kini tengah menatapnya datar.


Cup!


Bukan nya marah tetapi Theo malah melayangkan kecupan di bibir bengkak Alice yang terus bergetar.


“Sudah malam, jangan terlalu banyak berteriak”


“Aku membenci mu, Theo.. ”


“Tidak boleh, kamu hanya boleh mencintai ku” Theo menekan kepala Alice hingga menempel di dada polos nya.


Membiarkan hembusan napas panas sang istri mengenai kulit dadanya dan mendekap begitu erat tubuh kecil itu.


“Ini pemaksaan, aku benar-benar menjijikan”


“Ini kewajiban kamu, tidak ada kata menjijikan dalam hal yang sudah terjadi!”


Alice terdiam, air matanya terus mengalir dan tak tau harus mengatakan apalagi. Theo tetaplah Theo, pria psikopat yang selalu memperlakukan nya seenak hatinya.


.


.


“Buka mulutnya!” Ulang Theo kesekian kalinya dengan tangan yang memegang sendok, bersiap menyuapi Alice.


Namun Alice tidak kunjung membuka mulutnya dan hanya diam menatap ke sembarang arah.


“Makan, Alice..”


Kesabaran Theo semakin menipis, sudah lebih dari lima menit ia terus mengulangi kata-kata tersebut.


Prangg!


Piring berisi makanan siap saji itu, dibanting begitu saja oleh Theo.


“Aku hanya menyuruhmu untuk membuka mulut, sialan!” Teriak murka Theo mencengkram dagu Alice.


Tidak meringis atau pun berniat membuka suaranya. Alice masih saja diam dan enggan menatap Theo.


“Nyonya Oliver!” Theo menghempaskan cukup kasar dagu Alice hingga wanita rapuh itu terbaring kembali di kasur.


“Aku lelah, silahkan lanjutkan pekerjaan mu dan biarkan aku beristirahat” Ujar lirih Alice menutup matanya.


“Jangan membuatku gila, brengsek!”


Theo mengungkung tubuh Alice hingga tubuh kedua nya tidak ada jarak sedikit pun dan wajah nya hanya berjarak beberapa centi saja.


Perlahan kelopak mata Alice terbuka, mata nya menampilkan binar berkaca-kaca. Bisa dipastikan jika Alice berkedip sekali saja maka air matanya akan mengalir tanpa izin.


“Masih belum puas?” Tanya Alice dengan bibir bergetar. “Tidak apa-apa, lakukan lagi hingga aku mati” Lanjutnya.


Tatapan tajam Theo beradu dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata nya. Napas Theo memburu, namun lain hal nya dengan Alice yang semakin terisak.


“Apa?” Ujar dingin Theo setelah sekian lama terdiam. “Apa yang kamu mau? Apa makanan itu tidak sesuai dengan selera mu?”


“Aku hanya meminta mu untuk makan..”


Tatapan tajam itu perlahan berubah menjadi tatapan sayu yang mendominasi dengan keteduhan nya. Tatapan seperti ini baru pertama kali Alice lihat.


“Maaf jika kemarin aku menyakiti mu, aku benar-benar terbawa emosi. Aku tidak bisa melihat milik ku dekat dengan pria lain”


Theo menurunkan kepalanya dan menaruhnya di sela-sela leher Alice. Hembusan napas pria itu menerpa begitu jelas mengenai kulit lehernya.


“Aku takut.. Aku takut kamu menyelingkuhi ku, aku takut kamu meninggalkan ku..”


Tangis Alice terhenti dan berganti dengan tanda tanya besar di dalam benaknya begitu mendengar ucapan Theo.


Alice teringat akan beberapa hal yang pernah Theo ucapkan. Sepertinya Theo pernah ditinggalkan atau lebih tepatnya di selingkuhi ol**eh seseorang yang sangat dia cintai, pikir Alice menyimpulkan.


“A-aku sudah berjanji pada mu, aku tidak akan melakukan hal itu. Tapi kenapa kamu masih tidak percaya padaku?”


Theo menggeleng pelan, ia memejamkan matanya dan menghirup dalam aroma menenangkan tubuh Alice. Mengatur emosinya yang siap meledak begitu mendengar ucapan Alice.


“Cukup menurut padaku, bisa?” Ujar Theo seraya mengangkat kepalanya dan menatap wajah Alice.


“Aku membenci mu--”


“Sudah aku bilang, kamu hanya boleh mencintai ku” Potong Theo mencakup kedua pipi Alice dan menatapnya begitu dalam.


“Ini menyakitkan, kamu tidak punya hati”


“Aku tidak peduli, yang aku mau kamu hanya boleh mencintaiku!” Tegas Theo kemudian mengecup lama bibir Alice.


“Boleh aku berbicara?” Tanya Alice


Theo terkekeh pelan mendengar pertanyaan Alice, bukan kah sedari tadi istri nya ini sudah berbicara? Lantas Theo pun mengangguk dan merapihlan rambut sang istri.


“Kamu ingin aku mencintai mu, tetapi apakah kamu akan mencintaiku?”


Deg!


Gerakan tangan Theo terhenti begitu saja, rahang nya kembali mengetat. Sedangkan Alice? Ekspresi ini tak lepas dari pandangan Alice sedikit pun.


Perlahan namun pasti, tangan Alice yang terasa begitu saja mulai terangkat menyentuh rahang tegas Theo.


“Lupakan masalalu, aku berbeda dengan nya. Aku akan selalu di sisi mu tapi jangan selalu menyakiti ku atau aku akan pergi” Ucap lembut Alice.


Mata Theo memerah, seperti pria itu ingin meneteskan air matanya namun Theo terlalu gengsi dan berakhir bangun dari atas tubuh Alice.


“Aku akan memesankan makanan baru” Ujar Theo kemudian berlalu dari kamar berantakan itu.


Alice menatap kepergian suami nya dengan tatapan sendu, air mata nya tak bosan untuk terus keluar.


“Kamu menyakiti aku karena luka lama mu. Padahal aku berbeda dengan nya hikss..”


“Separah apa pengkhianat dia hingga kamu menjadi seperti ini?”


“Apa aku harus pergi atau tetap di samping mu dan membuktikan bahwa aku berbeda dengan nya hikss..”


...****************...


Seeyou next bab.. Maaf author hanya up 1 bab untuk 1 hari, soalnya akhir-akhir ini author sedang ada kesibukan lain dan akan diusahakan untuk rajin update🤗


Terimakasih atas dukungan kalian sejauh ini😘


Btw ada yang mau kasih saran tentang kelanjutan hidup Alice?🤭