
Sore ini terlihat dua orang pria tengah mengobrol dengan serius, saling beradu pandangan dan hawa sekitar pun rasanya begitu berbeda.
“Dia kembali?” Tanya Steven yang langsung mendapat anggukan dari Theo.
Kaget? Tentunya Steven kaget begitu mendengar kabar bahwa Jane Xyrin wanita berbisa yang siap menularkan bisa-nya pada otak dan hati Theo telah kembali dan membuat keributan.
Steven menoleh menatap sebentar ke arah Alice yang tengah tertidur di sofa sebrang sana. “Kau tidak menyakitinya 'bukan?”
Theo tidak langsung menjawab, tetapi pria menatap Alice begitu mata Steven tertuju padanya.
“Sedikit..”
“Bodoh!”
Theo langsung menatap tajam Steven merasa tak terima atas bentakan tertahan asisten sekaligus sahabat nya ini. Namun sebisa mungkin Theo menahan amarahnya.
“Aku memang bodoh, tetapi tutup mulut mu. Ucapan mu terlalu menyakiti ku, Stev!”
Steven terkekeh sinis mendengar ucapan Theo. “Baru hari pertama, lalu bagaimana dengan hari berikutnya jika wanita ular itu terus menggoda mu?”
“Aku akan menyingkirkan nya!”
“Yakin?” Sebelas alis Steven terangkat, menatap remeh Theo yang jelas-jelas masih menyimpan rasa pada Jane.
“Aku akan tetap bersama Alice dan calon anak ku. Aku akan menyingkirkan dia!” Tegas Theo.
“Kau benar-benar yakin dengan keputusan mu? Bukan kah ini yang kau nanti-nanti sejak dulu. Sejak saat Jane pergi meninggalkan mu”
Theo mengusap kasar wajah nya, menumpahkan segala kekesalan dan emosinya di iringi geraman rendah.
“Aku yakin, sangat yakin!”
Steven berdiri seraya merapihkan jas nya. Tentu nya hal itu tak lepas dari pandangan Theo.
“Baiklah jika itu keputusan mu, maka aku akan membantu mu. Kawan!”
Steven tersenyum tipis, ia yakin bahwa Theo tidak akan terbuai oleh bujuk rayu wanita ular itu. Selain itu Steven sudah menyusun rencana untuk mengusir Jane saat wanita itu ingin mendekati Theo.
“Hasil laporan pekerjaan di Jerman sudah aku kirim melalui email, dan beberapa laporan lain nya akan menyusul”
“Saya permisi boss” Ucap formal Steven diakhir kalimat seraya membungkuk sopan dan berlalu meninggalkan ruangan Theo.
Pikiran berkecamuk, hati dan perasaan tidak menentu serta keinginan menyiksa seseorang kembali membuncah pada diri Theo.
Napas pria itu memberat, kepingan ingatan masa lalu nya bersama Jane sangat-sangat menganggu dirinya. Bahkan saat dimana wanita yang sangat ia percaya dan ia cintai itu.
Dengan tega nya meninggalkan dirinya padahal Theo sedang berusaha memaklumi kelakuan sang kekasih yang bermain di belakangnya.
“Tenang lah..” Bisik lembut seorang wanita yang baru saja memeluk leher Theo bersama hembusan napas hangatnya.
Tanpa melihat pun Theo sudah tau siapa pemilik suara dan aroma menenangkan ini. Perlahan namun pasti Theo mengangkat tangan nya lalu mengusap lengan Alice.
“Kok bangun? Aku ganggu?”
“Sebenarnya aku sudah terbangun sejak Steven masuk ke sini”
Sontak Theo langsung melepaskan kedua tangan Alice yang melingkar di lehernya lalu menoleh dan menyentil kening sang istri.
“Kamu menguping heh?!” Mata Theo membola dengan ekspresi galak nya. Sedangkan Alice? Wanita itu malah cengengesan dan tiba-tiba saja duduk di pangkuan Theo.
“Di sini banyak yang membela ku, jadi jika kamu berani mengingkari ucapan mu. Maka bersiaplah!” Ancam Alice.
Alis Theo terangkat, kening nya berkerut tak suka sampai akhirnya kedua tangan pria itu memegang pinggul sang istri lalu meremat nya pelan.
“Istri kecilku sudah berani mengancam hmm?”
“Tentu! Untuk apa aku takut karena aku punya anak ku yang akan menemani ku nanti”
“Anak kita, sayang..” Ralat penuh tekanan Theo. “Dan sampai mati pun aku tidak akan membiarkan anak kita jauh dari ku!”
Theo langsung berdiri dengan Alice yang berada di dalam gendongan ala koala nya. Beberapa detik kemudian entah siapa yang memulai yang pasti bibir kedua nya saling beradu.
Hingga memunculkan suara decapan khas yang mengisi heningnya ruangan luas itu selama beberapa saat. Sampai tiba-tiba pintu ruangan terbuka bersamaan dengan suara manja seorang wanita.
“Bastian aku datang..”
Cpkkk~
“Bas--”
“Seperti nya ruangan mu mulai tidak higenis sayang” Sela Alice menahan kedua pipi Theo agar tetap menatapnya.
“Lalat gatal yang berbisa sering menghampiri mu karena harta mu yang se-menggoda madu” Lanjutnya.
“Tutup mulutmu sialan!” Sentak tak terima Jane seraya berjalan mendekat.
“Ouch.. Aku takut..” Gumam pura-pura ketakutan Alice seraya menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Theo.
“Turun dari gendongan Bastian, dasar wanita gatal!”
Baru saja Jane berniat memisahkan tubuh kedua nya dengan cara menarik lengan Alice, tetapi secepat kilat Theo menyentak tangan wanita itu.
“Jangan sentuh milik ku!” Hardik marah Theo menatap nyalang Jane.
“Bastian..” Lirih Jane dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa kamu membentak ku? Kamu masih mencintaiku 'bukan?”
“Aku--Ahh!!” Ucapan Theo tergantikan oleh des*han memekik begitu merasakan Alice mengh*sap dan mengigit leher nya.
“Sayang shh..” Desis tertahan Theo meremat bongkahan lemak sang istri.
“Aku menginginkan mu, Mr.Oliver..” Bisik Alice dengan nada menggoda nya.
“Jangan memancingku, sayang” Sahut berbisik Theo.
Tidak menjawab lagi, tetapi Alice malah kembali memainkan lidahnya pada leher sang suami. Tentu nya hal itu membuat mata Theo terpejam.
“Bastian..”
Kelopak mata Theo langsung terbuka begitu mendengar rengekan Jane. Mata nya terfokus pada wajah memelas Jane namun tak lama kemudian pria itu kembali di buat mendesis kala Alice dengan sengaja menggesekkan bagian bawah nya.
“Ah.. sayangh..”
“Bo*st me, Mr. Oliver”
“Shiit!!” Umpat frustasi Theo begitu mendengar bisikan Alice yang diiringi dengan tiupan pada daun telinga nya.
“Bas--”
“Keluar!” Bentak marah Theo menatap tajam Jane.
Wanita yang di usir itu menggeleng cepat dan hendak menyentuh lengan Thel, tetapi dengan cepat pria itu menghindar.
“Keluar secara baik-baik atau saya panggilkan security?!”
“Bastian, kamu--”
“Steven!!” Teriak memekik Theo.
Mendengar nama Steven di sebut, Jane menjadi tidak menentu. Lantas wanita itu menghentakkan kakinya kesal sebelum akhirnya keluar dari ruangan Theo.
“Pfthh.. Hahaha” Tawa Alice pecah begitu menyaksikan wajah pias Jane yang seperti ketakutan begitu mendengar nama Steven.
“Sepertinya dia takut dengan Steven hahaha”
Cukup lama Alice tertawa dan merasa puas dengan apa yang baru saja terjadi hingga akhirnya tawa wanita itu terhenti begitu merasakan jilatann pada pipi nya.
“Theo!!” Pekik kaget Alice menjauhkan wajahnya.
“Jangan mencoba untuk lari, Mrs.Oliver”
Kini bergantian, wajah Alice lah yang berubah pias. Perlahan namun pasti wanita itu bergerak-gerak dalam gendongan Theo bermaksud untuk turun
Tetapi yang terjadi Theo malah mer*mas begitu kuat kedua bongkahan kenyal miliknya hingga membuat Alice melenguh dengan pekikan kesakitan nya.
“Aawhh..!!”
“Kamu menginginkan ku 'bukan?”
Alice mengigit bibirnya dan menggeleng. Wajah Theo sangat menyeramkan jika sedang di selimuti nafsu seperti ini.
“Baiklah, ayo kita jenguk calon anak ku.. ”
...****************...