Our Destiny

Our Destiny
Rumah Sakit



Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan. Katanya manusia di ciptakan paling sempurna. Benarkah ? itu benar. Tapi, itupun tergantung pada seseorang itu mempergunakan kesempurnaannya. Kesempurnaan manusia adalah memiliki akal dan perasaan. Namun, jika akal dan perasaan itu di salah gunakan tentu saja akan menjadikan manusia itu tidak sempurna. Katanya pula tidak ada manusia yang sempurna. Yang sempurna hanya Tuhan. Benarkah ? itu sangat jelas benar. Buktinya segala sesuatu yang menimpa mereka baik itu masalah penyakit, kerusakan lingkungan dan lain sebagainya yang merugikan. Semuanya itu karena perbuatan mereka sendiri. akhirnya manusia itu sendiri yang harus menanggungnya. Itulah mengapa kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Tuhan sangat sempurna. Terutama ALLAH. Apakah ia pernah sakit. Tidak.


Apa yang terjadi pada Rahmat saat ini adalah karena perbuatannya sendiri yang mungkin kurang menghargai kesempurnaan. Kini ia harus menanggung sendiri akibat dari perbuatannya itu. Merasakan sakit bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus mampu bertahan terutama saat ini. Saat ia masih terbaring sakit di rumah tanpa perawatan. Giska masih menangis di samping Rahmat. Sementara ayah Giska masih dalam perjalanan kembali ke rumah Rahmat.


Akhirnya Rahmat segera mendapat pertolongan. Kini, ia terbaring di Rumah Sakit. Giska masih setia di sampingnya dengan wajah membengkak balas menangis. Sementara ayah Giska tengah bicara dengan dokter di Ruang Dokter mengenai Rahmat.


“ Maaf Dok, sebenarnya Rahmat itu sakit apa ? apa penyakitnya cukup parah ? atau bagaimana ? “kata ayah Giska


“ Ya pak. Sepertinya ia mengidap penyakit pada usus. Kita lihat saja hasil laboratoriumnya terlebih dahulu. Kemungkinan memang parah. Karena tadi Rahmat muntah darah bukan ? “ kata Dokter


“ Ya Dok. “ kata ayah Giska


“ Apa sebelumnya ia pernah bercerita tentang apa begitu. Misalnya pernah merasa sakit perut ? “ kata Dokter


“ Kalau bercerita, tidak pernah. Hanya saja ia pernah berteriak saat perutnya di pukul pelan oleh anak perempuan saya. “ kata ayah Giska.


Dokter itu mangut-mangut.


Kini Giska mulai menguap. Ia sepertinya mengantuk sekali. Sedangkan kondisi Rahmat masih kritis. Tubuhnya masih terbaring, matanya masih tertutup dan ia masih belum sadarkan diri. Mungkin, inginnya Giska pulang tapi keadaan saat itu membuat Giska merasa sedang di penjara. Bagaimana ia bisa meninggalkan sahabatnya dalam keadaan seperti itu.


Setelah ayahnya kembali…


“ Ayah apa kata Dokter ? “ kata Giska


“ Katanya kemungkinan Rahmat mengidap penyakit usus yang cukup parah. Tapi itu pun masih perkiraan. Kita tunggu saja hasil laboratorium. “ kata sang ayah


Akhirnya Giska mengerti. Segala sesuatu itu tidak boleh di vonis tiba-tiba. Atau dengan kata lain kita tidak boleh panik duluan. Kalau kata bahasa sunda itu ibaratnya ‘ ulah kekeok samemeh di pacok ‘. Semalaman Giska menemani Rahmat di Rumah Sakit. Kondisi Rahmat masih tetap sama.


Tengah malamnya. Sekitar pukul 00.23 WIB, Rahmat terbangun. Ia melihat ke sekelilingnya dengan perlahan. Melihat ada Giska di sampingnya tengah tertidur, Rahmat tersenyum sedikit. Lalu ia meneruskan melihat ke sisi lainnya dan lalu melihat meja yang ada di sampingnya. Tak ada air. Rahmat merasa tenggorokannya kering ia ingin sekali minum. Tapi, tak ada air. Ia pun perlahan duduk dari tidurnya. Mencoba untuk membangunkan Giska tapi tidak tega. Akhirnya ia berusaha berdiri sendiri. berjalan perlahan keluar kamar untuk mencari suatu ruangan yang menyediakan air minum. Ia mencoba berjalan perlahan meskipun kepalanya pusing dan tubuh yang masih sangat lemah karena baru bangun dari kritis. Ia benar-benar nekat berjalan. Sampai menghiraukan rasa sakit di perutnya itu.


Giska terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Melihat di tempat tidur Rahmat sudah tidak ada, Giska terkejut.


“ Rahmat ya ampun ! “ kata Giska karena panic.


Kemudian ia mencari ke kamar kecil tapi tidak ada. Barulah ia melihat ke luar. Ternyata Rahmat masih terlihat. Rahmat ternyata sudah mulai tak dapat berjalan lebih cepat. Kakinya yang mulai seperti kaku menjadikannya berjalan menyusuri tembok.


“ Rahmat…..!!!” kata Giska sambil berlari


Mendengar itu Rahmat menengok ke arah Giska yang sedang berlari. “ Giska…” katanya dengan suara yang pelan


“ Kenapa kau pergi dengan cara seperti ini ? setidaknya kau bisa membangunkanku atau ayah untuk menolongmu. “ kata Giska


“ Aku tidak tega. “ kata Rahmat


“Tapi aku juga lebih khawatir lagi kalau kamu tidak membangunkanku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu. Siapa yang repot ? “ kata Giska


“ dokter ! “ kata Rahmat


Keduanya tertawa. Akhirnya merekapun kembali ke kamar inap Rahmat.


“ Terima kasih cantik “ kata Rahmat saat Giska menggandeng tubuh Rahmat .


Setelah Rahmat meminum segelas air yang di bawa oleh Giska, Rahmat menatap Giska dengan terus menerus.


“ Kenapa ? menatapku dengan cara seperti itu membuatku tidak nyaman tahu ! hm …( menunduk sebentar). Apa kau sudah sedikit baikan ? “ kata Giska.


Rahmat tersenyum. “ Terima kasih kau perhatian sekali. Ya bisa di bilang belum seberapa. “ katanya.


Keesokannya, Giska kembali terbebani oleh pemikirannya yang selalu tertuju pada Ali. Tepatnya adalah Afandi Ali. Bagaimanapun Giska sangat menyukai Ali. Ingin sekali Giska menemui Ali dan minta maaf soal kemarin. Tapi mental Giska tiba-tiba menciut saat melihat Ali tengah tertawa dan tersenyum dengan teman-temannya. Senyuman itu sungguh manis sekali. Sungguh ! melihat senyuman itu membuat Giska hampir menangis. Giska pun masih tak mengerti mengapa setiap kali melihat senyuman Ali ini, ia hampir menangis.


Karena mental Giska menciut, akhirnya ia kembali mundur dan mencoba berjalan ke kelas. Tapi entah mengapa hatinya terus memaksa untuk menemui Ali. Dia mencoba berjalan lagi. Tapi karena tak tahan, Giska pun berbalik badan dan langsung menghampiri Ali yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Ketika Giska sudah berdiri tepat dihadapan Ali, tatapan mereka semua tertuju pada Giska. Termasuk tatapan Ali hingga membuat detak jantung Giska berpacu.


“ Kenapa ? ada masalah ? “ kata Ali. “ Ya chef “ kata Giska


“ jangan panggil aku chef di sekolah. Apalagi kau sudah tahu siapa namaku. Panggil saja aku Ali. Jangan canggung. Tidak apa-apa kok “ kata Ali. “ Ya Ali “ kata GISKA


“Kenapa kau datang ke sini ? ingin membuat aku kesal lagi ? atau ingin membuat aku marah ?. kalau kau datang padaku untuk hal-hal yang tidak penting, aku akan semakin kesal padamu. Tapi kalau kamu datang untuk meminta maaf maka aku akan semakin marah dan tak akan memaafkanmu tanpa ada hukuman yang harus berlaku. “ kata Ali. “ Lalu apa yang harus aku lakukan di sini ? “ kata Giska


“ Kenapa kau bertanya padaku ? kau sendiri yang tiba-tiba datang padaku. Cepat katakan apa maksudmu datang ke sini. Ingat kalau tidak penting, aku bisa bertambah kesal padamu “ kata Ali. “ Awalnya aku ingin meminta maaf padamu soal kemarin tapi tadi kau bilang kau akan semakin marah padaku jika melakukan itu. Lalu aku jadi tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu. “ kata Giska


“ Lalu ? “ kata Ali sambil menatap Giska tajam. Giska tertunduk sejaenak dan mengingat Rahmat. “ Emmm….. Ali, Rahmat di bawa ke Rumah Sakit “ kata Giska. “ Siapa yang peduli ? aku ? itu jelas-jelas tidak penting “ kata Ali. “ Kau jahat sekali ! “ kata Giska.


“ Benarkah aku jahat ? baiklah. Sekarang aku yang minta maaf. Bagaimana keadaannya sekarang ? “ Kata Ali. Giska tersenyum manis sekali mendengar perkataan Ali barusan.


Ali tersenyum kesal.


“ dia sudah sadar tadi pagi. Tapi katanya harus di rawat gara-gara dia sudah muntah darah. Em…….Ali bagaimana kalau masakan nanti yang sudah di buat kita antarkan ke Rumah Sakit. Untuk Ayahku. Kasihan, kalau dia harus makan dari luar .” kata Giska


“ Baiklah tidak masalah. Tapi masakanku yang luar biasa enak atau masakanmu yang payah ? “ kata Ali. Giska sejenak berfikir. “ Masakanmu saja. Karena, kalau masakanku pasti rasanya sangat tidak enak. “ kata Giska.


Ali lagi-lagi tersenyum kesal “ Enak saja ! seharusnya masakanmu. Biar ayahmu juga tahu bagaimana perkembangan memasakmu. Benar, bukan ? “ kata Ali


“ Baiklah “ Kata Giska.


Saat Giska berbalik badan, tiba-tiba ada Maya. “ May ? “ kata Giska. Lalu Giska pun menatap Ali yang ternyata tatapan Ali sudah tertuju pada Maya dengan penuh Cinta. Giska tertunduk sedih “ Ya ampun…. Bagaimana ini ???” kata hati Giska. Dengan terpaksa Giska pergi dengan segera tak ingin Ali marah padanya karena ia nguping lagi. Mau tidak mau ia harus menjalani keadaan ini dengan hati masih seperti tercabik-cabik.


Giska segera menghampiri Dela yang tengah berada di taman. “ Aduh Del…Bagaimana ini ? “ kata Giska sambil merngek-rengek di depan Dela. “ Ya ampun….. segitunya kamu. Kenapa sih ?jangan-jangan karena pria itu ya ? siapa sih namanya ? nyebelin banget sih itu orang “ Kata Dela. “ Hm……………bukan karena pria itu. Tapi Maya. Kamu tahu pria itu ternyata menyukai Maya. Nama pria itu adalah Afandi Ali. Dia di bayar oleh ayahku untuk mengajari aku memasak. Aku menyukainya del……..” kata Giska sambil merengek lagi.


Windi tiba-tiba datang dan tertawa. “ ikh………………………Windi kok kamu tertawa ? “ kata Giska. “ Gis, bagaimana kalau kamu kirim surat aja buat dia. Nyatain cinta gitu “ Kata Dela. “ hah……? Emangnya bisa ? enggak ah. Nanti Ali malah tambah marah padaku. Dia itu orangnya jutek. Kalau aku ketahuan melakukan itu, dia pasti makin marah “ kata Giska.


“ Ya sudah kalau kamu tidak mau biar aku yang melakukannya saja. “ kata Dela. “ apa ? ikh… del, apa sih maksud kamu ? “ kata Windi. Dela tersenyum-senyum. “ Jangan-jangan kamu menyukai Ali juga ya ? Dela………..!!!” kata Giska. Windi tertawa sedangkan Dela langsung pergi begitu saja sambil tersenyum-senyum.


“ Ah…….Windi bagaimana ini ???!!!” kata Giska pada Windi. Windi pun menggelengkan kepalanya dan langsung pergi juga. Sementara Giska sudah mulai menangis karena tidak tahu harus bagaimana. Meskipun tahu gaya bicara yang bercanda itu memang dari Dela. Tapi, tetap saja ia merasakan takut kehilanagn Ali. Walau bagaimanapun juga perjalanan hidupnya hingga sekarang ini sudah banyak guncangan. Rasa takut kehilangan dan pernah merasa kehilangan adalah sesuatu yang sudah ia alami. Sehingga ia tahu bagaimana rasa nya sakit itu. Rasa sakitnya kehilangan seseorang yang kita cintai.


Sementara Rahmat yang sedang terbaring di Rumah Sakit, dia sudah mengalami muntah darah lagi. Kondisinya masih tetap sama. Dia masih kepayahan melawan rasa sakit perutnya hingga membuat ayah Giska menjadi semakin khawatir. Namun, akhirnya Dokterpun segera memanggil ayah Giska ke ruangannya.


Ayah Giska : “ Bagaimana hasilnya Dokter ? “


Dokter : “ ( MEMBERIKAN SURAT HASIL LABORATORIUM ) Hasilnya keponakan anda ini menderita Hematemesis. Ia muntah darah berwarna merah terang yang menunjukan bahwa pendarahannya baru terjadi. Biasanya Hematemesis ini di sebabkan oleh pendarahan saluran pencernaan. “


Ayah Giska : “ Apa penyakitnya parah Dok ? “


Dokter : “ Hematemesis selalu menjadi tanda penting, tetapi keparahannya bergantung pada jumlah, sumber dan kecepatan pendarahan. Bersyukurlah karena keponakan anda muntah kurang dari 500 ml darah, sehingga tidak begitu membahayakan jiwanya . “


Ayah Giska : “ Baiklah Dok, terimakasih “


Dokter : “ Untuk sekarang, pengobatan awal yang di lakukan untuk menghentikan pendarahan yang di alaminya adalah dengan memberikan infus ke pembuluh darahnya untuk memberikan cairan. Apabila pasien mengalami pendarahan yang berlangsung hebat atau parah. Maka, kami akan melakukan transpusi darah. Memohonlah kepada Allah agar keponakan anda di beri kesembuhan. Walau bagaimanapun juga hanya Allah yang dapat mengangkat penyakit siapapun yang di kehendakinya. “


Tepat pukul 14.00 WIB, Giska sedang menunggu Ali di rumah. Dia mulai merasa gelisah karena takut berbuat kesalahan lagi. Walau bagaimanapun hari itu adalah hari pertama ia belajar memasak yang sesungguhnya. Entah bisa berjalan dengan baik atau malah akan menjadi berantakan. Pernah sekali Giska berfikir bahwa kecantikan Giska pasti bisa menutupi kemalasannya itu. Tapi, ternyata itu semua tidak berpengaruh pada Ali. Bahkan hanya dengan menyentuh tangan Giska yang lembut saja sudah tahu bahwa Giska anak pemalas.


“ Aduh lama sekali. Jangan-jangan dia lupa atau dia pura-pura lupa untuk membalas perbuatanku kemarin .” kata Giska.


Tiba-tiba ayah Giska menelpon. Kebetulan sekali Giska sedang menunggu telepon dari Ali. Tapi, ketika Giska mengangkat teleponnya dengan Gembira mengira itu dari Ali ternyata “ Assalamualaiku, Giska “ kata sang Ayah. “ Walikumsalam “ kata Giska. “ Apakah kamu sedang belajar memasak dengan Ali ? “ kata Ayah. “ Ya, memangnya kenapa ? apa terjadi sesuatu dengan Rahmat ? “ kata Giska. “ Begini, berdasarkan hasil laboratorium menyatakan bahwa Rahmat menderita hematemesis. Katanya pendarahan di saluran pencernaan. Jadi memang tidak terlalu parah tapi kalau terus di biarkan katanya akan membahayakan jiwanya. Apalagi kalau sudah harus transfuse darah, katanya harus dengan segera di lakukan “ kata Ayah. Giska mangut-mangut. Saat seperti itu Giska melihat ke luar rumah dan berharap Ali segera datang tapi masih belum terlihat juga.