
Waktu itu, tepat menjelang sore. Giska duduk manis menanti pria misterius itu datang.
“ Katanya mau membuat peraturan, tapi sampai sekarang belum datang juga. Dasar cowok ganteng ! “ kata giska sambil mondar-mandir yang kemudian merapikan bajunya. Ternyata Giska memakai pakaian yang tidak cocok untuk memasak, dia memakai pakaian untuk kencan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu beberapa kali. Begitu di buka pintunya, ternyata pria misterius itu yang datang. Giska dan pria itu saling menatap. Dengan perlahan pria itu memperhatikan penampilan Giska dari bawah sampai ke atas.
“ Kenapa chef ?” Kata Giska
“ Bahkan kau tidak tahu pakaian apa yang harus di kenakan untuk memasak. Kau pikir memasak itu sama dengan kencan ? “ kata pria itu.
“ Apa aku salah ? apa aku tidak cantik ? “ kata Giska
“ Kau cantik sekali. Tapi sayang sekali, waktunya kurang tepat. Hari ini kita akan memasak, bukan untuk berkencan. Kau paham ? jawab ya. “ kata pria itu.
“ Tidak” kata Giska
“jawab ya “ kata pria itu.
“ Tidak “ kata Giska smbil menggeleng
“ Jawab ya. Aku bilang jawab ya !” kata pria itu sedikit emosi
“ Aku tetap tidak mengerti…” kata Giska.
“ Kau ini.. jawab ya…!!! “ kata pria itu dengan bentakannya
“ Ya, ya, ya ok ! “ kata Giska terpaksa
Keduanyapun duduk di ruang tamu.
“ Katanya mau membuat peraturan, kok malah datang terlambat “ kata Giska
“ Aku chefnya. Aturan pertama kau tidak boleh banyak mengatur. Yang mengatur semuanya adalah aku” kata pria itu
Giska menatap pria itu dengan tajam
“Kenapa ? kau tidak suka padaku? Menatapku seperti itu memangnya aku tidak tahu. Aturan kedua kau harus suka dengan semua yang aku lakukan. “ kata pria itu sambil tersenyum-senyum.
“ Peraturan macam apa itu ? tidak ada tanda tangan di atas materai sama sekali. “ kata Giska kesal
Pria itu kemudian mengeluarkan kertas berwarna biru. Entah kertas apa itu. Yang jelas Giska di buat penasaran oleh surat itu. Pria itu memberikan kertas itu pada Giska. Setelah Giska membuka surat itu, isinya adalah :
“SEMUA PERATURAN MEMASAK DI TENTUKAN OLEH CHEF. PERATURAN ITU ADALAH LISAN. BERLAKU UNTUK GISKA YANG HARUS BELAJAR MEMASAK DAN MAU TIDAK MAU HARUS MEMATUHINYA. TERTANDA CHEF DAN GISKA DI ATAS MATERAI 6000 “
“ Wah…..peraturan macam apa ini ya ? apa ini tidak aneh ? apa aku harus tanda tangan di sini ? apa kau juga akan melakukannya ? aku tidak mau. Peraturannya belum jelas. Mending kalau peraturannya baik. Kalau tidak bagaimana ? “kata giska.
“ Kau ini berisik sekali. Sudahlah cepat tanda tangan. Jangan buang-buang waktu.” Kata pria itu
“Apa aku harus percaya padamu ? aku baru mengenalmu. “ kata Giska
Pria itu langsung tanda tangan tanpa basa-basi lagi
“ Aku sudah tanda tangan sekarang giliranmu. “ kata pria itu.
Giska terdiam sambil menatap pria itu dengan kesal
“ Aku tidak mau tanda tangan. Peraturan ini aku tidak setuju. Kau tahu? Aku tidak suka peraturan . “ kata Giska
“ Oh benarkah ? kalau begitu selamanya kau ingin bebas ? lalu mau jadi apa kau ini ? semua yang akan kau hadapi nanti pasti ada aturan dan kau pikir aturan itu tidak punya sanksi bagi yang melanggarnya . kau ini manusia atau bukan? “ kata pria itu dengan tenangnya
“ Apa hubungannya dengan ini semua ? “ kata Giska
Sebenarnya Giska sengaja mengulur-ulur waktu. Agar ia bisa lebih lama berduaan dengan pria ini yang tidak lain adalah chef. Selama chef berbicara Giska terus memperhatikan dengan teliti bgaimana gerak bibir chef tampan ini.
“ Kau akan menjadi muridku. Jadilah manusia yang benar. Percayalah aku bukan orang yang jahat. Kalau aku adalah orang yang jahat, ayahmu tak kan menghubungiku.” Kata chef.
Sejenak pria atau chef ini terdiam. Menatap Giska seperti penuh curiga. Giska yang menyadari akan hal itu, langsung salah tingkah merapikan rambutnya.
“ Kalau kau bisa membuat peraturan seperti itu, apakah aku juga bisa membuatnya ? kau membuat peraturan untukku, maka aku harus membuat peraturan untukmu. “ kata Giska.
Pria itu terlihat kesal dan langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Giska, hingga membuat Giska tegang.
“Baiklah. Kau bisa melakukannya. Tapi, kau harus memohon dulu padaku. “ kata pria itu yang kemudian kembali ke posisi semula.
Giska terlihat kebingungan.
Setelah berpikir sebentar ………..
“ Baiklah akan aku tanda tangani peraturan aneh ini. Kau benar-benar keras sekali. Tidak mau menyerah ya..!” kata Giska yang kemudian menandatanganiperaturan itu.
Kemudian pria itu terlihat mengemasi kembali surat peraturan itu. Dan lalu …
“ Ayo kita ke dapur sekarang ! untuk pengawalan aku akan memperkenalkan padamu bagaimana cara memasak yang baik dan benar. Peraturan ketiga kau harus perhatikan dengan baik bagaimana tanganku dan anggota tubuhku yang lainnya saat memasak. Sedikit saja kau meleset. Tanggung sendiri akibatnya. “ kata pria itu
Ketika chef sedang memasak, gerakan tangan dan keseimbangan tubuhnya benar-benar terlatih. Bahkan Giska di buat serius olehnya. Giska bukan serius memperhatikan cara memasak chef, tapi ketampanan chef yang luar biasa menurutnya.
“ Ya Tuhan. Apa ini rasanya jatuh cinta ? mengapa begitu nyaman ? Mengapa aku bisa terhubung dengan orang ini. Orang yang begitu tampan. Bahkan ketulusan hatinya dapat aku rasakan. Rasanya dia sudah tak asing bagiku. Apakah dia pernah ada di masa laluku ? Tatapan matanya seperti aku mengenalnya. Tapi apa arti semua itu ? Tuhan tolong jawab aku. Apa ini Cinta? “ kata hati Giska sambil terus memperhatikan chef. Sementara chef tak menyadari bahwa Giska tengah menyalahgunakan titahnya.
Malam harinya Giska masih terbayang wajah chef. Wajah yang seperti sudah lama ia rindukan. Entahlah. Giska pun tak mengerti. Tapi ia mencoba untuk berpikir alternatife saja. Ia jatuh cinta. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan penuh cobaan. Apakah ia akan mendapat masalah baru. Dia terlihat tegar dari yang sebelumnya.
Sementara pria itu. Ia sedang di perjalanan entah ingin pergi kemana. Tapi ia pun menelpon seseorang. Dan tanpa basa-basi langsung mengatakan “ Aku tunggu kamu di restaurant biasa. Jangan terlambat ya ? “. Entah siapa yang di telponnya itu. Kelihatannya ia serius sekali. Bahkan ia mengemudikan mobil mewahnya itu dengan kecepatan 100 km/jam. Seperti dengan wajah harapan akan ada keajaiban. Tapi apa ? cinta. Apakah ia akan menemui seorang wanita dan menyatakan cinta.
Di restaurant, pria itu duduk sendiri. dia memainkan handphonenya seperti mununggu akan ada pesan atau orang lain itu segera datang. Orang yang tadi di telponnya. Akhirnya, orang itu datang juga. Maya. Ternyata Maya adalah seseorang yang sedang di nanti oleh pria itu. Maya adalah wanita yang cantik, kaya, mandiri, pintar masak dan pokoknya pria itu seperti sangat menyukai Maya.
“Maaf aku terlambat “ kata Maya sambil duduk di depan pria itu
Pria itu menatap Maya tajam.
“ Kenapa ? ada masalah ? kau marah padaku ya ?” kata Maya
“ Aku tidak akan memaafkan mu. Kalau kau menciumku, baru aku mau. “ kata pria itu.
“ Lupakan “ kata Maya yana kemudian “ pelayan ! “ ia memanggil pelayan untuk segera memesan makanan.
“ Kau tidak mau mencium ku ? kata pria itu
“ Apa ada masalah ? kenapa kau menelpon ku malam-malam begini ? Kau selalu saja begitu. “ kata Maya
“ Aku hanya merindukanmu .” kata pria itu
“ Apa ? apa tidak ada alasan yang lebih masuk akal dari itu ? kau menyebalkan sekali. Kenapa kau selalu menggangguku dengan hal-hal yang konyol itu ? inilah, itulah, enggak jelas banget. Apakah tidak bisa kau tidak terus mengedepankan ego ? “ kata Maya.
“ Aku mencintaimu ! “ kata pria itu
Mendengar ucapan itu keluar dari mulut pria itu, Maya tertegun.
“ Dasar bodoh ! “ kata Maya yang kemudian pergi dengan ekspresi marah.
Pria itu hanya terdiam. Tak ingin mengejar. Dia duduk tenang, meskipun perasaan hatinya terluka. Untuk kesekian kalinya ia menyatakan cinta tapi tak pernah terbalas. Dia seperti merenung. Semakin lama matanya semakin memerah. Dia tertunduk sejenak karena merasa tidak tahu harus melakukan apa. Ingin mengejar tapi ia takut Maya akan semakin marah.
“ sial “ kata pria itu pelan dan lalu pergi
Rahamat yang kini tengah duduk di kursi meja belajar sambil mengerjakan tugas matematika. Dia tiba-tiba merasa sakit perut lagi. Ini untuk kesekian kalinya. Gara-gara sakit perut ia jadi tak dapat melanjutkan belajarnya. Dia lalu duduk di tempat tidur dan lalu membaringkan tubuhnya. Dengan wajah yang memucat ia teringat saat Giska memukul perutnya beberapa kali.
“ Giska mengapa kau begitu jahat ? aku mencintaimu tapi kenapa kau tak pernah mengerti ? Aku butuh kamu di sini sekarang. “ kata Rahmat sambil matanya terpejam.
Perlahan ia pun tertidur. Melupakan rasa sakitnya dan melupakan dunianya sejenak.