Our Destiny

Our Destiny
Masak



Begitu melelahkannya Giska saat harus mencari bahan-bahannya. Mulai dari gurita,saus tiram, kecap manis, daun jeruk, asam jawa panjang, serai, daun salam, bawang putih, bawang merah, cabe rawit merah, jahe, ketumbar, gula, garam, dan banyak deh pokoknya. Wajah Giska saja hampir memerah karena terlalu capeknya keliling sana-sini mencari itu semua. Untungnya semua itu ada di pasar. Sesampainya di rumah, ternyata Ali tengah bermain basket dengan Maya. Melihat itu “ Eu……….dasar cewek nyebelin ! “ kata hati Giska.


Melihat Giska sudah datang, Ali langsung menghampiri Giska. “ O, kau sudah datang ? ( melihat jam ) masih jam 8 kurang 3 menit. Bagus sekali, kau lama. “ kata Ali yang kemudian masuk ke rumah di susul oleh Giska yang sebelumnya mencibir Maya dulu. “ Dasar wanita itu. “ kata Maya dengan sinis. “ aku ganti baju dulu. Kau tunggu aku sambil membersihkan guritanya ya” kata Ali saat setelah nyampe di dapur. “ Ya chef gantengku “ kata Giska. “ apa kau bilang ?” kata Ali. Giska menggeleng sambil tersenyum menutupi kesalahan.


20 menit kemudian


“ Apa kau sudah membersihkan guritanya ? “ kata Ali tiba-tiba tanpa basa-basi. Sontak saja Giska terkaget. “ Eu… ya Chef. “ kata Giska sambil berdiri tegak. Kemudian Ali mengecek kembali karena di khawatirkan masih kotor. “ Bagus. Sekarang kita ambil kantung tinta dan organ dalamnya” kata Ali. Keduanya bersama-sama mengambil kantung tinta dan organ dalamnya gurita.” Kenapa harus melakukan ini ? “ kata Giska. “ Supaya rasanya enak “ kata Ali. “ Jadi kalau tidak di ambil, rasanya tidak enak ? “ kata Giska lagi. Ali hanya terdiam karena sibuk mengambil kantung tintanya.


“ okey, selesai. Sekarang bilas lagi pakai air bersih sampai bersih. “ kata Ali. Giska mengangguk dan melaksanakan perintah Ali. Setelah selesai, “ sekarang nyalakan kompornya dan panaskan air sampai mendidih. Kita akan memasukkan gurita ke dalamnya kalau sudah mendidih.” Kata Ali, Giska mengikuti. 15 menit kemudian “ Masukan guritanya. Kau tunggu sampai lunak ya ( Giska memasukan gurita ) butuh waktu sekitar 20 menitan sampai 1 jam. Untuk itu, sambil menunggu guritanya sampai lunak, sekarang kau haluskan 8 bawang putih dan bawang merah, 5 cabe merah besar” kata Chef. “ Yang ini chef ? “ kata Giska sambil menunjukan cabe rawit. “ bukan, itu cabe rawit. Yang itu tuh ! “ kata Ali. Kemudian Giska mengambil 5 buah cabe yang barusan saja di tunjuk oleh Ali. “ lanjutkan di tambah dengan eu… jahe sedikit saja, lalu ketumbar sedikit saja juga. “ lanjut Ali.


30 menit kemudian. . . “ Chef kayaknya guritanya sudah lunak deh ! “ kata Giska. “ oh benarkah ? biar aku yang cek ( setelah di cek ) … betul. Sudah lunak. Sekarang kau taburkan garam ya ke dalamnya “ kata Ali. “ ya chef “ kata Giska. “ okey sekarang angkat dulu guritanya dan bersihkan lagi “ kata Ali. “ Apa ? di bersihkan lagi ? “ kata Giska. “ Kau ini banyak bicara. Lakukan saja. Kau tahu apa ? “ kata Ali. “ baiklah “ kata Giska.


Setelah di bersihkan. “ chef sudah selesai. Sekarang apalagi ?”kata Giska. “ Emmm…. Sekarang kau potong-potong guritanya. Sesuai keinginanmu saja. “ kata Ali. “ kalau bentuknya hati ? “ kaya Giska. “ silahkan saja kalau memang kau bisa. “ kata Ali. Giska pun tersenyum dan dengan segera memotong-motong guritanya seperti bentuk hati meskipun tidak sepenuhnya, tapi tingkah Giska ini memakan waktu yang lama.


“ Sudah “ kata Giska. “ kau lama sekali “ kata Ali. Giska tertawa sedikit. “ sekarang kau panaskan minyak dan tumis bumbu halus yang sudah kau buat tadi. “ kata Ali. “ okey “ kata Giska.” Masukkan potongan guritanya dan …eu…tambahkan saus tiram, kecap manis, daun jeruk, dan biji asam jawa. “ kata Ali. “ wah….banyak sekali. “ kata Giska.


“ itu belum selesai, sekarang tambahkan lagi serai, daun salam, garam dan gula secukupnya saja terserah dirimu. Kau pasti tahu takarannya kalau tersedia gurita segini “ kata Ali. “ ya deh “ kata Giska. Ali tersenyum melihat Giska memasukan garamnya banyak sedangkan gulanya sedikit. “ sepertinya kau sangat menyukai makanan yang rasanya sangat asin “ kata Ali. “ memangnya kenapa ? o, aku kebanyakan memasukan garam ya ? “ kata Giska. “ sudahlah tidak apa-apa. Ini hanya baru awal. Lama kelamaan kau akan tahu “ kata Ali. Giska tersenyum. “ tambahkan air dan aduk hingga merata. “ lanjut Ali. “ Ya chef.” Kata Giska.


Setelah matang Giska mengangkat masakannya dan mencicipinya terlebih dahulu bersama Ali. “ em…rasanya masih hambar.kau memasak tidak pakai hati. Aku ingatkan padamu, kalau memasak itu harus di sertai dengan hati, agar rasanya enak. Kau ini…” kata Ali. Giska tertawa sedikit. “ Aku tidak dapat memberikan hatiku pada masakanku, tapi aku hanya ingin dan akan memberikan hatiku hanya untuk yang mengajarkannya. “. Mendengar itu, Ali menatap Giska dengan tajam. “ Dengar baik-baik. ( mendekatkan wajahnya pada wajah Giska ) Kau jangan pernah bertingkah sepercaya diri itu di depanku. Aku tidak suka. Kau pikir aku menyukainya? “ kata Ali yang kemudian langsung pergi.


Pindah posisi, Ayah Giska dan Rahmat kini tengah berbincang setelah ayah Giska kembali dari rumahnya setelah mengambil pakaian ganti. Dan Rahmat pun baru tersadar dari tidurnya. “ paman, Giska mana ? “ kata Rahmat. “ Sudahlah, kamu ini lagi sakit. Masih saja mengingat Giska. Dia sedang di rumah Ali. Paman menyuruhnya untuk tinggal sementara di rumah Ali. “ kata Ayahnya Giska.


Mendengar itu Rahmat terdiam dia merasa kesepian tanpa Giska. Biasanya Giska selalu ada menghibur Rahmat dalam keadaan apapun. Tapi karena tidak ada, Rahmat jadi merasa semakin lemas saat menahan sakit di perutnya. Untunglah 5 menit kemudian Giska datang. “ Assalamualaikum “ kata Giska. “ Walikumsalam” kata ayah Giska dan Rahmat.


“ Oh….. ini Gurita asam manis buatanku dengan Ali tadi. “ kata Giska. “ Kau tahu aku merindukanmu. Mengapa kau baru datang lagi ? “ kata Rahmat. Giska tersenyum kesal. “ Hey…dengar ya. Baru saja kemarin kita bertemu, mengapa sekarang sudah rindu lagi ? terlihat sekali kau berbohongnya tahu ! “ kata Giska. Rahmat tertawa sedikit. “ wajahmu kucel sekali. Biar ku tebak. Pasti kamu tidak pernah mandi ya ? “ kata Giska semuanya tertawa.


“ Apa ayah tahu Ali itu sangat galak, dia cetus dan kasar. Aku jadi sedikit kelabakan menghadapinya.” Kata Giska yang ceritanya sedang curhat dengan ayahnya. Rahmat yang mendengar itu langsung berbicara. “ Kalau aku sembuh nanti, biarkan aku yang mengajarkanmu memasak. Aku tidak akan galak seperti Ali. Percayalah. “


“ Tidak mau ! kau pikir aku merasa tidak suka padanya ? justru aku sangat menyukainya. Dia sangat sempurna sekali menurutku. Meskipun dia kasar, galak dan cetus padaku tapi aku tahu di hatinya dia sangat menghargai wanita. Aku rasa dia tahu bagaimana caranya untuk menghadapi oaring seperti diriku ini. “ kata Giska. Mendengar itu sejenak Rahmat terdiam dan tiba-tiba saja matanya kosong. Dia seperti mulai merasakan sakit lagi di perutnya. Beberapa lama kemudian ia berteriak kesakitan dan membuat semuanya menjadi panic. “ Ya ampun…..Dokter ! Dokter ! tolong Dok….!!!” Teriak Giska keluar ruangan dan tak lama kemudian Dokter dan para suster datang menghampiri dan segera menangani Rahmat.


Giska dan ayahnya menunggu di luar saat Dokter sedang menangani Rahmat. Pada saat seperti itu, keluarga Rahmat tiba-tiba datang. “ Syukurlah kalian segera datang. Sepertinya keadaan Rahmat semakin memburuk. Hampir setiap 1 jam sekali ia muntah dan merasakan kesakitan seperti itu. Aku sangat khawatir “ kata ayahnya Giska. “ Benarkah ? kalau begitu apa yang harus kami lakukan sekarang ? “ kata Ayahnya Rahmat.


“ Sekarang kita tunggu saja dulu sampai Dokternya keluar. Dokter pasti lebih tahu tentang perkembangan Rahmat. “ kata Ayahnya Giska. Ibinya Rahmat memperhatikan Giska yang sedang duduk berdoa di kursi. “ itu siapa ? “ kata Ibunya Rahmat. “ oh itu Giska anakku dengan Vira. “ kata Ayahnya Giska. “ Oh… yang dulunya suka mandi di rumahku ? “ kata Ibunya Rahmat. Ayahnya Giska tertawa. Perlahan Ibunya Rahmat menghampiri Giska yang tengah terpejam karena sedang berdoa.


“ Giska “ kata Ibunya Rahmat. Giska membuka mata dan melihat ke samping kirinya. Seorang ibu yang tengah tersenyum manis memandanginya. “ Ya “ kata Giska. Kemudian Giska menyalami tangan ibunya Rahmat. “ Apa kabar cantik ? Ya ampun, kamu sudah besar dan cantik sekali ya “ kata ibunya Rahmat. Giska mengenali sosok ibunya Rahmat. Melihat ibunya Rahmat yang tersenyum, mata Giska jadi memerah dan berkaca-kaca. “ Bahagia rasanya melihat sosok seorang ibu yang tersenyum semanis itu padaku “ kata Hati Giska.


Kondisi Rahmat semakin memburuk. Dia benar-benar kesakitan. Dokter pun hampir kewalahan dalam mengatasinya. Rahmat seperti orang yang sudah tak sadar lagi, seperti sudah tidak ingat bahwa dirinya ada dan punya teman, tubuhnya memerah dan wajahnya memucat. Dia terus memegangi perutnya. Air matanya sampai keluar karena hampir tak kuat menahan sakit di perutnya dan rasa mual yang berlebihan. Lagi-lagi Rahmat muntah darah. Dia kepayahan. Setelah muntah 2 kali barulah ia sedikit membaik. Dia akhirnya bisa sedikit tenang. “ Ya Allah…kenapa sakit sekali ? aku harus kuat. Aku harus kuat…” kata hati Rahmat.


Dokterpun akhirnya keluar dan langsung berkata pada keluarga Rahmat dan Giska “ kita harus segera melakukan transfusi darah. Karena saat ini Rahmat sedang kekurangan darah. Akibat dari muntah yang terlalu sering. Ini harus segera di lakukan karena dapat membahayakan jiwanya. “ . mendengar itu dengan cepat keluarga Rahmat segera periksa darah. Siapa tahu cocok. Untunglah darah sang ibu cocok. “memang darah ibu sangat ocok dengan Rahmat. Tapi, kondisi tekanan darah ibu sedang rendah. Keadaan ibu akan memburuk kalau melakukan transfusi darah sekarang. Sebaiknya kita mencari pendonor yang lain. Kita harus bergerak cepat atau keadaan Rahmat akan semakin memburuk. “ kata Dokter. “ tidak apa-apa dok, untuk sementara meskipun sedikit ambil saja darah saya. Setidaknya akan membantu Rahmat untuk bertahan menunggu pendonor yang lain.” Kata Ibunya Rahmat.


Dokter mangut-mangut. “ Ya Allah bagaimana ini ? tolong selamatkan anakku. Tolong segera kirimkan malaikatmu untuk menolong anakku ini. Semoga ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk anakku. “ kata ibunya Rahmat. Ayah Rahmat pun merasa semakin khawatir. Ia lalu memeluk istrinya dan terpejam seraya berdoa “ tolong ya Allah. Hanya kepadamulah kami meminta pertolongan “ kata hatinya Ayah Rahmat.


Sementara ibunya Rahmat sedang mendonor darah untuk anaknya, Giska melihat Rahmat dari kaca. Matanya yang terpejam dan bibir yang memucat membuat Giska kasihan pada Rahmat. Ia perlahan menangis melihat itu. Pria yang selama ini selalu menjadi teman yang menyenangkan di hari-hari Giska, kini terbaring lemah di tempat tidur orang sakit.


“ Rahmat semoga kau lekas sembuh. Aku menunggumu sekarang dan sampai nanti. Kalau kau sembuh aku tidak akan memukul perutmu lagi. Aku janji. Jadi, ku mohon bertahanlah sampai ada yang mau bersedia mendonor darah untukmu. Jangan menyerah ya ! ada aku di sini untukmu. Jangan sedih, karena aku akan selalu menghiburmu. Aku mohon tetaplah ada di sini sampai kita sama-sma tua nanti. Apa kau tahu, di sini tanpamu adalah sepi bagiku. Aku kesepian tanpa ada canda tawa dari bibirmu itu. Ayolah bangun dan berjuang untuk sembuh “ kata hati Giska sambil menangis.