Our Destiny

Our Destiny
Aku mencintaimu



Malam yang hampa tanpa bintang di langit, tanpa hangatnya kasih sang anak. Kini, kamar Rahmat sunyi, hampa dan gelap. Hanya terdapat barang-barang yang mungkin suatu hari nanti akan jadi sejarah atau akan menjadi luka. Dengan penuh luka di hati, sang ibu masuk ke masuk ke kamar Rahmatyang kini sudah pergi selamanya. Ibu itu berjalan perlahan perlahan menyisiri lantai sambil melihat koleksi anaknya itu. Semua begitu rapi. Tak di duga ternyata Rahmat menyimpan sebuah jam tangan hadiah ulang tahun dari ibunya di meja.


Ibu Rahmat menangis sejadi-jadinya sambil memeluk dan mencium jam tangan Rahmat itu “ anakku…anakku…” katanya seraya menangis.


Sementara ayah Rahmat hanya diam berdiri dan terpaku mendengar istrinya, di luar kamar Rahmat, ayah Rahmat pun menangis. “ anakku…” kata sang ayah.


Keesokannya. Semua berangkat bersama yaitu Ali, Deden dan Giska. Dalam perjalanan, kedua orang ini yaitu Giska dan Ali sama-sama terdiam. Sementara Deden , ia celingak-celinguk sendiri melihat Ali cuek, Giska pun cuek. “ Aduh kok pada diam sih ??!! ngomong apa kek ! “ kata Deden. Ali dan Giska masih terdiam. “ Ya ampun kalian ini kenapa ? setidaknya katakan sesuatu “ kata Deden lagi. “ Apapun ? kata Ali. “ Ya apapun deh…! “ kata Deden. “ Oh”kata Giska dan Ali.


“ Em…..!!!!iti sih apaan bukan apapun” kata Deden. Semua terdiam lagi. Saat saling terdiam, tak sengaja Deden melihat wajah Giska dari kaca. Deden pun tersenyum. “ Giska, apa kau sudah punya pacar ? kalau belum aku mau daftar boleh ? “ kata Deden. “ Kau jangan main-main dengan perasaanku. Ku bisa menyakitiku nanti. Aku memang tidak punya pacar, tapi aku sudah punya calonnya’’ kata Giska. Deden terdiam mendengar itu.


“ Jujur saja aku terpesona olehmu saat pertama kali berjumpa denganmu” kata Deden. “Hanya terpesona bukan ? Ya sudah jangan katakan itu lagi. Payah ! kenapa kau tidak rahasiakan itu dulu ?!” kata Giska. Deden tersenyum dan lalu berkata “kau benar”.


Saat di kelas, Giska duduk cemberut di kursinya. “Em….Giska. kamu kenapa ?” kata Dela. Giska melihat ke bangku Rahmat yang kosong. Ia teringat saat Rahmat duduk di bangku itu sambil terseyum Gombal melihat Giska. “ Gis, benarkah Maya itu sudah pergi ke Jepang ?” kata Windi. “ Ya Gis ?” kata Dela. “ Ya. Maya pindah ke Jepang. Aku bersyukur, kaarena setelah ini tak aka nada lagi sainganku untuk memgejar Ali sampai dapat” kata Giska. Dela tersenyum kesal.


Sementara Ali


Dia di kejutkan oleh sebuah surat dan gantelan kunci spiderman yang sudah ada di mejanya. “ pekerjaan siapa ini ?” kata Ali yang kemudian mengambil kunci itu dan lalu berkata lagi “Dia pikir aku ini anak kecil ! aku rasa aku tahu ini pekerjaan siapa”.


Kemudian tanpa berpikir panjang, ia mengambil surat yang ada di mejanya dan membuka serta langsung membacanya. Ternyata isi dari surat itu adalah :


“ Selamat pagi pangeran tampan.


Izinkan aku untuk menyampaikan sesuatu padamu


Kau adalah pria yang telah melukai hatiku


Sehingga hatiku hanya dapat terus ada kamu


Setiap kali aku bertemu denganmu jantungku berpacu


Aku mencintaimu


Mungkin saat kau membaca, kau tidak tahu siapa aku


Yang jelas kau tahu aku”


Wajah Ali mendadak memerah. Bukan karena terharu, tapi karena marah bercampur kesal


“ Awas kau Giska. Akan aku beri pelajaran kau. Beraninya kau mengirim sampah seperti ini padaku. Jadi kau memanfaatkan kesempatan ini saat Maya sudah pergi. Tapi, lihat saja. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah jatuh hati padamu. Aku sudah berjanji pada Maya. Kau akan merasakannya nanti. Rasa sakit itu. Aku akan mengacuhkanmu.” kata Ali.


Deden pun menghampiri tiba-tiba, dengan segera Ali mamasukkan suratnya ke saku celananya. “ Apa yang kau sembunyikan ?” kata Deden. “Bukan urusanmu. Kenapa ? ada perlukah ?” kata Ali. Deden tersenyum dan lalu menggeleng Ali. “ Em…… apa kau punya nomor handphone Giska. Kalau punya aku minta dong !” kata Deden. “ Wisss…………( Sambil melepaskan gandengan Deden ) jadi cowok yang gentle dong. Minta langsung sama orangnya. Enak aja.” Kata Ali. “ Wah….aku curiga nih sama kamu. Jangan-jagan kamu suka ya sama Giska ? makanya kamu jadi pelit sama aku.” Kata Deden. “ Eit….yang benar saja. Aku tidak punya nomor handphone Giska lagi. Karena sekarang handphoneku baru.” Kata Ali. “ Euh….. Ya sudah terima kasih ya atas informasinya”kata Deden yang kemudian pergi. Ali tersenyum “ Dasar !” kata Ali sambil tersenyum.


Surat cinta. Siapakah yang mengirim surat itu ? mungkinkah Giska yang melakukannya ? apakah ia benar-benar berani melakukannya ? entahlah. Yang jelas, Ali sekarang sudah merasa lebih kesal lagi pada Giska. Kini semuanya sedang belajar di kelasnyamasing-masing. Menghadapi berbagai macam pelajaran sampai siang nanti adalah tantangan semua pelajar. Giska yang saat itu masih terluka karena Rahmat kini sudah tiada, sekarang masih tetap berjuang semangat dalam perjalanan hidupnya. Guncangan cinta itu pasti belum selesai.