
Sampailah Ali di Restaurant yang di tujunya. “ Semoga tidak terlambat” Kata Ali.
Setelah masuk ke dalam Restaurant itu, tiba-tiba datang seorang pelayan dan pelayan itu menyapanya kemudian mempersilahkan Ali untuk mengikutinya.
Ternyata pelayan itu menunjukan pada meja yang disananya tengah ada keluarga yang menantinya. “Aku seperti pengantin pria saja.” Kata Ali pelan. Kemudian dengan sopan Ali menyapa keluarga itu. Ada seorang wanita ternyata di sana yang teramat cantik dan sedang tersenyum pada Ali. Melihat senyum yang manis dan indah itu, Ali pun membalasnya dengan senyuman manis pula.
Akhirnya, Giska sampai juga di Restaurant yang di maksud oleh Ali. Tanpa ragu Giska masuk ke dalam Restaurant itu. Kemudian perlahan-perlahan mencari Ali. Ia merasa takut ketahuan sehingga gerak-geriknya seperti pencuri yang sedang beraksi dan takut ketahuan tuan rumahnya. Lucu juga. Tapi, kayak orang oon. Cantik-cantik kok oon !.
Akhirnya ketemu juga tempat dimana Ali duduk dan bertemu dengan wanita itu. Ia melihat ada keluarga di sana.keluarga yang sedang tertawa bahagia dengan Ali itu sepertinya adalah keluarga wanita it. Sejenak Giska terdiam saat melihat seorang wanita cantik yang duduk di antara keluarga itu. “ Jangan-jangan…” Kata Giska curiga.
Wanita itu terlihat pendiam, polos dan cantik sekali. Bahkan beberapa kali Ali tersenyum padanya. “ Ya ampun…sainganku cantik sekali. Bagaimana ini ? bisa-bisa aku kalah oleh dia. Sebelumnya belum pernah aku melihat Ali tersenyum dengan wanita yang asing. Hm…. Di sini aku menyedihkan sekali” kata Giskadengan wajah cemasnya.
Tanpa ia sadari, tepat di belakangnya ternyata tengah ada seseorang yang memperhatikan Gska sedari Giska datang. Seseorang itu adalah pria yang memakai kacamata hitam yang keren. Pria itu adalah Deden Hamsyah, sepupunya Ali. “ Apa yang kau lakukan ?” kata Deden. Mandengar itu Giska memaku. Ia tidak tahu siapa orang yang ada di belakangnya ini. Mata Giska sampai melotot, expresi wajahnya juga benar-benar seperti seorang pencuri yang sudah ketahuan sang tuan rumah. Memang begitu. Giska ketahuan oleh sepupunya sang tuan rumah. Hahaha…
“ Apa yang sedang kau cari sebenarnya ? tingkahmu ini memalukan!” kata Deden lagi. Giska masih belum tahu siapa orang yang ada di belakangnya ini. Begitu Giska berbalik badan dan menghadap orang itu, ternyata….” Kamu !!!” Kata Giska. Deden tersenyum dan lalu membuka kacamatanya.
Ujung-ujungnya, Giska mau tidak mau harus makan malam dengan Deden. Harus berakting untuk pura-pura menikmati makanan yang sudah di pesannya. Padahal hatinya gelisah karena takut ketahuan oleh Ali. Saat sedang menikmati hidangan yang sudah di pesannya itu, Giska masih saja mencuri-curi kesempatan untuk mengintip Ali yang di sana sedang mengobrol dengan keluarga wanita cantik itu.
“ Memangnya ada apa denganku ? aku ini sedang makan. Apa kau tidak melihatnya ? dasar cowok aneh ! makanannya di makan salah, di barin juga pasti salah. Lau harus apa aku hah ?” kata Giska. Deden tersenyum dan lalu makan kembali sambil berbicara “ Aku rasa kau sedang memperhatikan sesuatu. Aku rasa kau sedang mengintip seseorang.lihat saja, setelah ini aku akan mencari tahu siapa orang yang sedari tadi kau intip itu.” .
“ Silahkan kalau memang kamu bisa. Aku tidak takut. Cari saja olehmu sampai kamu thu. Setelah tahu, tolong beritahu aku” kata Giska. Deden tertawa sedikit “ Kau takut aku akan melaporkanmu pada orang itu ?” kata Deden. “ Apa kau bilang ???” kata Gika yang mulai sedikit emosi.
“Ya…bisa di hitung beberapa menit kemudian aku akan segera memberitahukannya alau aku sudah mengetahui siapa orangnya. Pasti akan menyanangkan kalau kamu katahuan sama orangnya. Enggak kebayang dia akan melakukan apa padamu” kata Deden. Giska mempelototi Deden. “Hm….aku takut sekali.kau terlihat sangat jelek saat seperti itu.” Kata Deden yang kemudian tertawa.
Giska pun mencubit tangan Deden “ hey ! kau ikir aku ini banci hah? Aku ini tidak mempan di cubit. Sesuatu yang akan mempan darimu padaku adalah cinta.” Kata Deden. Giska tersenyum kesal “Hah…menyebalkan. Sungguh menyebalkan. Kau adalah pria kedua setelah Rahmat dulu melakukannya. Kalau kau terus seperti itu maka kamu akan semakin sulit untuk mendapatkanku. Kau paham ?” kata Giska. Mandengar itu, Deden terdiam.
Saat seperti itu, tanpa sengaja Deden melihat Ali. “Waw! Sepertinya di sana ada Ali yang tengah bersenang-senang dengan keluarga wanitanya. Hm….seperti calon pengantin pria saja” kata Deden. Mendengar itu, Giska mulai sadar bahwa Deden sudah mengetahui kalau di Restaurant itu ada Ali juga. “ Bahaya ! bagaimana ini kalau sampai Deden tahu aku ini tadi mengintip Ali ?” kata hati giska.
Deden terlihat biasa saja. Giska yang melihat Deden yang tengah dengan lahapnya makan, merasa lega. “ Untunglah dia sibuk makan” kata hati Giska lagi. Kemudian Giska melanjutkan makannya lagi dan sesekali melakukan hal yang sama seperti tadi yaitu mengintip Ali.
Tak lama kemudian, Deden semakin curiga kalau Giska ini memang benar-benar sedang memperhatikan sesuatu. Karena penasaran, ia mencoba melihat apa yang barusan saja Giska lihat. Ali. Ternyata Ali adalah orang yang sedari tadi terus di perhatikan Giska. Melihat itu, Deden beraksi. “Oh…ternyata begitu. Jangan-jangan benar dugaanku kalau kamu itu sedari tadi memperhatikan Ali” kata Deden. “ Bagus deh kalau sudah tahu. Awas kalau kamu sampai berani memberitahukan padanya tentang hal ini. Aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu”kata Giska.