Our Destiny

Our Destiny
Back to Indonesia



*©®*


Selesai berpamitan dengan teman-teman Joon  Anna kemudian menyelesaikan berkas dan administrasi yang dibutuhkannya guna pembuatan biografi Min Joon. Ia menyelesaikan dengan coach Min dan coach Bang. Setelahnya Anna menemui Min Joon untuk mengembalikan apartemen dan sisa uang sewanya.


“Min Joon oppa, terimakasih sudah mengizinkanku untuk menyewa apartemenmu selama aku ada disini.”


Anna menyerahkan kunci apartemen Joon. Wanita itu tersenyum sumringah sembari membawa tas yang berisi keperluan pribadinya dan juga tas yang berisi perlengkapan memotretnya. Total ada tiga tas, Joon  yakin tas itu berat. Ah kenapa Anna tidak memberitahunya dari awal?


“Kau akan pulang sekarang juga Caltha?” Joon  terkejut, ia bahkan tak tau harus mengatakan apalagi.


“Iya oppa, aku...”


“Biarkan aku mengantarmu kebandara. Tunggu disini sebentar oke?”


Joon  memotong ucapan Anna dan berlari kedalam asrama dengan tergesa gesa. Sesaat kemudian ia kembali dengan memakai topi dan masker hitam diwajahnya. Lelaki itu juga mengajak Sang Woo dan Shin Seung Chan bersamanya. Ia yakin Anna tidak akan mau diantar ke bandara jika hanya berdua saja dengannya.


“Kami akan mengantarkanmu dengan mobil, kalau pergi bersama Seung Chan dan Sang Woo bukan masalah kan?” tanya Joon  memastikan.


“Tapi oppa, aku bisa sendiri tak usah repot-repot.” Anna masih menolak karena dilihatnya Joon  tergesa dan juga Seung Chan dan Sang Woo masih memakai baju latihannya.


“Ayolah Caltha, kau bisa ketinggalan pesawat.”


Joon  berjalan tergesa gesa menuju mobilnya yang ada diparkiran. Entah siapa yang akan berangkat dan siapa pula yang tergesa gesa disini. Anna hanya tersenyum tipis dan akhirnya mengikuti Joon  masuk kedalam mobilnya kemudian duduk disebelah Seung Chan.


Perjalanan kebandara dilalui mereka dalam keheningan. Padahal ada 4 orang didalam mobil itu. hingga mereka sampai dibandara tak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun.


Joon  memarkirkan mobilnya sembarangan, ia kemudian keluar dan membuka pintu penumpang dimana Anna duduk. Lelaki itu membantu Anna membawa barang barangnya dan meminta Sang Woo untuk memarkirkan mobilnya dengan benar dan menunggunya kembali.


Anna hanya diam dan mengikuti Joon  yang terus berjalan lurus kedepan. Lelaki itu tak mengucapkan satu patah kata pun. Anna pun hanya bisa diam karena takut akan semakin merusak suasana yang sudah terasa sangat canggung ini.


“Oppa aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah mau bekerja sama denganku. Terimakasih sudah


mengizinkanku menyewa apartemenmu dan terimakasih sudah mengantarkanku kebandara hari ini.. dan ini..”


Anna menyerahkan amplop putih berisi siswa uang sewa dan paperbag berisi smartphone yang dulu pernah diberikan Joon  untuknya. Smartphone ini terlalu mahal. Ia merasa tak pantas dan tak boleh menerima barang semewah ini dari Joon.


Joon  menerima amplop putih dan menolak paperbag yang diberikan Anna setelah ia melihat isinya merupakan smartphone yang pernah Joon berikan padanya. Joon menghela nafas dan memberikan kembali paperbag itu pada Anna.


"Aku menerima amplop ini karena aku tau kau pasti akan bersikeras membayar sewa apartemenku bahkan jika aku menolak, namun untuk smartphone kau pun tau barang yang sudah dikasih tidak layakl dikembalikan lagi." Joon  tersenyum dan senyum itu membuat Anna menundukkan kepalanya kebawah.


"Aku benar-benar tidak pantas oppa.. aku--"


Anna tersenyum sumringah pada Joon. Saat ini mereka sudah sampai didepan boarding pass dan Anna membungkukkan badannya untuk berpamitan pada Joon. Melihat Joon  yang hanya diam membuat Anna berinisiatif mengambil alih kopernya yang dipegang Joon. Namun Joon  menahannya.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih oppa, aku akan memakai smartphone ini sebaik mungkin dan membuat biografimu sebagus mungkin." Anna tersenyum manis sementara Joon menatapnya frustasi.


“Apa hanya itu yang ingin kau ucapkan Caltha?”


Huft... apa dia akan membahas masalah  itu lagi? Anna merasa resah, ia bingung dan tak tau harus mengucapkan apa pada Joon.


“Ne oppa... hanya itu.”


“Caltha kumohon, bukankah agamamu juga mengajarkan kalian untuk saling menghormati dan bertoleransi kepada semua umat beragama? Tak bisakah kau bertoleransi padaku? tak bisakah kita hidup bersama dengan kepercayaan masing-masing?”


Anna membelalakkan matanya terkejut. Yah, Joon  benar. Agama islam memang mengajarkan umatnya untuk saling bertoleransi. Tapi bukan bertoleransi seperti itu yang diajarkan. Joon  menelan mentah mentah ajaran yang mungkin baru dicari tahunya itu.


“Oppa, ini tak semudah yang kau fikirkan. Kita benar benar tak bisa bersama oppa. Batasan yang kita punya sangat tinggi hingga kita saat kita mencoba memandangnya hanya silauan yang dapat dilihat saking tingginya batasan itu.”


“Aku tidak peduli batasan itu Caltha! Bila perlu aku akan mematahkannya demi bersamamu.” Joon mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, lelaki itu bahkan menatap Anna tepat dikedua matanya dan itu membuat Anna semakin resah.


Anna menghela nafasnya berat. Sesak didadanya semakin menjadi jadi. Bohong jika dia bilang bahwa dia tidak memiliki rasa apapun untuk Joon. Karena nyatanya ia mulai mengakui bahwa rasa itu memang ada. Dan kalau bisa memilih ia juga ingin mematahkan batasan tinggi yang menghalangi ia dan Joon  bersama.


Tapi sekali lagi, ia sungguh tak bisa melakukan itu! Agama adalah satu satunya kriteria utama baginya dalam memilih pendamping. Ia percaya bahwa lelaki yang mencintai Allah akan mencintainya dengan sepenuh hati dimasa depan. Tidak akan pernah luntur cintanya selama lelaki itu terus mencintai Allah. Dan Min Joon tidak memiliki kriteria itu.


“Oppa, percayalah bahwa perasaanmu padaku hanya sesaat saja. Aku yakin setelah ini kau pasti akan lupa


denganku dan memulai lagi hidupmu seperti biasanya. Seperti saat sebelum kau bertemu denganku.”


“Caltha-ya...” lirih Joon  menatap Anna dengan mata yang sayu menahan pedih dihatinya, Ia benar benar ingin memiliki suatu keterikatan dengan Anna, entah kenapa ia takut kehilangan Anna.


“Gumaupsimida oppa. Aku akan mengirimkan biografimu setelah selesai dicetak. Dan kau tenang saja, biografi ini akan kutulis dalam 3  bahasa: Indonesia, Korea dan Inggris. Wah, kau memang hebat oppa. Biografimu bahkan ditulis dalam 3 bahasa. Dae oppa saja hanya satu bahasa.”


Anna tersenyum sangat manis menatap Joon. Wanita itu selalu bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya ia rasakan. Ia sangat pandai menyembunyikannya lewat senyum manisnya yang menjadi satu dari sekian banyak alasan Joon  menyukainya.


“Oppa Annyeong.”


Sekali lagi Anna tersenyum sangat manis dan membungkukkan badannya pada Joon. Setelahnya ia berjalan menuju boarding pass dan terus berlalu tanpa menoleh kebelakang. Ya! Anna sama sekali tak menoleh lagi kearah Joon.


Joon  hanya bisa mematung melihat Anna yang semakin berjalan menjauh darinya. Ia terus menatap wanita pertama yang dicintainya itu hingga menghilang ditengah kerumunan penumpang yang berlalu lalang menuju pesawat.


Caltha-si, aku harus apa sekarang? Aku harus bagaimana?