
*©®*
Sudah seminggu ini Anna berada di Jakarta. Ia menyelesaikan pembuatan
biografi Joon yang sudah ia translate ke
bahasa Korea dan Inggris. Setelah itu ia memberikan file kepada perusahaan tempatnya bekerja untuk dicetak dan
diterbitkan.
“Anna.”
Anna menoleh dan mendapati Ryan yang memandangnya dengan
wajah yang sedikit ramah. Agaknya lelaki itu menepati janjinya untuk bersikap
lebih ramah kepada Anna karena menuliskan biografi Joon. Anna senang,
itu artinya ia tak akan kesusahan lagi jika kerja di luar dengan seniornya itu.
“Ada apa bang?”
Ryan akhirnya mengembangkan senyum dibibirnya untuk pertama kali pada
Anna.
“Aku akui kali ini kau mengerjakan tugas dengan baik dan memuaskan. Oleh
karena itu aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik.”
Anna tersenyum, “Terimakasih banyak bang.”
“Baiklah, apa ada sesuatu yang kau inginkan dariku?”
“Anna boleh...”
Ryan memotong pembicaraan Anna dengan mengangguk.
“Bolehkah Anna cuti? Satu minggu saja...” pintanya dengan nada memohon.
“Kenapa?” Ryan merasa ada yang
disembunyikan Anna darinya, meski ia cuek pada Anna dan kerap menyulitkannya,
pria ini tau Anna amat mencintai pekerjaannya. Ia yakin terjadi sesuatu selama
di Korea. Namun itu bukan urusannya, ia hanya akan menuruti permintaan cuti
Anna.
“Anna mau keBanjarmasin, rindu ayah ibu dan keluarga Anna.”
Ryan menggeleng, “Bukan itu maksudku... tapi yasudah aku izinkan.”
“Beneran bang? Anna boleh cuti?”
Ryan mengangguk dan tersenyum untuk memastikan kepada Anna bahwa ia
mengizinkan wanita itu untuk mengambil cutinya selama 1 minggu.
“Makasih bang, Anna janji hanya seminggu kok.”
Anna tersenyum dan berlari meninggalkan seniornya itu. ia bergegas untuk
pulang dan pamit dulu kepada bibinya sebelum akhirnya terbang menuju
Banjarmasin. Uh, betapa ia merindukan kota kelahirannya itu hingga merasa sesak
didadanya.
Juga ia
ingin menetralkan debar jantung dan menghilangkan perasaan yang tak sepantasnya
ia miliki untuk seorang Min Joon. Perasaan yang sampai saat ini tak mau diakui
oleh Anna, Ia yakin jika mengakui perasaan itu sama saja dengan membiarkan
dirinya merasakan cinta itu sendiri.
Yah, perasaan
itu cinta...
*©®*
Sementara itu di Korea Joon mencoba menelaah perasaannya. Sudah satu
minggu ia tidak bertemu dengan Anna. Bahkan wanita itu tak membalas satupun
pesan yang dikirimnya. Saat ditelfon Anna hanya menjawab sekedarnya saja dan
selalu berusaha mematikan telfon Joon dengan alasan sibuk. Bahkan saat ini nomor
Anna sudah tak aktif lagi.
“Aku sudah menelaah perasaanku dan hasilnya tetap sama!!” teriaknya
frustasi.
“Hyung! kau kenapa?”
Joon menatap Sang Woo yang sudah
duduk disebelahnya. Ia memperlihatkan wajah paling merananya pada Sang Woo.
Agaknya ia sudah lelah untuk terus berusaha bahwa ia baik baik saja. Ia ingin
seseorang mendengarkan keluh kesahnya karena dia sudah tidak tahan memendamnya
sendiri.
“Sang Woo-ah...” lirihnya frustasi.
Sang Woo membenarkan posisi duduknya. Lelaki itu kini duduk menghadap Joon dan menyilangkan kedua kakinya agar
lebih nyaman. Ia yakin Joon butuh teman cerita dan sebisa mungkin Sang Woo
akan membantu dengan mendengarkan cerita hyungnya ini.
“Ceritalah hyung.”
“Apa aku jelek? Apa mataku sipit? Apa kulit putihku membuatku terlihat
aneh? Apa permainanku jelek?”
Sang Woo menatap Joon bingung,
dia fikir Joon akan curhat masalah
pribadinya. Nyatanya lelaki itu malah menanyakan pendapat Sang Woo tentang
keadaan fisiknya. Yang benar saja! Kalau begini Sang Woo bingung harus menjawab
apa.
“Aku harus menjawab apa hyung?
aku bingung.”
“Jawablah Sang Woo...” pinta Joon dengan nada frustasi.
“Apa ini ada hubungannya dengan Anna?”
Joon mengangguk. “Apa karena aku
jelek sehingga dia tak membalas pesanku? Apa karena mata sipit dan kulit
putihku dia akhirnya memutuskan untuk tak berhubungan lagi denganku? Aah, waee! Jawab Sang Woo-ah.”
Sang Woo menggeleng gelengkan kepalanya, “Mana kutau hyung, kau coba tanya saja padanya.”
“Ya Park Sang Woo! Bagaimana aku akan bertanya kalau dia tak membalas
pesanku.”
Sang Woo menghela nafasnya pelan. Ia menatap Joon lelah, bahkan ia berjanji akan menjitak kepala
Anna saat mereka bertemu nanti, karena wanita itu telah merubah Joon menjadi lelaki gila yang hobi merengek manja
dan itu menyusahkannya sebagai partner Joon yang berbagi kamar dengan lelaki itu.
“Kau lupa kalau Anna itu fotografer olahraga? Dan apa kau lupa minggu
depan kita ada turnamen di Singapore? Pasti Anna juga ada disana, temuilah dia
disana hyung.”
Seketika wajah frustasi dan muram Joon berubah menjadi cerah, “Kau benar! Tumben
sekali otakmu jalan.”
Sang Woo merebahkan badannya dan mengguling gulingkan diri kekiri dan
kekanan, bukannya khawatir Joon justru
harus ia siapkan dibanding melihat Sang Woo yang melakukan atraksi anehnya.
“Kau kenapa Sang Woo? Dasar aneh, kenapa kau merengek begitu? Seperti anak
kecil saja.”
Sang Woo semakin menjadi jadi mendengar kalimat yang Joon utarakan sebelum lelaki itu meninggalkannya.
Entah siapa yang aneh disini dan entah siapa yang merengek duluan hingga
membuat Sang Woo frustasi dan pada akhirnya ikut merengek juga.
*©®*
“Anna kau kenapa? Sudah dua hari ini mengurung diri dirumah saja.”
Anna bangun dari tidurnya dan duduk dikasur empuknya. Ia menatap sang
ibu yang menatap sayang padanya. Meski keras, terkadang ibu Anna juga memiliki
sifat lembut yang menenangkannya dan Anna sangat merindukannya.
“Anna cuma mau tidur dan diam dirumah bu, Anna kan udah lama gak
pulang.” Anna tersenyum manis pada ibunya.
“Ya setidaknya keluarlah, kau tak ingin bermain bersama teman temanmu?”
“Nanti sore saja bu, Anna mau nonton badminton. Bang Ryan minta tolong
buatkan artikel.”
“Kau cuti dan dia masih menyuruhmu?”
Anna tersenyum dan kemudian mengangguk. “Kasian dia bu, pasti repot
memotret sendiri.”
“Yasudah terserah kau saja, jangan lupa makan ya Na?”
“Iya bu.”
Ibu Anna tersenyum dan mengelus pelan kepala Anna, ia tau ada sesuatu
yang disembunyikan Anna, tapi dia takkan memaksa Anna untuk bercerita. Biarlah
Anna sendiri yang bercerita padanya nanti. Kemudian sang ibu berlalu
meninggalkan Anna dikamarnya sendirian.
Sepeninggal sang ibu Anna membuka laptopnya dan menyalakan koneksi
internet. Ia harus menonton pertandingan dan membantu seniornya menerbitkan
artikel pertandingan Singapore Open kali ini.
Diliriknya layar laptopnya yang mulai menampilkan kondisi dicourt 1, setelah itu menampilkan seorang
lelaki yang memiliki tinggi hampir sama berjalan menuju lapangan. Satu memiliki
senyum secerah matahari sedang yang satunya lagi memiliki wajah yang sangat
dingin.
Ah betapa ia merindukan si wajah dingin yang menurutnya tidak ada dingin
dinginnya sama sekali saat mereka bersama. Betapa ia merindukan pertengkaran
dan sifat tak ingin kalah saat mereka bertemu. Anna menghela nafas berat dan
menggelengkan kepalanya!
Lupakan atau kau akan semakin terpuruk dan
jatuh kelubang dalam bernama patah hati Anna. Ucapnya menyemangati dirinya.
*©®*
Pertandingan R1 hari ini dilalui Sang Woo dan Joon dengan cukup mudah. Lawan mereka bukanlah
pemain tangguh dan bukan pula pemain dengan ranking papan atas. Jadi mereka
sedikit lebih mudah memenangkan pertandingan dengan skor 21-18 21-19 hanya
dalam waktu 45 menit saja.
“Kau sudah menemui Anna hyung?”
Joon menggeleng, “Aku tidak
melihatnya dari tadi Jim, apa dia mengundurkan diri?”
“Kenapa tidak kau tanya saja pada temannya?”
Sang Woo menunjuk seorang pria yang menggunakan kamera dengan label i-Sport, sama seperti yang Anna gunakan.
Joon berjalan kearah pria itu
tanpa menoleh pada Sang Woo. Agaknya lelaki itu terlalu merindukan wanita yang
dibilangnya aneh saat pertama kali bertemu dulu. Wanita yang difikirnya aneh
namun unik dengan pakaian yang digunakannya. Wanita yang berhasil membuatnya
kehilangan orientasi atas dirinya sendiri.
“Excuse me.”
Pria itu menoleh dan mendapati Joon menatap kearahnya dengan terburu buru. Mungkin ini mengenai biografi. Fikirnya
dalam hati.
“May I help you?”
“Where is Caltha? Aku tak
melihatnya dari tadi.”
Pria itu menatap Joon bingung.
Apa terjadi sesuatu antara Anna dan Joon ? Firasatnya mengatakan ya, karena
kalau hanya tentang biografi Joon bisa
menanyakan langsung padanya bukan?
“Dia cuti, jadi dia tidak ikut memotret di Singapore Open ini.”
Kecurigaannya semakin menjadi saat dilihatnya wajah sendu Joon ketika mendengar berita Anna cuti. Pria itu
kemudian menyerahkan sebuah paper bag kepada Joon.
“Ini, Anna menitipkan ini padamu.”
Joon menerima paper bag itu seraya menunduk dan
mengucapkan terimakasih. Ia kemudian menatap pria itu seolah bertanya siapa
namanya dan pria itu mengerti.
“Aku Ryan, senior Anna.”
“Thank you Ryan-si. Apa Caltha
memiliki nomor lain yang bisa dihubungi? Nomornya yang ada padaku tak aktif
lagi.”
Ryan menggeleng. “Aku tidak punya, tapi sepertinya Anna sengaja
mematikan telfonnya. Dia memang begitu kalau cuti. Hubungi saja ke e-mailnya, kau bisa lihat alamat e-mailnya dibiografimu.” Ryan
mengedikkan dagunya kearah paper bag yang dipegang Joon.
Joon mengangguk kemudian berjalan
meninggalkan Ryan. Ia berjalan menuju Sang Woo yang masih menunggunya dari
tadi. Kemudian mereka berjalan menuju hotel yang sudah disiapkan.
Sepertinya ia menghindariku. Mungkin aku
harus mencoba menghubungi e-mailnya. Bathin Joon sambil
memandangi paper bag yang ada
ditangannya. Ia membukanya dan menemukan sesuatu yang berkilau didalam paper bag itu. Penasaran, Joon mengeluarkannya.
“Coklat?”
*©®*