
Kini, tiba-tiba keadaan berubah. Tanpa sengaja Giska sering melihat Ali tenga tersenyum-senyum saat membaca surat-surat yang baru dari seorang wanita yang masih misterius. Tak lama kemudian, Giska teringat Dela.
Pagi itu, Giska datang menemui Dela. Saat itu, Dela tengah belajar menghapal explanation bahasa inggris. Tiba-tiba saja Giska datang dan memukul meja Dela sekeras mungkin. “Kenapa sihGis ?” kata Dela sambilberdiri. “Sekarang jawab aku dengan jujur. Apakah kamu yang mengirim surat pada Ali ? maksudmu apa melakukan itu. Kau mau mengkhianatiku sebagai sahabatmu hah !?”kata Giska.
Dela tersenyum sambil menggeleng-geleng “ Aku tidak melakukan itu. Bukankah kau sudah tahu, aku ini sudah punya Rio. Mana mungkin aku melakukan itu. Kalau ketahuan sama Rio, aku bisa di putuskan olehnya.” Kata Dela. Giska menatap Dela curiga. “ Kalau bukan kau lalu siapa yang mengirim surat pada Ali. Tidak mungkin Windi. Dia juga pacaran sama Karnudin. Mana mungkin ia melakukan itu.”kata Giska yang kemudian pergi dari hadapan Dela.
Perlahan Giska berjalan sambil berfikir harus melakukan apa sekarang untuk menghentikan surat itu dan menemukan orangnya, orang yang telah mengirim surat itu untuk Ali. Saat tengah berjalan lengah. Ia tiba-tiba menabrak seorang pria kelihatan dari sepatunya dan Giska merasa kenal dengan sepatu itu. Giska melihat wajah orang itu. “Kamu ??!!” Kata Giska kaget melihat Deden yang tengah berdiri di hadapannya.
“Hai Giska.”kata Deden. Mendengar itu Giska tersenyum kesal. “ Kau tahu di mana Ali sekarang ?” kata Giska. Sejenak Deden berpikir lalu.. “Aku rasa tadi dia ada diperpustakaan” kata Deden. Giska pun segera pergi untuk mencari Ali. Sedangkan Deden di buat tidak percaya dengan tingkah Giska ini “ Dasar wanita itu! Tingkahnya sudah seperti Ali saja” Kata Deden yang kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya.
Saat di tengah perjalanan menuju perpustakaan, ia bertemu Ali. “ Ali ! ternyata kamu sudah di sini. Aku ingin bicara sebentar” kata Giska. Ali tersenyum kesal. “ Bicara apa ? langsung saja pada intinya. Aku tidak punya waktu banyak untuk mengobrol dengan wanita sepertimu” kata Ali. Giska tertawa sedikit “ Aku ingin bicara soal surat cinta yang selalu ada di mejamu setiap pagi” kata Giska. Ali tersenyum-senyum. “ Kenapa kau senyum-senyum ? Mencurigakan sekali”kata Giska.
“ Malam ini aku akan bertemu dengannya di Restaurant dekat rumahku. Jadi, aku akan segera tahu siapa orang itu. Semoga saja dia adalah wanita rajin yang cantik dan baik hati” kata Ali yang kemudian pergi. Mendengar itu, Giska menjadi terlihat khawatir. “ Aduh…Bagaimana ini ? apa yang harus aku lakukan ? ini adalah masalah baru. Kalau Ali sampai bertemu wanita itu, apa jadinya diriku ini?” kata Giska.
Lalu terbayang di pikiran Giska
Ali dan wanita itu bertemu begitu haru dan tak lama kemudian Ali menyatakan cinta pada wanita itu. “Aku mencintaimu. Kau adalah wanitaku satu-satunya. Maukah kau menjadi kekasihku?” kata Ali. Wanita itu tersenyum riang dan mengangguk senang. Kemudian Ali mengangkat wanita itu dan……….
Malam kembali menyapa
Ayah Giska menangis, dia merengek-rengek seperti anak kecil. Giska yang di sampingnya, terlihat cemas melihat ayahnya. “ Ya ampun…Ayah ini kenapa ?” kata Giska. Ayah Giska melihat ke arah Giska dan lalu melihat lagi ke tv. “ Hanya filmfilm saja, tidak perlu di tangisi. Apa gunanya ?”kata Giska. Tak lama kemudian ia teringat sesuatu. Ia ingat bahwa malam itu adalah malam pertemuan Ali dengan wanita itu, wanita yang mengirim surat cinta untuk Ali.
Giska menjadi terlihat gelisah di samping ayahnya. Ia berpikir “ Bagaimana caranya supaya aku bisa keluar tanpa sepengetahuan ayah ya ? kalau bilang ingin keluar pasti ayah akan kepo. Terus ikut-ikutan deh…mending ke kamar aja dulu deh…”.
“ Em…Ayah, Giska tidur duluan ya ? Giska mau langsung kunci pintunya. Ayah menonton sendiri saja ya ?” kata Giska. “ Ya sudah sana! Kamu memang tidak setia pada ayah” kata ayahnya. Giska tersenyum terpaksa dan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat ayahnya kembali merengek-rengek, kemudian pergi.
Setelah masuk ke kamar, Segera giska mondar-mandir untuk berpikir “ Aduh…………Aduh bagaimana ini ? aku harus bgaimana sekarang supaya aku bisa ke restaurant itu dan mengawasi Ali” kata Giska. Sejenak Giska terdiam. Lalu tanpa sengaja ia melihat kea rah jendela dan tak lama kemudian ia tersenyum. Sepertinya ia sudah menemukan ide yang bagus.
Sementara Ali, ia tengah berada di perjalanan menuju ke Restaurant yang akan menjadi tempat pertemuannya dengan wanita misterius yang mengirim surat. Dalam keaadaan menyetir, ia terlihat khawatir mengenai sesuatu yang entah apa itu. Sesekali dia melihat handphonenya dan tersenyum “ Tumben wanita itu tidak menghubungiku. Kasihan sekali, hampir setiap hari aku mencampakannya. Atau sekarang dia sudah menyerah. Syukurlah. Kalau begitu, aku tidak perlu takut akan jatuh cinta. Karena, hanya Maya seorang yang akucintai” Kata Ali.
Kini, Giska pun sedang dalam perjalanan menuju Restaurant yang di maksud oleh Ali. Ia tengah naik mobil taksi. Dalam perjalanannya, ia terlihat melamun. Mungkin bingung akan sesuatu yang sulit untuk ia percaya. Bagaimana keadaannya menjadi seperti sekarang. Kisah hidup yang panjang dan kini ia terhubung dengan seorang pria asing tetapi ia merasa sudah tak asinglagi, seolah-olah ia merasa Ali pernah ada didalam kehidupannya. “ Tapi, mana mungkin dahulu aku pernah hidup. Apa sekarang itu sudah 200 tahun berlalu ? lucu sekali. Memangnya aku ini pamper !” kata Giska sambil tersenyum.