Our Destiny

Our Destiny
Sebuah pilihan sulit



*©®*


Joon  menutup biografi itu dan meletakkannya kembali kedalam paper bag yang berada disebelah kopernya. Yah, Joon  sudah bersiap siap untuk melanjutkan turnamennya di Indonesia. ia akan terbang ke Jakarta besok. Senyum terkembang diwajah pucatnya, Istora adalah salah satu tempat angker yang sangat ingin ditaklukannya!


Sungguh ia ingin sekali juara disana dan merasakan manisnya menaklukan salah satu stadion tertua dan angker di ajang superseries. Salah satu ajang badminton dengan hadiah uang tunai dan poin yang cukup besar untuk mendongkrak ranking para pemain.


Selain itu, wanita yang berasal dari sana juga ingin ditaklukannya. Wanita yang mati matian menolaknya karena sebuah perbedaan. Joon  menggelengkan kepala tak habis fikir, bukankah perbedaan itu indah? Kenapa Anna tidak menyukai bahkan menolaknya?


“Sang Woo-ah.”


Sang Woo menjawab dengan gumaman, bahkan lelaki itu tak memandang Joon  saat menjawab panggilannya.


“Sang Woo-ah, Sang Woo-ah, Sang Woo-ah...”


Merasa diabaikan, Joon  memanggilnya dengan sedikit rengekan dan berhasil membuat Sang Woo menghentikan aktivitasnya dari ponsel dan menatap Joon  kesal.


“Ya hyung! apa kau fikir aku hantu yang akan langsung muncul dihadapanmu jika kau memanggilku tiga kali


berturut turut eoh?”


Joon  terkekeh, kemudian berjalan menuju Sang Woo. Bahkan kini lelaki itu sudah duduk dikasur Sang Woo dan


menyilangkan kedua kakinya. Ia rasa butuh bertukar fikiran agar bisa menentukan dengan jernih langkah apa yang harus dilakukannya kedepannya.


“Ya hyung mwoya igae?” Sang Woo menatap Joon  horor.


Joon  tak peduli tatapan itu. Bahkan kini ia sudah menumpukan dagunya ditangan kanannya. Tangan kirinya ia


taruh diatas paha. Ia menatap Sang Woo serius.


“Sang Woo-ah, menurutmu bagaimana cara agar aku dan Caltha bisa bersatu?”


Sang Woo menghela nafas berat. Sesungguhnya ini adalah pertanyaan sulit yang dia sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Namun ia akan tetap menjawab demi membantu menghilangkan kegelisahan yang amat sangat jelas terlihat diwajah Joon  saat ini.


“Salah satu harus mengalah hyung, entah itu kau atau itu Anna.”


Joon  terlihat makin menekuk wajahnya. Solusi itu bukannya tak terfikirkan oleh dirinya, hanya saja ia belum sanggup untuk melakukannya. Ia belum sanggup untuk mengalah dan mengikuti Anna. Bagaimana ia akan menjelaskannya pada eomma dan appanya nanti? Bagaimana kalau hatinya tak setuju saat ia mengikuti Anna nanti?


“Tapi Sang Woo-ah, apa menurutmu salah jika aku berpaling?”


“Berpaling dari Anna?”


Joon  menggeleng. “Bukan, maksudku apakah aku salah jika aku berpaling dan mengikuti Caltha?”


Sang Woo menghela nafas berat. Sejujurnya dia tidak ingin Joon  melakukan itu. siapa juga yang menginginkan seseorang yang seiman dengannya tiba tiba berpindah bukan? Namun itu bukan kapasitas seorang Sang Woo untuk melarang Joon  melakukannya. Bukankah kepercayaan adalah hak masing masing individu?


“Hyung, aku hanya bisa sarankan sebelum kau memutuskan untuk mengikuti Anna, pelajarilah dulu.”


Joon  mengerutkan keningnya bingung.


“Maksudmu Sang Woo?”


Sang Woo tersenyum dan kali ini menatap Joon  serius.


“Jika kau ingin merubah kepercayaanmu hanya demi cinta seseorang, maka yakinlah kau pasti akan merasakan kehampaan setelahnya. Dan juga kau bisa membuat orang yang kau cintai kecewa karena kau mengikuti kepercayaannya bukan dari hati melainkan karena hanya ingin mendapatkannya. Percayalah itu menyakitkan hyung.”


Sang Woo menghela nafasnya pelan dan kemudian melanjutkan pernyataannya.


“Coba bayangkan jika akhirnya Anna yang mengalah dan mengikuti kepercayaanmu tapi hatinya tak sepenuhnya disana, ia melakukannya hanya karena ingin bersamamu, otte? Tidak enak kan? Begitu juga sebaliknya hyung.”


“Geunde Sang Woo-ah, aku tak memaksanya untuk mengikutiku. Bukankah agamanya juga mengajarkan toleransi pada umat beragama dan tidak memaksa seseorang untuk memeluk agamanya? Lalu kenapa Anna tidak menjalankannya?”


“Sang Woo-ah, jadi menurutmu aku yang harus mengalah?”


Sekali lagi Sang Woo menggeleng. “Itu semua terserah padamu hyung, saranku hanya satu : pelajarilah dulu apa yang Anna yakini, jika sesuai dan bisa kau terima dengan akal sehat dan logikamu maka lanjutkanlah. Tapi jika tidak? lupakan Anna hyung, mungkin dia memang tidak ditakdirkan bersamamu.”


Joon  memejamkan matanya dan meringis saat mendengar kalimat terakhir Sang Woo yang mengatakan mungkin Anna tidak ditakdirkan bersamanya. Percayalah kata kata itu sungguh menyakitinya.


“Sang Woo-ah gumawo.”


Sang Woo tersenyum “Cheonman hyung, kau tenang saja karena aku akan selalu mendukung keputusanmu.”


*©®*


Joon  memikirkannya, memikirkan kata kata Sang Woo padanya kemarin. Ia memang tidak pernah membayangkan akan berpaling dari kepercayaan yang sudah dianutnya sejak lahir. Bahkan ia juga tak ingin menyakiti keluarganya jika suatu saat nanti ia benar benar akan berpaling.


Tapi sungguh ia bingung saat ini, ia juga didera rasa penasaran yang amat sangat dengan kepercayaan yang dianut Anna. Wanita itu bahkan memegangnya teguh tanpa sedikitpun goyah dengan ajakan Joon  untuk hidup bersama dengan kepercayaan masing-masing.


Apa aku harus mencobanya? Tidak ada salahnya bukan?


Joon  mengangguk sebentar. Yah, tidak ada salahnya ia mencoba. Lagian tidak rugi kan jika ia ingin mempelajarinya sebelum memutuskan apa yang akan dilakukannya kedepan? Yah, tidak ada salahnya.


Namun sepersekian detik kemudian Joon  kembali menggeleng. Ia bingung apa yang harus dikatakannya kepada orangtuanya nanti? Dan bagaimana jika mereka tidak menerima dan kecewa padanya?


Ah Caltha-ya, Joon  harus ottoke?


Sedang asyiknya melamun, Joon  dikagetkan oleh Sang Woo yang tiba tiba menarik ranselnya. Otomatis hal itu membuat Joon  refleks menahannya.


“Kau mau apa Sang Woo?”


“Minta coklat yang dikirim Anna kemarin hyung.”


“Tidak, itu punyaku Woo-ya.”


Sang Woo menatap Joon  kesal. “Ayolah hyung, Anna bilang aku boleh memintanya...”


“Tidak Sang Woo...”


“Hyung berikan padaku atau aku akan berteriak?”


“Sang Woo!”


“Satu...dua...ti...”


“Yaa!! Oke oke aku akan berikan padamu.”


Dengan kesal dan raut wajah tak ikhlasnya Joon  memberikan satu bar coklat pada Sang Woo yang langsung direbut Sang Woo dengan wajah rakus dan mata kelaparannya.


“Gumawo hyung.”


Dengan tak sabaran Sang Woo membukanya dan memakan coklat itu. seketika raut senang memenuhi wajahnya. Kali ini coklat yang dimakannya sesuai bahkan memiliki rasa yang jauh lebih enak. Ia tidak terkena perangkap coklat pedas lagi.


“Ini baru coklat hyung, tidak ada pedas pedasnya dan juga rasanya manis sepertiku.”


“Ya, kau pede sekali.”


Joon  tersenyum mendengar ucapan Sang Woo. Sang Woo lega melihat Joon  yang mengembangkan senyumnya. Lelaki itu kelihatan tegang semenjak percakapan mereka kemarin hingga sekarang saat mereka sedang dipesawat menuju Jakarta.


“Hyung semoga apapun pilihanmu itu adalah yang terbaik.”