
*©®*
Pagi ini merupakan partai final yang menjadi puncak turnamen Indonesia Open. Sesuai janjinya, Joon kembali menjejak kaki di partai final ganda putra bersama Sang Woo. Dan difinal kali ini dia akan menghadapi pasangan senior Indonesia Dejan Saputro dan Mohammad Arsen.
Ada sedikit keraguan yang menghinggapi benak Sang Woo ketika tau bahwa lawannya adalah Dejan dan Ahsan. Karena keduanya merupakan pemain senior yang memiliki banyak pengalaman. Arsen yang menjadi juara dunia bersama Hendra dan juga Dejan yang mengalahkan Lee Yongdae Ko Sung Hyun di Kejuaraan dunia 2013 bersama Danu pratama.
Apalagi mereka yang menjadi tuan rumahnya. Otomatis seluruh dukungan penonton istora akan beralih kepada Arsen Dejan meski sebelumnya selalu terfokus pada Sang Woo dan Joon. Ah memikirkannya saja membuat perut Sang Woo tiba tiba mulas.
“Hyung, sungguh aku grogi.” Sang Woo berbisik ditelinga Joon saat mereka berjalan memasuki court.
“Tenanglah Jim, kalah menang itu biasa.”
Sang Woo menatap Joon tak percaya tidak seperti biasanya Joon menjawabnya begitu. Apa lelaki itu sama gugupnya dengan dirinya? Ah tentu saja, mereka pernah bertemu dan selalu dimenangkan pasangan Indonesia. dari 3 pertemuan tiga tiganya dimenangkan Arsen dan Rian.
Sedangkan Joon berusaha menenangkan dirinya setenang mungkin. Ia tau ia tidak boleh marah pada Sang Woo atau itu akan mengakibatkan permainan mereka jelek dan performanya menurun. Oleh karena itu ia mengeluarkan kalimat lembut guna menenangkan Sang Woo.
“On my left Dejan Saputro, Mohammad Ahsan, Indonesia. and on my right Min Joon, Park Sang Woo, Korea. Min Joon to serve to Dejan Saputro, play.”
Permainan partai final dimulai dengan serve pertama yang dilayangkan Min Joon kearah Rian. Serve pendek yang berhasil dibaca Dejan hingga lelaki itu memukul bola pelan didepan net dan menghasillkan bola bergulir yang membuat Sang Woo mengembalikan bola tanggung pada pasangan Indonesia dan...
Bam!!!
Sebuah smash keras berhasil dilancarkan Mohammad Arsen tepat ditengah tengah lapangan permainan Min Joon dan Park Sang Woo. Skor pertama berhasil diraih pasangan Indonesia lewat strategi net smash yang dikembangkan Rian.
“Indonesia...prok...prok...prok...prok.” gema dukungan dari penonton terus bergulir menambah semangat pasangan Arsen Dejan dan ketegangan Joon Sang Woo.
Kendali permainan terus dipegang pasangan Indonesia hingga berhasil meraih kemenangan di game pertama
dengan skor 21-16. Memasuki game kedua, pasangan Korea menjadi sedikit lebih tenang dan tidak larut untuk mengikuti permainan Arsen dan Rian.
Kedudukan sama imbang 19-19. Kali ini Dejan yang akan melakukan serve mengarah pada Sang Woo. Serve dilakukan menggunakan pergelangan tangannya dan mengarah kearah belakang, dan Sang Woo mati langkah. Flick service yang dilakukan Dejan menghasilkan satu poin.
20-19. Kali ini Joon dan Sang Woo bahkan sudah hampir kehilangan konsentrasi karena sedang berada didalam kedudukan match point. Berusaha lebih fokus, Joon mengembalikan smash tajam Arsen pelan kearah depan dan bergulir di net, membuat kedudukan imbang 20-20.
“Eak... Hu... Eak... Hu... Eak... Hu...”
Bahkan teriakan Eak dan Hu dari penonton mampu menekan mental Sang Woo dan Joon. Yah, penonton Indonesia akan berteriak Eak setiap bola dipukul oleh pasangan Indonesia dan Hu ketika bola dipukul oleh lawan. Dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi siapapun yang bermain di Indonesia dan melawan pemainnya.
Hingga akhirnya...
Sekali lagi, pengalaman dan ketenangan bermain serta keberuntungan masih berpihak pada pasangan Indonesia. Dengan kecekatan permainan depan net dan smash tajam, mereka berhasil meraih kemenangan sekaligus mematenkan diri sebagai juara Indonesia Open tahun ini.
“Hyung, mianhae.”
Joon tersenyum lemah, kecewa? Tentu saja, ia bahkan sangat menargetkan untuk juara disini. Ia ingin sekali merasakan atmosfer dan kebanggan ketika menjadi juara di Indonesia Open, namun ia masih belum berhasil.
“Gwenchana, mereka memang masih tangguh sekali.”
Mereka berjalan bersama menuju podium juara untuk melaksanakan winning ceremony. Senyum masih belum
terkembang sempurna diwajah Joon dan Sang Woo. Mereka masih merasa kesal ketika kalah dengan mudahnya dari Arsen dan Dejan.
Setelah winning ceremony mereka turun dan berjalan menuju player area untuk membersihkan diri dan mempersiapkan diri kembali ke hotel. Mereka berjalan pelan melewati beberapa rombongan fotografer dan tepat tentu saja melewati fotografer idaman Yoongi.
Sang Woo mengedikkan dagunya kearah Anna yang sedang berbicara sambil menunjukkan kameranya pada dua orang atlit muda didepannya. Jeon Yoo Seop dan Jeremia Will.
“Ehem...”
Joon berdehem untuk memecah keasyikan mereka bertiga.
“Ah, Joon hyung.” Yoo Seop menyapa pertama kali.
“Hai Joon hyung?” Jeremia menyapa agak ragu.
Joon tersenyum pada Jeremia dan Yoo Seop. Lelaki itu memberi isyarat lewat matanya kalau ia ingin berbicara berdua dengan Anna dan Yoo Seop mengerti. Ia mengajak Jeremia berlalu dari hadapan Anna dan Joon.
Anna tersenyum menatap Joon. “Kau hebat meski tak menjadi juara.” Ia mengacungkan kedua jempolnya.
Joon terkekeh pelan. “Benarkah?”
“Tentu saja, aku tidak akan pernah salah mengidolakan pemain. Kedua idolaku bahkan bertanding difinal tadi. Karena itu, berikanlah aku tanda tanganmu oppa.”
Joon tersenyum lucu memandang Anna. Entah kenapa dengan melihat Anna tersenyum membuat semua kekecewaannya menguap entah kemana, dan juga bebannya terasa lebih ringan.
“Boleh saja, tapi sebagai gantinya berikan hatimu untukku. Otte?”
“Kau bahkan sudah tau jawabannya oppa.”
Anna menekankan setiap perkataannya dan wanita itu tersenyum sesudahnya.
"Bagaimana kabarmu?" Anna mengalihkan pertanyaan Joon dengan bertanya kabarnya.
"Aku baik, tapi tak sebaik jika kau menerima perasaanku.. Ayolah, beri aku alasan kenapa kau menolakku?" Joon menatap Anna tajam dan Anna bergidik ngeri dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
"Ah, oppa, kau suka coklat yang aku berikan? kalau kau mau aku akan berikan lagi." Anna kembali memotong ucapan Joon. Ia sudah berjanji pada ibunya untuk melupakan perasaannya.
"Kenapa kau selalu memotong atau mengalihkan pembicaraan tentang perasaanku Anna?"
"Kenapa juga aku harus membahas sesuatu yang tidak akan ada kejelasannya, tidak ada masa depannya.. Untuk apa oppa?" Anna berkata tegas dengan mata yang sedikit berkaca. Ia berusaha menahannya sedemikian rupa agar tak jatuh. Yah, ini keputusannya dan ia harus kuat.
"Apa salahnya jika kita hidup bersama dengan agama masing-masing?"
Anna menatapnya terkejut dan tertawa sumbang. "Aku lebih baik tidak menikah daripada harus melakukan itu oppa. Aku berpegang teguh dengan agamaku dan kau juga seharusnya begitu. Aku yakin agamamu juga tidak mengizinkannya bukan? fikirkan eomma dan appamu."
Joon terdiam. Ia kehabisan kata dan hanya bisa mengangguk. Sejurus kemudian ia menatap Anna dan berkata lirih.
“Tunggulah aku Anna. Aku memang tidak bisa menjanjikan apapun, tapi setidaknya hingga aku berhasil meyakinkan diriku, kumohon tunggulah aku.”
Jelas, kali ini Anna mendengarnya dengan jelas karena Joon mengucapkannya dengan suara yang dapat Anna
dengar, bukan sekedar bisikan lagi. meski logikanya menolak, hatinya tetap ingin menyetujuinya.
“Oppa, aku...”
*©®*