Our Destiny

Our Destiny
Coklat dan Biografi



Sesampainya dikamar hotel, Joon  kembali membuka paper bag tadi dan menemukan 3 buah buku dengan desaign yang berbeda disetiap bahasanya. Oranye untuk biografi bertuliskan hangeul. Biru untuk tulisan bahasa Indonesia dan Hijau untuk biografi dengan bahasa Inggris.


“Anna mengirimkan biografi dengan 3 bahasa hyung?”


Joon  mengangguk “Iya, padahal aku hanya butuh yang oranye, karena aku tak paham bahasa dan inggris.”


“Terima saja, lagi pula kan itu tentang dirimu.” Sang Woo menambahkan.


Sang Woo mengambil satu biografi dan mulai membuka lembar per lembar biografi itu. Seketika senyum mengembang manis diwajahnya. Ia melihat fotonya melompat tinggi seolah akan melakukan smash. Foto itu terlihat natural sekali dan Sang Woo menyukainya.


“Hyung, kenapa aku tampan sekali disini. Ah, Anna memang hebat.”


Joon  mengambil tempat dan duduk disebelah Sang Woo.


“Mulut membuka lembar dan mata yang seolah terpejam itu kau bilang tampan?”


Seketika senyum yang terkembang diwajah Sang Woo surut. Lelaki itu menatap Joon  dengan tatapan membunuh!


“Ya hyung! kau lihatlah baik baik. wajahku setampan ini dan kau tak mengakuinya?”


“Memang! Sudahlah aku mau mandi.”


Joon  beranjak dari duduknya dan menyambar handuk yang sudah ia siapkan diatas kopernya. Kemudian lelaki itu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Jadwal latihan yang lumayan di Singapore kali ini, terlebih selama di Korea ia harus membagi jadwal latihan dan pembuatan biografi.


“Pantas saja Anna menolakmu! Mulutmu tak ada manis manisnya sama sekali.”


Sang Woo melanjutkan melihat biografi Joon. Ia kembali menoleh kedalam paper bag untuk menemukan biografi


dengan bahasa inggris. Namun tiba tiba perhatiannya teralihkan dengan satu pack coklat yang berisi 10 bar coklat.


“Anna sampai mengirim coklat sebanyak ini? Baik sekali.”


Dengan tak sabaran ia mengambil satu pack coklat itu dan membukanya. Ia menimbang nimbang rasa apa yang ingin dimakannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil satu bar coklat berwarna merah muda dan berdesainkan cabe.


“Chili?” Ah mungkin merk produsennya chili. Orang Indonesia memang kreatif dalam menentukan merk.” ucapnya tersenyum polos.


Dengan santai Sang Woo membuka bar coklat itu dan memakan sepotong coklat yang bermerk chili itu. Seketika


wajah putihnya berubah menjadi kemerahan dan lidahnya menjulur keluar. Coklat itu sangat pedas dan ia tak sanggup menahan pedas dilidahnya. Aneh saja, kenapa ada orang yang mau memproduksi coklat pedas!


“Wuaaa....hyung hyung tolong aku.”


Sang Woo berlari mengelilingi kamar hotel dan sesekali menggedor pintu kamar mandi dan berteriak memanggil Joon. Joon  yang memang sudah siap dengan kegiatan mandinya segera keluar dan terheran melihat Sang Woo yang berlari lari dikamar hotel.


“Sang Woo-ah, kenapa kau pemanasan disini? Dan juga apa kau tak lelah? Lebih baik kau mandi.”


Sang Woo semakin berteriak kencang mendengar jawaban polos Min Joon.


“Hyung!! aku ini kepedasan. Kenapa kau tak membantuku mencari cara menghilangkan pedas ini eoh.!”


Joon  berjalan kearah kulkas, mengambil sekotak susu putih dan memberikannya pada Sang Woo.


“Minum ini, susu putih bisa menghilangkan pedas.”


Sang Woo menyambar kotak susu itu dan meminumnya cepat. Setelah itu ia menaruh kotak susu itu diatas meja. Rasa pedas yang menyerangnya perlahan menghilang. Kemudian dengan santai ia menyambar handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.


“Sang Woo kau makan apa sampai kepedasan eoh?”


“Aku makan coklat chili yang ada di paper bag. Aku fikir nama produsennya yang chili, tapi ternyata rasanya hyung.”


“Sang Woo pabo.” Joon  tergelak menatap Sang Woo yang asal makan tanpa membaca merk dan bungkusnya dulu. Namun seketika hening, keduanya terdiam dan saling memandang.


“Yak Sang Woo berani beraninya kau memakan coklatku tanpa izin.”


Sang Woo yang menyadari bahwa sedang dalam bahaya berlari cepat kedalam kamar mandi dan menguncinya sebelum Joon  berhasil menangkapnya. Sang Woo takut saat Joon  marah, tatapan matanya seolah bersiap


untuk menerkamnya.


“Hyung mianhae.” teriaknya dari dalam kamar mandi.


“Sang Woo kau harus menggantinya!!!”


Joon  menggedor pintu kamar mandi namun tak ada respon dari Sang Woo. Lelaki itu sengaja menghidupkan seluruh keran yang ada disana agar tak mendengar teriakan Joon.


*©®*


Joon  memilih duduk disofa karena Sang Woo tak merespon gedorannya dipintu kamar mandi. Ia lebih memilih mengamati coklat yang dikirim Anna. Ada sekitar 10 bar didalam kotak itu. kenapa Anna mengirim banyak sekali? Ia meneliti coklat itu, ada rasa jahe, pedas, rendang, dark, white, greentea, chili, nut, strawberry, dan mango.


Ia mengambil satu coklat yang sudah dibuka dan dicicipi Sang Woo tadi. Meski ragu ia akhirnya menggigit ujung coklat itu. Seketika rasa pedas menjalar dimulutnya. Apa Anna bermaksud membunuhku? Coklat apa ini.


Namun berbanding terbalik dengan mulutnya, Joon  justru terus memasukkan sedikit demi sedikit coklat itu kemulutnya hingga habis 1 bar.


“Hah... hah... kenapa ini pedas sekali.”


Ia berlari menuju meja dan mengambil susu kotak yang diletakkan Sang Woo disana tadi dan menenggak habis susu yang ada didalamnya. Sang Woo yang selesai mandi menatap Joon  horor.


“Hyung, kau menghabiskan 1 bar coklat pedas itu?”


“Aish, kau benar benar! Bagaimana jika kau sakit perut? Kau tak ingat besok kita masih bertanding hyung?”


Joon  terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Sang Woo, bagaimana jika Joon  tak bisa bermain karena perutnya yang merajuk setelah ia menghabiskan 1 bar coklat pedas? Bukankah itu artinya ia harus walkover dan merelakan gelar juara singapore open ini?


Dan kekhawatirannya nyata. Ia merasakannya sejam kemudian. Perutnya memberontak seolah marah karena diisi makanan yang tidak sesuai oleh Joon.


“Sang Woo-ah, ottoke?”


*©®*


Joon  benar benar melakukan walk over keesokan harinya dan kehilangan kesempatan menjuarai Singapore Open. Karenanya di Indonesia besok ia harus juara agar poinnya tetap cukup dan membuatnya tetap berada di Top 10.


“Apa yang kau makan Joon ? Sudah tau kau sedang berada dalam turnamen, bukannya menjaga makan malah makan sembarangan.”


Coach Min datang melihat kondisi Joon. Lelaki itu terbaring lemah diatas kasur hotel dengan wajah yang semakin pucat dan mata yang sayu. Dari sore hingga tadi pagi lelaki itu sudah keluar masuk toilet lebih dari 10 kali. Dan dia terlihat sangat lemah karenanya.


“Aku hanya makan coklat, kukira tak apa...nyatanya malah kenapa napa.”


“Lain kali perhatikan makanmu Joon -ah.”


“Ne appa.”


Coach Min tersenyum haru memandang Joon  yang sudah tak sungkan lagi memanggilnya appa. Ia sangat senang karena akhirnya kesabarannya berbuah manis. Ia juga sangat berterimakasih kepada eomma Joon. Walau wanita yang sangat dicintainya itu tak mau kembali padanya setidaknya ia masih mau membantunya


untuk dekat dengan Joon.


Yah, eomma Joon  memang memaksa Joon  bermain badminton agar kelak Joon  bisa menjadi pemain profesional, masuk kepelatnas dan dilatih oleh appanya. Dengan begitu sang appa memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dan Joon.


“Geure, istirahatlah yang banyak karena minggu depan kau harus juara. Jangan kecewakan fans Lee yongdae yang sudah beralih padamu di Jakarta besok.”


“Ne appa, gumawo.”


Coach Min tersenyum dan berlalu meninggalkan Joon  dan menyuruhnya untuk istirahat. Sungguh ia sangat iba melihat kondisi Joon  yang lemah tak berdaya saat ini.


Sepeninggal Ayahnya, Joon  memutuskan untuk memejamkan matanya. Ia ingin tidur karena sungguh saat ini ia sangat mengantuk. Sakit perut yang dideritanya membuatnya harus bulak balik kamar mandi sampai tidak tidur. Dan juga saat ini ia merasa tubuhnya lemah sekali.


Baru saja Joon  akan terbang menuju alam mimpi, dering telfon mengganggunya. Ia berusaha mengabaikannya


karena sungguh ia tak mempunyai sisa tenaga lagi untuk meraih smartphonenya yang terletak diatas nakas disebelah tempat tidurnya itu.


Namun sipenelfon tidak menyerah, hingga akhirnya Joon  berusaha bangkit dan mengambilnya meski susah


payah. Diliriknya nama penelfon disana dan seketika ia langsung bangkit dari tidurnya.


Caltha’s Calling


Dengan semangat yang menggebu ia menggeser layar handphone itu dan menempelkannya ketelinganya.


“Joon  oppa, kudengar kau WO... apa kau sakit?”


Joon  tersenyum senang karena Anna masih mengkhawatirkannya. Joon  menghela nafasnya dan ia berusaha menjawab Anna dengan suara selirih mungkin.


“Ah... aku... aku sakit sekali Caltha...uhuk.”


“Kenapa kau terbatuk oppa? Bukankah dari berita yang kudengar kau diare?”


Joon  terdiam, ah betapa bodohnya akting yang diperagakannya.


“Ini karena aku terlalu lemah hingga terbatuk batuk Caltha.”


“Mianhae oppa, ini pasti karena coklat yang kukirim kan? Apa kau memakan coklat pedas?”


“Iya Caltha! Aku terpaksa menghabiskannya agar Sang Woo tak memakan coklatku lagi.”


Anna terkekeh diseberang telfon.


“Salahmu sendiri! Kenapa jadi pria pelit. Berbagilah coklat itu dengan Sang Woo oppa, karena aku akan memberimu coklat lagi di Indonesia besok.”


Joon  tersenyum senang. Ingin rasanya ia melompat saat ini juga, namun mengingat kondisinya yang tak


memungkinkan membuatnya hanya bisa tersenyum sambil menepuk nepuk pahanya girang.


“Benarkah? Sekalian juga taruh hatimu dicoklat itu Caltha.”


“Oppa kau mulai lagi. berhentilah membahas itu.”


“Caltha-ya...”


“Oppa Annyeong, istirahatlah yang banyak.”


Anna memutuskan sambungan telfon itu cepat. Bahkan Joon  belum sempat membalas ucapannya.


Susah sekali mendapatkanmu. Aku harus bagaimana?