
Setengah jam kemudian…
Ayah Rahmat keluar dari ruangan Dokter dengan sedikit rasa penyesalan. Ternyata, harapan mereka hanya sedikit ternyata yang dapat mereka lakukan. Darah sang ayah tak cocok sedangkan darah sang ibu cocok tapi hanya dapat di lakukan sedikit saja. “ bagaimana ? apa semuanya akan baik-baik saja ? “ kata Ayah Giska.
“ Tidak sepenuhnya karena darahnya masih kurang. Katanya kita perlu lebih banyak lagi. Darah ibunya tidak dapat di ambil karena keadaannya juga sedang turun darah. Jadi, kita harus mencari pendonor yang lain. “ kata ayah Rahmat yang kemudian duduk di kursi.
“ kalau begitu, kami berdua akan mencobanya. Ayo Giska ! “ kata Ayah Giska. “ Ya ayah “ kata Giska.
Keduanyamasuk ke ruangan Dokter. Beberapa menit keduanya keluar lagi. Namun, tak ada hasilnya. Ketiga orang ini lalu berjalan menuju kamar inap Rahmat dan lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia di kamar itu. Rahmat masih terbaring lemas dengan wajah yang memucat. Matanya yang tertutup serta hembusan nafas itu yang sedikit terdengar.
“ Giska, sebaiknya kau pulang saja. “ kata Ayahnya. Giska menggeleng, ia masih ingin di rumah sakit menemani Rahmat yang sedang kritis. “ Tidak Giska, kau harus pulang. Biar paman dan ayahmu saja yang menunggu Rahmat. Kau pulang dan beristirahatlah “ kata Ayah Rahmat. “ Baiklah “ kata Giska.
Sepulang dari Rumah Sakit ia harus bersiap lagi menghadapi Maya. “ Ya ampun…” kata Giska mencoba untuk menenangkan diri agar tidak terlalu emosi lagi. Setelah masuk ke dalam rumah, keadaan sepi. Keluarga Ali sepertinya sedang tidak ada di rumah. Giska jadi celingak-celinguk sendiri. dia pun berjalan perlahan mengelilingi rumah Ali yang luas itu. “ Aku ingin tahu bagaimana rasanya berkeliling di rumah calon suamiku ini “ kata hati Giska.
Beberapa foto ia lihat berjajar dengan rapi. Seni kriya patung pun ada dan menambah keindahan rumah itu. Di tambah dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan cantik yang sepertinya harganya cukup mahal. Tanpa Giska sadari, ternyata ayah Ali sedang ada di rumah dan ternyata tengah memperhatikan Giska yang sedang mondar-mandir melihat segalanya yang ada di rumah itu.
Saat Giska tengah melihat foto anak kecil yang sedang memegangi piala chef junior, tiba-tiba dari samping Giksa “ itu adalah foto Ali saat ia menjadi juara chef junior. Umur dia waktu itu masih 10 tahun” kata ayahnya Ali.
“ Bagaimana keadaan temanmu Giska ? “ kata ayahnya Ali . “ Maksud paman Rahmat ? Ya dia saat ini sedang kritis. Paman, mohon bantuannya apakah darah paman bergolongan A ? Rahmat saat ini sedang membutuhkan transfusi darah “ kata Giska. Ayah Ali kemudian sejenak berfikir dan lalu…” paman tidak bergolongan darah A tapi AB. Paman tahu siapa yang bergolongan darah A. kalau tidak salah itu Ali juga bergolongan A, ibunya juga. Cuma, saat ini ibu sedang pergi ke luar kota mugkin ada sekitar 1 minggunya karena ada urusan pekerjaan yang harus di selesaikan “ kata ayah Ali. “ lalu bagaimana dengan Ali. Apa dia ada di rumah atau sedang pergi juga ? “ kata Giska mulai serius penasaran.
Ayahnya Ali menggeleng. “ Dia juga sedang pergi ke luar kota. Katanya mau mengantar Maya ke bandara. Lalu ia akan menjemput sepupunya di Bandung. Jadi, mungkin butuh waktu sekitar 4 hari untuk kembali lagi ke rumah “ kata ayahnya Ali. Giska pun mulai merasa cemas. “ lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ? Rahmat bagaimana ini ??!! “ kata Giska merengek lagi api tidak menangis.
“ Sekarang kita berdoa saja semoga akan ada yang mau bersedia mendonorkan darahnya untuk Rahmat. Kalau tidak ada juga yang mau maka terpaksa kita harus menunggu sampai Ali kembali lagi ke rumah. “ kata Ayahnya Ali. Giska mengangguk meskipun dalam hatinya sudah tersirat rasa khawatir dan berharap ia bisa menghubungi Ali secepatnya agar Ali bisa mengcansel dulu kesibukannya itu.
Sesampainya di kamar, Giska duduk lemas ke tempat tidur. Dia tertunduk sejenak dan sedikit berfikir “ apa aku harus menelpon Ali. Tapi, kalau dia marah bagaimana ? kalau dia sampai membuang handphonenya saat aku menelpon bagaimana ? tapi itu tidak mungkin di lakukannya. “ kata Giska.
Sementara di Rumah Sakit, Rahmat sedikit tersadar dan berharap saat membuka matanya meskipun sedikit, ia dapat melihat orang-orang yang ia sayangi. Tapi ia hanya bisa melihat ibunya, ayahnya dan paman Erik. “ Dimana Giska ? “ kata Hati Rahmat. Keluarga Rahmat yang menyadari bahwa Rahmat sudah tersadar, langsung memanggil Dokter. “ Dokter !!!!”.
Rahmat kembali tak sadarkan diri. Tubuhnya melemas lagi. Akibat dari kekurangan darah itu ia merasa pusing sehingga ia tak bisa melihat cahaya yang terlalu terang atau membuka matanya terlalu lama. Keadaan Rahmat masih sama saja tak ada perkembangan apapun. Meskipun ibunya sudah sedikit mendonorkan darah sampai ia rela sekarang ia pun di rawat, tapi tetap saja Rahmat masih kurang darah.
Giska yang sekarang ini sedang berada di kamarnya dan terus berfikir apa yang harus ia lakukan untuk bisa menyelamatkan jiwa sahabatnya itu, ia mulai merasa kebingungan. “ Tahu apa diriku ini ? berfikir serius sekali. Sampai sekarang belum menemukan solusi apapun sama sekali. Bagaimana sih ! Aduh…….kenapa dia ? kanapa harus dia yang memiliki darah yang cocok dengan Rahmat ? kenapa bukan aku ? atau ayah ? atau paman Ridwan ? Eu………sungguh menyebalkan ! “ kata Giska.