Our Destiny

Our Destiny
Hai, masa lalu



Suasana pagi yang sejuk dengan aneka warna bunga yang beragam. Di tambah burung-burung yang berkicauan dengan suara yang merdu nan indah. Kupu-kupu mulai beterbangan sambil menari mengikuti alunan angin yang sepoi-sepoi ada pula di antaranya yang tengah menghisap madu bunga.


Duduklah seorang wanita cantik yang teramat cantik. Dia memakai dress warna putih yang teramat anggun. Rambutnya yang di gerai. Sepertinya ia tengah menanti seseorang. Mungkin kekasihnya. Perempuan itu manis sekali, sampai ia beberapa kali tersenyum sambil melihat burung-burung yang beterbangan dan kupu-kupu yang tengah menghisap madu bunga.


Tiba-tiba ada yang menutup matanya dari belakang. Wanita itu dengan lembut menyentuh tangan pria itu dan merabanya. Lalu ia barkata dengan lembutnya. “ Ini pasti Erik”. Pria itu tertawa dan melepaskan tangannya dan lalu duduk di samping wanita itu. Keduanya saling bertatapan dan saling tersenyum penuh cinta.


“ Kau cantik sekali. Aku suka. Kau bidadariku dari surga.” kata Erik sambil terus memperhatikan wanita ini hingga wanita ini tertunduk malu.


“ Vira, hari ii aku ingin memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku.” kata Erik


Wanita itu yang ternyata bernama Vira menjawab


“ Tidak Erik. Jangan dulu. Aku belum siap”


Erik terdiam menatap Vira


“ hm…kau ini. Baiklah. Aku tunggu sampai kau siap saja.” kata Erik sambil memalingkan wajahnya.


Vira menatap Erik seperti penuh harap


“ Kenapa kau tidak langsung melamarku saja. Kau memperkenalkan aku pada orang tua mu saat melamarku. Itu ku rasa lebih baik “ kataVira


Pria itu kembali menatap Vira


“ Kau benar. Dengan begitu, keluargaku akan tahu keluargamu. Begitupun sebaliknya. Mengapa aku tidak kepikiran untuk itu. “ kata Erik


Vira tertawa sedikit


“ Kenapa tertawa ? apa ada yang lucu ?” kata Erik


Vira masih tertawa


“ Hey, hey !” kata Erik


“ Sebagai pria sejati, bagimana kau bisa tidak kepikiran untuk melamarku dan segera menikahiku ? apakah kau ini ingin hubungan kita hanya sebatas ini saja ? kau ini lucu sekali ! “ kata Vira


Erik pun tertawa, keduanya tertawa.


“ Ah…..benar, benar sekali. 10 poin untukmu. Wanitaku ini benar-benar pintar ya ?” kata Erik


Di rumah Erik


Ternyata tengah ada tamu untuk orng tuanya Erik yaitu keluarga Shely. Keluarga Shely adalah kerabat ataupun sahabat keluarga Erik. Keluarga Shely adalah keluarga besar yang bergelar lulusan kedokteran. Ayah Shely dan ibunya adalah sama-sama dokter. Nama dari masing-masing mereka adalah Yolan dan Devi. Anak kesayangan mereka adalah Shely. Wanita karir lulusan Universitas Amerika. Bukan hanya cantik tapi pintar pula. Gaya hidupnya yang mewah dan selalu di manja menjadikannya orang yang pilih-pilih, terutama pilihan dalam mencari pasangan. Dia memilih Erik. Menurutnya Erik adalah pria idamannya sejak kecil. Cekatan dan pekerja keras, ulet dan penyabar serta sangat menghargai perempuan.


Erik adalah anak dari keluarga koki. Ayah dan ibu Erik bernama Dahlan dan Ola. Erik adalah anak tunggal dari keduanya. Ia lulusan Universitas Indonesia. Luar biasa sekali kalau kedua keluarga ini bersatu, maka akan menjadi keluarga besar. Tapi di lain sisi, Erik tidak menyukai Shely. Dia lebih manyukai Vira. Wanita cantik meskipun dari keluarga yang sederhana, anggun, baik mandiri, apa adanya dan pintar masak lagi. Menurutnya Shely adalah wanita royal yang di khawatirkan akan menjadi wanita karir setelah menikah dan tidak bertanggung jawab sebagai ibu rumah tangga yang baik.


Namun sangat di sayangkan, dua keluarga ini berkumpul adalah untuk membicarakan mengenai perjodohan anak-anak mereka. Mau tidak mau dari pihak Shely ataupun Erik harus menyetujui.


“ Luar biasa ya ? anak- anak kita sekarang sudah besar, berpendidikan dan calon pekerja unggulan. Kalau kita bersatu, pasti semuanya akan menjadi lebih baik. Terutama keuangan kita. “ kata Ibunya Shely.


“ Entahlah jeng. Erik meskipun sudah besar, berpendidikan dan calon pekerja unggulan. Tapi, masalah jodoh dan cintanya kita tidak pernah ikut campur. Ya, bisa di bilang kita tidak pernah tahu apakah ia sudah punya pilihan atau belum. “ kata Ibunya Erik yag terlihat sangat tidak setuju dengan perjodohan ini. Ibunya Shely terlihat canggung. Ayah Shely yang melihat itu langsung angkat bicara


“ Ya, ya,ya. Tentu saja. Kami juga begitu. Tapi, Shely memang sudah lama mengenal Erik dan menyukainya. Apapun itu pasti ada solusinya kalau memang Erik sudah punya pilihan. “


“ Kalau begitu mari kita pecahkan jalan keluarnya. “ kata Ayah Erik


“ Tunggu dulu pokoknya. Jangan gegabah. Ayah tahu bukan bahwa Erik itu sudah dewasa ? dia pasti sudah punya pilihan. Biarkan saja ia memilih. Dia juga pasti tahu mana yang terbaik untuknya. Kalau di paksa dia bisa marah. Kalau sudah marah, apa yang akan kita lakukan ?” kata Ibunya Erik yang lagi-lagi menolak perjodohan ini.


Semuanya jadi terdiam. Terutama keluarga Shely yang merasa mereka sudah di buat kesal.


“ Kamu tidak setuju kalau anak kita di jodohkan ?” kata ibunya Shely


Ibunya Erik pura-pura tidak mendengar dan memalingkan wajahnya


“ Mengapa bisa begitu ? “ Kata Ibunya Shely lagi.


“ Mungkin ini hanya kesalah pahaman saja. Bagaimana kalau sekarang kita tanyakan saja dulu pada anak-anak kita apakah mereka siap untuk di jodohkn atau memang meraka sudah punya pilihan sendiri. dengan begitu, maka semuanya akan lebih jelas. “ kata Ayah Erik


Keluarga Shelly menjadi merasa lebih kesal lagi. Mereka merasa seperti di kacangin oleh keluarga Erik. Memang terlihat maksudnya bukan seperti itu. Tapi, keadaannya mendadak. Kalau mau di jodohkan seharusnya dari dulu. Agar setelah besar tidak terlalu terburu-buru. Kalau seperti ini kan kesannya seperti buru-buru dan memaksa. Tentu saja sebagai orang tua merasa khawatir pada anaknya dan juga akan merasa bersalah kalau sampai anak mereka menjadi marah karena itu semua.


Sementara Erik yang kini tengah berjalan berdua dengan Vira di Taman Kota, mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesranya.


“ Cinta itu luar biasa ya ? “ kata Vira


Erik tersenyum dan berkata “ ya “


“ Tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa cinta. Sekalipun ia hidup yatim piatu atau seorang pengemis. “ kata Vira


“ Lalu menurutmu apakah cinta itu ? “ kata Erik


“ Cinta itu adalah sesuatu yang tidak dapat di jelaskan. Ia ada dan terasa tapi tak dapat kau lihat bentuknya, hanya dapat kau lihat buktinya. “ kata Vira


“ Maksudmu ?” kata Erik. “ Maksudku adalah cinta itu seperti sesuatu yang ghaib. “ kata Vira. Erik tersenyum-senyum. “ Lalu menurutmu cinta itu apa ? “ kata Vira lagi pada Erik. “ Cita itu Kamu ! “ kata Erik. “ Ikh ……..!! kamu itu nyebelin banget sih….” Kata vira. Erik tertawa.


“ Lagian jangan lebay deh ngebahas tentang cinta. Masih kecil juga ! “ kata Erik yang kemudian menarik hidung Vira


Begitulah CINTA. Mengalir apa adanya. Berada di manapun. Kapanpun dan walau bagaimanapun. Itulah CINTA, bahkan alam pun mencatatnya sebagai sejarah suci yang akan terus mengalir sampai akhir dunia ini.


Sepulang dari pertemuannya dengan Vira, Erik di sambut oleh keluarganya dan keluarga Shely yang ternyata masih bertamu di rumah Erik. Melihat ada keluarga Shely di rumahnya, Erik terdiam lalu menghela nafasnya sebentar. Erik tersenyum lalu menghampiri semuanya dan bersalaman. “Apa kabar kamu Erik ? Tante sudah lama sekali ingin bertemu denganmu. Kamu semakin tampan saja.” Kata ibunya Shely. Erik lagi-lagi tersenyum. “Ya tante. Terima kasih. Tapi, Tante berlebihan.”kata Erik.


Taklamakemudian saat semuanya sedang asik mengobrol, Shely datang. Ia keluar dari mobil mewahnya yang berwarna merah muda. Ia memakai kacamata hitam. Cantik sekali. Bahkan, tidak kalah cantiknya dengan Vira. Hanya mungkin cara berpakaiannya saja. Dari cara berpakaiannya, Shely suka dengan gaya artis-artis korea yang modis dan elegan.


Ia masuk ke rumah Erik dan…semuanya terdiam saat Shely sudah duduk di samping ibunya. Semuanya terlihat canggung-canggung. “Sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa kalian semua diam ?” kata Shely. Erik tersenyum kesal dan lalu berbicara pada Shely dengan tenangnya “ Kau mau melamarku bukan ? jadi, tolong katakan sesuatu”kata Erik. Mendengar itu, mata Shely memerah. “ Apa maksudmu ? tak ada wanita yang mau melamar pria. Yang ada pria yang melamar wanita.”kata Shely.


“ Kalau begitu, kenapa kau tidak tunggu saja di rumahmu ? kau menunggu sampai aku datang ke rumahmu dan melamarmu. Kenapa kau datang ke sini ?” kata Erik. Shely menatap Erik penuh haru. Orang tuanya Shely saling menatap. “Apa kau juga menyukaiku ?” kata Shely. “Jangan tanyakan itu. Kau pulanglah dan tunggu jawaban dariku. Jika aku menyukaimu juga aku pasti akan segera melamarmu. Kalau tidak, maka aku tidak akan melamarmu. Jangan tunggu aku lagi jika sudah lewat dari 3 minggu. Kau paham ?”kata Erik yang kemudian pergi masuk ke kamarnya. Shely mengangguk dan menangis di pelukan ibunya.


Ibunya Erik melihat ke arah Erik yang masih berjalan membelakanginya. “Apa semua sudah jelas ? kalian tinggal menunggu lamaran kami untuk putrimu”kata Ayahnya Erik. Semuanya tersenyum bahagia. Sementara Erik yang masuk ke kamarnya langsung terdiam berpikir “ Apa yang harus aku lakukn sekarang? Bagaimana dengan Vira. Aku sangat mencintainya.”kata Erik di dalam hatinya.


Ia kemudian terbaring di tempat tidurnya dan berpikir sekali lagi untuk memastikan keputusan hatinya. Dalam pikirannya terlihat Shely yang sedang berlari manghampirinya dan juga melihat Vira yang tengah tersenyum di kamarnya lalu terpejam dan berdoa. Erikpun membuka matanya dan tersenyum “Aku rasa aku tahu jawaban semua ini. Aku akan memilihnya” kata Erik yang kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri adiknya yang tengah belajar di meja belajarnya.


“Hey dik”kata Erik sambil duduk di samping adiknya yang bernama Diki. Diki adalah adiknya satu-satunya yang saat itu masih berumur 12 tahun. “Kenapa ? kau datang ke sini pasti hanya untuk menggangguku saja. Pergilah kak! Aku sedang sibuk.” Kata Diki. “Kau pelit sekali pada kakakmu ini. Aku ini kakakmu. Apa salah kalau aku datag ke sini?”kata Erik


Diki melihat wajah kakaknya dan lalu… “Baiklah apa maumu ? kalau tidak penting, aku akan melapor pada Ayah”kata Diki. Erik tertawa sedikit. “Kau ini..(Sambil mengusap-usap kepalanya Diki) ku sedang kebingungan menentukan pilihan hati. Kau tahu, ada 2 wanita kini yang ingin bersamaku. Dua-duanya sangat cantik,baik, pintar masak dan satu lagi. Kakak menyukai keduanya”kata Erik


Mendengar itu, Erik terdiam sejenak dan tak lama kemudian tersenyum. “Pikiranmu sama denganku. Aku mencintainya lebih dari wanita yang lain. Aku sudah lama juga bersama dengannya. Untuk apa aku memilih wanita yang lain” kata Erik. Diki mangut-mangut. “Kalau sudah, pergilah. Aku sedang belajar. Kau menggangguku saja. Sudah sana !”kata Diki


Malam harinya, saat Vira sedang menonton tv tak lama kemudian Erik menelponnya. “Hallo” kata Vira. Erik tersenyum di sana. “Hai sayang”kata Erik.Vira tersenym pula dengan rasa penuh cinta. “Apa ? kau rindu padaku ya ?”kata Vira. “Dengarlah. Aku akan mengatakan sesuatu yang serius padamu. Aku tidak akan bercanda untuk yang satu ini.”kata Erik.


“Baiklah. Aku akn mendengarkannya. Katakanlah dengan benar”kata Vira. “Aku mencintaimu. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu. Demi cinta yang suci ini yang sudah di anugrahkan oleh Allah padaku. Aku sampikan padamu, aku berjanji akan segera melamarmu. Aku memohon padamu untuk menanti aku sampai aku melamarmu nanti. Tidak akan lama lagi. Jangan cemas bila aku terlambat melakukannya, karena saat ini aku sedang mengejar karirku agar aku segera mapan dan segera pula melamarmu. Aku akan menjadi satu-satunya pria yang akan menunjukan padamu apa itu kebahagiaan. Aku mohon sekarang,untuk meyakinkan hatiku. Katakanlah kalau kau mencintaiku juga. Aku akan semakin semangat saat mendengarnya.”kata Erik


Mendengar itu,Vira menangis terharu. Ia tak percaya saat ini ia sedang berbicara dengan calon masa depannya yang begitu tulus di rasakannya. Ia terdiam merasakan jantungnya yang berpacu. “Vira, aku mohom katakan sesuatu” kata Erik. Vira menangis tersedu-sedu. “Hey jangan menangis sayang. Apa aku menyakitimu ?” kata Erik lagi. Vira pun menjawab sambil menangis “Tidak Erik. Aku tidak merasa kau menyakitiku. Aku bahagia Erik. Aku menangis karena merasa sangat bahagia. Aku…aku…mencintaimu juga. Dan aku ingin kau segera melakukannya. Percayalah aku akan selalu menantimu sampai kau benar-benar siap melamarku. Sebagai wanitamu yang terbaik, aku akan selalu siap kapanpun jika kamu mau datang melamarku. Aku tunggu janjimu. Dan pada saatnya nanti, aku kan menagih janjimu itu, jika kau melupakannya.”kata Vira.


Keduanya sama-sama menangis bahagia. “Pilihan hatiku hanyalah dirimu Vira. Aku akan selalu memilihmu. Karena hanya hatimu yang sudah mampu mengambil hatiku dengan cintamu”kata Erik. Vira tertawa. “Kata-katamu lebay sekali.” kataVira. Keduanya tertawa lagi meskipun air mata mereka masih mengalir karena terbawa suasana hati yang begitu bahagia.


Shely dan keluarganya kini tengah berkumpul kembali di ruang tamu, karena secara tiba-tiba ada yang melamar Shely yaitu Ridwan. Ridwan adalah seorang pria lulusan London yang bergerak di bidang kesehatan ia bekerja sebagai Doktor yang cukup handal di London. Ia kembali untuk melamar Shely. Ia melamar Shely begitu mendadak, sehingga taka a persiapan sama sekali dari Shely untuk menyambut Ridwan.


Erik masuk ke kamar Ibunya dan bercerita ahwa ia sudah menemukan pilihan hatinya. Ia bercerita begitu panjang lebar. Ibunya terlihat mangut-mangut. Sepertinya ibunya Erik sangat setuju dengan keputusan Erik. Saat seperti itu, Ayah Erik tak sengaja lewat dan mendengar percakapan anak dan istrinya ini. Ia mendengar… “Ibu, Erik akan melamarnya. Sesegera mungkin aku harus melamarnya. Aku tidak mau ia kecewa.”kata Erik. “Ya,nak. Ibu akan mengantarkanmu nanti. Ibu juga jadi tidak sabar.”kata ibunya Erik.


Mendengar itu, Ayahnya Erik tersenyum dan lalu duduk di ruang tv kemudian menelpon seseorang. Ia menelpon keluarga Shely. Saat itu, keluarga Shely masih menunggu jawaban Shely atas lamaran Ridwan. Tak lama kemudian handphone ayahnya Shely bordering, ia pun mengangkatnya. “Hallo”kata ayahnya Shely. Entah apa yang di katakan oleh ayahnya Erik, tapi terlihat dari raut wajah ayahnya Shely sepertinya kabar yang baik. Ia terlihat bahagia.


Sesegera mungkin ia menghampiri Shely dan membisikan sesuatu ke telinga Shely. Shely tersenyum dan lalu… “Maaf Ridwan, paman dan bibi. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kalian, tapi aku sudah punya calon. Calon suami. Tapi, percayalah di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dariku dan mau menikah denganmu.”kata Shely. Mndengar itu, keluarga Ridwan terdiam. Terutama Ridwan yang merasa cintanya sudah di tolak dan memang sudah di tolak pun memasang raut wajah yang begitu sedih. Matanya memerah dan tangannya mengepal.


“Ibu,Vira pasti merasa sangat senang karena ibu merestui kami. Aku jadi sangat tidak sabar inginsegera melamarnya” kata Erik. Ibunya tersenyum. Ibu dan anak inipun berpelukan.


3 Minggu kemudian…


Shely termenung di kamarnya. “ ini sudah 3 minggu. Besok akan berlalu. Jika malam ini ia tidak datang untuk melamarku, berarti ia tidak akan melakukannya.”kata hati Shely. Tak lama kemudian ibunya masuk “Shely, kamu kok tidak bergabung dengan ibu, ayah dan adikmu di meja makan. Ayo nak kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar” kata ibunya. Shely menggeleng. “Bu, katanya Erik mau melamarku ? mana ? sampai saat ini ia belum datang juga. Aku sangat khawatir tentang hal ini”kata Shely. Tak lama kemudian ayahnya juga masuk “Bersabarlah. Ayah yakin nanti malam ia akan datang”kata ayahnya. Shely mengangguk dan lalu memeluk ibunya. “ Sudahlah ayo kita makan dulu. Makanannya keburu dingin”kata ayahnya Shely.


Sore harinya. Saat Erik tengah bekerja di meja kerjanya, ayahnya menghampiri dengan tergesa-gesa. “Erik, sampai kapan kamu mau bersantai? 3 minggu akan segera berlalu. Kau harus segera malamarnya. Katanya kamu mau segera melamarnya.”kata ayahnya Erik. “Maksud Ayah apa ? melamar siapa ?” kata Erik. “Siapa lagi kalau bukan Shely. Ayah sudah beritahukan padanya kalau kamu akan segera melamarnya”kata Ayahnya. “Ayah tahu dari mana aku akan melamarnya ? Aku tidak pernah bilang apapun pada Ayah”kata Erik sambil berdiri menghadap pada ayahnya.


Ayahnya Erik menggeleng. “ Kau pasti sudah lupa. Kau bercerita pada ibumu hari itu. Kau bilang kau akan segera melamarnya.”kata ayahnya. Mendengar itu, expresi Erik terlihat marah dan lalu ia berjalan meninggalknan ayahnya, ayahnya mengejarnya. “Ayah pasti salah paham. Pasti Ayah tidak mendengar semua yang aku ceritakan pada ibu. Kenapa ayah tidak tanyakan dulu padaku?”kata Erik yang kemudian berhenti di depan kamarnya dan menghadap ayahnya kembali. “ Maksud kamu salah paham apa?”kata Ayahnya.


Erik terdiam sejenak meredam kemarahannya. “Aku berniat segera melamar Vira. Itu yang aku ceritakan pada ibu. Aku mencintai Vira Ayah. Dan ayah tahu apa kesalahan ayah sekarang, patal sekali. Terserah. Itu salah ayah. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau sampai keluarga Shely marah. Ayah jelaskan sendiri. yang jelas, aku tidak akan melamarnya.”kata Erik yang kemudian masuk ke kamarnya.


Mendengar itu, raut wajah ayahnya Erik terlihat marah, kecewa dan sakit hati. Ia menghela napasnya sejenak lalu menelpon keluarga Shely kembali. “Hallo”kata ibunya Shely saat mengangkat telpon dari ayahnya Erik. Entah apa yang di katakan ayahnya Erik. Yang jelas, raut wajah ibunya Shely menjadi marah. ia tak berbicara apapun lagi dan langsung menutup handphonenya. Ia kemudian berjalan ke arah kamar Shely dan setelah berada di kamar Shely, keduanya bertatapan. Shely menghampiri ibunya dan lalu menangis di pelukan ibunya.


Sementara Ridwan yang waktu itu di tolak cintanya oleh wanita yang di cintainya yaitu Shely, kini termenung pula di meja kerjanya. Ia terdiam seperti melamun. Pandangan matanya kosong sedangkan tangannya bergerak-gerak memainkan pensil yang ia pegang. “Aku tidak mengerti kenapa kau menolakku. Setahuku kau bilang kau belum punya siapapun. Kau masih menunggu seseorang untuk melamarmu. Tapi kenapa ?saat aku melamarmu, kau malah menolakku. Aku sakit hati Shely. Aku tidak rela kau menjadi milik orang lain. Sampai kapanpun, aku akan mengejarmu. Kita lihat saja siapa di antara kita yang akan menang.”kata Ridwan.


Malam harinya, Erik datang ke rumah Vira. Sesaat setelah Vira membuka pintu “Apa kau siap untuk makan malam denganku ? aku akan mengajakmu makan malam di Restaurant Itali. Kau mau ?” kata Erik. Vira tersenyum dan mengangguk. “ Kau sangat romantic Erik. Aku sangat suka tingkahmu ini. Tapi, kau tidak pernah melakukan ini pada wanita manapun bukan ?” kata Vira. Keduanya tertawa. “Aku melakukannya juga pada guru cantik itu”kata Erik. Keduanya tertawa lagi.


Guru cantik yang di maksud oleh Erik ternyata tengah berada di Restaurant Itali juga bersama suaminya. “Mala mini kau cantik sekali” kata suaminya. “Terimakasih. Kau juga sangat tampan” kata guru cantik itu.


1 tahun kemudian……


Telah berdiri sebuah Restaurant mewah yang bertuliskan CINTA. Tepat di depan pintunya ada tulisan ‘open’. Tengah ada banyak orang yang sedang makan di sana. Dari kalangan orang-orang biasa sampai orang-orang penting yang jabatan mereka di atas rata-rata. Restaurant besar nan mewah itu ternyata di pimpin oleh seorang pria tampan yang sedang mamasak di dapur. Ia menjadi kepala koki sekaligus kepala di Restaurant itu, Erik. Ia sudah menjadi pria yang mapan di usia mudanya. Usahanya berbulan-bulan untuk menciptakan usaha sendiri dari awal ternyata tidak sia-sia.


Kini, ia berjuang untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dari usahanya. 4 bulan terakhir ini ia sudah mendapat keuntungan sekitar 60 juta rupiah perbulannya. Bisa di hitung ia berhasil mendapatkan keuntungan yang melimpah yaitu sekitar 240 juta setelah Restaurant itu berdiri sampai sekarang. Akhirnya ia menyatakan dirinya sudah siap untuk melamar Vira. Wanita yang begitu di cintainya. “Vira, tunggu aku malam ini” kata Erik sambil mengetik sms di handphonenya dengan kata yang sama seperti yang ia ucapkan barusan.


Vira tersenyum bahagia saat melihat pesan dari kekasihnya. Ia meloncat-loncat di tempat tidurnya. Dan berteriak “Aku siap Erik..aku mencintaimu…”. Erikpun tersenyum bahagia dan berharap semuanya sesuai dengan rencananya. “Aku datang Vira, aku akan memenuhi janjiku malam ini juga”kata Erik.


Seorang sahabat Erik yaitu Ridwan datang mengunjunginya ke Restaurant. Ia berjalan menuju ruangan kepala Restaurant dan lalu membuka pintu.Erik yang menyadari ada yang membuka pintu langsung berbalik badan dan keduanya bertatapan sambil tersenyum. Merekapun berbincang di sebuah meja makan khusus.


“Kapan kau akan menikah?”kata Ridwan. Erik meminum minumannya. “Menurutmu kapan ? Bagaimana denganmu?”kata Erik. Ridwan tertawa. “Satu tahun yang lalu aku di tolak oleh seorang perempuan yang begitu aku cintai. Aku melamarnya. Tapi dia bilang dia sudah punya calonnya. Nyatanya, sampai sekarang ia masih di luar negeri dan belum menikah. Entahlah bagaimana supaya aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku sangat menginginkannya menjadi istriku” kata Ridwan.


“Waw. Berarti kau tidak merencanakannya sebelumnya.”kata Erik. Ridwan tersenyum sambil mangut-mangut. “ malam ini aku akan melamarnya. Kekasihku. Aku dengannya sudah merencanakan ini sejak dulu. Aku memintanya untuk menungguku sampai aku benar-benar mapan. Jika sudah mapan aku akan melamarnya. Maka dari itu, sekarang aku sudah mapan dan akan melamarnya malam ini juga.”kata Erik. “Kau pria sejati Erik. Sebagai temanmu, aku sangat bangga padamu. Bagaimana dengan perasaan kekasihmu itu ? ia pasti sangat bahagia. Dia adalah wanita yang beruntung.”kata Ridwan. “Aku harap begitu” kata Erik. Keduanya saling tersenyum.


Sementara Shely yang kini sedang bekerja di luar negeri, ia kini tengah termenung di depan tv nya. Saat melihat adegan di film yang romantic, ia perlahan menangis. “Kau sangat jahat padaku Erik. Satu tahun telah berlalu dan kamu sama sekali tak pernah mencariku. Tak pernah ada kabar darimu. Aku merindukanmu” kata hati Shely.


Malam harinya, Erik datang dan melamar Vira. Ia menepati janjinya. Keluarga Vira begitu senang menyambut kedatangan sang calon menantu yang begitu tampan dan mapan. Saat bekumpul, terlihat dari raut wajah Vira dan Erik yang begitu senang. Meskipun Vira hanya tertunduk karena malu, tapi Erik tahu Vira merasa sangat bahagia. Tapi, ia juga tahu bagaimana karakter wanitanya ini. Pemalu. “Aku ingin mempersuntingmu Vira”kata Erik. Mendengar itu, keluarga Vira bersorak sedangkan Vira perlahan menangis dan berlari ke kamarnya. Ayahnya Vira tertawa “Biarlah, dia memang anaknya sangat pemalu” katanya. Erik pun tertawa.


Pernikahan mereka akan berlangsung 2 minggu lagi. Erik tidak mau menunda-nunda lagi. Sudah cukup ia melajang selama setahun karena Manahan keinginannya untuk menikah. Sekaranglah saatnya. Ia mengharapkan kehadiran sahabatnya yaitu Ridwan. Pria yang waktu itu melamar Shely. Tapi, Erik tidak tahu bahwa wanita yang di cintai Ridwan adalah Shely.


Saat itu, Ridwan menemani Erik di rumah tetangganya Vira. 2 hari sebelum pernikahannya. Erik sengaja tinggaldi sana karena jarak rumahnya dengan Vira sangatlh jauh. Dengan begitu, ia merasa sangat dekat dengan Vira. Meskipun ia dilarang untuk bertemu Vira sampai pernikahnnya tiba. “Erik. Kau tahu, aku iri padamu. Bagaimana tidak, kau lebih muda 2 hari dariku. Seharusnya aku yang lebih tua menikah lebih dulu darimu. Tapi, sampai saat ini aku masih belum menemukannya juga”kata Ridwan.


“Siapa ?”kata Erik. “Wanita yang kemarin-kemarin aku ceritakan.”kata Ridwan. “Oh. Yang menolakmu itu?” kata Erik. “Ya. Aku sudah punya tekat akan mengejarnya sampai kapanpun. Kalau dia sudah menikah baru aku akan move on. Itu namanya pria sejati bukan ?” kata Ridwan. Erik mangut-mangut sambil tersenyum. “Kau akan menyusulku sesegera mungkin. Aku yakin, kau akan mendapatkannya. Aku akan berdoa untukmu”kata Erik. Ridwan tersenyum “Kau memang sahabatku Erik. Kebaikanmu akan selalu ku kenang”kata Ridwan.


2 hari kemudian…


Tibalah saatnya ia menikah dengan Vira. Pernikahan mereka begitu hikmat. Para tamu undangan melihat mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Yang laki-lakinya tampan dan yang perempuannya cantik. Pesta pernikahan yang begitu mewah. Beragam hiasan yang harganya sangat mahal-mahal di desain begitu rapi dan indah. Erik kini sudah menjadi seorang suami dan Vira sudah menjadi seorang Istri. Keduanya telah menjadi satu keluarga yang utuh. Mereka sama-sama berjanji akan selalu setia sampai kematian memisahkan mereka, sampai kapanpun dan walau bagaimanapun. Kekuatan cinta mereka semakin kuat dengan adanya ikatan ini. Ikatan pernikahan yang suci.


Tapi, Ridwan merenung saat melihat sahabatnya bahagia. Ia melihat langit malam yang gelap tanpa bulan dan bintang yang menghiasi. “Shely, aku akan datang mencarimu”kata Ridwan.


Tanpa berpikir panjang, setelah pesta pernikahan Erik dan Vira selesai ia langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Erik. Ia pergi saat pesta baru saja selesai dan Erik masih sibuk berbincang dengan tamu-tamu undangan. Erik pergi untuk mencari wanita pujaannya. Malam harinya, Erik mencari Ridwan. Saat ia sedang mondar-mandir mencari, tiba-tiba ada pesan masuk di handphonenya. “Erik, maaf. Aku pergi tanpa permisi. Keberhasilanmu dalam menikahi Vira, aku iri. Aku juga ingin mencari dia. Aku ingin segera menikah seperti dirimu. Aku sudah cukup mapan untuk menikah. Kau bersenang-senanglah malam ini. Semoga malam pertamamu menyenangkan. Aku sudah memutuskan besok pagi aku akan berangkat ke London menyusul wanita pujaanku. Doakan aku semoga berhasil”.


Erik tersenyum. “Baiklah. Kau memang nekat. Aku acungkan jempol untukmu. Semoga kau berhasil”kata Erik. Sesampainya Erik di kamar, tengah ada seorang wanita yang duduk manis di tempat tidurnya. Erik tersenyum dan jantungnya berpacu. “Malam ini akan menjadi malam yang indah. Benar bukan ?kata Erik sambil duduk di samping Vira. Keduanya bertatapan dan saling tersenyum. Perlahan Erik mencium kening Vira. Lalu keduanya hanyut dalam indahnya Cinta.


1 hari kemudian….


Ridwan sudah berdiri di tanah London. Ia menghela napasnya sejenak dan mulai melangkah perlahan untuk mencari tempat perlindungan. “Ya Allah. Semoga aku menemukannya kembali. Cinta yang selama ini aku impikan, aku hanya merasakannya darinya” kata hati Ridwan. London adalah kota yang indah. Pemandangan nya sangat menarik. Tak di sangka mereka berdua telah ada di tengah-tengah London dan sebentar lagi mereka akan berjumpa.


Di sebuah hotel yang mewah, tepatnya kamar hotel nomor 209 adalah kamar Ridwan. Ridwan tengah membereskan semua pakaiannya. Semua peralatan yang ia perlukan selama di London. Ia bekerja sendiri. “Oh Ya ampun !”kata Ridwan saat melihat pakaian dalamnya kurang satu. “Mengapa bisa ketinggalan sih?”kata Ridwan lagi.


Pagi datang kembali menyapa. Sinarnya yang begitu hangat telah membangunkan pikiran yang sedang dingin karena tertidur. Ridwan keluar dari kamarnya dan berjalan di sekitar tempat hotelnya. Ia mencoba berjalan-jalan keluar dan bertekat untuk mencari Shely sejak saat itu. Namun, apa yang ia dapatkan berhari-hari hanyalah sia-sia. Ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan wanita itu. Ke beberapa tempatpun masih belum menemukannya. Bahkan ini sudah yang kesekian kalinya ia berpindah hotel. Tapi, hasilnya tetap sama.


2 minggu kemudian….


Vira berlari menghampiri Erik di ruang kerjanya dengan penuh rasa gembira sambil memegangi alat tes kehamilan. “Kenapa?”kata Erik sambil berdiri. Vira langsung memeluk Erik dan mengatakan “Aku hamil” kata Vira dengan penuh rasa haru. Erik tertawa bahagia. Kebahagiaannya terasa begitu sempurna. “ Kalau begitu, sekarang kita ke rumah sakit untuk memeriksa sudah berapa lama usia kandungannya”kata Erik. Vira mengangguk senang. “Ayo” kata Vira.


Sementara Ridwan. Kini, ia berdiri temenung di pinggir pantai. Sambil melihat ombak kecil yang nakal yang sering menghampirinya. Sesekali ia melihat ke pasir pantai yang sedang di pijak kakinya lalu kembali melihat ombak kecil nakal itu. “Kau dimana sebenarnya ? apa kau tidak di sini ?” kata hati Ridwan. Ia pun berjalan perlahan menyisiri pinggir pantai itu, dan mengacuhkan pandangan orang-orang yang ada di sana kecuali pandanganseorang wanita yang ia merasa ia mengenalnya. “Shely”kata Ridwan pelan.


Keduanya bertatapan. Mereka saling berdiri tegak berhadapan. Mata mereka sama-sama memerah. Tidak percaya rasanya mereka bisa bertemu kembali. Ridwan tersenyum bahagia saat melihat Shely tersenyum padanya. “Hai masa lalu”kata Shely. Ridwan tersenyum lagi. “Kau merindukanku ya?”kata Shely lagi. Ridwan mangut-mangut.”Kau benar. Malam ini aku tunggu kau di Restaurant terbesar di London ini. Aku harap kau tidak pergi lagi”kata Ridwan. Shely tersenyum. “Baiklah. Senang bisa bertemu denganmu kembali. Apa kabar?”kata Shely.


Di Indonesia…


“Usia kandungan istri anda baru satu minggu. Anda harus menjaga kesehatan mulai dari sekarang.” Kata Dokter. “Ya dok terimakasih”kata Erik. Erik dan Vira saling bertatapan dan perlahan Erik mencium kening Vira “ Aku mencintaimu” kata Erik.


Di London…


Malam sudah tiba, kini Ridwan sedang berhadapan lagi dengan wanita yang sangat ia cintai. Seorang Shely. “shel, kau pasti seriua tentang hal ini”kata Ridwan. “Apa ?”kata Shely. “Aku punya harapan. Di tahun ini aku harus menikah. Umurku sudah cukup. Aku sudah mapan dengan pekerjaanku. jujur saja aku datang ke sini untuk mencarimu. Kau tahu, aku ….”kata Ridwan yang merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya.


Shely tersenyum. “Aku percaya padamu sekarang. Terima kasih karena kau sudah mencariku. Aku paham apa maksudmu. Apa kau pikir aku tidak mau melakukannya ? aku juga ingin segera menikah”kata Shely. “ Lalu bagaimana dengan calonmu yang dulu ? katanya kau sudah punya calon. Seharusnya kau sudah menikah sekarang” kata Ridwan. “ Jadi, kau suka atau tidak sekarang aku masih sendiri ? apa kau suka jika aku sudah manikah ? apa kau sekarang kau tidak ingin menikahiku?”kata Shely.


Mendengar itu, sejenak Ridwan terdiam menatap Shely serius. Keduanya lalu tersenyum dan diam-diam saling mencuri kesempatan untuk memandang. “Aku tidak percaya hal ini”kata Ridwan. “Percaya tidak percaya saat ini kau memang bersamaku. Aku sudah membukanya untukmu”kata Shely. “Apa ?”kata Ridwan. “Hatiku”kata Shely. Keduanya tertawa sedikit. “Baiklah. Aku suka ini”kata Ridwan. “Ya, kapan kau mau malamarku?”kata Shely. Keduanya tersenyum dan tertawa lagi.


~ Bersambung ~