
Dingin menusuk dada Giska yang tengah tertidur lelap. Ia terbawa mimpi, melayang-layang bersama Rahmat. Pegangan erat tangan Rahmat terasa begitu nyata. Ternyata Giska tengah di bangunkan oleh ayahnya. Dengan berat hati, ia harus terbangun dan pergi meninggalkan semua kenangan Rahmat. “ Maafkan aku, Rahmat…” kata hati Giska.
Keesokannya, Ali datang bersama sepupunya itu. Ternyata Deden tak kalah tampannya dengan Ali. Keduanya memang terlihat sama dalam fostur tubuh yaitu atletis. Namun, yang membedakannya hanya sedikit yaitu wajah dan gaya rambut saja. Deden cenderung berambut gaya ala korea gitu. Keduanya datang tepat pada pukul 9 pagi. Saat itu, keluarga Ali tengah berduka cita termasuk Giska yang sampai saat itu masih mengurung diri di kamarnya.
Ali dan Deden masuk ke dalam rumahnya dengan bangganya. Tapi saat melihat ayahnya, ayahnya Ali mempelototi keduanya. “ kenapa ayah ? “ kata Ali. Ayahnya Ali pun mendekat pada Ali dan Deden “ sekarang ikut dengan ayah. Akan ayah tunjukan padamu sesuatu yang sangat penting yang teramat penting, tapi sudah terlambat untuk kau ketahui. Meskipun begitu, ayah ingin kamu belajar dari apa yang akan ayah tunjukan ini. Ayah harap kamu sudah dewasa sekarang. Jangan mengecewakan ayah. “ kata ayahnya yang kemudian merekapun pergi ke suatu tempat. Yaitu pemakaman umum.
Tanpa bicara apapun, ayah Ali berjalan menuju 1 kuburan yang bertuliskan Rahmat Ramdan Binti Panji. “ Rahmat ? aku rasa aku mengenal nama ini. Aku rasa teman Giska yang waktu kemarin-kemarin sakit. Apa….” Kata Ali yang kemudian menatap ayahnya. “ Kau benar.” Kata ayahnya Ali. “
“ Apa ? jadi……?astaghfirullah,sebenarnya maksud ayah apa ? “ kata Ali yang masih kebingungan. “ Ya ua. Aneh sekali. Kenapa ua mengajak kami kesini ? sementara Ali saja tidak mengerti, apalagi aku. “ kata Deden
“ Ayah akan ceritakan nanti di rumah. Kau akan tahu kebenarannya seperti apa. Ayah harap, setelah kamu mendengar cerita yang akan ayah berikan padamu, kamu segera meminta maaf pada Giska. “ kata ayahnya Ali.
Sesampainya di rumah, Giskakeluar dari kamarnya dengan mata dan wajah yang memerah. Mata serta bibir yang membengkak. Saat masih berjalan di tangga, Deden sudah melihat Giska. Ia langsung terpesona oleh kecantikan Giska yang meskipun saat itu wajahnya seperti bengkak-bengkak balas menangis. “Siapa wanita itu ?” kata Deden pada Ali. Giska baru menyadari bahwa Ali sudah datang. Sejenak Giska berhenti berjalan dan melihat ke arah Ali yang ternyata Ali pun sedang melihat padanya.
Akhirnya keempat orang ini duduk di meja debat di ruangan tempat bekerja ayahnya Ali. “ Ali, dengarkan ayah baik-baik. Ayah tidak akan basa-basi. Ayah tidak tega melihat Giska bersedih seperti itu. Langsung saja. Rahmat sudah meninggal. Sebelum itu. Apa kau pernah di telpon oleh Giska ? “ kata Ayahnya Ali. Ali mengangguk sambil mengatakan ya.
“ Giska menelponmu untuk memberitahukan bahwa temannya, Rahmat. Sedang membutuhkan transfuse darah. Tepatnya darah A. Hanya kamu, ibumu, dan ibunya Rahmat yang memiliki golongan darah yang sama. Tapi saat itu, ibumu sedang pergi keluar kota, kamu juga. Ibunya Rahmat sudah mendonor tapi keadaannya juga sedang turun. Kau tahu, harapan kami Cuma kamu. Ayah menyuruh Giska untuk menelponmu dan memberitahukanmu bahwa kamu harus segera pulang. Biarkan Maya berangkat naik taksi. Tapi, mengapa kau tidak mengangkatnya. Dan tiba-tiba saja nomormu itu di luar jangkauan. Apa maksud itu semua ? “ kata ayahnya Ali. Ali terdiam.
“ Aku…Aku membuangnya. Aku tidak tahu kalau ia menelponku untuk memberitahukan itu padaku. Aku minta maaf “ kata Ali dengan ragu. Ayah Ali mangut-mangut danlangsung pergi begitu saja. Ali menatap Giska yang tengah tertunduk. “ Maafkan aku “ kata Ali. Giska menggeleng sambil menutupi tangisannya sambil menunduk. “ ini bukan salahmu. Aku tahu ini bukan salahmu. Kau tidak salah sama sekali. Akulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku…( menangis tersedu-sedu )” kata Giska.
Melihat Giska yang menangis seperti itu, Deden merasa tidak tega. Ia lalu duduk di samping Giska dan dengan ragu-ragu memeluk Giska. Menyadari hal itu, Giska langsung marah-marah “ Mau apa kau ? jangan pernah berbuat lancang padaku. Kau ini siapa ? kau tidak tahu apa-apa. Dasar cowok gatel. Jangan harap kamu bisa melakukan itu lagi padaku. Diriku ini hanya untuk dia ! “ kata Giska sambil menunjuk Ali dan kemudian pergi.
“ Ya ampun galak amat………!!! Biasa aja kali. Emangnya aku cowok apaan ? aku ini hanya ingin mencoba menenangkanmu. Eu…..sudah cantik bawel lagi, tambah suka saja aku. “ kata Deden yang kemudian sedikit tertawa. Deden kemudian melihat Ali yang ternyata masih terdiam. “ Kamu kenapa Li ? jangan melamun seperti itu. Aku jadi khawatir. Kau pasti tidak mengerti dengan semua ini. Kau jawab aku sekarang, siapa yang salah ? kamu atau perempuan itu ? aku rasa ini harus di selidiki “ kata Deden. Mendengar itu, Ali melihat Deden “ Apa ? “ kata Deden. Ali kemudian duduk di samping Deden dan menggandeng Deden “ Kau tahu, aku lapar. Aku mau makan saja. Lagian juga tadi kau sudah dengar bukan ? bahwa yang salah itu Giska bukan aku. jadi, sekarang aku ingin makan. Ayo ! “ kata Ali yang kemudian pergi.
“ eu……kau duluan saja “ kata Deden sambil melepaskan gandengan Ali. “ Ya sudah ! “ kata Ali yang kemudian pergi. Sekarang, siapakah yang perlu di salahkan. Seharusnya tidak ada. Takdir semua manusia itu sama, yaitu pasti suatu saat nanti akan tiba waktunya untuk meninggalkan dunia. Takdir kita itu hanya Allah yang tahu. Hanya Allah yang mengatur itu semua. Kita sebagai manusia hanya harus menerima dengan ikhlas. Karena dengan begitu, maka makna hidup ini akan terasa.